Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
19. Permainan Black (02)


__ADS_3

Eleanor menatap Eryn dengan kilatan amarah dimatanya. Tangannya kembali terangkat ingin menampar wanita itu lagi. Namun Elza segera datang dan menengahi mereka.


Eryn hanya diam menerima semua kemarahan ibu mertuanya. Ia memang bersalah karena sudah membuat keluarga ini berada dalam masalah.


"Kenapa pria itu harus menyerang Eric? Ini pasti ada hubungannya denganmu kan? Atau sebenarnya kau bersekongkol dengannya?" cecar Eleanor.


Eryn menggeleng. "Ibu..."


"Jangan memanggilku ibu! Sejak awal kau memang ingin memanfaatkan Eric, bukan? Kau datang dalam hidupnya hanya untuk menghancurkannya!"


"Tidak, Bu!" elak Eryn.


"Kembalikan putraku!" Eleanor memegangi kedua bahu Eryn. "Kembalikan dia!" Ia mengguncang tubuh Eryn dengan kencang.


"Ibu, hentikan!" Elza menarik tangan Eleanor.


"Aku sudah menghubungi paman Ramoz, besok dia akan datang. Kita akan bicara padanya. Aku yakin dia bisa membantu kita. Sebaiknya ibu istirahat. Ini sudah malam," lanjutnya.


Eleanor mulai mengatur napasnya.


"Bibi Erica, antar ibu ke kamarnya!" pinta Elza.


Erica mengangguk dan membawa Eleanor menuju kamarnya. Sementara Elza kembali menghampiri Eryn.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Elza.


Eryn mengangguk.


"Kakak jangan khawatir. Paman Ramoz adalah kenalan ayahku. Dia seorang pengacara. Aku yakin dia bisa membantu membebaskan Kak Eric. Sekarang kakak isitrahat saja ya! Maaf atas perlakuan ibu padamu. Aku harap kakak bisa mengerti."


Setelah mengatakan semuanya, Elza pun berlalu dari hadapan Eryn. Wanita cantik itu masih mematung. Hingga akhirnya Matilda menghampirinya dan menyadarkan Eryn dari lamunannya.


"Nyonya, sebaiknya Nyonya istirahat di kamar."


"Bibi? Dimana Noah?"


"Tuan kecil sudah tidur di kamarnya."


Matilda melihat raut kesedihan di wajah Eryn.


"Nyonya pasti bisa menghadapi semua ini. Bersemangatlah!"


"Iya, Bi. Terima kasih."


Matilda melangkah bersama Eryn menuju kamarnya. Namun ternyata, Eryn lebih memilih untuk menuju ke kamar Noah.


Dilihatnya bocah lelaki itu sudah terlelap diatas tempat tidur. Meski keadaan kamar masih sedikit berantakan karena ulah orang-orang dari kejaksaan tadi, tapi sudah dirapikan oleh Matilda.


Eryn naik keatas ranjang dan memeluk putranya. Diciuminya wajah Noah dengan penuh cinta.


"Mommy mencintaimu, Nak. Hanya kau yang mommy punya. Jangan pernah tinggalkan Mommy ya, Nak." Buliran bening kembali mengalir dari sudut mata Eryn.


...🌿🌿🌿...


Keesokan harinya, Black mendatangi kantor kejaksaan untuk menemui Eric. Sejak kemarin Eric menjadi tahanan kejaksaan karena semua berkasnya sudah lengkap dan tinggal menunggu waktu untuk persidangan.

__ADS_1


Black menatap Eric yang sedang meringkuk di sebuah ruangan khusus terdakwa.


"Ckckckck, malang sekali sahabatku itu." Black mengusap dagunya.


Ingatannya kembali saat ia meminta pihak kejaksaan untuk menjemput paksa Eric dari kantornya karena dia adalah tersangka beberapa kasus penipuan dan juga korupsi. Sementara Eric dibawa paksa oleh beberapa orang, Black meminta Eryn untuk datang menemuinya di hotel miliknya.


"Malang sekali nasibmu, Eric. Kau dan istrimu harus menanggung apa yang sudah kalian lakukan padaku!" geram Black jika mengingat pengkhianatan yang dilakukan Eric dan Eryn.


Benarkah begitu? Atau hanya Black sendiri yang berasumsi?


"Buka pintunya! Aku ingin menemui sahabatku!" perintah Black pada seorang petugas.


Black masuk dan melihat Eric yang masih tertidur. Black bertepuk tangan hingga membuat Eric terkesiap lalu bangun dari tidurnya.


"Wah wah wah, apa tidurmu nyenyak, huh? Bagaimana rasanya tidur di penjara dan kau tidak bisa bertemu dengan keluargamu?" seringai Black.


"Jangan lakukan apa pun pada keluargaku atau kau..." Eric tersulut emosi dengan tingkah Black.


"Atau apa? Apa yang bisa kau lakukan saat kau hanya terpenjara disini?"


"Kau!" Eric mengepalkan tangannya.


"Aku akan merebut semuanya darimu, Eric. Pertama-tama adalah perusahaanmu, lalu istrimu..." Black tersenyum seringai.


