
Sebuah kenangan tidak akan mungkin bisa hilang begitu saja. Meski kita berusaha menepisnya. Semua kenangan manis dan pahit kembali menyeruak menjadi satu.
Ingatan itu kembali datang ketika Red sudah yakin dengan gadisnya. Gadis yang diakuinya sebagai Purple yang pernah datang di masa lalunya.
Mungkin Red terlalu terburu-buru menyimpulkan jika Selena adalah gadis masa lalunya. Matanya menggelap ketika Selena membawa buku harian itu di tangannya.
Tatapan mata itu memang sama. Sama dengan yang Red temui 10 tahun silam. Lantas kenapa dia ragu ketika mimpi itu tiba-tiba hadir?
Red memandangi dirinya di cermin. Ia sudah siap dengan setelan jasnya. Malam ini dia akan bertunangan dengan Selena.
Benarkah keputusan Red ini? Ia sendiri yang menginginkan pertunangan di percepat. Dan ia tak bisa mundur lagi. Bayangan senyuman seorang gadis kembali memenuhi otanya.
"Benarkah itu kau, Selena? Kaukah gadis itu?"
Pandangan matanya kosong. Blue bisa melihatnya. Ia menghampiri kakaknya.
"Ada apa, Red? Kau tampak tidak senang," terka Blue.
"Tidak, Blue. Aku tidak apa."
"Hmm? Kau yakin?" Blue tahu ada yang tidak beres disini.
Red mengangguk.
"Ini adalah keputusanmu, Red. Jadi, kau harus bisa menerimanya. Mungkin setelah ini kau bisa memikirkannya lagi sebelum pernikahan."
Entah kenapa Blue seakan mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Red. Pria muda itu menepuk bahu Red kemudian keluar dari kamar pria itu.
"Semuanya sudah siap. Kami tunggu kau di bawah, Red!" ucap Blue sebelum menutup pintu kamar Red.
Sementara di tempat berbeda, Selena tengah mematut dirinya di depan cermin. Hatinya amat bahagia karena sebentar lagi dia akan bertunangan dengan Red. Pria yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Sorena mengetuk pintu kamar putrinya dan menatap penuh haru putri kesayangannya akan di pinang oleh pria yang mencintainya. Sorena merangkum wajah Selena.
"Kau harus bahagia, Nak. Dan jaga Red dengan baik. Jangan sampai kau mengalami apa yang Ibu alami."
"Ibu! Kenapa bicara seperti itu? Red sangat mencintaiku. Dan aku juga akan menjaga Red dengan baik. Aku tidak akan membiarkan parasit mengganggu hubungan kami," ucap Selena ketika mengingat bagaimana dia merebut Red dari Ilena.
__ADS_1
Sorena mengusap lengan putrinya. "Jika sudah siap segeralah turun. Ibu akan melihat apakah ayahmu sudah siap atau belum."
Selena mengangguk dan kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kau lihat saja Ilena! Aku akan merebut seluruh kebahagiaanmu seperti yang dulu ibumu lakukan pada ibuku. Sayang sekali kau harus menanggung dari apa yang diperbuat ibumu di masa lalu!" gumam Selena dengan tatapan penuh dendam.
Selena keluar dari kamarnya dan menemui ayah dan ibunya yang sudah menunggu. Sorena tersenyum bahagia melihat putrinya yang begitu cantik.
"Kau sudah siap? Ayo berangkat! Jangan sampai Red menunggumu terlalu lama," ucap Sorena.
"Tunggu sebentar! Kita tunggu Ilena dulu!" sahut Brian.
"Ayah!" protes Selena.
"Nak, dia adalah adikmu. Tentu saja dia harus ikut di acara pertunanganmu."
"Tidak! Aku tidak sudi melihat dia di pesta pertunanganku! Apa ayah lupa? Aku adalah anak tunggal di keluarga ini! Semua orang tahu itu!" ucap Selena dengan mata memerah.
"Astaga, Brian! Tega sekali kau menghancurkan hati putriku! Jika kau ingin menemani putrimu itu maka silakan saja! Aku dan putriku akan pergi sendiri ke hotel!" timpal Sorena dan segera membawa tubuh Selena pergi dari sana.
