
Kembali ke masa 20 tahun silam...
Hari itu langit terasa gelap bagai ditutupi kabut tebal yang menyelimuti. Seorang insan telah terbujur kaku tak berdaya. Betapa nyawa seseorang tidaklah berarti hingga dengan mudahnya orang lain bisa merenggutnya.
Tak ada lagi tangisan yang mengiringi kepergian jasad yang memasuki tanah itu. Semua air mata terkubur bersama kenangan yang kian memudar.
Namun semua itu masih tetap terkenang untuk seorang suami yang kehilangan istrinya. Raganya tak lagi bisa tersentuh. Jiwanya pergi bersama dengan sang pujaan hati. Luka di hati tak akan bisa sembuh dalam beberapa hari.
Noah kecil tak mengerti apapun. Yang ia tahu ayahnya tak lagi bersikap sama. Yang ia tahu jika hidup ibunya di renggut oleh orang lain. Yang ia tahu kini ia dan adik-adiknya tak lagi memiliki seorang ibu yang akan menemani mereka. Yang akan membacakan dongeng untuk mereka.
Semakin hari, kondisi ayahnya makin tidak terkontrol. Yang diinginkannya hanyalah membalas dendam. Tapi untuk melakukan hal itu, rasanya tidak mungkin.
"Sudahlah, Black. Jangan bertindak bodoh! Sudah ada hukum yang akan menegakkan keadilan bagi yang bersalah. Sekarang fokuslah pada ketiga anakmu. Mereka masih membutuhkan perhatianmu, Black."
Luiz terus menyemangati Black yang masih terpuruk dengan kepergian Eryn. Sang dokter yang melakukan malpraktek dijatuhi hukuman seumur hidup. Black merasa lega karena hukum ternyata tidak main-main.
Satu tahun berlalu dengan ketidakhadiran Eryn di sisi Black. Ia mengurus ketiga anaknya dengan baik, meski terkadang bayangan Eryn masih terus menghantuinya.
Black kembali terpuruk ketika kondisi perusahaan juga sedang tidak bagus. Persaingan ketat diantara para pebisnis muda menjadikan Black tersingkirkan. Ia seakan tak memiliki kekuasaan seperti dulu. Tak ada Eryn dan juga Carlos yang selalu mendukungnya.
Sepuluh tahun berlalu, kini Noah berusia 17 tahun. Ia membantu ayahnya mati-matian untuk bisa menghasilkan uang dan menghidupi adik-adiknya. Albana Grup akhirnya goyah dan bangkrut.
Luiz meminta Noah dan adik-adiknya untuk ikut pindah bersama dengannya ke Meksiko. Disana juga ada David dan Santa yang masih memegang hotel Black Diamond.
Selama ini Black tidak pernah bercerita tentang kondisi perusahaanya. Jika saja mereka tahu, pastilah Luiz dan David membantu Black. Semua sudah terjadi, dan waktu takkan pernah bisa terulang.
Black kembali depresi karena kehilangan perusahaan. Bahkan Tuan Kim, ayah mertuanya juga telah meninggal dunia. Dan JK Grup diambil alih oleh pihak lain karena tidak memiliki pewaris. Usia Noah belum memenuhi syarat untuk memegang perusahaan. Begitulah alasan yang di paparkan pihak lawan JK Grup.
Noah muda belajar untuk mengelola klub malam seperti Luiz. Ia memperlajari semua itu dengan otodidak.
Tak ingin terus merepotkan Luiz dan Elza, Noah membawa keluarganya pindah ke Brazil. Mereka memilih kota Rio yang menurutnya akan membawa harapan baik untuk ketiga anak itu.
Luiz tak bisa menghalangi tekad Noah yang begitu besar. Ia membeli rumah sederhana untuk ia tinggali bersama kedua adik dan ayahnya yang depresi. Uang tabungan Eldric ia kuras habis untuk membeli rumah dan makan sehari-harinya.
Noah bertemu dengan anggota gangster kecil-kecilan dan bergabung disana. Jiwa mafianya menurun dari ayahnya yang lihai dalam hal ini.
Sebenarnya ia ingin memilih jalan lain, namun ternyata hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia mulai menjual obat-obatan dan juta senjata api. Hal seperti ini sudah tak asing di negara ini.
Kondisi Eldric kembali parah. Noah bingung harus melakukan apa. Di tambah lagi satu persatu teman satu gengnya mulai ditangkap oleh pihak berwajib. Noah putus asa.
