
Eryn tersenyum lega memandangi putranya yang bisa tertawa lepas jika bersama dengan Joon. Hembusan napas kasar kembali terdengar.
Joon menghampiri Eryn. Pria itu seakan tahu jika wanita itu memang sedang mengalami dilema. Ia sendiri sadar jika Eryn belum sepenuhnya menerima hubungan ini. Apalagi setelah kemarin ia menyatakan maksudnya untuk melamar Eryn.
"Eryn, kau kenapa?" tanya Joon yang melihat Eryn melamun usai bermain dengan dirinya dan Noah.
"Tidak ada. Aku hanya merasa lelah saja."
Joon mengerti perubahan sikap Eryn ini.
"Apa jawabanmu, Eryn?"
"Eh? Jawaban?" Eryn menatap Joon bingung.
"Ayahmu pasti sudah mengatakan maksud kedatanganku kemarin."
Eryn terdiam.
"Iya. Aku sudah mendengarnya dari ayah. Kenapa kau sampai harus mengundurkan diri dari pekerjaanmu? Aku tidak ingin jika..."
"Jangan bicara apapun! Aku tidak apa meski harus kehilangan semuanya. Jadi, apa yang kau inginkan?"
Eryn menghela napas. "Aku tidak ingin kita terlalu terburu-buru. Maksudku ... kita bisa bertunangan dulu sebelum menuju ke pernikahan."
"Benarkah? Jadi kau setuju?"
Eryn mengangguk. "Demi Noah. Ini semua demi Noah!" batin Eryn.
"Terima kasih, Eryn." Joon langsung membawa Eryn dalam dekapannya.
"Aku akan menjagamu dan juga Noah."
Eryn mengulas senyumnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Noah."
Eryn kembali mengangguk. Dia memejamkan matanya menatap kepergian Joon.
"Ji Hyo, dimana Noah?" tanya Eryn.
"Tuan Kecil sudah tidur, Nona. Sepertinya Tuan Kecil kelelahan setelah bermain dengan Dokter Lee," jawab Ji Hyo.
Eryn mengangguk paham dan kembali ke kamar. Ia mengambil tasnya lalu pergi dari sana.
"Kau mau kemana, Nak?" tanya Tuan Kim yang melihat Eryn terburu-buru.
"Aku akan ke kantor, Ayah. Ada hal yang harus aku kerjakan," balas Eryn.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Eryn memberi hormat kemudian keluar rumah dan mengendarai mobilnya.
#
#
#
Eryn tiba di kantornya dan meminta Sae Mi untuk memeriksa sesuatu. Ia baru ingat jika beberapa waktu lalu Rose menghubunginya.
Eryn merasa pasti ada sesuatu yang ingin Rose sampaikan padanya. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan Eldric.
"Nona, kami sudah menemukannya. Ini nomor yang waktu itu menghubungi kantor kita. Nomor itu berasal dari Meksiko."
__ADS_1
Wajah Eryn berubah serius dan sedikit was was. Ia takut jika apa yang akan didengarnya tidak sesuai harapan.
Eryn menghubungi kembali nomor Rose. Ia berharap bisa bicara dengan Rose saat ini juga.
Namun perbedaan waktu juga menjadi kendala. Sambungan teleponnya tidak terhubung.
Eryn mendesah pelan. Kemungkinan Rose mematikan ponselnya.
"Haah! Ponsel Rose tidak aktif. Aku bahkan tidak tahu nomor Carlos dan yang lainnya," gumam Eryn.
Ia melirik jam tangannya. Malam ini ia akan bertemu dengan Se Hoon. Ia harus bisa menemukan semua kepingan misteri antara Se Hoon dan ayahnya.
Sementara di tempat berbeda, Ga Eun menemui Se Hoon di gedung Grup Se-Kang untuk menyusun rencana yang akan mereka lakukan berdua. Gadis itu amat bersemangat untuk menghancurkan Eryn.
"Bagaimana? Kau sudah menyiapkan semuanya, bukan?" tanya Ga Eun.
"Astaga, Nona! Kau sangat tidak percaya kepadaku, huh?!" ucap Se Hoon jengah.
"Tentu saja aku tidak bisa percaya padamu. Kau adalah orang yang licik. Kau selalu menyalahkan semua orang atas apa yang menimpamu," cibir Ga Eun.
"Apa katamu?!" Se Hoon mengepalkan tangannya.
"Sudahlah, aku tunggu kejutanmu malam ini. Kau harus memisahkan Eryn dan Joon Oppa. Mengerti?!"
Usai mengatakan maksudnya, Ga Eun keluar dari ruangan Se Hoon. Ia berjalan dengan angkuhnya melewati beberapa orang yang melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Bukankah itu adalah putri Tuan Seo? Ada urusan apa dia datang kesini?"
"Entahlah. Sepertinya dia menemui Pimpinan Kang."
"Ada hubungan apa dia dengan Pimpinan Kang?"
Se Naa yang baru saja tiba di kantor usai rapat diluar, mendengar percakapan yang dilakukan oleh beberapa karyawan itu.
