Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
130. Kutukan Ilena


__ADS_3

Ilena terbangun di pagi dengan keadaan yang tidak berbusana. Hanya sebuah selimut tipis yang menutupi tubuhnya dan Red yang masih terlelap usai pergumulan mereka.


Berkali-kali Red memaksakan kehendaknya kepada gadis itu. Tubuhnya telah pasrah dan tak lagi melawan. Hanya rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


Tatapan matanya kosong seakan tak ada nyawa dalam tubuhnya kini. Namun sebisa mungkin ia masih berpikir waras.


Ilena bangkit dari ranjang yang harusnya hanya muat untuk satu orang itu. Namun karena Red terus mendekap tubuhnya mendekat, jadilah mereka tidur satu ranjang dengan posisi yang sangat dekat.


Ilena menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Rasa sakit yang mendera tubuhnya tidak ia hiraukan. Tak ada lagi air mata yang mengaliri wajah cantik namun lusuhnya.


Ilena memunguti satu persatu pakaiannya yang telah koyak karena ulah Red. Ia menuju ke kamar mandi sempit yang ada di ruang itu.


Ilena mengguyur tubuhnya yang terasa kotor. Ia menggosok semua tanda yang diberikan Red di tubuhnya. Semakin di gosok, semakin menyakitkan dan membuat kulit Ilena terluka.


Ketika masih berada di dalam kamar mandi, pintu kamar mandi diketuk, lebih tepatnya di gebrak.


"Ilena!" teriak Red dari luar.


"Buka pintunya! Ilena! Buka sekarang juga atau kudobrak!"


Tak ingin membuat masalah lagi dengan pria yang sudah merenggut mahkotanya, Ilena pun membuka pintu.


"Siapa yang menyuruhmu mandi, huh?! Aku bahkan tidak memerintahkanmu untuk bangun dari tempat tidur! Berani sekali kau, huh?!"


Red masih kalap. Matanya memerah masih dengan kilatan dendam disana.


Red masuk ke dalam kamar mandi dan mengulangi kegiatan semalam disana. Ilena bahkan tak sempat menolak. Tubuh dan hatinya sudah sangat lelah.


Pasrah. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Saat ini yang ia rasakan adalah sebuah kebencian. Ia sangat benci pada pria yang sedang mengerang karena nikmat yang diberikan Ilena padanya.


Red membawa Ilena keluar dari kamar mandi dan kembali menghukum gadis itu dengan brutal. Ilena berjanji pada dirinya tidak akan pernah memaafkan lelaki yang terus mendesah di atas tubuhnya.


Setelah puas, Red kembali memakai pakaiannya. Sudah saatnya ia kembali untuk bekerja.


"Kau sangat nikmat, Baby. Harusnya dari awal aku sudah menidurimu saja. Tapi aku masih menahannya. Aku menunggu waktu yang tepat agar semuanya terasa indah. Sekarang kuizinkan kau untuk bernapas lega. Tapi jika aku membutuhkanmu, aku akan datang lagi kemari."


Red bersiap pergi dari ruang tahanan itu.


"Kau akan menyesalinya, Red!" lirih Ilena namun masih bisa didengar oleh Red.


"Aku pastikan kau akan menyesali perbuatanmu seumur hidupmu!"


"Apa katamu?! Menyesal? Tidak ada kata menyesal dalam hidupku!" tegas Red.

__ADS_1


"Aku mengutukmu, Red! Aku mengutukmu untuk menyesali semuanya! Bahkan saat kau memohon maaf pun, tidak akan pernah ada kata maaf untukmu! Camkan itu, Red!" seru Ilena dengan kilatan yang berbeda dari biasanya.


#


#


#


Di rumah kediaman Albana, Blue terbangun dari tidurnya dan merasakan kepalanya pening. Ia merintih pelan lalu terbangun dan duduk di tepi ranjang.


Blue memperhatikan sekeliling dan melihat pakaiannya berserakan di lantai. Ia juga baru sadar jika dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Astaga! Apa yang terjadi denganku?"


Sayup-sayup ia mendengar isak tangis dari pojok kamarnya. Matanya membola melihat Yoona yang meringkuk dengan selimut menutupi tubuhnya.


"Yoona?" Blue mengernyit heran. Ia meraih celana dan memakainya.


Pria itu menghampiri Yoona dan berjongkok.


"Yoona..."


"Jangan sentuh aku! Kakak jahat!" teriak Yoona.


