Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
29. Cinta Atau Obsesi


__ADS_3

Lolita terlihat kesal karena lagi-lagi Eric pulang terlambat. Setelah menikah, Eric memutuskan untuk keluar dari rumah keluarganya dan memiliki rumah sendiri bersama Lolita. Alasannya klasik, ia ingin membina rumah tangganya sendiri bersama Lolita.


Namun dibalik alasan itu, tersimpan sesuatu yang hanya diketahui oleh Eric dan juga Lolita saja. Banyak pertengkaran yang terjadi semenjak mereka menikah. Ego masing-masing yang membuat salah satu dari mereka tak mau mengalah.


"Berhentilah menggunakan alasan pekerjaan agar kau bisa selalu pulang larut malam, Eric. Aku tahu apa yang kau lakukan di luar sana! Kau masih saja mencari-cari wanita itu kan?" cecar Lolita.


Eric tak mau meladeni Lolita yang perutnya kian membesar. Kini ia mulai mengatur emosinya karena tak ingin melukai wanita yang sedang hamil.


"Sudah kubilang kau urus saja urusan rumah ini dan jangan mencampuri urusan pekerjaanku. Dan kau harus bersiap, setelah anak lahir, aku akan langsung melakukan tes DNA padanya. Jika ternyata kau hanya mengarang cerita murahan ini, kau akan terima akibatnya," ucap Eric sambil melewati tubuh Lolita.


"Brengsek kau, Eric! Aku hanya melakukannya denganmu! Tega sekali kau mengatakan anak ini bukan anakmu!" teriak Lolita.


Eric menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Aku tidak mengatakan anak itu bukan anakku. Tapi aku hanya ingin membuktikan kebenarannya. Itu saja!"


"Tidak tahu diri! Kau datang padaku dan memintaku menghangatkan ranjangmu lalu sekarang kau berbuat begini padaku! Aku tidak akan membiarkan kau melakukan ini padaku, Eric. Ingat itu baik-baik!"


Napas Lolita terasa tercekat setelah berteriak didepan Eric.


"Dengar, Lolita. Meski kau memisahkan aku dengan Eryn, itu tidak akan berarti apa pun. Karena aku akan kembali mendapatkan dia. Wanita yang kucintai, akan kembali kudapatkan. Dan saat itu tiba, kau harus siap berbagi dengannya."


"Apa katamu?! Licik sekali kau, Eric. Kau tidak mencintainya. Itu bukan cinta! Itu hanya sebuah obsesi untuk memiliki. Kau selalu kalah dari Eldric, makanya kau melakukan ini kan? Apa perlu kubongkar semua kejaha..."


PLAK!


Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Lolita hingga bibir wanita itu sobek.


"Berhenti bicara omong kosong atau aku benar-benar akan membunuhmu!" ancam Eric pada Lolita yang sudah sangat ketakutan dengan tatapan mengerikan milik Eric.


...🌿🌿🌿...


Malam itu, Eryn bersiap untuk berangkat kerja untuk pertama kalinya. Dunia malam yang begitu diagung-agungkan kaum penyuka kebebasan, akhirnya akan Eryn rasakan. Meski sebenarnya ia tak begitu paham dengan semua itu. Sejak kecil, baik Edward maupun Eldric tidak mengizinkan Eryn untuk menyentuh hal-hal semacam itu.


Eryn berjalan menunduk memasuki area klub malam Black Devil. Ia bertemu Santa yang mengantarnya kembali bertemu dengan Luiz.


"Nona, kau sudah datang? Sebaiknya kau segera temui tuan Luiz," ucap Santa.


"Iya, Santa. Terima kasih."


Eryn berjalan cepat melewati beberapa orang pengunjung yang menatap penuh tanya padanya. Tidak ada orang yang datang ke klub malam dengan memakai kemeja dan celana jeans panjang, bukan?


"Selamat malam, Luiz," sapa Eryn ketika masuk kedalam ruangan Luiz.

__ADS_1


"Ah, iya. Eryn. Kau sudah siap?"


Eryn mengangguk. Luiz menatap Eryn dengan penuh heran.


"Ganti bajumu dulu!" Luiz menyerahkan satu kotak pakaian ganti untuk Eryn.


"Baik, terima kasih." Eryn keluar dari ruangan Luiz dan menuju kamar ganti khusus karyawan.


Luiz tersenyum penuh arti melihat Eryn yang memang sangat polos itu.


.


.


.


Eryn menatap pantulan dirinya di cermin toilet. Pakaian ganti yang diberikan Luiz tentulah sangat minim. Sebuah dress ketat diatas lutut. Beruntung dress itu masih memiliki lengan meski hanya menutupi sebagian kecil lengan Eryn saja. Kulit putihnya terasa kontras dengan dress hitam yang dipakainya.


"Huft! Tidak ada pilihan lain! Aku tidak punya uang untuk membuka usaha sendiri. Semoga setelah ini aku bisa mengumpulkan uang agar aku bisa membuka usahaku sendiri."


Eryn keluar dari kamar ganti dan bertemu Santa.


"Nona, ayo cepat! Pelanggan mulai berdatangan," seru Santa.


"Pertama, kau menerima pesanan dari pelanggan. Lalu mencatatnya dan membawanya ke meja bartender agar pesanan pelanggan segera dibuat. Setelahnya kau mengantar pesanan mereka. Sudah, itu saja. Mudah kan?" jelas Santa.


