Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
Extra Part : The Wedding


__ADS_3

Persiapan pernikahan White dan Selena sudah hampir selesai. Selena menyiapkan semuanya sendiri dengan sesekali di bantu oleh Lidia dan juga Ilena. Keluarga White belum sepenuhnya menerima Selena sebagai menantu di keluarga itu.


Dan yang mendukung White adalah kakeknya yang memang menginginkan cucunya untuk segera menikah. Kakek White menyukai Selena karena gadis itu termasuk gadis pemberani yang memiliki tekad kuat. Bahkan Selena berani melawan kakak-kakak White yang ingin menindasnya.


"Kau sudah yakin akan menikahi mantan model itu, hah?!" Tanya Maura, kakak sulung White.


Malam ini di rumah kediaman keluarga White sedang diadakan acara makan malam. Sangat jarang White berkumpul dengan kakak-kakaknya seperti ini.


Ayah dan ibu White sudah meninggal setahun lalu dan kini seluruh urusan keluarga White diatur oleh Maura yang adalah putri tertua. Lagipula White tidak pernah ingin ikut campur dengan urusan keluarga itu. Ia akan hidup dengan usahanya sendiri. Walaupun rumah sakit yang dikelolanya sekarang adalah pemberian dari kakeknya.


"Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan, Kak. Dia kan tidak pernah secara resmi menjadi bagian dari keluarga ini." timpal Mischa, kakak kedua White.


White hanya diam. Ia malas menanggapi omongan kakak-kakaknya.


"Aku datang kesini hanya ingin memberitahu kalian jika aku akan menikah. Aku tidak butuh restu dari kalian. Jika kalian bersedia datang di hari pernikahanku, aku akan sangat berterimakasih. Tapi jika tidak..."


"Tentu saja kami akan datang!" cegat Maura cepat.


White menarik sudut bibirnya.


"Terima kasih karena kakak bersedia datang. Kalau begitu aku permisi!"


White beranjak dari duduknya dan berpamitan dengan kedua kakaknya. Tak lupa ia mendatangi mansion kakeknya untuk menemui pria renta itu.


Sepeninggal White, Mischa merasa keberatan dengan jawaban Maura. Ia keberatan untuk datang ke pernikahan adik bungsunya itu.


"Jangan membantah, Mischa. Kita harus tetap datang ke pernikahan adik kita itu. Karena itu bisa membangun citra untuk keluarga White selanjutnya. Aku yakin pasti akan banyak wartawan yang datang. Kita harus menunjukkan pada dunia jika kita adalah keluarga yang harmonis." jelas Maura.


"Tapi, Kak..."


"Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar bantahan lagi darimu. Sebaiknya perbaiki hubunganmu dengan suamimu itu. Kalian harus terlihat baik-baik saja di depan umum. Mengerti?" Maura meninggalkan Mischa yang masih bingung dengan keputusan kakaknya itu.


Di tempat berbeda, Lena sedang membantu Selena memilih baju pengantin yang cocok untuk kakaknya itu. Meski Lena tidak ingat dengan siapa Selena, tapi kini mereka malah dekat sebagai adik dan kakak ipar. Hubungan mereka mulai menghangat.


Lidia senang melihat Lena kini lebih bahagia dengan kehidupannya yang baru.


"Kau akan jadi pendamping mempelai wanita, aku akan pilihkan satu gaun untukmu." ucap Selena.


"Eh? Tidak perlu, Kak. Aku memakai gaunku yang ada di rumah saja." tolak Lena halus.


"Jangan menolakku, Lena! Kau harus terlihat istimewa di hari pernikahan kakakmu nanti." bujuk Selena.


Akhirnya Lena setuju. Ia tersenyum menanggapi kebahagiaan Selena.


Lidia melihat ada rasa haru terpancar di wajah Lena. Ia menghampiri putrinya itu.


"Kau pasti ikut terharu dengan pernikahan kakakmu ya?"


Lena tersenyum. "Iya, Mom. Rasanya aku ikut bahagia dengan kegembiraan kak Andrew dan kak Selena."


Lidia menangkup wajah Lena.


"Suatu saat nanti kau juga akan bahagia, Nak. Sekarang kau harus mengejar mimpimu dulu. Bukankah kau ingin mengejar impianmu?"


"Iya, Mom. Percayalah kau pasti akan bertemu dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu."


Lena memeluk Lidia. "Terima kasih, Mom."


#


#


#


Tiba di hari pernikahan Andrew dan Selena,


Andrew sudah berdiri menanti kedatangan Selena yang berjalan ke arahnya. Selena begitu cantik dengan gaun terbuka yang menampilkan punggung indah miliknya. Rambut yang di gulung keatas dengan riasan wajah natural membuatnya makin mempesona.


