
Elza menautkan jari-jarinya selama perjalanan pulang menuju rumahnya. Ia masih memikirkan tentang dua orang yang dilihatnya di rumah sakit tadi. Dua orang itu terlihat mencurigakan.
"Siapa mereka? Apa mereka adalah salah satu musuh Kak Eric?" batin Elza.
"Tapi, jika benar. Harusnya dia mengejarku dan juga mobil ini. Sekarang kehidupan kak Eric dipenuhi oleh misteri. Dia sangat berkuasa, namun pasti banyak musuh yang mengintai," lanjut Elza membatin.
Sementara Eleanor, ia terus bicara dan mengumpati keputusan Eric untuk tetap menikahi Lolita. Ia benar-benar kesal dengan sikap Eric yang sudah berubah. Eric bukan lagi anak penurut yang selalu mendengar apa yang dikatakannya.
Tiba di kediaman keluarga Evans, Elza melihat ada dua orang berpakaian serba hitam sedang mengawasi rumahnya. Kecurigaan Elza makin besar jika orang-orang itu adalah bagian dari orang-orang yang sama dengan yang dilihatnya di rumah sakit.
"Siapa mereka? Untuk apa mereka mengawasi keluargaku? Apa ini ada hubungannya dengan kak Eric?" Lagi-lagi Elza hanya bisa membatin tanpa bisa menceritakannya pada ibunya.
Tentu saja Eleanor tidak akan percaya karena wanita itu sedang sibuk mengumpati kakaknya.
.
.
.
Orang-orang yang mengawasi keluarga Evans adalah orang-orang suruhan dari Tuan Kim yang ingin menyelidiki masa lalu putrinya.
Tuan Kim kehilangan putrinya karena dikatakan jika istri dan putrinya telah meninggal ketika dilahirkan. Hingga puluhan tahun berlalu dan akhirnya Tuan Kim mendapatkan informasi jika putrinya masih hidup dan diadopsi oleh keluarga terpandang di Kolombia. Namun lagi-lagi kepahitan diterima oleh Tuan Kim karena ternyata putrinya tidak lagi tinggal disana dan seluruh anggota keluarga itu telah meninggal dunia.
Kini Tuan Kim mulai menemukan titik terang tentang keberadaan putrinya yang ternyata telah memiliki seorang putra. Anak itu tumbuh dengan baik meski terpisah dengan ibunya.
Tuan Kim melihat kebahagiaan di wajah Noah yang sekarang sedang bermain bersama para pelayan di rumahnya.
"Tuan, ada telepon dari Meksiko," ucap salah seorang pelayan memberikan gagang telepon pada Tuan Kim.
"Halo, bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?"
"Tuan Kim, putri Anda menikahi putra tunggal keluarga Evans. Namun pernikahan mereka telah berakhir beberapa bulan yang lalu. Keluarga Evans juga sudah memiliki menantu lain di rumahnya."
"Lalu, dimana putriku sekarang?"
"Maaf, Tuan. Kami masih belum menemukan jejaknya. Ada informasi jika putri Tuan di sembunyikan di suatu tempat. Kami akan menyelidikinya lebih dalam."
"Baiklah. Jangan segan untuk menghabisi orang-orang yang menyakiti putriku."
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir. Tuan Kim kembali menatap Noah yang tertawa dengan gembira.
"Apakah kau adalah anak dari keluarga Evans, cucuku? Atau... Kau memiliki ayah lain? Aku harus melakukan tes DNA untuk memastikan siapa ayahmu."
...πΏπΏπΏ...
Lolita merapikan barang-barangnya yang akan di bawa pulang. Kondisinya sudah mulai pulih dan sudah diperbolehkan pulang.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Eric.
Lolita hanya menganggukkan kepala. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Eric. Namun bibirnya tak dapat mengatakan apa pun.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Umm, Eric..."
Eric berusaha mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Lolita.
"Apa yang ibumu katakan?" Tanya Lolita pada akhirnya.
Eric menghela napasnya.
"Kau pasti sudah tahu apa yang dipikirkan ibuku."
