Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
117. Dia Milikku!


__ADS_3

Ilena telah kembali bekerja seperti biasa. Kesalahan yang Ilena perbuat karena sudah berani melawan Red akhirnya di hapuskan karena Blue membela Ilena.


Dan apa yang dilakukan Ilena adalah hal benar. Perjanjian yang ia buat dengan klub Red Devil adalah sebagian uang penghasilan Ilena akan tetap masuk untuk anak-anak panti asuhan. Tapi ternyata Red sendiri yang ingkar karena kekesalannya pada Johan yang dilimpahkan kepada Ilena.


Malam ini Ilena tampil begitu memukau di depan para tamu VIP. Ya, hanya pelanggan VIP saja yang bisa menyaksikan penampilan Ilena dan kawan-kawan.


Usai pentas, Ilena turun dan langsung disambut oleh Blue yang sudah menunggunya. Sesuai kesepakatan yang Blue buat dengan klub Red Devil, bahwa Ilena hanya boleh di pesan oleh dirinya saja. Pelanggan lain tak ada yang boleh memesan dirinya.


Sebenarnya Ilena risih dengan kata 'dipesan', tapi kenyataannya memang begitu. Ia harus merendahkan harga dirinya untuk bisa menghidupi anak-anak panti. Ia tidak keberatan jika ini demi mereka.


Malam ini White sengaja datang usai pekerjaannya sebagai dokter telah selesai. Ia masih penasaran dengan Ilena yang menjadi incaran Red dan Blue. Meski Red menyangkal menginginkan Ilena, tapi ia sangat hapal dengan perangai sahabatnya itu. Apa yang harus menjadi miliknya, maka harus jadi miliknya.


White menyapa Red yang sedang duduk sendiri di meja VIP miliknya yang biasa digunakan untuk mereka berkumpul. Ia ikut larut dalam minuman memabukkan itu bersama Red.


Para pria disini rata-rata sangat kuat dalam hal minum. Hanya beberapa gelas tidak akan membuat mereka mabuk. Kecuali memang dengan kadar yang cukup tinggi.


"Sudah lama aku tidak bertemu Selena. Kalian masih berhubungan kan?" tanya White basa basi.


Red berdecih. "Kau sendiri tahu kami sudah bertunangan."


"Ah iya, maaf aku lupa." White terkekeh.


"Lalu, kapan kalian akan menikah?" lanjut White.


"Entahlah. Saat ini dia sedang ada di luar negeri untuk pekerjaannya." Red meneguk kembali gelasnya sambil matanya menatap tajam kearah Ilena dan Blue.


White mengikuti arah pandang mata Red. Ia tersenyum kecil melihat Red yang seakan cemburu dengan Blue.


"Adikmu itu sepertinya sangat tergila gila dengan gadis Babydoll itu, hah! Ini pertama kalinya Blue tidak mencampakkan gadis satu malamnya setelah permainan di ranjang. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa." White sengaja memanas manasi emosi Red.


Pria itu masih bergeming dengan menikmati minumannya.


"Tapi, apa benar jika Blue sudah membawa gadis itu ke ranjangnya? Ah, waktu itu! Saat dia menolong gadis itu. Sepertinya gadis itu bermalam di kamar Blue. Mungkin saja mereka melakukannya. Benar kan?"


Kalimat demi kalimat yang diucapkan White membuat Red tidak nyaman dan memilih beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, White. Nikmati malammu!" Red menepuk bahu White dan meninggalkannya.


White tersenyum penuh kemenangan. Persaingan antar kakak beradik akan segera dimulai. Tapi, kenapa harus gadis itu? Pikir White. Ada banyak gadis di klub ini yang lebih dari seorang Babydoll.


Di sisi berbeda, Blue duduk berdua dengan Ilena. Pria itu memeluk pinggang Ilena posesif. Entah apa yang dirasakan olehnya. Namun bersama Ilena adalah suatu hal yang baru pertama kali Blue rasakan dalam hatinya. Jiwanya terasa tenang ketika melihat mata indah milik Ilena.


"Ini, lihatlah!" Blue menyerahkan ponselnya.


"Apa ini?" tanya Ilena.


"Ini adalah bukti jika aku sudah menepati janjiku. Aku memberikan pakaian dan makanan yang cukup untuk anak-anak panti asuhan."


Ilena membulatkan mata. "Tapi, kurasa ini berlebihan, Blue. Lihatlah! Kau memberi kami banyak sekali barang! Ini tidak sesuai dengan gaji yang harusnya aku terima dari sini."