Dibelakangnya berjalan pelan ilena, sang adik dengan membawa sebuah buket bunga di tangannya. Bahkan Ilena menjadi bahan perbincangan para tamu karena kecantikan yang dimilikinya.


Ilena menyunggingkan senyum terbaiknya kepada para tamu. Sedari tadi ada sepasang mata yang terus memerhatikan Ilena dengan tatapan kagumnya.


Ilena mengedarkan pandangan lalu tertuju pada seseorang yang juga sedang menatapnya.


"Hah?! Sir Noah? Apa yang dia lakukan disini?" batin Ilena merasa gugup karena mata tajam itu terus menatapnya.


Ilena berdiri di barisan para pengiring wanita dan berhadapan dengan Noah yang ternyata menjadi pengiring mempelai pria.

__ADS_1


"Apa dia mengenal kak Andrew? Kenapa aku tidak pernah tahu?" kembali batin Ilena bertanya-tanya.


Usai mengucap janji pernikahan, acara di lanjut dengan berpesta bersama. Para tamu di perkenankan untuk berdansa bersama kedua mempelai pengantin dan menikmati hidangan yang ada.


Keluarga White memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Maura dan Mischa datang bersama tanpa didampingi suami mereka. Kakek White begitu bahagia melihat cucunya menikah.


Semua orang terlihat sangat menikmati pestanya. Namun bagi seorang Ilena, kesendirian adalah teman untuknya.


"Minum?" Seseorang menyodorkan segelas wine padanya. Itu adalah Noah, dosennya di kampus.


"Terima kasih." Ilena menerima gelas dari Noah.


"Kau tidak ikut berdansa?" tanya Noah.


Ilena menggeleng. "Jadi, Sir Noah mengenal kakakku?"


Noah mengangguk. "Dia adalah sahabatku."


Ilena mengerutkan keningnya. "Tapi aku tidak pernah tahu tentangmu."


"Jadi, kau ingin tahu tentangku?"


Pipi Ilena memerah. "Bu-bukan begitu maksudku..."


"Tidak apa. Aku juga ingin mengenalmu."


Ilena membulatkan matanya. "Sebaiknya aku pergi ke tempat Ibuku saja!"


Ilena hendak beranjak pergi namun lengannya di cekal oleh Noah.


"Can I have this dance?" tanya Noah.


"Ehm, I cant dance." jawab Ilena gugup.


"It's okay. Cukup ikuti langkahku saja."


"Tapi..."


Ilena tak bisa lagi menolak karena kini Noah sudah menarik pinggangnya mendekat.


"Sir!" pekik Ilena.


"Jangan berisik! Semua orang melihat kita!" bisik Noah.


"Letakkan kedua tanganmu di bahuku!" perintah Noah.


Dengan malu Ilena menurut. Ini benar-benar sesuatu yang mendebarkan untuk Ilena. Kini ia begitu dekat dengan Noah. Dosen muda di kampusnya yang menjadi incaran para mahasiswi. Bagaimana jika ada yang melihatnya? Pasti akan heboh nantinya, pikir Ilena.


"Rileks saja! Aku tidak akan menggigitmu!" ucap Noah sambil terkekeh.


Ilena merasa sangat malu. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Ilena terus menundukkan wajahnya.


"Tunjukkan wajahmu!" ucap Noah.


"Eh?" Ilena mendongak dan menatap Noah. Mata mereka beradu dan saling menyiratkan rasa.


Ilena merasa pernah melihat tatapan mata itu. Tapi dimana? Dan kapan? Semua tentang Noah membuatnya bingung.


Ketika musik berhenti, Ilena langsung melepaskan diri dari Noah dan berlari kecil meninggalkan tempat itu. Noah hanya menatap Ilena pergi tanpa ingin mencegahnya. Pasti sulit baginya untuk bisa mengingat kenangan mereka. Tidak ada kenangan indah diantara mereka. Kecuali saat mereka kecil. Akankah Ilena bisa mengingatnya?


Andrew menghampiri Noah dan mengajaknya bicara. Mereka duduk di salah satu meja sambil menyesap wine.


"Jadi, katakan padaku, bagaimana bisa kau menjadi seorang dosen? Dan bahkan kau mengajar Ilena? Yang benar saja!" ucap Andrew sambil menggeleng pelan.


Noah tertawa kecil. "Entahlah. Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh hatiku. Kau jangan meremehkanku! Hingga detik ini aku masih berjuang untuk mencapai gelar masterku. Aku masih belum menyelesaikan S2ku tapi ternyata aku beruntung karena pihak kampus memintaku mengajar menggantikan dosen yang pindah." cerita Noah.


Andrew manggut-manggut. "Mungkin ini adalah takdir untuk kalian. Semoga kalian benar-benar bisa bersatu sekarang."


