
Malam terasa syahdu dengan cahaya bulan yang menemani di musim panas ini. Eryn masih terjaga dengan pikiran yang melayang jauh. Matanya menerawang jauh. Ingin rasanya semua hal sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Setelah kemarin Eryn kembali berdebat dengan Noah, kini ia lebih memilih diam. Begitu sulit untuk membuat Noah mengerti jika ayah kandungnya tak seperti yang Noah pikirkan.
Ini adalah salahnya karena tak pernah mengatakan apa pun tentang ayah kandung Noah. Kini ia menunggu agar urusan Eldric dengan Eric segera selesai dan segera menyusul Eryn disini.
"Kau belum tidur, Nak?"
Suara Tuan Kim membuat Eryn menoleh.
"Ayah juga belum tidur?" tanya Eryn balik.
"Pekerjaan membuat Ayah tidak bisa tidur dengan santai, Nak."
"Mungkin sudah saatnya Ayah pensiun."
Tuan Kim tertawa. "Lalu siapa yang akan menggantikan Ayah? Kau?"
"Eh? Kurasa itu bukan ide yang bagus." Eryn menggaruk tengkuknya.
"Ayah sudah mendengar semuanya dari Kang Joon. Apa yang dia katakan itu memang benar. Kau jangan membahas soal pria itu di depan Noah."
"Ayah!" protes Eryn.
"Kau harus memikirkan bagaimana perasaan Noah dan apa yang jadi keinginannya."
Eryn menghela napas. "Tapi Eldric adalah ayah kandung Noah, Ayah!"
"Kau tidak tahu dia pria seperti apa."
Eryn tertegun. "Apa maksud Ayah?"
"Memang sebelum ini dia adalah kakak angkatmu. Tapi sekarang semua telah berbeda. Dia pria yang berbahaya, Nak."
"Tidak. Eldric bukan orang seperti itu. Dia orang yang baik," bela Eryn.
"Apa kau yakin dia pria baik? Apa dia tidak pernah membunuh?"
"Hah?!" Eryn terdiam. Ingatannya tertuju pada malam saat dirinya melihat Eldric menghabisi seseorang.
"Apa dia tidak pernah berhubungan dengan obat-obatan terlarang?"
Eryn tetap terdiam. Ia ingat betul ketika Eldric membawanya ke markas Amigo. Dan disana mereka sedang mengemas nark0ba.
Eryn memejamkan mata.
"Meski dia adalah ayah kandung Noah. Tapi yang Noah butuhkan bukanlah dia. Noah hanya menyayangi orang-orang yang ada disekelilingnya. Dan orang itu bukanlah Eldric. Ayah harap kau bisa mempertimbangkan hal ini. Jangan hanya memikirkan soal perasaanmu saja. Hiduplah untuk anakmu."
Tuan Kim berbalik badan usai mengatakan semuanya pada Eryn. Air mata Eryn jatuh dengan sendirinya setelah mendengar kalimat ayahnya.
Eryn meraih ponsel dan menekan nomor Eldric disana. Kerinduan yang dalam sedang ia rasakan. Namun hatinya tiba-tiba enggan menekan tombol 'panggil' karena mengingat Noah. Tak ada yang mendukung keputusannya. Ingin berkeluh kesah pun rasanya tak bisa.
Eryn hanya bisa menangis dalam diam. Berharap jika Eldric benar-benar akan datang sesegera mungkin.
Di belahan bumi yang berbeda, Black sedang termenung memandangi langit yang gelap. Matanya enggan terpejam meski esok hari harus kembali berkutat dengan misinya.
Black memandangi foto Eryn yang ada di ponselnya. Black menyalurkan kerinduannya dengan menyampaikan sebuah pesan pada langit malam.
__ADS_1
"Tunggulah sebentar lagi, Ryn. Sebentar lagi aku pasti akan menyusulmu. Dan kita akan segera berkumpul sebagai satu keluarga yang utuh," batin Black.
"Apa kau sulit beradaptasi, Black?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Black.
"Ray? Kau belum tidur?"
"Aku banyak melakukan pekerjaanku di waktu malam hari. Suasana yang tenang membuatku mudah untuk berkonsentrasi," jelas Ray.
"Hmm, begitu ya."
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau memikirkan banyak rencana untuk menangkap Eric?"
Black tertawa kecil. Saat ini pikirannya tak bisa fokus untuk mengurus Eric. Ada perasaan gundah yang kini melandanya.
"Apa kau sedang merindukan seseorang?"
Pertanyaan Ray membuat Black salah tingkah. Sepertinya pria itu tahu apa yang sedang dirasakan oleh Black.
"Kalau begitu selesaikanlah segera agar kau bisa menemui orang yang kau rindukan."
"Terima kasih, Ray. Kau memang sangat bijak," puji Black.
Ray malah tertawa. "Apanya yang bijak? Aku bahkan tidak bisa menentukan jalan hidupku sendiri."
"Maaf Ray, kenapa kau tidak menikah? Maksudku belum menikah. Kau sudah mendapatkan segalanya, tapi kenapa..." Sebenarnya Black ragu untuk membahas ini dengan Ray. Pertanyaan seperti ini pasti terdengar sensitif untuk pria berusia 40 tahunan ini.
