
Mobil terus melaju meninggalkan area penjara yang kini sudah porak poranda. Black dan kawan-kawannya berhasil lolos karena ditolong oleh orang yang tak mereka kenal.
Mereka berempat mengatur napas usai perkelahian tadi bersama Kozac dan anak buahnya. Mereka menyandarkan tubuh di sandaran kursi mobil van itu.
Seorang pria yang memegang kemudi menengok kebelakang dan melihat keempat pria yang sedang mengatur napas.
"Aku akan mengantar kalian ke markas," ucap pria itu.
Black hanya mengangguk. Yang lainnya pun tampak tak menyahuti ucapan si pria.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di markas milik Black. Mereka turun dan melihat Caesar masih mengotak atik layar datarnya.
"Kalian sudah datang?" ucap Caesar senang.
"Black! Kau kembali!" Caesar menunjukkan rasa bahagianya dengan memeluk Black.
"Terima kasih karena sudah mengirimkan bantuan pada kami," ucap Carlos.
"Heh?! Bantuan? Bantuan apa?" Caesar mengedikkan bahunya.
Black dan keempat pria itu memandang kearah dua orang yang sedang berkacak pinggang. Seorang pria bertubuh besar dan seorang wanita.
"Lalu, siapa mereka?" tunjuk Frans pada kedua orang itu.
Mereka semua saling melempar pandang.
"Kupikir mereka orang suruhanmu, Caesar," terka Carlos.
"Bukan!" Caesar menggeleng.
Pria bertubuh besar itu menghampiri Black dan mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, namaku Darius Dixon. Dan ini rekanku, Lucy. Kami adalah agen rahasia United States."
Black menerima uluran tangan pria bernama Darius Dixon.
"Oke! Aku Black. Ini Carlos, Caesar, Frans dan David," terang Black.
"Aku akan mengobati luka kalian," ucap wanita bernama Lucy.
"Jangan khawatir. Lucy juga seorang dokter," timpal Dixon.
Beberapa menit kemudian, mereka kini duduk di sofa ruang kerja Black. Luka memar mereka sudah diobati oleh Lucy.
"Jadi, katakan. Kenapa agen rahasia seperti kalian menolong kami?" tanya Black.
"Begini, Black. Sebenarnya aku sudah mendengar tentangmu sejak lama. Kau tahu Rayshard Anderson? Dia adalah agen ISS yang merekomendasikanmu padaku," jelas Dixon.
"Aku masih tidak mengerti." Black mengedikkan bahunya.
"Aku ditugaskan untuk menangkap gembong mafia besar yang telah buron selama bertahun-tahun. Penyelidikan awalku mengarah padamu, Black. Tapi setelah kuselidiki dengan benar, ternyata semua ini mengarah pada satu nama."
Semua orang saling pandang.
"Eric Evans," lanjut Dixon.
Wajah semua orang terkesan terkejut. Meski mereka sudah tahu jika Eric memang dalang dibalik semua peristiwa yang menimpa mereka akhir-akhir ini.
"Dia sudah lama menjadi incaran kami. Wajah tampan dan polosnya menutupi semua kelicikan yang dia lakukan. Dia telah lama di dunia hitam bahkan sebelum kau masuk kesana."
Black tampak berpikir.
"Bagaimana bisa?" tanya Black yang masih tak mengerti.
"Ayahnya berteman dengan Juan Blanco dan juga Kozac. Kau pasti sudah bertemu dengannya tadi. Sepertinya kau sudah menghabisinya."
Black menatap Dixon. "Bukankah aku juga sama dengan Eric. Aku juga melakukan dunia hitam seperti dia sebelum ini."
"Kau benar. Maka dari itu, Rayshard memintaku agar menemuimu. Hanya kau yang bisa membantuku untuk menangkap Eric."
Black menatap Carlos, Caesar, Frans dan David bergantian.
"Kau tidak ingin menangkapku? Aku bahkan sudah kabur dari penjara," ucap Black.
"Kau adalah orang baik, Black. Aku tahu itu. Karena aku yakin rekomendasi dari Rayshard tidak mungkin salah. Jadi, bagaimana? Apa kau bersedia membantu kami?"
