Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
49. Pulang ke Rumah


__ADS_3

Di sebuah private room restoran mewah, Lolita kini duduk berhadapan dengan Santoz. Setelah sebelumnya Lolita menghubungi Santoz dan meminta untuk bertemu.


Pria berkacamata yang terkesan culun itu nampak gugup dan takut saat berhadapan dengan istri bosnya itu. Bagi Lolita, tak ada lagi tempat untuk bertanya selain Santoz. Ia harus mendapatkan informasi mengenai Eric dari pria didepannya ini.


Hingga 15 menit berlalu, dan Lolita hanya memperhatikan Santoz saja. Yang diperhatikan tentu saja menjadi salah tingkah. Beberapa kali Santoz meneguk gelas yang berisi air putih untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Maaf, jika aku membuatmu takut. Tapi, kurasa kau tidak perlu takut jika kau bersedia menceritakan semuanya padaku," ucap Lolita pada akhirnya.


Santoz masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Lolita.


"Katakan apa yang dilakukan Eric di Sao Paulo? Apa benar dia mengakuisisi EB Company dengan cara licik? Lalu ada apa dengan Rio? Kenapa Eric sering datang kesana?" tanya Lolita.


Santoz cukup terkejut dengan semua berondongan pertanyaan dari Lolita.


"Nyonya, kenapa tidak tanyakan saja langsung pada Tuan Eric?" jawab Santoz dengan suara gugup.


"Jika aku bisa mendapatkan informasi dari Eric, aku tidak akan memintamu untuk datang kemari. Kumohon katakan!" pinta Lolita dengan memelas.


"Aku sudah cukup menderita dengan selalu diabaikan olehnya. Apalagi sekarang aku tidak memiliki apa pun untuk mempertahankan dia disisiku. Jadi, tolonglah aku, Santoz," lanjutnya.


Santoz cukup tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Eric dan Lolita. Didepan semua orang mereka tampak baik-baik saja. Namun dibelakang hubungan mereka sudah mengalami masa kritis. Ditambah dengan obsesi Eric yang masih menginginkan Eryn, mantan istrinya. Pastinya amat berat bagi Lolita.


"Tuan Eric melakukan kecurangan untuk mendapatkan EB Company dan mengganti namanya dengan Evany," tutur Santoz.


Lolita tersenyum getir. Ia sudah menduga jika suaminya itu pasti melakukan hal kotor. Banyak hal yang mulai ia pahami tentang sifat suaminya itu. Ternyata selama ini semuanya palsu. Begitulah pemikiran Lolita saat ini.


"Lalu di Rio? Apa yang Eric lakukan disana? Apakah dia menyembunyikan Eryn disana?"


Pertanyaan Lolita lagi-lagi membuat Santoz berkeringat dingin. Ia tak ingin ikut campur masalah pribadi atasannya. Namun sekali lagi, ia memang sudah terlanjur masuk dalam kubangan masalah ini.


"Iya, Nyonya. Tuan Eric menyembunyikan nona Eryn disana." Santoz menundukkan kepalanya tak berani menatap Lolita.


Lolita memejamkan mata mendengar penjelasan Santoz.


"Baiklah, sudah cukup. Kau boleh pergi!" ucap Lolita.


"Terima kasih, Nyonya."


.


.


.


.


Kondisi Rose mulai pulih. Dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang dan berobat jalan saja. Mengenai donor mata untuk Rose, pihak rumah sakit akan menghubungi jika sudah mendapatkan donor yang tepat.


Eryn dengan hati-hati membantu Rose menyesuaikan dengan kehidupan barunya, yaitu dunia tanpa cahaya. Karena semuanya seakan gelap dan menghitam.


"Kakak ipar, kita akan pergi kemana?" tanya Rose saat mobil melaju menuju kediaman Albana.

__ADS_1


"Kita akan pulang ke rumah, Rose. Rumah yang sejak dulu adalah milikmu," jawab Eryn.


Tak lama mobil pun berhenti di depan pintu utama. Eryn membantu Rose untuk keluar dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah.


"Surprise!" Suara beberapa orang memenuhi ruang tamu ketika Rose memasukinya. Ya, mereka adalah Black dan anggota tim yang lain. Mereka sengaja datang untuk merayakan kepulangan Rose ke rumah.


"Kalian?" Rose mengulas senyumnya.


"Selamat datang kembali, Adikku!" Seru Black yang menghampiri Rose kemudian memeluknya.


"Kakak... Apa benar ini di rumah kita?" tanya Rose yang masih tidak percaya.


"Iya, sayang. Mari kakak antar ke kamarmu," suasana hati Rose sedang bagus.


Black sengaja memilihkan kamar di lantai bawah sebagai kamar Rose agar gadis itu mudah untuk bergerak. Mengingat ia tidak mungkin harus naik turun tangga dengan kondisi seperti ini.


Eryn menata makanan di meja makan dibantu Santa. Setelah selesai, Eryn meminta Santa untuk memanggil semua orang datang ke meja makan.


