
Ilena tiba di bandara Ngurah Rai, Bali dan disambut oleh Lidia, sang adik dari mendiang ibunya. Ilena sedikit canggung ketika sang bibi memeluknya. Wajah Lidia memang hampir mirip dengan Lorna yang dilihat Ilena hanya dari sebuah foto yang ayahnya pernah tunjukkan dulu.
Sungguh Ilena tak pernah punya kenangan apapun dengan sang ibu. Malang sekali nasibmu, Ilena.
Lidia membingkai wajah Ilena yang sangat mirip dengan mendiang kakaknya, Lorna. Hatinya sedih jika mengingat tentang kakak satu-satunya itu.
"Aku berterimakasih pada Tuhan karena bisa bertemu dengan putri kakakku," ucap Lidia.
Ilena tersenyum getir. Ia masih ragu jika ini adalah hal nyata. Seumur hidup tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga kecuali dari panti asuhan.
"Ayo, kita pulang ke rumah! Sekarang disini adalah rumahmu, Lena." Lidia merangkul bahu Ilena dengan hangat.
Menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, Ilena tiba di sebuah rumah yang berarsitektur tradisional. Mirip dengan sebuah candi atau mungkin pura. Ya disini banyak rumah yang masih tradisional.
Melihatnya sekilas, Ilena langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Suasananya sangat berbeda dengan saat berada di Rio.
"Ayo masuk! Bibi sudah siapkan kamar untukmu. Andrew banyak bercerita tentangmu."
Ilena mengangguk paham. Ia memasuki sebuah kamar yang cukup luas. Pintunya terbuat dari banyak ukiran-ukiran yang sangat indah. Bahkan ranjangnya pun dari kayu jati yang kokoh. Ilena terperangah melihatnya.
"Kau istirahat saja dulu. Pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh."
"Iya, Bibi. Terima kasih."
Lidia menutup pintu kamar Ilena dan membiarkan keponakannya itu untuk bersantai dahulu.
Lidia menemui orang kepercayaannya yang bernama Dharma.
"Apa keponakan Nyonya sudah datang?" tanya Dharma.
"Iya. Tolong kau awasi dia selama aku tidak ada! Dia adalah harta berharga bagiku sekarang."
"Baik, Nyonya. Apa Nyonya akan ke kantor?"
Lidia mengangguk lalu pergi meninggalkan Dharma dengan menepuk bahunya.
Dharma memandangi kamar Ilena yang tertutup rapat. Tatapannya terasa aneh namun penuh makna.
#
#
#
Ilena terbangun dari tidurnya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah perjalanan jauh.
"Astaga! Berapa lama aku tidur?" gumam Ilena.
Saat dia datang hari masih terang dan kini sudah berubah malam. Ilena memegangi perutnya yang terasa lapar. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan mencari Lidia.
"Bibi! Bibi Lidia!" seru Ilena.
Ilena melangkah menyusuri rumah yang ternyata cukup luas itu.
"Bibi!" panggil Ilena lagi. "Rumah sebesar ini apa tidak ada asisten?" lirih Ilena.
"Nona mencari siapa?"
Sebuah suara dari arah belakang tubuhnya membuat Ilena berjingkat kaget.
"Hah?! Aku..." ucap Ilena terbata.
Didepannya berdiri seorang pria berperawakan tinggi besar dan tubuh yang jelas berotot meski tertutup kaus lengan panjang. Warna kulit yang kecoklatan karena banyak tersengat sinar matahari membuat kesan seksi dan eksotis di mata Ilena.
"Nona mencari Nyonya Lidia?" tanya pria itu lagi yang membuat Ilena mengangguk.
Pria itu tersenyum. Sebuah lesung pipi tercetak di pipi sebelah kanan. Hanya satu, namun tetap terlihat manis.
"Nyonya Lidia masih berada di kantor."
"Eh? Kau bisa bahasa Inggris?" Ilena baru sadar jika kini dirinya bukan lagi di Rio.
__ADS_1
"Namaku Dharma. Saya adalah orang kepercayaan Nyonya Lidia. Anda pasti Nona Ilena, bukan?"
"Iya. Oh ya, hari apa ini?" Entah kenapa Ilena malah bertanya tentang hari.
"Ini hari selasa."
Mata Ilena membulat. "Hah?! Benarkah? Jadi aku tidur selama itu?Aku tidur dari hari senin dan bangun di hari selasa?"
Dharma tersenyum. "Nyonya Lidia bilang biarkan saja. Sepertinya Nona sangat kelelahan. Oh ya, Nona pasti ingin makan malam kan? Saya sudah siapkan, mari!"
Ilena mengikuti langkah Dharma menuju ke meja makan. Pria ini terlihat hangat dan baik. Ilena sedikit terpesona padanya. Sudah sangat lama ia tidak merasakan sesuatu yang aneh dengan hatinya.
"Nona makanlah dulu! Saya tunggu diluar."
Ilena mengangguk. Ia tersenyum melihat kepergian Dharma. Ilena menyantap makan malamnya dengan lahap karena pastinya ia sangat kelaparan.
Tak lama Lidia pulang dan menyapa Ilena.
"Hai sayang, Dharma bilang kau sudah bangun. Bagaimana tidurmu?"
Lidia mengusap puncak kepala Ilena dengan lembut.
"Maaf jika aku terlalu lama tertidur, Bibi."
"Tidak! Aku sama sekali tidak keberatan kau tidur selama itu. Kau banyak mengalami kemalangan karena ulah kakakku. Maka kini aku akan menggantinya dengan sebuah kebahagiaan."
Ilena menatap Lidia.
