
Di sebuah rumah mewah, mentari pagi yang hangat menerpa bumi dengan cahaya terangnya. Tak peduli jika seorang anak manusia masih berkutat dengan selimut dan kasur empuknya. Mentari seolah membangunkan insan yang sedang terlelap itu.
Wajah cantik wanitu itu terkena hamparan sinar mentari hangat yang membuatnya terbangun dari tidur panjangnya. Ia membuka mata seolah telah begitu lama berselimut mimpi.
Matanya mengerjap pelan dan memperhatikan sekeliling tempatnya bangun. Tempat yang ia singgahi ini tidak ia kenali.
"Dimana aku?" gumamnya.
Wanita itu adalah Eryn. Kini ia berada di tempat yang tak ia kenali. Ia mulai mengurut satu persatu rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.
"Hah?! Apa jangan-jangan..."
Eryn turun dari ranjang empuknya dan berjalan ke balkon kamarnya. Terdengar suara riuh anak kecil yang sedang bermain di taman bawah kamarnya. Ia mengenali siapa anak yang sedang bermain itu.
Eryn membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi kemudian keluar kamar. Ia berjalan mencari pintu untuk keluar menuju taman yang dilihatnya tadi.
"Nona sudah bangun?" Sebuah suara membuat Eryn sedikit terkejut.
"Kau?" Eryn membulatkan mata.
"Saya Lee Hyun Woo. Kita pernah bertemu beberapa tahun lalu. Saya tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi dengan cara yang tak terduga. Saat itu saya tidak tahu jika Nona adalah putri dari Tuan Kim."
Eryn terdiam dan masih mencerna semua penjelasan pria berusia sekitar 40 tahunan itu.
"Mungkin Nona masih sedikit bingung dengan semua ini. Tapi, percayalah, ayah Nona hanya melakukan yang terbaik untuk Nona," lanjut Hyun Woo.
"Ayahku adalah pemilik JK Grup. Aku masih belum bisa percaya itu," batin Eryn.
"Dimana ayah sekarang?" tanya Eryn.
"Tuan Kim masih ada di ruang kerjanya. Jika Nona ingin bertemu dengan putra Nona maka Nona bisa langsung bertemu dengannya."
Eryn mengangguk.
"Mari, Nona!"
Hyun Woo berjalan di depan dan Eryn mengikutinya.
Tiba di sebuah taman samping rumah, Eryn menatap Noah yang sedang bermain bersama dengan seorang pria.
"Mommy!" Noah berseru gembira ketika melihat Eryn ada disana. Ia langsung memeluk ibunya itu.
"Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?" Eryn membalas pelukan Noah. Ia berjongkok agar bisa menyamai tinggi badannya dengan Noah.
"Aku baik, Mommy. Kakek Kim sangat baik. Dan juga Dokter Joon. Dia selalu bermain denganku," celoteh Noah dengan gaya lucunya.
"Dokter Joon?" Eryn mengernyitkan dahi.
"Hai," sapa seorang pria yang tadi bermain dengan Noah.
"Hai," balas Eryn.
"Aku Lee Kang Joon. Aku adik kak Hyun Woo. Kebetulan aku adalah dokternya Noah," jelas pria itu.
"Dokternya Noah? Memangnya anakku sakit apa?" Eryn syok mendengar perkataan Joon.
"Tidak, bukan begitu, Nona. Noah tidak sakit. Tuan Kim hanya memintaku untuk memeriksa kondisi psikis Noah. Selama ini dia hidup jauh dari orang tuanya. Pasti ada trauma tersendiri yang dia alami. Kebetulan aku adalah seorang dokter anak."
"Oh, begitu. Maaf aku sudah berpikiran buruk."
"Mommy! Apa Mommy akan tinggal bersamaku disini?" tanya Noah.
"Eh?" Eryn bingung harus menjawab apa. Hingga akhirnya sebuah suara menginterupsi mereka.
"Selamat datang, Putriku..."
__ADS_1
Eryn membalikkan badan dan melihat pria paruh baya berdiri tak jauh darinya.