"Apa kau tahu apa yang sudah kulakukan bersama istrimu? Uuh, dia sangat seksi dan panas saat di ranjang. Lalu bibirnya ... manis sekali seperti strawberry." Black mengusap bibirnya.


"Brengsek kau, Black!" Eric maju dan mencengkeram kerah baju Black.


"Jangan pernah sakiti dia! Atau aku akan membunuhmu!" ancam Eric.


Eric terdiam. Black menghempaskan tangan Eric yang memeganginya.


"Ingat, Eric! Aku akan membalas semua yang terjadi padaku beberapa tahun lalu."


Black segera berlalu dan meninggalkan Eric yang masih mematung. Ia mengacak rambutnya. Hanya bayangan Eryn yang selalu menghiasi pikirannya. Ia tidak akan sanggup kehilangan wanita itu.


.


.


.


-Kediaman Evans-


Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga bersama dengan Gabriel Ramoz, pengacara dan juga sahabat dari mendiang Chris Evans. Elza sudah menceritakan apa yang terjadi dengan kakaknya dan juga penggeledahan yang dilakukan pihak kejaksaan kemarin.


"Jika berkasnya sudah ditangan jaksa, maka akan sulit untuk menjamin Eric," ucap pria paruh baya itu.


"Tapi, Paman ... Pasti ada acara kan untuk membuat kakak kembali bebas? Tolonglah kami! Hanya Paman satu-satunya harapan kami," pinta Elza dengan memelas.


"Lakukanlah apa pun, Gab. Aku mohon bebaskan putraku." Eleanor ikut memohon.


"Kasus ini bukan kasus biasa, Eleanor. Tuduhan terhadap Eric sudah disertai bukti-bukti. Apalagi perusahaan putramu juga menjadi taruhannya."


"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Eryn ikut masuk dalam perbicangan.

__ADS_1


"Tutup mulutmu! Kau yang sudah membuat kami terkena masalah!" Eleanor menunjuk Eryn.


"Sudah, Eleanor! Jangan menyalahkan Eryn. Dia adalah istri Eric. Dalam hal ini hanya dia yang berhak untuk mengurus perusahaan sementara waktu. Nak, sebaiknya kau pergi ke Evans Grup dan gantikan pekerjaan Eric."


"Tapi, Paman..." Eryn akan menolak. Namun Ramoz berusaha memberinya pengertian.


"Gab, dia bukanlah siapa-siapa. Kenapa bukan aku saja yang mengurus perusahaan?" Suara Eleanor mulai lirih.


"Seumur hidupmu kau tidak pernah bekerja, Eleanor. Kau tidak bisa menggantikan Eric untuk sementara, jadi biarkan menantumu melakukan tugasnya. Nak, pergilah dan urus perusahaan," sambung Ramoz.


Eryn mengangguk kemudian berpamitan pada semua orang.


...🌿🌿🌿...


-Evans Grup-


Eryn menemui Santoz dan berkoordinasi dengan asisten Eric itu. Banyak hal yang harus Eryn lakukan untuk memperbaiki keadaan.


"Saham kita terus menurun, Nyonya. Kita terpaksa harus menjual beberapa aset kita," jelas Santoz.


Eryn berpikir sejenak. "Apa tidak ada cara lain? Ini baru satu hari dan semua sudah kacau?" Eryn memegangi pelipisnya.


"Berita sudah menyebar luas, Nyonya. Sejak kemarin wartawan juga terus berdatangan sejak penangkapan Tuan Eric."


"Baiklah, apa yang akan kita jual? Apakah harus ada karyawan yang dirumahkan?" tanya Eryn.


"Kita harus menjual cabang di Kolombia. Itu adalah usulan dari para pemegang saham."


Eryn kembali berpikir. "Baiklah, adakan rapat dengan mereka. Kita akan bahas masalah ini!"


"Tidak perlu repot-repot mengadakan rapat, Nyonya Evans. Dengan senang hati aku akan membeli perusahaan suamimu itu!" Sebuah suara membuat Eryn dan Santoz menoleh.


"Kau! Apa yang kau lakukan di kantor suamiku?" geram Eryn.


"Aku akan membantumu, Nyonya Evans. Aku bersedia membeli aset milik Evans Grup. Bagaimana?" Siapa lagi kalau bukan Black, si penguasa dunia bawah.


Pria itu menghampiri Eryn dan berhadapan dengannya. Ia melipat tangannya didepan dada.


"Kurasa kau tidak punya pilihan lain, Nyonya..."


Eryn mengepalkan tangannya.


"Kau memang brengsek, Black! Orang sepertimu harusnya membusuk di neraka!" teriak Eryn.


Black meradang mendengar Eryn mengumpatinya kasar. Ia kalap dan menarik tangan Eryn kasar hingga tubuh wanita itu terkunci dalam dekapannya.


"Brengsek! Apa yang kau lak..."


Seperti biasa Black membungkam bibir Eryn dengan bibirnya.


"Hmmpph!" Eryn meronta namun pria itu terus menciumnya dengan kasar.


...B e r s a m b u n g...


*ckckck, benci dan cinta itu tipis, Black. Kau mencintainya tapi kau terus menyakitinya. Apakah Eryn bisa bertahan?

__ADS_1


__ADS_2