Se Naa menatap ruangan kakaknya. "Apa yang sedang direncanakan oleh kakak? Apa ini mengenai Eryn? Jika dia bekerja sama dengan Seo Ga Eun, maka ini pasti ada hubungannya dengan Eryn. Aku harus memberitahu El," batin Se Naa.
Se Naa meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tidak aktif. Kemana kau, El?" gumam Se Naa.
"Aku harus mengawasi Kak Se Hoon. Dia cukup mencurigakan setelah pesta kemarin," batin Se Naa.
#
#
#
Pukul tujuh malam, Eryn keluar dari kantornya dan langsung menuju ke tempat tujuan yang sudah ia sepakati dengan Se Hoon. Meski ada sedikit keraguan, tapi Eryn tak bisa mundur lagi. Ia harus memecahkan semua misteri ini.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan menuju kesana, pikirannya masih menerawang jauh.
Hingga akhirnya mobil Eryn memasuki area parkir sebuah resto yang cukup mewah. Eryn turun dari mobil dan mengedarkan pandangan. Ia bertanya pada pegawai resto dimana tempat yang dipesan Se Hoon.
"Pimpinan Kang ada di room nomor 1, Nona."
"Baiklah, terima kasih."
Eryn segera menuju ke room yang ditunjukkan oleh si pelayan tadi. Eryn mengatur napasnya sebelum masuk kesana.
Ia membuka pintu perlahan dan melihat Se Hoon sedang duduk dan tersenyum kearahnya.
"Akhirnya datang juga. Silakan duduk, Nona Kim." Se Hoon bangkit dari kursinya dan menyambut Eryn.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berbasa-basi. Katakan apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan ayahku!" ucap Eryn tegas.
Se Hoon tersenyum. "Kita makan saja dulu."
Eryn menatap makanan yang sudah tersaji di depannya. Mau tak mau ia menyantap makanan yang telah terhidang itu.
"Kang Joon dan Sully adalah sahabat dekat saat mereka masih sama-sama menempuh kuliah kedokteran," tutur Se Hoon.
"Aku tidak tahu seperti apa hubungan mereka. Tapi yang jelas, Sully lebih memilih aku dari pada dia. Aku tidak pernah tahu jika Kang Joon menyukai Sully."
Eryn mendengarkan dengan seksama. Ia malah menghentikan aktifitas makannya. Sedang Se Hoon masih tetap mengunyah makanannya sambil bercerita.
"Aku dan Sully menikah 10 tahun lalu. Aku sangat mencintainya. Dan kami hidup dengan bahagia."
Se Hoon mengambil gelas yang berisi air dan meminumnya.
"Perusahaanku dan ayahmu memang banyak melakukan persaingan. Dalam hal bisnis itu adalah hal biasa."
Se Hoon menopang dagu dengan kedua tangan dan menatap Eryn.
"Tapi semua menjadi tidak biasa ketika salah satu pihak melakukan cara licik untuk menghancurkan pihak lawan." Seringai Se Hoon terlihat menakutkan.
"Malam itu, perusahaanku sedang mengalami kesulitan. Dan aku sudah menghubungi Sully jika aku tidak akan pulang. Aku berkutat di kantor karena memang ada beberapa bisnis yang sedang anjlok."
Eryn merasakan ada hawa yang aneh ketika Se Hoon mengatakan kalimat yang terakhir.
"Tapi tiba-tiba ada yang menghubungi Sully dan mengatakan jika aku sedang dalam bahaya. Dia segera menyusulku ke kantor. Dia sangat mengkhawatirkan aku."
Ada sebuah nada kesedihan disana. Eryn bisa merasakan itu.
"Tapi dia tidak pernah datang untuk menemuiku. Di perjalanan, dia mengalami kecelakaan yang membuatnya tewas."
Eryn menutup mulutnya tak percaya.
"Kau tahu? Selama bertahun-tahun aku mencari siapa dalang dibalik semua ini. Akhirnya aku menemukannya."
Eryn membulatkan mata. Ia menggeleng pelan. Firasatnya sudah sangat kuat soal ini.
"Ya, dalang dari kematian Sully adalah ayahmu! Kim Hyun Jeong. Dia yang meminta anggota mafianya untuk menghubungi Sully dan memintanya keluar rumah."
Gelengan kepala Eryn semakin kuat. "Tidak! Itu tidak mungkin!" ucap Eryn.
"Ayahmu adalah penjahat, Eryn. Dia jahat!" teriak Se Hoon.
"Tidak!"
Eryn beranjak dari duduknya dan memilih untuk keluar ruangan itu. Namun ketika di depan pintu...
Eryn mengernyit karena pintunya tak bisa terbuka.
"Tidak! Buka pintunya!" seru Eryn.
"Maaf... Kau harus menanggung akibat dari perbuatan ayahmu di masa lalu," seringai Se Hoon sambil menghampiri Eryn.
"Tidak! Ayahku tidak bersalah!" ucap Eryn masih terus berusaha membuka handel pintu.
"Buka pintunya! Tolong! Siapapun tolong aku!" teriak Eryn dengan menggedor pintu.
#tobecontinued
*mohon maap UP nya terlat. Agak sibuk di RL, hehehe
Terima kasih utk yg setia menanti 😘😘😘
__ADS_1