Lolita menundukkan kepalanya. Rasanya seluruh hidupnya telah usai.
"Kau tenang saja! Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Eric dengan suara lembut.
"Eh?" Lolita mendongakkan kepalanya.
"Aku minta jangan berpikiran buruk. Kita tidak akan bercerai, tidak akan pernah."
__ADS_1
Mata Lolita berkaca-kaca. "Terima kasih, Eric. Terima kasih." Lolita memeluk tubuh Eric.
Eric menepuk pelan punggung Lolita.
"Sudah ya! Ayo kita pulang! Dan jangan katakan apa pun didepan wartawan. Biarkan aku yang menjawab semuanya."
Lolita menganggukkan kepala. Eric merangkul bahu Lolita dan membawanya keluar.
Tiba di lobi rumah sakit, Eric dan Lolita disambut dengan banyaknya wartawan yang menunggu konfirmasi dari mereka.
"Tuan Eric, apa benar istri Anda mengalami keguguran?"
"Apa yang menyebabkan istri Anda kehilangan bayinya?"
"Bagaimana kondisi Nyonya Evans sekarang?"
Begitulah segelintir pertanyaan yang terlontar dari beberapa pencari berita. Eric hanya diam tanpa menjawab. Ia menyerahkan semuanya pada Santoz.
"Tolong beri jalan! Istriku butuh istirahat! Semua pertanyaan akan dijawab oleh asistenku, Santoz. Permisi!"
Eric segera membuka pintu mobil dan mempersilakan Lolita untuk masuk. Selama di perjalanan, Lolita terus menggenggam tangan Eric. Saat ini hatinya berbunga-bunga karena Eric tidak menuruti keinginan ibunya yang memintanya untuk bercerai.
Tiba di rumahnya, Eric mengantar Lolita hingga ke kamar mereka. Hari ini, Eric berlaku seperti Eric yang hangat yang dikenal Lolita dulu.
"Kau istirahat saja dulu. Aku harus mengurus pekerjaanku," pamit Eric.
Namun tangannya ditarik oleh Lolita. Sepertinya Lolita tidak rela jika Eric harus pergi lagi meninggalkannya.
"Aku tidak akan pergi lagi. Aku hanya akan menemui Santoz di kantor. Percayalah padaku!"
Suara lembut Eric akhirnya membuat hati Lolita luluh. Dengan berat hati ia mengizinkan Eric untuk pergi.
"Baiklah. Tapi kau pasti akan pulang kan?" tanya Lolita penuh harap.
Eric tersenyum. "Iya, aku pasti akan pulang."
Lolita melepaskan tangannya dan membiarkan Eric pergi. Entah kenapa dadanya terasa sesak dan bergemuruh. Seolah hal besar akan terjadi dalam kehidupannya dan Eric.
...πΏπΏπΏ...
Sementara itu, di tempat kedatangan bandara, Don Juan Blanco turun dari pesawat yang membawanya tiba di Rio untuk bertemu dengan wanita yang sudah membuat dunia dua pria berubah 180 derajat. Siapa lagi kalau bukan Eryn.
Sebenarnya pria paruh baya itu sudah mengenal Eryn sejak dulu. Bahkan memiliki hubungan yang tak bisa diputus hanya karena terpisah jarak dan waktu.
"Kita langsung temui wanita itu. Dia pasti terkejut melihatku ada disini," ucap Juan begitu masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan."
Mobil pun mulai melaju menuju kediaman Eryn. Meski Eric sudah menyembunyikan Eryn dengan baik, tentu saja bos mafia sekelas Juan pasti bisa menemukan apa yang bahkan disembunyikan di lubang tikus sekalipun. Tidak ada rahasia di dunia ini. Begitu menurutnya.
Tiba di sebuah rumah yang cukup besar, Juan turun dan disambut oleh para penjaga bayaran Eric. Orang-orang itu terkejut dengan kedatangan Juan.
"Jangan katakan pada Eric jika aku datang kemari!" ucap Juan pada kedua penjaga.
Masuk ke dalam rumah, Juan kembali disambut dengan beberapa penjaga.
