Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
71. Hukuman Eric


__ADS_3

Malam ini Eryn merasa tak bisa tertidur. Selain karena perdebatan dengan ayahnya, ia juga memikirkan soal hukuman yang akan dijalani Eric dalam waktu dekat. Ia menonton berita di televisi jika mantan suaminya itu akan mendapat hukuman mati.


Meski apa yang dilakukan Eric adalah kejahatan, namun Eryn tak bisa memungkiri jika Eric banyak membantu kehidupannya bersama Noah. Apa jadinya jika Noah mengetahui soal ini?


Eryn membolak balikkan tubuhnya berharap matanya bisa terpejam. Esok ia harus memulai persiapan untuk pesta perayaan Grup Se-Kang.


Pikirannya kembali berkutat dengan hubungan antara ayahnya dan Kang Se Hoon yang misterius itu. Tidak mungkin pria itu berani membayar mahal jika tidak punya maksud tertentu.


"Sepertinya aku harus bertanya pada Hyun Woo. Dia adalah tangan kanan ayah, pasti dia tahu sesuatu mengenai ini," gumam Eryn sebelum akhirnya terlelap.


#


#


#


Di sebuah tempat berdinding kokoh dan tak tertembus, seorang pria sedang meratapi nasibnya. Lebih tepatnya merasakan penyesalan yang amat dalam atas apa yang pernah ia lakukan di masa lalu.


Sudah terlambat untuk mengulang waktu. Kini ia harus menebus kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Eryn..."


Satu nama yang selalu ia gumamkan dalam kesendiriannya. Namun sedikitpun hati wanita itu tak pernah berlabuh padanya.


"Maafkan aku, Eryn..." gumamnya lagi dengan meneteskan air mata.


"Eric Evans! Ada pengunjung untukmu!" Suara petugas penjara membuatnya kembali ke alam nyata.


Pria yang adalah Eric itu berjalan gontai menuju ruang tunggu pengunjung.


"Siapa lagi yang menemuiku? Sudah kubilang aku tidak ingin menemui siapapun!" tegas Eric.


"Setiap hari dia datang kemari. Kau harus menemuinya sebelum kau menerima hukumanmu," timpal si penjaga.


Eric melihat sosok yang tidak asing di hidupnya. Sosok itu langsung berbinar senang ketika melihat Eric bersedia menemuinya.


"Untuk apa kau datang lagi?" tanya Eric dingin.


"Aku masih istrimu, Eric," jawab Lolita.


"Sebentar lagi kau akan jadi janda, Lolita."


Wajah Lolita berubah sendu, namun sebisa mungkin ia menampakkan senyumnya di depan Eric.


"Aku akan tetap menemanimu, Eric."


"Hiduplah dengan baik setelah ini. Tolong jaga ibuku, dan juga Elza. Hanya kau yang aku punya saat ini."


Lolita mengangguk.


"Sekarang pergilah! Dan jangan datang ketika aku di eksekusi. Mengerti?!"


Lolita beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan Eric. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Apakah ini hukuman untukku karena sudah mengkhianati sahabatku sendiri?" batin Lolita.


Langkah kaki gontainya membawa Lolita menuju rumah Rose. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


Rose menyambut hangat kedatangan Lolita yang nampak lusuh. Ia prihatin dengan kondisi yang menimpa Lolita.


"Duduklah! Mau minum apa?" tanya Rose.


"Harusnya kau menghujatku saja, Rose. Itu akan lebih baik dari pada kau bersikap baik padaku," sarkas Lolita.


"Tidak, Lolita. Aku tahu dengan kegelisahanmu saat ini. Aku wanita bersuami. Pastinya berat menghadapi semua ini. Aku minta maaf..."


Rose merasa perlu meminta maaf. Setidaknya semua yang terjadi pada Eric adalah karena kakak dan suaminya.


Lolita menggeleng lemah. "Akulah yang harus minta maaf. Kau kehilangan banyak hal karena Eric."


Rose duduk disamping Lolita dan memeluknya.


"Jangan takut! Jika kau butuh apapun katakan saja padaku. Aku akan siap membantumu." Rose mengusap punggung Lolita yang bergetar.


"Terima kasih, Rose."


#


#


#


Hari penghakiman untuk Eric akhirnya tiba. Ia akan menjalani hukuman mati dengan penyuntikkan racun yang akan langsung membuat jantungnya terhenti.


Lolita kembali datang untuk melihat Eric terakhir kalinya. Tak disangka Santoz juga ikut datang untuk menyaksikan hukuman itu.


Lolita sengaja tidak mengajak keluarga Eric. Ia tak tega melihat kesedihan Elza maupun Eleanor. Namun tanpa di duga, Elza datang sendiri untuk menemui kakaknya.


"Elza?" Lolita terkejut melihat kedatangan Elza.


Lolita mengusap punggung Elza untuk menguatkannya.


"Seharusnya kau tidak perlu datang, Elza."