Sementara di kamar, Rose merasakan jika kamarnya sangatlah nyaman. Ia bisa mencium dari aroma ruangan yang dibuat sewangi mungkin dan sesuai dengan selera Rose.


"Kakak menyiapkan semua ini sendiri?" tanya Rose berbinar.


"Iya. Semuanya hanya untukmu."


Mata Rose berkaca-kaca. Ia merentangkan tangannya meminta Black memeluknya.


Sebuah pelukan hangat Black berikan. Mereka memang sering berpelukan sebagai seorang sahabat. Namun kini rasanya berbeda. Sebuah kehangatan keluarga dan orang terkasih.


"Apa aku mengganggu? Makanan sudah siap, ayo kita makan bersama!" ajak Eryn.


"Ayo, Rose!" Black meraih tangan Rose dan melingkarkannya di lengannya.


Suasana makan siang hari ini terasa ramai dan menyenangkan. Santa dan Agli selalu melempar candaan dan juga ejekan.


Meski Rose tidak bisa melihat kebahagiaan di wajah semua orang, tapi dia tahu jika saat ini wajah mereka berseri dan gembira. Rose beruntung bisa mendapatkan keluarga seperti mereka.


.


.


.


.


Malam harinya, Eryn masuk ke dalam kamar setelah merapikan semua kekacauan yang terjadi siang tadi. Ia melihat Black masih sibuk dengan tablet pintarnya namun posisinya sudah duduk diatas ranjang dan bersandar pada kepala ranjang.


Sudah sejak lama mereka tidak tidur di kamar ini. Kamar milik Black.


"Ah lelahnya!" Eryn merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.


"Kau masih sibuk?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, begitulah. Aku sedang membuat sebuah rencana yang indah untuk Eric."


Eryn terkejut lalu menatap Black dengan masih berbaring.


"Kau tenang saja! Kami melakukannya dengan cara elegan. Tidak dengan pertumpahan darah."


Ada secercah senyum di wajah Eryn. Ia tak suka jika harus melihat Black kembali terluka.


Black meletakkan tabletnya diatas nakas. Ia berbaring menatap Eryn.


"Ada apa?" tanya Black.


Eryn memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Black.


"Aku tidak suka melihatmu terluka. Jadi, kau jangan berkelahi lagi."


"Itu tergantung. Jika Eric menyerangku lebih dulu, tentu saja aku harus melawan, bukan?"


"Hmm, iya baiklah." Eryn mengelus rahang kokoh Black. Mereka saling bertatapan penuh damba.


Black semakin mendekat dan membuat jarak mereka menipis. Ia meraup bibir Eryn dengan lembut. Merasakan setiap manis dan candu untuknya.


Eryn pun membalas dengan sama. Namun lama-lama semuanya semakin kian menuntut. Black kini sudah berada diatas Eryn. Bibir mereka masih saling terpaut satu sama lain.


Eryn membuka akses seluas-luasnya bagi pria itu untuk mengeksplor tentang dirinya. Eryn menarik kaus yang dipakai Black hingga tubuh kekar itu terpampang nyata didepannya.


"Aku mencintaimu, El..." lirih Eryn dengan napas terengah. Ciuman mereka tadi membuatnya kehabisan oksigen.


"Aku lebih mencintaimu, Senorita..."


Black membuka seluruh kain ditubuh Eryn hingga tandas tak bersisa. Hanya gesekan kulit mereka yang kini saling mendamba.


"Aahh..." Eryn mendesah pelan ketika benda yang tak asing itu mulai memasukinya.


Dengan gerakan lambat dan penuh makna, Black bergerak diatas tubuh Eryn.


"Sayang, apa kita harus memberi Noah adik?" ucap Black.


"No, El. Kita saja belum bisa bertemu Noah. Bagaimana bisa kita memberinya adik." Tubuh Eryn makin berguncang karena Black mempercepat gerakannya.


"Bagaimana kalau kita susul Noah kesana?"


Eryn menggeleng. Tangannya makin memeluk tubuh Black erat. Bahkan kukunya menggores kulit Black. Namun Black tak masalah. Itu adalah reaksi Eryn ketika wanita itu benar-benar menikmati permainan mereka.


Hingga akhirnya suara lolongan Black terdengar syahdu ditelinga Eryn. Eryn senang bisa membuat prianya melakukan pelepasan dengan indah. Mereka selalu kompak melepasnya bersama.


Eryn mengatur napasnya. Ia masih memeluk tubuh Black yang ada diatasnya. Black sendiri belum berniat bangun dari posisinya. Ia biarkan senjata itu masih tertancap di peraduannya.


Eryn memejamkan mata. Ia memeluk prianya dengan erat dan menghirup aroma peluh dari tubuh Black.


"Maaf. Untuk keputusanku kali ini, aku tidak bisa memberitahumu, El. Aku sudah banyak menorehkan luka untukmu dan Rose. Kurasa sudah saatnya kita mengakhiri semuanya," ucap Eryn dalam hati.

__ADS_1


#tobecontinued


__ADS_2