"Apa keuntungan yang kudapat dari membantu kalian?"
Dixon menatap Lucy sekilas. Wanita itu tampak tersenyum.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Lucy.
__ADS_1
"Kebebasanku dan juga timku," jawab Black.
"Oke! Kami bisa menjaminnya. Anggap saja kau membantu US-SS dalam melakukan tugasnya," sahut Dixon.
"Oke!" Black mengulurkan tangannya. Dixon menyambutnya dengan senyum.
Sebuah gelagat aneh ditunjukkan oleh Carlos.
"Black..." panggil Carlos.
"Ada apa, Carlos?"
"Maaf jika aku harus memberitahukan soal ini."
Wajah Black berubah serius menatap Carlos. Frans, David dan Caesar juga menundukkan kepalanya. Black baru menyadari jika ada yang kurang dari anggotanya.
"Dimana Luiz, Agli dan Bernard?" tanya Black.
Carlos terdiam sejenak. "Mereka kusuruh untuk pergi ke rumah Luiz."
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Carlos menghela napas sebelum berucap.
"Eryn dan Rose menghilang."
"Apa katamu?" Black memelototkan matanya.
"Kami sudah mengeceknya." Caesar memperlihatkan video rekaman pengawas di rumah Luiz dan juga di mobil van yang membawa Rose dan Eryn. Agli sudah mengirimkan rekaman itu pada Caesar.
Mata Black memerah melihat bagaimana adik dan istrinya dibawa pergi oleh orang-orang yang tak dikenalnya itu. Bahkan setelah itu Eryn dibawa pergi oleh kelompok lain dan meninggalkan Rose.
Black mengeratkan genggamannya melihat Rose yang tuna netra berjalan sendiri menyusuri jalanan sepi itu.
"Kau tenang dulu! Agli dan Luiz sedang mencari keberadaan Rose." Carlos menepuk bahu Black.
Dixon dan Lucy saling pandang. "Orang-orang pertama yang menculik istrimu adalah anak buah Eric," ucap Dixon.
"Tapi, untuk yang menyerang kelompok Eric ... Aku tidak tahu siapa mereka. Apa kau punya musuh lain selain Eric, Black?" lanjut Dixon.
Black terdiam. Otaknya terus berpikir.
Caesar langsung mengecek benda pipih andalannya. Jari-jarinya terus bergerak disana mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk baginya.
"Black!" panggil Caesar.
Caesar memperlihatkan rekaman video kamera pengawas di sebuah bandara. Terlihat mereka membawa tubuh Eryn yang masih tak sadarkan diri masuk ke dalam pesawat.
Black hanya diam dan tak ingin berkomentar.
"Sepertinya memang benar mereka adalah anak buah Tuan Kim." Caesar menatap Black.
"Kau tahu, Black. Tuan Kim adalah pemilik JK Grup yang terkenal itu," jelas Caesar.
"Kau memiliki ayah mertua yang hebat, Black." Carlos menepuk bahu Black.
Entah kenapa Black merasakan sebuah kecemasan ketika mendengar tentang ayah kandung Eryn. Ia merasa jika hubungannya dan Eryn akan menjadi sulit setelah ini.
"Aku ingin menemukan adikku terlebih dahulu. Kuharap kalian bisa membantuku." Black menatap semua orang penuh harap.
"Tentu saja kami akan membantumu." Carlos memeluk pundak Black.
"Terima kasih." Black membalas pelukan Carlos.
...👍...
...👍...
...👍...
...👍...
Derap langkah kaki yang panjang dan berat memasuki area yang kini sudah kacau balau. Beberapa mayat tergeletak disana.
Pria itu menggeram kesal dan mendekati seorang mayat yang ia kenali. Napas orang itu tersengal karena merasakan sakit akibat tusukan pisau yang mendarat di perutnya.
"E...ric..." lirih orang itu berucap.
Eric mengangkat kepala pria yang tak lain adalah Kozac dan meletakkan di pangkuannya. Tanpa sepatah katapun lagi, orang itu menutup mata untuk selamanya.