Noah tersenyum. "Semoga saja. Adikmu itu cukup sulit ditaklukkan. Aku harus bersabar."


Andrew menepuk bahu Noah.


"Red, aku minta maaf karena dulu saat kau masih bersama Selena, aku dan dia..."


"Ah, sudahlah! Semua sudah berlalu. Lagipula sekarang kalian sudah menikah. Maka jagalah dia dengan baik. Selena ... dia ...?"


"She's hot, right?" bisik Andrew.

__ADS_1


Noah ikut tertawa. "Yeah, she's hot. Tapi percayalah, aku dan dia..."


"Iya iya, aku percaya. Seorang Red hanya tertancap pada Ilena. Ternyata sejak dulu kau memang meragukan Selena. Harusnya kau mencari keberadaan Ilena lebih cepat."


Noah tersenyum getir. Apa yang dikatakan Andrew memang benar. Jika saja dulu Ia lebih cepat menemukan Ilena, jika saja ia tidak begitu mudahnya percaya dengan Selena, mungkin kini mereka sudah hidup bahagia dengan memiliki beberapa anak buah hati mereka.


"Hei, apa yang sedang kalian bicarakan?" Tiba-tiba Selena datang dan menginterupsi obrolan Andrew dan Noah.


"Ah, tidak ada. Kami hanya mengobrol biasa," sahut Noah.


Selena menatap pria yang kini sudah jadi suaminya itu penuh damba.


"Jangan-jangan sedang ada nostalgia antara mantan kekasih dan juga suami," goda Selena.


Noah dan Andrew tergelak. Selena pun ikut tertawa.


"Lalu ... siapakah yang akan aku pilih?" tanya Selena dengan mengetukkan jarinya di dagu. Ia melirik Noah dan Andrew bergantian.


"Tentu saja aku memilih suamiku!" seru Selena dan langsung menyerang bibir Andrew di depan Noah.


Terjadi adegan saling mengecap rasa dengan suara yang mulai berubah. Andrew menggendong Selena dan menjauh dari kerumunan tamu yang hadir.


Sementara mata Noah memindai lagi dan menemukan satu sosok yang tak pernah bosan di pandang matanya. Noah menghampiri Ilena yang masih dengan kesendiriannya.


Hari sudah mulai gelap dan pesta semakin menggila. Musik yang menghentak berganti dengan musik beat yang membuat orang bersemangat.


"Kau disini!" Lagi-lagi Ilena dikejutkan dengan kemunculan Noah.


"Sir Noah? Aku pikir kau sudah pulang." jawab Ilena datar.


"Kau suka sekali menyendiri?" tanya Noah.


Ilena mengangguk.


"Kenapa?"


"Entahlah. Aku suka saja. Kesunyian adalah temanku."


"Bagaimana kalau kita pergi ke sebuah tempat yang akan membuatmu lebih rileks dan tenang."


"Eh? Apakah ada tempat seperti itu?" tanya Ilena kurang yakin.


"Ada. Ayo!" Noah meraih tangan Ilena dan menggenggamnya.


Hati Ilena menghangat ketika Noah menggenggam tangannya.


"Siapa dia sebenarnya?" batin Ilena lagi.


Mereka berjalan menjauhi area pesta dan menuju ke sebuah bukit. Acara pernikahan Andrew dan Selena diadakan di sebuah villa milik keluarga White yang dekat dengan suasana perbukitan.


Ilena berdecak kagum melihat pemandangan yang indah ini. Bintang-bintang bertaburan seolah sedang menyapa dirinya.


"Wah, it's beautiful..." gumam Ilena.


"It's beautiful just like you..." timpal Noah yang membuat Ilena menoleh.


Sejenak mata mereka saling beradu. Sudah sangat lama Noah tak pernah melihat tatapan teduh itu. Matanya menghangat menatap Ilena.


Tangannya terulur dan membelai wajah Ilena. Gadis itu mengerjapkan mata merasakan sentuhan tangan Noah di wajahnya.


Noah mendekatkan wajahnya dan membuat Ilena membulatkan mata. Detak jantungnya mulai tak beraturan saat ini. Ilena tahu apa yang ingin dilakukan Noah padanya.


Sisi lain dirinya menolak semua ini. Ilena memalingkan wajahnya.


"Maaf..." lirih Ilena.


Ilena tak ingin memiliki hubungan dengan dosennya sendiri. Akan terasa aneh pastinya.


"Sebaiknya kita kembali ke tempat pesta." Ilena berjalan lebih dulu dan meninggalkan Noah.


Pria itu menghembuskan napas kasar. Mungkin dirinya terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan. Ia masih harus bersabar untuk bisa mendapatkan hati Ilena kembali.


#


#


#

__ADS_1


*Wanna more? Stay tuned for the next extra part 😘😘


__ADS_2