"Yoona? Ada apa?"


"Apa kakak lupa apa yang sudah kakak lakukan padaku? Tega sekali kakak melakukan itu padaku?!" tangis Yoona makin keras.


Blue mencoba mengingat apa yang ia lakukan semalam. Seingatnya semalam ia minum di klub, namun memutuskan pulang karena tak ingin mengingat memori tentang Ilena.


Blue tak ingat jika dirinya bertemu dengan Yoona. Tapi melihat kondisi kamarnya yang kacau, dan juga pakaian Yoona yang telah koyak, sudah bisa dipastikan jika dirinya pasti telah melakukan hal gila pada adiknya itu.


"Yoona... Maafkan kakak! Kakak tidak tahu jika..."


"Brengsek! Bagaimana bisa kakak bicara begitu? Aku adalah adikmu! Kenapa kau melakukan itu padaku?"


Blue berpikir keras. Secara hubungan darah, mereka bukanlah kakak beradik kandung. Blue tahu itu ketika beranjak dewasa. Namun selama ini Yoona tidak mengetahui hal itu. Ia menganggap Red dan Blue adalah kakak kandungnya.


"Yoona, maafkan kakak..."


Blue berusaha meraih tubuh Yoona namun gadis itu menolaknya.


"Baiklah. Tenangkan dirimu dulu disini! Kakak akan keluar!" Blue memilih pergi dari kamarnya.

__ADS_1


Ia menuju ke ruang kerjanya. Ia harus memikirkan cara untuk menjelaskannya pada Yoona jika mereka bukanlah kakak beradik sedarah. Blue hanyalah anak yang diangkat oleh Black dan Eryn ketika masih kecil.


Meski mereka bukan kakak beradik, tetap saja mereka sudah hidup bersama sejak kecil. Dan Blue harusnya tahu diri jika Yoona adalah adik yang harus ia jaga.


"Bodoh! Bagaimana bisa kau melakukannya, Blue? Yoona adalah adikmu! Apa yang harus kukatakan pada Red jika dia mengetahuinya?"


Blue mulai frustasi. Ia mengacak rambutnya dan mondar mandir tak jelas.


#


#


#


White kembali menemui Ilena dengan cara menyuap para penjaga disana. Tentu saja sebenarnya White tidak diizinkan masuk oleh Red.


Tapi dengan memanfaatkan situasi yang ada, White dengan mulus melancarkan aksinya.


White berjalan cepat menuju ruang tahanan Ilena. Ia terkejut dan syok melihat kondisi Ilena yang sangat mengenaskan.


Pakaian robek, dan juga mata yang sembab.


"Baby!" seru White langsung berjongkok karena Ilena sedang meringkuk di pojok ruangan.


White merasa jika firasatnya mengenai Ilena benar adanya. Gadis itu sedang mengalami kesulitan.


"Baby! Maaf aku datang terlambat! Aku janji aku akan membawamu pergi dari sini! Aku janji!"


Tanpa aba-aba White memeluk tubuh ringkih Ilena. Sebuah kehangatan yang tidak pernah lagi ia dapatkan membuat Ilena akhirnya menumpahkan air matanya.


Ilena menangis dalam dekapan White. Pria itu merasa sangat teriris mendengar isakan tangis Ilena.


White tak menyangka jika Red akan berbuat seperti ini pada Ilena. Sahabatnya itu Benar-benar telah menghancurkan hidup dan masa depan Ilena.


White sudah memutuskan jika ia akan membawa Ilena pergi sejauh mungkin dari Red. Ia sudah tahu jika gadis yang dicari Red adalah Ilena. Tapi setelah melihat kondisi Ilena yang menyedihkan, sampai kapanpun ia tidak akan mengatakannya pada Red maupun Ilena.


Sudah cukup selama ini Ilena menderita sama seperti dirinya. Dikucilkan dan dibuang. Ia tak akan membiarkan Ilena lebih menderita dari ini.


"Ilena! Bersiaplah! Kita akan pergi dari sini! Aku akan membawamu keluar dari ruang tahanan ini!"


Ilena menatap White bingung. Pastinya banyak hal yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Percayalah padaku! Aku akan melindungimu!" tegas White.

__ADS_1


Mata teduh Ilena menatap White yang memang tulus memberinya pertolongan. Akankah Ilena menyetujui untuk pergi bersama White?


#bersambung


__ADS_2