Brian menatap Ilena yang baru datang menghampirinya.
"Maafkan Ayah, Nak! Ayah tidak bisa membelamu di depan ibu dan kakakmu," batin Brian menjerit sedih.
#
#
#
Hotel berbintang itu menjadi saksi bisu atas pertunangan dua insan yang terlihat saling mencintai itu. Red menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Selena. Dan sebaliknya, Selena memasangkan sebuah cincin ke jari manis Red.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah ketika kedua insan itu menunjukkan cincin di jari manisnya. Selena tersenyum lega karena tinggal selangkah lagi ia akan membuat Red menjadi miliknya.
Tanpa malu-malu Selena berinisiatif untuk mencium bibir Red lebih dulu. Pria itu cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Selena. Lambat namun pasti Selena membuat Red mulai membalas ciumannya. Tentu saja ia tahu Red tidak akan bisa menolaknya.
Pesta terus berlanjut hingga malam mulai larut. Hanya tinggal beberapa orang saja disana. Bahkan kini Selena tengah minum bersama teman-teman satu agensi modelnya.
__ADS_1
Red menatap Selena yang terus mengembangkan senyumnya. Entah kenapa hatinya tercubit melihat senyum yang nampak berbeda dari sebelumnya.
Kini Red pun ikut minum bersama teman-temannya terpisah dari Selena. Tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Red. Namun Grey, sang tangan kanan bisa merasakan jika jiwa Red sedang tak bersama raganya.
Di rumah keluarga Adams, Ilena menatap pekatnya langit malam. Langit yang menjadi saksi betapa dirinya selalu sendirian selama ini. Hanya kerlipan bintang-bintang dan cahaya bulan yang menemaninya.
Ingin rasanya ia pergi ke panti asuhan, tapi pasti ibu tirinya akan mengomel. Ia harus bertahan walau apapun yang terjadi.
Ingatannya tiba-tiba tertuju pada sebuah foto yang kemarin di lihatnya. Foto calon suami Selena yang seakan tidak asing di matanya.
Ilena mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah melihat sosok itu. Namun setelahnya Ilena menggeleng cepat.
"Kenapa aku harus memikirkan kekasih kak Selena? Pasti itu hanya perasaanku saja. Tidak mungkin aku pernah melihat pria hebat seperti itu! Sudahlah, sebaiknya aku tidur saja!"
Ilena menuju tempat tidurnya yang hanya berukuran single bed. Sangat berbeda dengan milik Selena yang berukuran besar.
Kembali ke hotel tempat acara pertunangan Red dan Selena dilangsungkan. Terlihat semua orang telah berpamitan pulang. Bahkan kedua orang tua Selena telah pergi sejak tadi. Mereka menitipkan Selena pada Red.
Red menghampiri Selena yang sudah setengah sadar. Rupanya teman-teman Selena memang sengaja membuat gadis itu mabuk.
Tanpa memiliki pilihan lain, Red membawa tubuh Selena ke dalam kamar hotel yang telah dipesannya sebelumnya. Rencananya memang Red ingin menginap di hotel yang juga merupakan salah satu lahan bisnis miliknya.
Red membopong tubuh Selena yang mulai tak sadarkan diri. Selena mengusap kepalanya ke dada bidang Red yang sedang menggendongnya.
"Aku mencintaimu, Red..." racau Selena.
Tiba di kamarnya, Red merebahkan tubuh Selena ke atas ranjang. Pria itu ingin menghindar namun Selena menarik tangan Red hingga pria itu terjatuh diatas tubuhnya.
"Miliki aku, Red..." Tatapan sayu itu membuat Red tersentak.
"Selena, sudah kubilang aku tidak akan..."
Tanpa ingin mendengar alasan Red yang kuno, Selena segera membungkam bibir Red. Tangannya bergerilya dengan sigap melepas jas pria yang ada diatas tubuhnya.
Dengan menuruti keinginan Selena. Red membantu Selena untuk melepas jas yang melekat pas di tubuhnya. Red membuang asal jasnya dan kembali mencumbu Selena.
#
__ADS_1
#
#