"Kau bisa menanyakan semuanya padaku. Aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Tuan Kim.
Eryn menimang-nimang apakah ia harus bertanya pada ayahnya atau tidak.
"Noah, kau bermain dulu dengan Paman Dokter ya. Mommy akan bicara dengan kakek dulu," ujar Eryn.
"Baik, Mommy." Noah kembali berlari ke tengah taman.
Eryn berbalik badan dan mengikuti langkah Tuan Kim. Sedangkan Joon hanya memperhatikan Eryn yang kian menjauh. Seulas senyum terbit di wajah tampan Joon.
"Ada apa, Adikku? Apa kau terpesona padanya?" Hyun Woo membuyarkan lamunan Joon.
"Hyung, apa yang kau katakan?" Joon menggaruk tengkuknya.
"Dia memang sangat cantik dan hatinya juga sangat lembut. Jika kau memang ingin bersama dengannya, kau harus bekerja keras." Hyun Woo menepuk pundak adiknya.
"Hyung, jangan bicara sembarangan. Kami bahkan baru bertemu pagi ini." Joon yang merasa sangat malu akhirnya memilih untuk menemani Noah bermain.
Di ruang kerjanya, Tuan Kim meminta Eryn untuk duduk di sofa. Mereka duduk bersebelahan. Banyak hal yang sebenarnya ingin Eryn tanyakan tapi entah kenapa ia tak mampu bicara apa pun. Ia hanya ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ayahnya.
"Putriku!" Tuan Kim memeluk Eryn.
"Maaf jika selama ini aku tidak mengetahui keberadaanmu. Aku mencarimu selama bertahun-tahun."
Tuan Kim menceritakan segalanya pada Eryn. Mulai dari pertemuan dengan ibunya dan hingga ia harus kehilangan Eryn yang di ceritakan telah meninggal saat dilahirkan.
"Maafkan aku, Putriku. Maafkan aku..."
Pria itu bersimpuh dan meminta maaf pada Eryn.
"Jangan begini, Ayah. Bangunlah!"
Eryn membawa tubuh ayahnya untuk duduk kembali di sofa.
Eryn menjeda kalimatnya.
"Tapi apa, Nak?"
"Tidak seharusnya Ayah membawaku kemari tanpa adanya persetujuanku. Bukankah aku sudah bilang jika aku pasti akan memberi jawaban atas keinginanmu, Ayah."
"Maafkan aku. Aku hanya ingin menyelamatkanmu, Nak."
"Saat ini Eldric dan Rose membutuhkan bantuanku. Tidak seharusnya aku pergi dengan cara seperti ini." Eryn mendesah pelan. Ia masih tak terima dengan sikap ayahnya.
"Maaf, Nak. Ayah tidak ingin kau berada dalam bahaya. Berurusan dengan mereka hanya akan membahayakan nyawamu." Tuan Kim berusaha memberikan pengertian pada Eryn.
"Tapi Eldric adalah suamiku, Ayah. Dan dia adalah ayah kandung Noah." Suara Eryn mulai melemah.
"Baiklah, aku mengerti. Sebaiknya kau beristirahat saja dulu. Kau pasti masih lelah. Ayah akan tetap mendukung apa pun keputusanmu."
Tuan Kim keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Eryn yang masih bergeming.
...👍...
...👍...
...👍...
...👍...
Eryn menemani Noah hingga bocah lelaki itu tertidur dalam dekapannya. Ia mengusap puncak kepala Noah. Malam sudah semakin larut namun kelopak mata Eryn masih enggan terpejam.
Pikirannya berkelana menuju Eldric dan Rose. Ingin sekali ia kembali ke Meksiko dan menemui suaminya. Namun disini juga ada Noah yang membutuhkan dirinya. Sudah cukup lama Noah tak mendapat kasih sayang dari ibunya. Bahkan Noah tak pernah mendapatkan curahan cinta dari ayah kandungnya.
__ADS_1
Eryn mendekap Noah erat. Ia berharap jika Eldric akan datang kemari dan berkumpul kembali bersama sebagai sebuah keluarga kecil yang utuh.