"Cih, pria itu menjaga wanitanya dengan baik, huh! Tapi sayang, dia tidak akan luput dari pantauan Don Juan Blanco."
Juan masuk kedalam rumah dan bertemu dengan Matilda. Wanita paruh baya itu sangat terkejut dengan kedatangan orang asing di rumah itu.
"Siapa kau?" tanya Matilda.
Pengawal Juan langsung menodongkan senjata pada Matilda. Wanita itu diam dan tak melawan lagi.
"Dimana Eryn?" tanya Juan.
"Nona..."
"Jawab!" Si pengawal menodongkan senjata kearah kepala Matilda.
"Nona ada di kamarnya!"
"Tunjukkan dimana kamarnya!"
__ADS_1
"Itu! Di ujung sana!" tunjuk Matilda.
Juan kembali berjalan dan berdiri di depan pintu sebuah kamar. Ia mengetuk kamar itu.
"Ada apa, Bi?" tanya Eryn ketika membuka pintu. Ia mengira Matilda lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Halo, Eryn..." sapa Juan dengan seringai mengerikan.
Mata Eryn membulat sempurna.
"Kau!" tunjuk Eryn dengan tangan bergetar.
"Bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa. Aku tidak menyangka kau akan tetap hidup enak setelah seluruh keluarga angkatmu mati."
Eryn berjalan mundur. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ingatan mengenai pria yang ada didepannya mulai memutar di otaknya.
"Aaaaa!" Eryn berteriak.
"Oh, jadi kau mulai ingat dengan masa lalumu? Baguslah kalau begitu! Kau harus ingat siapa dirimu! Anak sial yang tidak diinginkan oleh siapapun!"
"Tidak!" Eryn memegangi kepalanya sambil menggeleng.
"Apa yang Paman inginkan?" tanya Eryn dengan mata memerah.
"Wah, kau ingat jika aku adalah Pamanmu? Ya! Aku adalah Pamanmu! Dan akulah yang sudah membuangmu ke panti asuhan!" teriak Juan.
"TIDAK! Hentikan!"
"Kau adalah anak sialan yang sudah membuat adikku meninggal."
"Tidak!" Kepala Eryn terasa ingin pecah. Juan mengingatkan semua tentang masa lalu Eryn yang kelam.
"Jika saja adikku tidak bertemu dengan lelaki brengsek itu, maka semua tidak akan jadi begini, Eryn. Kau harusnya tidak perlu lahir ke dunia."
"Hentikan! Jangan lanjutkan!" Air mata Eryn telah luruh membasahi seluruh wajahnya.
"Kau membunuh adikku! Tapi kau sangat beruntung karena kau di adopsi oleh keluarga Albana. Aku sudah menyingkirkan satu putri di keluarga itu dan Edward mendapatkan putri yang lain yaitu kau! Tapi kau memang pembawa sial! Kau kembali membunuh seluruh keluargamu! Kau tidak pantas hidup, Eryn!"
"Tidak! Hentikan, Paman!"
Eryn meringkuk di pojok kamar dengan menutupi kedua telinganya dengan tangan.
.
.
.
Eric segera mengangkat panggilan di ponselnya. Sedari tadi ponselnya bergetar namun ia harus mengabaikannya karena Lolita terus menahannya. Eric berjalan keluar rumah dan akan menuju ke kantornya.
Lolita menatap kepergian Eric dengan sendu. Ia tahu jika Eric pasti akan kembali menemui Eryn.
"Halo, Enrique. Katakan situasinya dengan jelas!" ucap Eric di sambungan telepon.
"El-Black masih hidup, Tuan."
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Dia ditolong oleh Carlos dan juga nona Rose."
"Brengsek! Sekarang ada dimana dia?"
"Dia ada di Rio, Tuan. Dan juga..."
"Dan juga apa?"
"Tuan Juan juga sedang ada di Rio. Dia sekarang ada di rumah nona Eryn."
"APA! Cepat siapkan penerbangan untukku! Aku harus ke Rio sekarang juga!"
#tobecontinued
*Omegooood, eke kok deg2an yaak π π π
__ADS_1