Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
31. Teman Baru


__ADS_3

...Suka,...


...Adalah teman dari duka...


...Ketika suka menyapa,...


...Inginnya duka tak ada...


...Ketika duka melanda,...


...Suka yang akan menghiburnya...


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Black masih memperhatikan Eryn yang masih terlelap dengan memeluk guling. Ia tersenyum puas karena bisa terus menatap wanita tercintanya sedekat ini.


Kini mereka telah tiba di Milan, Italia setelah menempuh jarak kurang lebih 12 jam. Lebih cepat dari penerbangan komersil tentunya.


Setelah perbincangan tadi, Black meninggalkan Eryn dan ternyata wanita itu memilih untuk melanjutkan tidurnya. Bahkan satu nampan makanan yang Black sediakan juga belum dijamah olehnya.


Black membelai lembut puncak kepala Eryn.


"Sayang, bangun! Kita sudah sampai." Suara Black amat lembut dan membuat Eryn membuka matanya perlahan.


"Hmm?" Eryn menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Sayang, wajahmu pucat. Apa kau sakit?"


Eryn menggeleng.


"Kenapa kau tidak memakan makanan yang kubawakan tadi? Kau malah tertidur."


"El, aku mual..." lirih Eryn.


Black memeriksa kondisi Eryn. "Sepertinya kau mengalami mabok udara. Kita akan ke rumah sakit sekarang!"


"Eh?" Eryn terkejut karena Black langsung mengangkat tubuhnya ala bridal dan membawanya keluar dari pesawat.


"Carlos! Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Black.


"Baik, Tuan."


Eryn memperhatikan wajah panik Black yang sudah lama tak ia lihat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Black. Ia sangat merindukan aroma ini selama bertahun-tahun.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih kau mengembalikan kekasihku..." lirihnya dalam hati.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Tiba di rumah sakit, Eryn segera mendapat pertolongan pertama. Dokter memasang selang infus di tangan kirinya.


Black meminta kamar perawatan terbaik untuk wanitanya. Jadwal kunjungan bisnis Black kacau karena kondisi Eryn.


Carlos dan Enrique mengatur ulang jadwalnya karena pastinya Black tidak akan tega meninggalkan Eryn sendirian di rumah sakit. Apalagi hubungan mereka baru saja membaik setelah sekian lama.


"Kau pergilah!" ucap Eryn lemah ketika membuka mata dan Black masih setia menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Tidak apa. Aku bisa mengatur ulang jadwalku."


"Maaf ya. Aku hanya bisa merepotkanmu."


"Jangan bicara begitu. Asam lambungmu naik. Sudah berapa lama ini terjadi? Kau tidak memperhatikan kesehatanmu sendiri."


Wajah Eryn kembali sedih. "Sejak aku kehilangan segalanya. Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidupku. Yang kupikirkan hanyalah aku ingin menyusul kepergian mereka."


Black mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Eryn. "Kau tidak kehilangan segalanya. Kau selalu punya aku."


Air mata Eryn kembali jatuh. "Andai saja kau kembali lebih cepat, El. Aku tidak akan mengalami semua kesakitan dan hinaan ini..."


"Maafkan aku... Maafkan aku." Black mencium kening Eryn dalam. Ia menghapus air mata di wajah sayu namun masih tetap memancarkan aura kecantikannya.


Tangan Eryn terangkat untuk merangkum wajah Black. "Kau adalah El-ku. El milikku telah kembali."


Black mengangguk dan makin mendekatkan wajahnya. Eryn memejamkan mata ketika bibir itu kembali menyentuh bibirnya. Bergerak perlahan dan memainkannya pelan. Black tak ingin menyakiti wanitanya. Ia pun melakukannya dengan sangat lembut.


"Ehem! Apa aku mengganggu?" Sebuah suara seorang wanita membuat Black menarik dirinya.


"Hai, Rose. Kau sudah datang?" Black menghampiri Rose dan bercipika cipiki dengan wanita cantik itu.


"Iya. Kau beruntung aku sedang tidak sibuk, El. Sebentar lagi akan ada show, dan aku akan sibuk disana."


Rose menghampiri brankar Eryn. "Hai, Eryn. Bagaimana kabarmu?"


"Hai, Rose. Seperti inilah. Kau bisa melihatnya sendiri," balas Eryn.


"Aku menghubungi Rose agar bisa menemanimu disini. Karena aku harus pergi. Aku tidak bisa mengatur ulang jadwal lagi. Maafkan aku," ucap Black.


"Iya, pergilah," jawab Eryn.


"Terserah kau saja. Sayang, aku pergi." Black mengecup singkat bibir Eryn kemudian berlalu.


"Aku menitipkan milikku kepadamu, jika ada yang kurang akan kutagih kau nanti, Rose," tutup Black sebelum keluar kamar.