Blue menghela napas. Susah sekali bicara dengan gadis ini, pikirnya.


"Begini, Baby. Aku sudah bilang padamu jika aku akan menjaga mereka. Maka, aku benar-benar menjaga mereka. Oke? Ada dua orang juga yang berjaga disana untuk mengawasi mereka. Siapa tahu pria bernama Johan itu tiba-tiba datang dan kembali mengacau. Benar kan?"


Rasanya Ilena tak bisa menolak. Sudah untung Blue bersedia membantunya agar lepas dari jerat hukuman Red. Tapi, sekarang jerat yang diberikan Blue justru lebih menyesakkan daripada Red. Ilena harus bagaimana untuk menghindari mereka?


"Baiklah, Blue. Aku sangat berterimakasih karena kau membantuku. Dan aku rasa aku tidak akan bisa membalas semua kebaikanmu."


Ilena menelan ludahnya. Sepertinya ia mulai tahu kemana arah pembicaraan Blue. Dan benar saja, tanpa persiapan apapun Blue segera mendaratkan sebuah ciuman di bibir Ilena. Blue melakukan semuanya dengan lembut.


Ilena mengerjapkan matanya. Itu berarti baru dua kali ini ia merasakan sentuhan bibir laki-laki. Dan ternyata mereka berdua adalah kakak beradik yang sangat disegani oleh dunia hitam.


Ilena mencoba rileks karena Blue terus memainkan ritmenya. Hingga akhirnya Blue terhenti karena tak mendapat respon dari Ilena.


"Apa ini pertama kalinya kau berciuman?" tanya Blue dengan wajah heran.


Ilena mengangguk pelan. Tidak mungkin juga ia menjawab jika yang pertama adalah kakaknya.


"Ah, Baby. Kau sungguh menggemaskan! Bagaimana bisa masih ada seorang gadis yang bibirnya masih suci?"


Ilena merasa terhina dengan kalimat Blue. "Apa semua gadis dimatamu itu sama, Blue?"

__ADS_1


Blue tertegun. Sepertinya ia sudah salah bicara. "Baby, maafkan aku. Maksudku bukan begitu."


"Sudahlah. Tidak apa. Kau memang menganggapku sebagai gadis murahan, bukan? Meski aku melakukan semua ini dengan terpaksa, kau akan tetap menilaiku dengan buruk." Ilena nampak berkaca-kaca.


"Baby, tolong maafkan aku!" Blue memohon.


"Aku memaafkanmu, Blue. Kau sudah banyak membantuku. Tapi, tolong biarkan aku pergi sekarang. Aku lelah! Aku ingin istirahat."


Blue menghela napasnya. Karena satu kesalahan, ia kembali gagal membawa Ilena naik keatas ranjangnya.


"Baiklah. Kau boleh pergi dan beristirahatlah," putus Blue.


Ilena beranjak dari duduknya dan meninggalkan Blue. Ia berjalan menuju kamar ganti. Ia harus mengganti pakaian dan menghapus riasan di wajahnya.


Dalam perjalanan menuju kamar ganti, tiba-tiba tangan Ilena ditarik oleh seseorang dan dibawa ke lorong gelap yang dulu pernah ia datangi.


"Siapa kau?" seru Ilena.


Mulut Ilena segera dibungkam dengan tangan pria itu. Dalam gelap, Ilena masih bisa mengenali siapa yang membawanya kemari.


Ilena menatap lekat manik indah milik pria itu. Tangannya mulai terlepas dari mulut Ilena.


"Red?!" lirih Ilena. Ia sangat mengenali aroma maskulin yang dipancarkan oleh pria ini. Entah kenapa Ilena tidak merasa takut saat ini. Aura yang ditampilkan Red sangat berbeda.


"Apa kau masih ingat dengan tempat ini?" tanya Red lirih.


Ilena membulatkan mata. Ia tak menyangka jika Red masih ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu.


"Tunggu! Bukankah saat itu dia sedang mabuk? Bagaimana mungkin dia..." batin Ilena bertanya tanya.


"Saat itu aku memang mabuk. Tapi aku sadar dengan apa yang kulakukan," lirih Red lagi.


Ilena masih menatap kedua manik milik Red. Hanya Ilena gadis yang berani menatap sorot elang Red dalam durasi yang lama.


Red menjadi bingung dengan semuanya. Gadis ini membuatnya seakan tak berdaya dengan tatapan teduhnya.

__ADS_1


"Bisakah kita mengulanginya lagi?" tanya Red yang membuat mata Ilena membola sempurna.


#tobecontinued


__ADS_2