
Carlos mendapatkan telepon dari Luiz. Wajahnya seketika berubah pucat sambil memandangi Rose dan Eryn yang sedang menikmati sore hari di taman belakang. Santa yang melihat gelagat aneh Carlos langsung menghampirinya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Santa.
Carlos tidak menjawab. Ia masih menatap Rose dan Eryn.
Santa memutar bola matanya malas. Ia memilih pergi meninggalkan Carlos. Namun baru satu langkah, Santa terhenti karena Carlos memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Santa. "Jika kau tidak bisa mengatakannya maka jangan katakan," lanjut Santa.
"Kita harus pindah dari sini," tutur Carlos.
"Eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku belum bisa menceritakannya. Kau bersiaplah! Aku akan bilang pada Rose dan Eryn."
Carlos meninggalkan Santa dan menghampiri Eryn. Santa memperhatikan Carlos dan Eryn yang bicara serius.
Eryn menutup mulutnya setelah mendengar sesuatu dari Carlos. Santa menduga jika ada hal yang terjadi di Meksiko. Tanpa menunggu lama lagi, Santa menuruti apa yang dikatakan Carlos tadi dan segera berkemas.
Selama perjalanan ke Meksiko, Rose menggenggam tangan Eryn. Begitu juga sebaliknya. Mereka saling menguatkan karena saat ini tengah mengalami ujian bertubi-tubi.
...*...
...*...
...*...
Langit terasa gelap untuk seorang pria yang tengah meratapi kepergian orang terkasihnya. Dia adalah Santoz. Pria malang yang harus kehilangan istrinya dengan cara yang tragis. Beruntung anak dalam kandungan istrinya bisa diselamatkan meski kini bayi malang itu harus menjalani perawatan intensif karena terlahir prematur.
Lolita datang ke pemakaman istri Santoz. Wanita itu merasa sangat bersalah pada Santoz. Ketika semua orang telah meninggalkan tempat pemakaman, Lolita justru mendekat kearah Santoz yang masih meratapi kepergian istrinya.
Lolita berdiri di samping Santoz. Pria itu membetulkan letak kacamatanya ketika tahu Lolita datang.
"Santoz..." lirih Lolita.
Santoz hanya diam melihat kedatangan Lolita.
"Maafkan aku..." Lolita berucap lirih.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nyonya. Semua ini adalah salahku," jawab Santoz.
Lolita sangat mengerti dengan kondisi Santoz saat ini. "Aku akan bertanggungjawab atas bayimu. Aku yang akan menjaganya, memberinya kehidupan yang layak. Aku berjanji padamu, Santoz."
Lolita terlihat bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Santoz kembali diam. Saat ini Santoz sudah kehilangan pekerjaan. Ia akan menghilang sementara waktu.
"Aku pasti bisa melindungi anakmu. Kau jangan khawatir! Santoz, kumohon maafkan aku. Aku juga menderita dengan semua sikap Eric. Tapi aku tidak akan menyerah padanya. Aku sudah memberitahu semuanya pada Eryn. Aku yakin Eryn pasti menyampaikannya pada Eldric. Dan dia yang akan menghentikan Eric." Lolita menjelaskan panjang lebar.
Santoz hanya tertawa getir. "Kau sudah terlambat, Nyonya."
"Eh? Apa maksudmu?" Lolita mengernyitkan dahinya.
"Tuan Eric sudah memenjarakan Tuan Eldric."
"APA?! Bagaimana bisa?" Lolita mengepalkan tangannya.
"Akulah yang salah. Tidak seharusnya aku menuruti keinginan tuan Eric. Tapi, aku adalah karyawannya. Kini aku menyesal, Nyonya."
Lolita menatap Santoz. Otaknya berpikir kerasa agar bisa menyelesaikan masalah ini. Hanya Eldric saja yang bisa mengalahkan Eric. Begitu pikir Lolita.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Lolita.
__ADS_1
"Aku akan pergi dari kota ini untuk sementara waktu. Aku akan membesarkan putraku sendirian."
Lolita menatap iba Santoz. "Izinkan aku membantumu, Santoz. Setidaknya biarkan aku juga merawat putramu. Aku akan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Katakan kau akan tinggal dimana?"
"Tidak perlu, Nyonya. Jika uang yang Nyonya berikan adalah uang milik tuan Eric, aku tidak bisa menerimanya. Sebaiknya Nyonya hidup dengan baik setelah ini. Entah Nyonya masih bersama dengan tuan Eric atau Nyonya lebih memilih pergi."
Santoz berjalan pergi meninggalkan Lolita. Wanita itu menatap batu nisan milik istri Santoz.
"Maafkan aku. Tolong maafkan aku!" Air mata Lolita tumpah. Ia bersimpuh di depan makam istri Santoz.
...*...
...*...
...*...
Carlos membawa Eryn dan Rose juga Santa ke sebuah rumah rahasia milik Luiz. Eryn sudah tak sabar ingin bertemu dengan Eldric. Namun, Luiz meyakinkan jika Eldric baik-baik saja.
Rasa bersalah Eryn makin besar karena ini semua pasti berhubungan dengannya. Apa yang dilakukan Eric pada Eldric pasti ada keterkaitan dengan dirinya.
Eryn meminta maaf pada Rose. Namun gadis itu tidak menyalahkan Eryn atas apa yang terjadi pada kakaknya.
"Aku yakin kakakku punya rencana lain dibalik ini semua," ucap Rose menenangkan Eryn.
