Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
78. Segenggam Kisah Pilu


__ADS_3

"Buka pintunya! Tolong! Siapapun tolong aku!" teriak Eryn dengan menggedor pintu.


Se Hoon semakin mendekat dan membuat Eryn ketakutan. Wajah tampan Se Hoon menjadi sangat menakutkan. Pria itu seakan memiliki sisi lain yang tak terduga.


Eryn menghindari Se Hoon dengan mencari ruang lain agar tidak terjangkau oleh pria itu.


"Jangan mendekat!" teriak Eryn.


Se Hoon tak mendengarkan Eryn. Ia terus maju dan membuat Eryn terpojok. Tubuh gadis itu bergetar ketakutan dan keringat dingin mulai memenuhi pelipisnya.


Eryn menggeleng pelan. "Apa yang kau inginkan?" tanya Eryn mencoba bernegosiasi.


"Aku? Aku ingin ayahmu juga merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan orang yang disayanginya."


Secepat kilat tangan Se Hoon mencekik leher Eryn. Dengan satu tangan kekuatannya sangatlah mampu untuk menghabisi Eryn.


"Aakk!" Eryn berteriak tertahan.


Eryn merasakan napasnya mulai tercekat. Wajahnya memerah dan air mata mulai membasahi pipinya.


"Sse...Hoon..." Eryn memanggil nama pria itu tertahan.


Pria itu tak menghiraukan racauan Eryn. Wanita itu masih berusaha melepas tangan Se Hoon dari lehernya. Rasanya sakit sekali. Batin Eryn menjerit berharap ada seseorang yang menolongnya.


"Se...Ho..on..." Eryn menatap pria yang ingin melenyapkannya ini dengan tatapan memohon. Ia terus meronta dan berusaha melepaskan diri.


Air mata Eryn terus mengalir dan membasahi tangan Se Hoon yang berada di leher Eryn. Pria itu menatap wanita yang kini juga sedang menatapnya.


#


#


#


Se Naa merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Seharian ini berkutat dengan pekerjaannya. Ia menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


"Ah, lelah sekali rasanya," gumam Se Naa.


Tiba-tiba ia ingat jika dirinya harus mengawasi kakaknya.


"Hah?! Jam berapa ini?" Se Naa melirik jam tangannya.


"Pukul delapan malam."


Se Naa segera keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan kakaknya yang berada satu lantai diatasnya. Se Naa mengedarkan pandangan dan melihat ruangan kakaknya sudah kosong.


"Sial! Aku kecolongan!"


Se Naa bertanya pada petugas cleaning service yang sedang membersihkan ruangan Se Hoon.


"Dimana kakakku?" tanya Se Naa.


"Pimpinan Kang sudah keluar sejak pukul enam petang, Nona."


"APA?!" Se Naa memutar otaknya. Ia kembali menghubungi seseorang. Namun sial lagi-lagi nomornya tidak aktif.


"Bagaimana ini? Kemana kakak akan membawa Eryn?"


Se Naa melihat meja kerja kakaknya. Ia mencari sesuatu disana. Kakaknya itu memang di vonis memiliki kelainan dalam kepribadiannya sejak kecil. Emosinya yang kadang meledak-ledak dan tak bisa dihentikan.


Saat Se Hoon memiliki perasaan pada Sully, sebenarnya gadis itu menolak cintanya. Karena Sully merasa jika pria itu adalah pria yang aneh. Sifat pemarahnya menurun dari ayahnya yang memang suka berlaku kasar.

__ADS_1


Saat itu, Se Naa yang melihat kakaknya depresi dan terus membuat masalah, akhirnya memutuskan untuk membujuk Sully agar menerima cinta Se Hoon dan menikah dengannya. Se Naa tidak tega melihat ibunya terus menderita dengan sikap kakaknya.


Hingga akhirnya Sully lebih memilih Se Hoon dan meninggalkan Kang Joon. Dan benar saja, sikap Se Hoon mulai berubah ketika Sully bersedia menikah dengannya.


Sebenarnya yang dikhawatirkan Se Naa bukan hanya karena Se Hoon bisa melukai Eryn, tapi karena ia takut jika kakaknya itu menganggap Eryn sebagai Sully. Tatapan mata Eryn yang sayu mengingatkannya pada sosok Sully.


Se Naa mengacak meja merja kakaknya hingga ke laci. Dicarinya sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.


Se Naa mendapati selembar kertas sobekan di tempat sampah. Se Naa memungutnya. Untung saja Se Naa langsung menyuruh petugas CS untuk segera pergi dan memintanya kembali usai dirinya selesai memeriksa meja kakaknya.


"Apa ini? Restoran Galaxy?"


Se Naa berpikir sejenak. "Apa mungkin kakak membawa Eryn kesana?"


Se Naa segera beranjak dan berjalan cepat hingga sedikit berlari. Ia menghubungi seseorang lagi dengan ponselnya.


"Ah, sial! Kenapa disaat begini kau malah tidak bisa dihubungi, El? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Eryn?"


Se Naa dengan cepat menuju parkiran dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


#


#


#


"Kkkkk....kkkkhhhhh."


Suara Eryn masih tercekat karena tangan Se Hoon masih setia melingkar di lehernya. Ia terus memohon dengan tatapan sayunya yang semakin melemah. Tubuhnya mulai kehilangan kesadaran.


"Se...Hoon..." lirih Eryn.