"Kau harus belajar bahasa Indonesia. Aku yakin kau akan cepat belajar. Kau pasti pintar seperti ibumu."
Ilena tersenyum getir. Sebenarnya ia tak suka jika harus disamakan dengan Lorna. Wanita yang sudah melahirkannya ke dunia sekaligus memberi luka untuknya.
"Maaf jika kau tidak suka aku membahas tentang ibumu. Sebaiknya kau lanjutkan makanmu dan kembalilah ke kamar."
Ilena mengangguk patuh.
"Bibi, apa Bibi tidak memiliki asisten rumah tangga?"
Ilena manggut-manggut.
"Terima kasih karena Bibi sudah mau menampungku. Aku pikir aku hanya sendirian di dunia ini."
"No, sweetheart. Kau memiliki aku di dunia ini." Lidia memeluk Ilena. Mengusap punggung gadis yang banyak mendapat luka.
#
#
#
Keesokan harinya, Ilena berada di sebuah saung yang biasanya untuk latihan tari anak-anak muda. Ilena memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh anak-anak itu.
"Nona suka menari?" Dharma tiba-tiba datang menghampiri Ilena.
"Dharma? Mengagetkan saja!" Ilena memegangi dadanya.
"Nyonya Lidia menyuruh saya untuk mengajari Nona bicara bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari ikut saya, Nona!"
Ilena hanya manggut-manggut tak jelas dengan perintah yang dimaksud.
Hari ini Ilena belajar kosakata ringan dan membaca huruf perlahan.
Senyum yang tadinya tak pernah mengembang, kini mulai merekah di wajah cantik nan teduh Ilena. Keputusan White untuk mengirim Ilena kembali ke keluarganya adalah hal yang tepat.
"Bagaimana harimu, Lena?" tanya Lidia.
"Menyenangkan, Bibi. Aku belajar banyak hal dari Dharma."
"Hmm, baguslah. Bagaimana kehidupanmu dulu bersama Andrew?"
"Baik. Dokter White sangat baik padaku."
__ADS_1
"Heh?! Siapa kau bilang?" Lidia nampak terkejut mendengar nama lengkap Andrew.
"Dokter White. Nama aslinya memang Andrew White. Tapi disana dia lebih dikenal sebagai dokter White."
Wajah Lidia berubah drastis begitu mendengar nama belakang Andrew. Wajahnya pucat.
"Bibi? Bibi baik-baik saja?" tanya Ilena.
"Iya, Nak. Mungkin hanya kelelahan saja. Kalau sudah selesai belajar kau langsung tidur ya!"
Ilena mengangguk. Ilena menatap punggung Lidia yang menjauh.
"Ada apa dengannya?" gumam Ilena.
Ilena mulai merasakan kantuk. Ia pun menyudahi pelajarannya dan menuju ke kamar. Suasana rumah itu sangat sepi dan tenang hingga membuat Ilena bisa istirahat dalam waktu yang sangat lama.
Keesokan harinya, Ilena terbangun dengan tubuh yang bugar dan hati yang bahagia. Ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum keluar kamar.
Usai bebersih, Ilena ingin menyapa Lidia yang semalam pergi dengan membawa sejuta tanya untuk Ilena.
Namun yang ditemuinya bukanlah Lidia dan hanya Dharma saja.
"Nona sudah bangun?" tanya Dharma.
"Dimana Bibi Lidia?" Ilena celingukan mencari sosok Lidia.
"Nyonya Lidia sudah pergi, Nona."
"Hmm? Kemana?"
"Ada urusan mendadak yang harus di selesaikan. Dan ... ada pesan dari Nyonya Lidia untuk Nona."
Dharma memberikan secarik kertas pada Ilena. Meski bingung Ilena tetap membacanya.
Dahinya berkerut usai membaca surat dari Lidia.
"Apa maksudnya ini? Kenapa kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri?" Ilena mengibaskan surat itu di depan Dharma.
"Ini bukan di Rio, Nona. Disini memiliki aturan dan adat istiadat tersendiri, jadi ... tolong mengertilah!"
Ilena berpikir sejenak. "Baiklah. Aku akan melakukan apa yang Bibi Lidia minta. Apa Bibi akan pergi lama hingga harus menitipkan aku padamu?"
Dharma menghela napas. Pasti sulit bagi Ilena menerima keputusan mendadak dan sepihak seperti ini.
"Sepertinya begitu, Nona."
Ilena menghembuskan napas kasar. "Lalu aku juga harus ikut tinggal di rumahmu?"
"Iya, Nona. Jangan khawatir, aku tinggal sendiri. Dan ada beberapa kamar kosong disana."
"Huft! Baiklah!"
Ilena mengemas barang-barang yang sekiranya ia butuhkan selama tinggal di rumah Dharma. Ingin rasanya mengumpati Lidia, tapi juga tidak mungkin. Hanya dia saja yang kini Ilena miliki di dunia.
Ilena tiba di rumah Dharma yang juga berbentuk tradisional. Ada beberapa lukisan yang tergantung disana.
"Kau suka melukis?" tanya Ilena.
"Dari mana Nona tahu jika ini adalah lukisanku?"
"Itu ada tanda tanganmu dibawah. S. Dharma. Siapa lagi jika bukan namamu? Tapi kenapa memilih lukisan abstrak?"
Dharma menatap lukisan hasil karyanya sendiri.
"Entahlah. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja."
Ilena manggut-manggut.
"Nona, istirahat saja di kamar tamu. Tapi kalau ingin berjalan-jalan, aku bisa menemani Nona."
Wajah Ilena memerah. Ia merasa malu ketika Dharma menatapnya lekat.
__ADS_1
#bersambung