Semua orang menatap Rose. Mereka baru paham jika semua ini pasti rencana Black sendiri untuk menyerahkan dirinya ke polisi. Tapi masih ada yang janggal disini. Sebenarnya apa yang Black rencanakan? Hanya dirinya saja yang tahu soal itu.
"Luiz, antarkan aku untuk menemui Eldric. Aku mohon!" Eryn meminta pada Luiz.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas kita harus segera memikirkan sebuah cara."
"Kita akan membebaskan Black dari penjara," celetuk Caesar.
Semua orang menatap Caesar. "Aku punya rencana. Kita harus melakukannya bersama."
Secercah senyum terbit di wajah Eryn. Ia senang karena memiliki orang-orang yang peduli pada suaminya. Ia memeluk Rose untuk memberi kekuatan pada gadis itu.
...*...
...*...
...*...
Eric tersenyum puas saat duduk di kursi kebesarannya. Satu persatu rencananya mulai berhasil. Kini tinggal satu masalah lagi yang harus dia lakukan.
Eryn. Ia memikirkan tentang Eryn yang harus menjadi miliknya. Ia sedang menunggu panggilan dari anak buahnya yang mengawasi pergerakan komplotan amatiran milik Eldric.
Ponselnya berdering. Seulas senyum menyeringai terbit di wajah Eric. Ia langsung menjawab teleponnya.
"Halo, bagaimana?"
"....."
"Baiklah, siapkan anak buahmu!"
"........"
"Ingat, jangan sampai gagal lagi atau nyawamu jadi taruhannya."
Eric mematikan sambungan telepon. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang.
"It's show time!" serunya dengan menampilkan senyum khas dirinya.
__ADS_1
Sementara di rumah Luiz, Rose dan Eryn hanya tinggal berdua. Semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk membebaskan Eldric dari penjara. Mereka berkumpul di markas dan menyiapkan senjata untuk menyerang.
Meski apa yang mereka lakukan adalah hal ilegal, namun itu terpaksa mereka lakukan. Dalam hal melakukan kejahatan, Eric lah yang banyak bersalah. Sedangkan Eldric harus membuktikan jika dirinya memang tidak bersalah. Walaupun melarikan diri dari penjara juga dianggap melanggar hukum.
Bel pintu rumah berbunyi, Eryn melangkah menuju pintu dan membukanya. Ia terkejut karena todongan senjata langsung mengarah padanya.
"Siapa kalian?" Dengan berani Eryn bertanya dengan ketus.
"Cepat ikut kami!" ucap orang yang memakai penutup wajah itu.
Ada sekitar 10 orang yang datang ke rumah Luiz. Eryn berusaha tenang menghadapi orang-orang yang menurutnya adalah suruhan Eric.
"Kak, ada apa?" Rose berjalan meraba dinding dan menghampiri Eryn.
"Rose? Kau harusnya jangan kemari," ucap Eryn yang langsung mendekap Rose.
"Bawa mereka!" perintah salah satu orang.
"Cepat jalan! Atau kau akan celaka!" Orang itu berkata sambil mendorong Eryn dengan pistol panjang yang di pegangnya.
Eryn berpikir sejenak. Sudah terlalu terlambat untuk menghubungi salah seorang dari kawan Eldric. Santa juga sedang pergi sebentar membeli bahan makanan.
Eryn dan Rose masuk ke sebuah mobil van besar yang dengan cepat melesat meninggalkan rumah Luiz. Eryn pikir ia akan bisa aman di rumah itu, nyatanya semua hal selalu terjadi secara tak terduga.
Mobil melesat dengan kecepatan cukup tinggi. Eryn masih memperhatikan kemana mereka akan membawanya dan Rose.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Ditengah kepanikan, Eryn harus mengacaukan konsentrasi si penculik itu.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Eryn. Di dalam mobil yang ditumpangi Eryn ada 4 orang. Sedang mobil lainnya ada 6 orang.
"Hei! Aku bertanya pada kalian! Kenapa tidak dijawab?!" seru Eryn dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Diamlah dan jangan banyak bicara! Atau peluru ini akan bersarang di tubuhmu!" ancam orang itu.
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Suara ban berdecit begitu terdengar dijalanan itu.
Sebuah mobil berhenti di depan mereka dan langsung menyerang. Orang-orang di mobil Eryn belum sempat melawan dan malah ditembaki oleh beberapa orang yang baru saja datang.
Eryn dan Rose menundukkan kepala dan tubuhnya agar tidak terkena peluru nyasar. Pintu mobil terbuka dan seorang pria bicara pada Eryn.
"Nona Eryn, silakan ikut kami!"
Eryn menatap Rose. "Tidak bisa! Aku tidak bisa meninggalkan Rose disini!"
"Mengertilah, Nona. Ini demi kebaikan bersama."
Eryn berpikir sejenak. Tangannya masih menggenggam tangan Rose.
"Maaf, Rose," ucap Eryn lirih kemudian melepaskan genggaman tangan itu.
"Kak! Kak Eryn!" seru Rose yang hanya bisa meraba-raba.
Eryn keluar dari mobil van itu dan mengikuti langkah orang-orang yang berpakaian serba hitam namun tidak memakai penutup wajah.
JLEB!
Sebuah jarum suntik tertancap di leher Eryn. Orang itu segera menangkap tubuh Eryn yang tak sadarkan diri.
"Cepat siapkan semuanya dan laporkan pada bos jika kita sudah berhasil membawa nona Eryn."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
#tobecontinued