"Iya! Dasar cerewet!" seru Rose.


Eryn tertawa kecil melihat interaksi Black dan Rose. Ternyata pertemanan mereka sangatlah hangat.


"Istirahatlah! Aku senang melihat kalian bersama. Sudah lama aku tidak melihat kebahagiaan di wajah El," cerita Rose.


Eryn tersenyum. "Kau tinggal di kota ini?"


"Iya, aku tinggal di Milan karena karirku ada disini."


"Bagaimana dengan kondisi ayahmu? Bukankah dia sedang sakit?"


"Dia tinggal di Roma. Sebenarnya dia tidak terlalu sakit. Dia hanya mencari alasan agar aku kembali kemari." Rose tersenyum.


"Kau pasti sibuk, tidak seharusnya kau menemaniku disini."


"Tidak apa, tidak masalah. Mulai besok aku memang akan sangat sibuk. Besok akan mulai diadakan Milan fashion week. Dan kau tahu? Nanti akan ada, bla bla bla."


Rose banyak bercerita tentang kehidupannya di Milan dan juga pekerjaannya. Eryn mendengarkannya dengan antusias. Sesekali Eryn juga bercerita tentang banyak pengalamannya ketika menjadi pengatur acara.

__ADS_1


Mereka tertawa dan bercanda bersama. Eryn senang karena dirinya kini mendapat teman baru.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Keesokan harinya, Eryn sudah merasa lebih baik dan sudah diperbolehkan pulang. Ia berterimakasih pada Rose karena seharian kemarin ia menemani Eryn.


"Baiklah, El. Aku serahkan milikmu ini dengan utuh," canda Rose.


"Sebentar kuperiksa dulu. Apakah ada yang kurang?" Black memperhatikan Eryn dan memeriksa kondisinya.


"El? Kau ini!" Eryn memukul lengan Black.


"Aku harus memeriksanya dengan benar, bukan? Termasuk ini!" Black mengusap bibir Eryn dengan mengedipkan matanya.


"Aku harus tahu apakah rasanya masih sama?" tanya Black yang makin mengikis jarak mereka.


Eryn terkekeh geli melihat tingkah aneh Black. Ia memejamkan ketika pria itu lagi-lagi mengecup bibirnya. Sebuah ciuman yang panjang dan berirama.


Rose memalingkan wajah ketika melihat pemandangan itu. Ia bisa melihat jika Black sangat mencintai Eryn. Tidak akan ada wanita yang bisa mengalahkan Eryn di hati Black.


"Rasanya masih sama. Selalu manis dan membuatku ketagihan!" ucap Black sensual membuat Eryn tertunduk malu.


"Astaga! Kalian ini! Sudah ya! Aku harus pergi. Persiapan fashion week hanya tinggal beberapa jam lagi." Rose melirik jam tangannya.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Eryn.


Rose tersenyum. "Tentu saja. Tapi, kurasa kau harus meminta izin pada pemilikmu ini, Eryn."


"El, ayolah! Aku ingin ikut bersama Rose," bujuk Eryn.


"Kau baru saja sembuh dan kau..."


"Ayolah..." Puppy eyes milik Eryn selalu membuat Black luluh.


Dengan menghela napas berat akhirnya Black setuju Eryn pergi bersama Rose.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Malam harinya, Eryn kembali ke hotel tempatnya menginap bersama Black. Eryn bingung karena tak mendapati pria itu didalam kamarnya.


"Kemana dia?"


Eryn memutuskan untuk menghubungi ponsel Black namun tidak dijawab.


"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?" Eryn memegangi dadanya. Ia pun menghubungi Carlos untuk mengetahui keberadaan Black, namun pria itu juga tidak menjawabnya.


Sementara di tempat berbeda, Black sedang mengeksekusi satu orang yang diduga adalah pengkhianat dalam kelompoknya hingga menyebabkan kerugian.


"Brengsek kau! Kau pantas mati!" Black menghajar orang itu dengan membabi buta. Biasanya ia menggunakan senjata api, tapi kali ini ia ingin orang itu mati secara perlahan.


Mata Black menggelap yang menandakan dirinya sedang menjelma menjadi El-Black sang penguasa dunia hitam. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya jika ia sudah berubah menjadi bengis seperti ini.


"Tuan, ampuni aku! Bukan aku pelakunya," lirih orang itu yang memohon ampun padanya.


"B4jingan! Sudah salah masih berani menyangkal! Sudah ada buktinya kau adalah pengkhianat. Jadi, bersiaplah untuk mati!" seru Black dan kembali menghajar orang itu. Baginya tak ada ampun untuk seorang pengkhianat.

__ADS_1


...B e r s a m b u n g...


๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒmbayangke Black dengan seringai menyeramkannya ternyata ngeri juga ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


__ADS_2