"Tidak, Kak. Aku harus melihat kak Eric untuk terakhir kalinya." Elza terlihat tegar dengan tidak menampakkan air matanya.


"Aku tidak tahu sejak kapan kakakku berubah menjadi seperti ini. Yang aku tahu dia adalah kakak dan anak yang baik."


Lolita menggenggam tangan Elza. "Kau masih punya aku, Elza."


"Terima kasih karena masih bersedia menemani kak Eric hingga akhir."


Petugas memanggil Lolita dan Elza untuk menyaksikan proses eksekusi Eric yang dibatasi dengan dinding kaca tembus pandang, beberapa orang saksi bisa melihat secara langsung saat Eric meregang nyawa.


Tubuh Eric dibawa menggunakan brankar dengan diikat kaki dan tangannya. Eric terkejut ketika melihat Lolita dan Elza ada diantara orang yang akan menyaksikannya dihukum mati. Ditambah lagi dengan Santoz yang sudah ia buat kehilangan istrinya. Rasa penyesalan itu kembali hadir. Namun sekali lagi, semua sudah terlambat.


Seorang dokter memasang selang infus di lengan tangan kanan dan kiri Eric. Pria itu mengatur napasnya sebelum obat itu disuntikkan ke dalam tubuhnya.


Ketika semua sudah siap, seorang petugas menekan tombol dan masuklah obat kedalam selang infus yang langsung ke pembuluh darah menuju jantung. Tubuh Eric berguncang selama beberapa waktu hingga akhirnya tubuh itu terdiam kaku dan dengan mata terpejam.


Dokter itu memeriksa denyut nadi Eric yang sudah menghilang. Ia mencatat waktu kematian Eric.


Diluar ruangan, Elza yang sedari tadi tegar kini menangis tersedu. Ia memeluk Lolita erat menumpahkan segala kesedihannya.


Santoz yang melihat kesedihan dua wanita itu hanya bisa diam. Di belakangnya ada Dixon, Carlos, Rose, dan kawan-kawan yang ternyata ikut menyaksikan eksekusi itu.

__ADS_1


"Semua sudah berakhir, Black. Kau ada dimana sekarang?" batin Dixon.


#


#


#


Di belahan bumi lain, seorang pria mendapat kiriman video terdakwa eksekusi mati atas nama Eric Evans. Pria itu hanya diam tanpa berkomentar.


"Maafkan aku, Eric. Maafkan aku..." gumam pria itu.


Ia mengusap wajahnya. Kesedihan masih tergambar di wajahnya meski berusaha ia tutupi. Ia memandangi foto dirinya dan sahabatnya yang kini telah tiada karena ulahnya sendiri.


"Selamat jalan, kawan. Kau sudah sampai di ujung penantianmu..."


.


.


.


Sementara itu, Eryn juga mendapat kabar tentang eksekusi Eric. Ia memeluk Noah erat dengan air mata yang mengalir deras.


"Mommy, ada apa? Kenapa Mommy menangis?" tanya bocah kecil itu tak paham dengan yang terjadi.


Eryn makin mendekap erat Noah. Pria yang selalu di panggilnya 'Daddy' kini telah tiada.


"Sayang, kita doakan yang terbaik untuk daddy Eric ya," ucap Eryn ketika sudah lebih tenang.


"Kenapa Mommy? Ada apa dengan daddy Eric? Dia akan datang kesini kan?"


Eryn menggeleng. "Tidak, sayang. Daddy Eric tidak akan bisa datang kemari. Dia sudah tenang disana."


Noah masih tak paham dengan penjelasan Eryn.


"Jangan memaksanya untuk mengetahui semua permasalahan orang dewasa," sahut Kang Joon yang tiba-tiba datang.


Eryn mengangguk.


"Kau beristirahat saja dulu! Aku akan menjaga Noah," lanjutnya.


"Terima kasih, Joon. Kalau begitu aku pergi ke kamar dulu."


Joon membelai puncak kepala Eryn. "Jangan pikirkan apapun! Semua sudah berjalan sesuai porsinya. Kau hanya tinggal memainkan peran saja."


"Daddy Dokter, ayo main denganku!" celetuk Noah yang membuat Joon dan Eryn segera menoleh ke arah Noah.


Eryn memberi kode dengan matanya jika Joon harus menuruti keinginan Noah. Joon segera berlari menghampiri Noah.


Eryn memperhatikan interaksi kedua orang itu. Chemistry diantara mereka memang sangat erat. Eryn tidak akan tega mematahkan hati putranya itu.


"Mungkin memang sudah waktunya aku memutuskan pilihan untuk Noah. Semoga ini adalah yang terbaik," batin Eryn.


#tobecontinued


*Mayan sedih pas bikin part ini. Tapi yaah semua harus terjadi.

__ADS_1


pada akhirnya, Semua akan menemukan kebahagiaannya sendiri2.


Jangan lupa dukungannya ya genks 😘😘


__ADS_2