Suara rintihan Eryn membuat Se Hoon mulai tersadar. Ia segera menyingkirkan tangannya dari leher Eryn.


Eryn meringkuk menjauhi Se Hoon. Ia ingin segera pergi dari sana. Pria itu bergeming dengan tatapan yang mulai berubah. Wajah merah padamnya mulai luruh.


Napasnya ikut tersengal karena tenaganya yang memang hampir habis karena ingin menghabisi Eryn. Ditatapnya wanita yang sedang ketakutan itu. Ia mendekat namun Eryn kian menjauh.


"Sully..."


Eryn membulatkan mata mendengar Se Hoon memanggil nama mendiang istrinya.


"Sully, maafkan aku... Maafkan aku..."


Se Hoon berjongkok dan meraih tubuh Eryn. Wanita itu berteriak histeris saat Se Hoon berusaha memeluknya.


"Tidak! Lepaskan aku! Jangan!" teriak Eryn meronta.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan sosok Se Naa disana.


"Kakak!"


Se Naa segera berlari mendekati kakaknya dan Eryn. Terlihat jelas jika Eryn ketakutan saat Se Hoon memeluknya.


"Kakak! Apa yang kakak lakukan? Lepaskan Eryn!"


Se Naa menarik tubuh kakaknya dari tubuh Eryn dengan kasar. Ia segera merengkuh tubuh Eryn yang ketakutan.


"Jangan takut! Ini aku! Kau sudah aman!"


Se Naa segera membawa tubuh Eryn keluar dari ruangan terkutuk itu. Se Naa meninggalkan Se Hoon yang masih tersungkur di lantai.

__ADS_1


Se Naa membawa Eryn ke apartemen miliknya. Ia mengobati luka di leher Eryn. Ia menatap iba Eryn yang tak mengatakan sepatah katapun. Mereka duduk di tepi ranjang kamar tamu.


"Eryn, aku minta maaf atas sikap kakakku. Dia memang memiliki kelainan sejak kecil. Dia bermasalah dengan emosinya." Se Naa menggenggam kedua tangan Eryn yang masih gemetaran.


Eryn hanya diam mendengarkan penjelasan Se Naa.


"Saat pertama kali melihatmu, aku teringat akan sosok Sully. Tatapanmu sangat mirip dengan Sully. Maka dari itu, ketika kakakku memintamu untuk mengatur acara untuknya, aku tahu jika ini bukan hanya sekedar masalah pekerjaan."


Air mata Eryn kembali menetes. "Apa benar jika ayahku adalah orang yang melenyapkan Sully?" tanya Eryn dengan suara bergetar.


Se Naa berpikir sejenak.


"Apakah aku harus membongkar semuanya sekarang?" Batin Se Naa berperang. Antara terus menyimpan kisah pilu itu atau harus membukanya.


"Eryn..." Se Naa menatap Eryn serius.


"Sully bukan meninggal karena dibunuh. Dia tidak dilenyapkan."


Eryn mulai menyeka air matanya. Ia mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Se Naa.


"Aku menemukan buku harian milik Sully. Dia menceritakan semua kisah hidupnya disana. Dia ... sangat tertekan hidup dengan kakakku."


Eryn terkejut dengan cerita Se Naa. Seingatnya tadi Se Hoon bercerita jika rumah tangganya bersama Sully sangat bahagia. Dan mereka saling mencintai.


"Sully, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia sengaja menabrakkan mobil yang dikendarainya." Se Naa sangat sedih jika mengingat tentang semua itu.


"Tapi, Se Hoon bilang jika Sully pergi karena ada seseorang yang menghubunginya."


Se Naa menggeleng. "Sully sudah merencanakan semuanya, Eryn."


"Tapi kenapa Se Hoon menuduh ayahku?" Eryn masih terisak. Ia bersalah pada ayahnya karena sempat ragu pada pria paruh baya itu.


"Begitulah dia. Selalu menyalahkan semua orang yang ada di sekelilingnya. Bahkan ibuku sampai koma dirumah sakit. Itu semua karena dia."


Eryn kembali diam.


"Memang benar ayahmu adalah orang yang sudah menghancurkan bisnis kakakku saat itu. Tapi dia tidak melenyapkan Sully. Sekarang sebaiknya kau istirahat disini dulu. Besok aku akan mengantarmu pulang. Beritahu ayahmu jika kau menginap disini."


Se Naa beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju keluar kamar itu. Namun langkahnya terhenti dan berbalik badan.


"Eryn..."


Eryn menoleh dan menatap Se Naa.


"Ada satu hal yang ingin aku beritahu padamu. Aku tahu mungkin ini sedikit terlambat, tapi ... sebaiknya kau pikirkan lagi rencana pernikahanmu dengan Kang Joon."


Eryn mengernyit. "Kenapa?"


"Kau harus tahu satu hal."


Se Naa menjeda kalimatnya. "Aku rasa sudah saatnya Eryn tahu mengenai Eldric," batinnya.


"Ini mengenai..."


Ponsel Se Naa bergetar. Sebuah panggilan masuk dari seseorang yang sedari tadi coba dihubunginya.


Eryn menatap Se Naa dan ponselnya bergantian.


"Ada apa, Se Naa? Katakan padaku!" pinta Eryn.


#tobecontinued

__ADS_1


*waduh, kira2 Se Naa bilang gak ya soal El yg masih hidup?😬😬


__ADS_2