Eryn tersenyum. "Iya, Santa."


Apa yang terlihat mudah tidak selalu benar-benar terlihat mudah. Menjadi pelayan di klub malam tidak semudah yang Eryn bayangkan.


Tatapan penuh hasrat dari beberapa pria penyuka hubungan satu malam selalu tertuju pada Eryn yang memang berwajah Asia kental. Tentu saja sangat jarang bagi mereka menemukan wanita seperti Eryn ditempat seperti itu.


Eryn berjalan dengan hati-hati saat mengantar pesanan pelanggan. Luiz memperhatikan cara kerja Eryn yang memang sangat baik. Bahkan terlalu baik. Eryn terlalu sopan dan selalu membungkuk. Ia tak tahu bahaya apa yang mengintai pada dirinya.


"Aw!" Eryn terpekik ketika ada pelanggan yang sengaja meremaas bagian belakang tubuhnya.


Luiz terperangah. Ia terus menatap Eryn yang merasa sedih karena harus mendapat perlakuan yang tidak senonoh seperti itu. Bagi orang-orang dunia malam, tentunya hal itu sudah biasa dan Eryn tak perlu mempermasalahkannya.


Satu malam telah berlalu, Eryn pulang ke mansion Black di pagi buta ketika semua orang masih tertidur. Tubuhnya lelah. Ia pun memutuskan untuk tidur tanpa mengganti baju terlebih dahulu.


...🌿🌿🌿...


Hari kedua pun akan Eryn lewati. Sebenarnya ia harap-harap cemas karena makin banyaknya pria yang ingin berkenalan dengannya. Eryn tak tahu harus menanggapi seperti apa permintaan para pria itu. Ia tidak seperti Santa yang terkesan ceria dan membuat suasana hidup. Eryn memang agak pendiam sejak kehilangan yang ia alami hampir tujuh tahun lalu. Ia tak banyak bicara dan hanya menjawab seperlunya saja dengan orang disekitarnya.

__ADS_1


"Kau kenapa? Gugup?" tanya Luiz karena melihat kecemasan di wajah Eryn.


"Sedikit," jawab Eryn masih berusaha tersenyum pada Luiz.


"Kemarin kau melaluinya dengan sangat baik. Aku yakin hari ini pun kau akan melaluinya dengan baik." Luiz menepuk bahu Eryn.


Para pelanggan mulai berdatangan. Santa sudah mulai sibuk, begitu juga dengan Eryn. Sejauh matanya memandang, banyak sekali pasangan yang memang sengaja menjadikan tempat itu untuk memadu kasih. Hidup di kota yang bebas tentu saja gaya hidup mereka juga bebas. Bukankah Eryn sendiri juga menganut gaya hidup bebas itu? Ia sudah melakukan hal fatal di masa mudanya bersama Eldric hingga Noah hadir diantara mereka.


Meski begitu, Eryn tak bisa memutar waktu dan menyesali semuanya. Kini ia hanya bisa menjalani apa yang bisa ia jalani.


"Nona, antarkan ini ke meja nomor lima. Aku harus ke kamar mandi," ucap Santa menyerahkan nampan berisi pesanan pelanggan.


"Baiklah, sini." Eryn berjalan cepat karena pelanggan itu sudah berteriak meminta pesanannya.


Hingga ia tak sengaja menabrak seseorang karena kurang hati-hati. Nampan yang ada ditangannya terlepas dan jatuh ke lantai.


"Astaga, Eryn! Kau sangat ceroboh!" rutuk Eryn pada dirinya sendiri.


"Maaf, Tuan. Aku benar-benar minta maaf." Eryn sedikit membungkukkan badannya dan membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Bangun!" ucap orang itu.


"Hah?!" Eryn yang sedang berjongkok seketika mendongak dan bertemu tatap dengan orang yang ditabraknya.


"Tuan Black?" gumam Eryn. Otaknya berpikir keras mencari alasan untuk pria itu.


"Kubilang bangun!" seru Black dengan seringai menyeramkan ditengah temaram lampu.


Eryn yang tak kunjung bangun membuat Black geram dan akhirnya menarik lengan Eryn hingga gadis itu berdiri berhadapan dengannya. Tak ingin mendengar alasan apa pun dari mulut gadis itu, Black segera mengangkat tubuh Eryn di punggungnya dan membawa gadis itu keluar dari klub.


"Tuan, lepaskan aku!" Eryn memukuli punggung Black namun pukulan Eryn tak berasa apa pun bagi Black.


Black menghempaskan tubuh Eryn kedalam mobil dan segera melaju pulang ke mansion.


"Tuan, apa yang kau lakukan? Aku sedang bekerja!" ronta Eryn.


"Berhentilah membuatku masalah dan diamlah! Atau aku harus membungkammu, hah!" ancam Black.


Sontak Eryn menutup mulut dengan kedua tangannya. Meski ciuman terakhir mereka terbilang sangat manis, namun saat ini emosi Black sedang tidak stabil. Eryn tahu apa yang akan dilakukan oleh pria ini jika sedang dikuasai amarah.


"Kau akan mendapat hukumanmu setelah ini!" tegas Black.


...B e r s a m b u n g...

__ADS_1


*Hayoooo looh, dapat hukuman apaan ya Eryn?😰😰


__ADS_2