Ray menerawang jauh. "Kau seorang mafia tapi kau juga memikirkan cinta. Aku sendiri tidak pernah memikirkan cinta sejak orang yang kucintai pergi meninggalkanku. Aku masih terus mengenangnya, Black. Dan aku tak ingin menggantikannya dengan orang lain."
Black tertegun dengan jawaban Ray. Betapa rasa cintanya begitu besar pada wanita itu. Sungguh beruntung wanita yang dicintai hingga sedalam ini.
"Sebaiknya kau pergi beristirahat, Black. Besok kau harus kembali menyusun rencana yang matang untuk memenjarakan Eric." Ray berlalu setelah menutup pembicaraan dengan Black.
Santa berdecak kesal ketika menguping pembicaraan antara Carlos dengan Rose. Saat ini Carlos sedang menghubungi Rose melalui panggilan video. Meski Rose tak bisa melihat wajah Carlos, namun pria itu teramat bahagia bisa melihat wajah Rose.
Tidak bisa di pungkiri jika hati Santa memang tertambat pada Carlos. Meski kadang ia mengagumi pria-pria tampan lainnya.
Bibirnya mengerucut mendengar begitu perhatiannya Carlos pada Rose. Seakan tidak akan ada kesempatan untuk Santa untuk bisa mendekat.
"Huft!" Santa mendesah pelan. Ia memilih pergi dan tidak mendengar pembicaraan mereka lagi.
David memperhatikan gerak gerik Santa yang memang sedikit aneh.
"Kenapa dia?" David mengikuti langkah Santa yang ternyata menuju ke taman belakang rumah Ray.
Terdengar suara tangis di telinga David. Pria itu bisa menebak jika suara itu berasal dari Santa.
"Santa menangis?"
David menghampiri Santa.
"Santa, apa yang kau lakukan disini?" tanya David.
Tanpa persiapan apa pun tiba-tiba Santa memeluk David. Ia menangis di dada David.
David yang merasa bingung hanya bisa membalas dengan mengusap punggung Santa.
"Kenapa jatuh cinta rasanya sakit sekali, Dave?" gumam Santa disela tangisnya.
__ADS_1
"Eh?"
"Apa aku harus menyerah? Katakan sesuatu, Dave!"
Santa mendongak dan menatap Dave. Jarak mereka kini begitu dekat. Entah kenapa jantung David jadi berdetak tak karuan. Melihat mata Santa yang penuh dengan air mata dan posisi yang begitu dekat.
"Eh? Itu... Aku..." David mendadak gagap. Ia tak bisa berkata apa pun. Dilihat dengan jarak sedekat ini, Santa terlihat sangat cantik.
Tak mampu untuk menjawab pertanyaan Santa, David malah melepas tangan Santa yang memeluknya. Ia memilih untuk meninggalkan Santa yang tangisnya sudah mulai reda.
Santa menatap kepergian David dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa dia malah pergi?" Santa mengerutkan dahinya.
Eryn menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Kim seperti biasa. Dari pada memikirkan banyak hal yang membuatnya bersedih, Eryn lebih memilih memasak. Terkadang dengan mengolah makanan, hati kita yang sendu menjadi lebih bahagia karena menghirup aroma masakan yang menggugah selera.
Saat sedang menata makanan, tiba-tiba Joon datang dan menyapa Eryn. Pria itu kini lebih sering datang setelah Noah melakukan penolakan terhadap Eldric.
"Hai, selamat pagi," sapa Joon.
Eryn tak menyahuti dan terus menata makanan.
"Sepertinya makanannya sangat enak. Kau memasaknya sendiri?" tanya Joon agar Eryn mau menjawab dirinya.
"Iya. Duduklah dan tunggu yang lainnya datang." Eryn menjawab dengan datar.
"Eryn, aku..."
"Tidak perlu berkata apa pun. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan!" ketus Eryn.
Setelah menata makanan, Eryn beranjak dari sana karena ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Joon tak tinggal diam. Ia mengejar Eryn. Ia tak ingin terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
"Eryn, tunggu!" Joon mencekal lengan Eryn.
Eryn memejamkan mata. Sudah cukup semua orang selalu menekannya. Kini ia akan mengalah.
Eryn menepis tangan Joon. "Aku akan melakukan apa yang kalian suruh! Jadi, jangan bicara apa pun lagi!"
"Mommy! Daddy Dokter!" Suara merdu Noah menginterupsi mereka.
Noah menatap kedua orang dewasa yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja itu.
"Mommy! Maafkan aku! Jangan bersikap begitu pada Daddy Dokter!"
Noah memegangi tangan Eryn lalu memegang tangan Joon. Bocah kecil itu menautkan tangan keduanya.
"Eh?" Eryn berjingkat kaget.
"Kalian berbaikan ya! Aku tidak suka melihat kalian bertengkar." Noah berucap diiringi senyum manisnya yang memperlihatkan deretan gigi mungilnya.
#tobecontinued
*Wah, ada cinta segitiga Carlos, Rose dan Santa. Lalu ada apa dengan David?
*setelah ini akan ada jebakan untuk Black? Kira2 apa yah?
*Lalu Eryn dan Joon? Akankah Eryn melakukan apa yang diinginkan Noah?
__ADS_1