Eric kembali meletakkan tubuh Kozac yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1
"Siapa yang sudah membantu Eldric kabur?" tanya Eric dengan dingin kepada Enrique.
"Tuan, ini rekaman kamera pengawasnya." Enrique memberikan tablet pintarnya pada Eric.
"Brengsek! Siapa mereka?!" sungut Eric.
"Kami tidak tahu, Tuan," jawab Enrique ragu.
"Lalu bagaimana dengan tugas anak buahmu? Apa mereka sudah membawa Eryn?" tanya Eric lagi.
"Maaf, Tuan. Soal itu..." Enrique benar-benar tak bisa berkata apa pun lagi. Ia sudah tahu jika Eric pasti marah.
"Dimana Eryn?" teriak Eric.
"Tuan... Ada sekelompok orang yang menyerang anak buahku. Dan mereka membawa nona Eryn. Lalu, nona Rose juga berhasil kabur."
"Apa?!"
Eric segera melangkah keluar dan meminta supir untuk melajukan mobilnya. Ia memerintahkan Enrique untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Rose.
"Cepat cari gadis buta itu! Aku yakin dia tidak akan jauh dari sana," perintah Eric.
"Baik, Tuan!" Enrique segera menghubungi anak buahnya untuk mencari Rose.
Kini kedua belah pihak berperang dengan waktu untuk bisa menemukan keberadaan Rose. Black dengan timnya dan dibantu Dixon juga Lucy. Lalu Eric dan anak buahnya yang kejam itu.
Black tiba di sebuah perkampungan kecil dan memasuki area pusat pertokoan yang cukup ramai. Mata Black berkelana bak elang yang siap menyerang musuhnya.
"Rose!" teriak Black.
Carlos dan yang lainnya juga berpencar untuk mencari Rose.
"Rose!" seru Carlos.
Sementara di kerumunan yang sama, seorang gadis berjalan dengan sempoyongan dan menabrak beberapa pengunjung. Dia meminta maaf atas apa yang dilakukannya.
Gadis itu terlihat ketakutan karena tak juga mendapatkan tempat yang aman. Langkah kakinya masuk ke sebuah permukiman penduduk yang cukup padat.
Wajah cantiknya mulai pucat dengan tubuh yang mulai lelah.
"Kakak..." lirihnya.
Gadis yang tak lain adalah Rose masih melangkah pelan meminta pertolongan pada penduduk desa. Hingga akhirnya ia bertabrakan dengan seseorang dan membuat tubuhnya terjatuh.
Beberapa orang ingin menolongnya, namun ia malah berteriak.
"Aaaa! Tidak! Jangan bawa aku!" teriaknya.
"Nona, apa yang terjadi denganmu?" tanya seorang pria paruh baya yang ingin menolongnya.
Telinga Black mendengar sebuah teriakan yang ia yakini adalah suara Rose. Black segera berlari menuju sumber suara. Tak lupa ia menghubungi Carlos dan yang lainnya.
Black melihat sekumpulan orang yang sedang mengelilingi satu orang yang terduduk di tanah. Black pun mendatangi kerumunan itu.
"Ada apa ini?" tanya Black.
Black membulatkan mata melihat siapa yang ada disana.
"Rose!" Black segera bersimpuh dan memeluk Rose.
Namun gadis itu malah berontak mendapat pelukan dari Black.
"Lepaskan aku! Tolong jangan sakiti aku!"
"Ini aku, Rose! Kakakmu!" seru Black.
Rose segera sadar dan mulai tenang. Tak lama Carlos dan yang lainnya menemukan Black yang sedang memeluk Rose. Mereka bernapas lega karena bisa menemukan Rose lebih cepat.
"Ayo kita pulang!" Black mengangkat tubuh Rose dan membawanya pergi diikuti oleh Carlos dan yang lainnya.
#tobecontinued
*Huft! Akhirnya Rose sudah ketemu ya genks. Adakah yg kangen dengan Eryn? Gimana ya nasib dia sekarang? 😁😁
*Betewe, utk yg mau tahu kisahnya Rayshard Anderson bisa mampir ke RaKhania yak
👇👇👇
__ADS_1