__ADS_1
Ia bingung harus berbuat apa lagi. Hingga akhirnya ia memutuskan lebih baik mengakhiri hidupnya saja.
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Noah tak peduli meski tubuhnya terguyur air hujan yang dingin.
Ia berjalan tak tentu arah hingga tiba di sebuah jembatan yang dibawahnya terdapat sungai dengan arus yang cukup deras. Ia menatap derasnya aliran sungai itu. Ia tersenyum seringai.
"Mungkin lebih baik jika aku mati saja. Agar tidak ada lagi beban yang menyelimuti hidupku ini. Kau sudah merenggut semuanya dariku, Tuhan! Apalagi yang kau tunggu? Cabut nyawaku sekarang juga!"
Noah sudah bersiap melompat, namun sedetik kemudian ada sseorang yang menarik tubuhnya."
Mereka jatuh bersamaan. Noah terkejut karena ternyata yang menarik tubuhnya adalah seorang gadis kecil.
"Apa kau sudah tidak waras? Kau mau mati huh?! Jika ingin mati jangan didepan mataku! Hidup itu memang sulit, tapi apa dengan mati semua masalahmu akan hilang? Kau malah akan menambah masalah pada keluargamu! Apa kau tidak punya keluarga, huh?!"
Noah tertegun mendengar semua ocehan bocah perempuan yang berusia sekitar 10 tahun itu.
"Meski kau tidak memiliki keluarga, atau keluargamu tidak menganggapmu ada, setidaknya kau memiliki mereka. Apa hidupmu sesulit itu, huh?!" tanya gadis kecil itu dengan berapi-api.
Noah masih diam. Gadis kecil itu kembali melangkah.
"Cepat ikut! Apa kau mau hujan-hujanan disini?"
"Kau tinggal di dekat sini?" tanya Noah pada akhirnya.
"Terima kasih telah menolongku. Siapa namamu?"
Gadis kecil itu menatap tajam Noah. Mata teduh itu membuat Noah tenang.
"Jadi kau sudah kembali pada kewarasanmu, huh?!" Gadis kecil itu berbicara dengan nada ketus namun tetap lembut.
"Maaf..."
"Minta maaflah pada orang-orang yang menyayangimu!"
"Iya, aku akan melakukannya nanti. Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa namamu? Aku..."
"Jangan bicarq gamblang dengan orang asing! Kau sudah remaja tapi tidak pintar ya!"
Noah sedikit marah dengan kata-kata gadis ini.
__ADS_1
"Begini saja! Kita akan saling memanggil nama dengan warna kesukaan kita, bagaimana?" usul gadis itu.
"Hmm?" Noah masih tak paham.
"Aku menyukai warna ungu, jadi panggil saja aku Purple. Lihatlah! Karena kau buku harianku jadi basah begini."
Gadis bernama Purple ini mengeringkan buku hariannya yang basah didekat api unggun.
"Kau menyukai warna apa?" tanya Purple.
"Hmm, bagaimana kalau panggil saja aku Black? Kurasa hidupku yang kelam cocok dengan nama itu."
"Tidak! Sekelam apapun kehidupanmu, jangan memilih warna itu jika kau masih bisa memilih warna yang lain. Sekali menghitam akan sangat sulit kembali menjadi putih. Bagaimana kalau Grey saja? Warna abu-abu masih bisa menjadi putih jika kau bertekad mengubahnya."
Noah terdiam.
"Kau adalah anggota gangster kan?"
"Da-dari mana kau tahu?"
"Aku memang masih kecil, tapi aku mengetahui banyak hal. Dan kau sebaiknya jangan terpuruk lagi seperti ini. Carilah hal baik yang bisa kau lakukan. Dengan begitu kau bisa menghargai hidupmu sendiri."
Noah menatap gadis kecil itu dengan kagum.
"Aku mengantuk. Aku mau tidur! Kau juga tidurlah! Besok kau bisa pulang ke rumahmu!"
"Kau sendiri? Kau tinggal dimana?" tanya Noah penasaran.
"Aku? Aku punya rumah. Tentu saja aku punya rumah."
Gadis kecil itu menatap Noah dan tersenyum. "Selamat malam, Grey. Semoga kau bermimpi indah."
Noah membalas senyuman gadis kecil itu. Hari ini ia disadarkan oleh gadis kecil yang sepertinya juga menyimpan luka dalam hidupnya.
Dan mulai malam ini, Noah bertekad tidak akan memikirkan soal mati sebelum apa yang dia inginkan tercapai.
#
#
__ADS_1
#