Namun berbagai kecemasan juga melanda hatinya. Mengingat ucapan ayahnya yang seakan tak menyetujui hubungannya dengan Eldric yang penuh dengan ancaman dan bahaya. Menjadi seorang istri mafia haruslah siap untuk menghadapi bahaya. Dan Eryn merasa jika dirinya siap.
Satu hal yang harus Eryn lakukan saat ini, ia harus memberitahu Noah siapa ayah kandungnya. Ia ingin Noah mengenal ayahnya dan bukan hanya Eric yang pernah menjadi ayahnya.
Keesokan harinya, Eryn bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk anggota keluarganya. Ia memasak makanan kesukaan Noah.
Setelah selesai memasak, Eryn menata makanan diatas meja. Seorang asisten rumah tangga menghampiri Eryn.
"Nona, kenapa Nona melakukan ini?" tanya wanita itu.
Eryn tersenyum. Ia belum berkenalan dengan semua penghuni rumah ayahnya.
"Tidak apa. Aku terbiasa melakukan ini," jawab Eryn.
"Saya Ji Hyo. Saya sudah lama ikut dengan Tuan Kim. Saya senang karena Tuan Kim akhirnya menemukan Nona."
Eryn membalas dengan sebuah senyuman.
"Ahjumma, jangan sungkan padaku. Aku sudah biasa membantu pekerjaan rumah. Lagipula aku seorang ibu, jadi aku tahu apa yang harus kulakukan. Terima kasih Ahjumma sudah menjaga Noah selama ini. Sup kacang merah adalah makanan kesukaan Noah. Dan ini juga jadi makanan kesukaan ayah kandung Noah," jelas Eryn.
"Ayah kandung?" Suara merdu seorang pria kecil membuat Eryn dan Ji Hyo menoleh.
"Mommy, apa itu ayah kandung? Apa itu adalah Daddy Eric? Tapi Daddy tidak suka sup kacang merah," tanya Noah polos.
"Hah?!" Eryn terkejut dengan pertanyaan Noah.
"Jelaskan semuanya pada Noah, Nak. Dia anak yang cukup pintar untuk memahami kondisi orang tuanya." Tuan Kim datang bergabung dengan mereka.
"Tapi, Ayah..."
"Sudah saatnya Noah tahu siapa ayah kandungnya. Bukankah ini yang kau inginkan? Kau ingin Noah mengenal ayah kandungnya."
Noah menatap kedua orang tua yang sedang berbincang itu secara bergantian.
Eryn menguatkan hati untuk bisa mengatakan kebenarannya pada Noah.
"Sayang..." Eryn menunduk agar bisa menyamai tinggi badan Noah.
"Daddy Eric bukanlah ayahmu, Nak," ucap Eryn perlahan.
"Hmm?" Noah terlihat bingung dengan penjelasan Eryn.
"Maaf, Nak. Jika selama ini Mommy membohongimu." Eryn mulai berkaca-kaca.
"Lalu, siapa ayahku, Mommy?" tanya Noah yang mulai paham dengan arah pembicaraan ibunya.
"Ayahmu bernama Eldric Albana."
"Jadi dia meninggalkan aku dan Mommy? Kenapa dia meninggalkan kita, Mommy? Apa dia tidak menyayangi kita?" Mata Noah juga mulai mengembun.
Eryn menggeleng. "Tidak, Nak. Bukan seperti itu. Mommy yakin dia juga menyayangi kita. Dia hanya..."
"Bohong! Mommy bohong! Daddy tidak menginginkanku. Dia meninggalkan aku!" Noah berlari meninggalkan Eryn yang kini menangis tersedu.
"Noah! Tunggu, Nak!"
Eryn ingin mengejar Noah namun Joon tiba-tiba datang dan menghentikannya.
"Biar aku saja yang bicara dengannya, Nona." Joon segera berlari mengejar Noah.
#tobecontinued
*Hyung\= panggilan adik laki2 utk kakak laki2nya.
__ADS_1
*Ahjumma\= bibi