Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
125. Mendekati Ilena


__ADS_3

Ilena tertegun setelah mendengar kisah Darla dan Pak Walikota. Selama ini ia memang mengetahui jika pak walikota hanya mau dilayani oleh Darla saja. Tapi Ilena tak mengira jika hubungan mereka sampai sejauh itu. Semua itu adalah keputusan Darla. Sebagai sahabat, Ilena tak berhak ikut campur.


Ilena kembali mengingat tentang lamaran Blue. Menurut Ilena, Blue adalah pria yang baik. Terlepas dari julukannya sebagai 'pria satu malam', di depan Ilena bahkan Blue tidak menuntutnya untuk berhubungan lebih.


Kini Ilena menjadi dilema. Terlebih Red tiba-tiba datang dan muncul di hadapannya setelah beberapa minggu tak ada batang hidungnya.


"Red...?" lirih Ilena dengan menatap Red yang ada di depannya.


"Bukankah ini masih jam latihanmu?" tanya Red.


"Iya. Aku istirahat sebentar dan ingin ke dapur," jawab Ilena asal.


"Wah? Dapur? Apa kau selalu mengingat tentang lorong gelap itu? Hingga kau selalu ingin kesana?" cecar Red.


"Eh? Tidak! Bukan itu maksudku..." Ilena berusaha menjelaskan.


"Aku hanya ingin mengambil air minum saja," ucap Ilena sambil menunduk.


"Ini!" Red menyodorkan sebotol air pada Ilena.


Ilena menatap tangan Red yang memegang sebotol air minum.


"Terima kasih, Red." Ilena menerima botol itu dari tangan Red.


Setelahnya Red berlalu tanpa mengucap sepatah katapun pada Ilena. Ilena tersenyum kecil karena mendapat sebuah kehangatan dari seorang Red.


Ilena kembali ke ruang latihan dengan hati yang cukup berbunga. Mereka memulai latihan dengan bersemangat karena nanti malam adalah hari bersejarah untuk Darla.


#


#


#


Malam harinya, Ilena dan kawan-kawan tampil memukau seperti biasa. Sorakan tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


Mata Ilena tertuju pada pria yang sedari tadi menatap kearahnya. Pria itu tak beranjak sedikitpun dari sosok Ilena yang sedang menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik.


Pentas pun usai. Pria itu melenggang pergi dan menuju ruang kerjanya. Siapa lagi kalau bukan Red. Pria dengan sejuta misteri yang membuat Ilena tertarik.


Red duduk di kursi kebesarannya dan menatap foto Ilena satu persatu. Foto gadis itu yang didapat dari orang suruhannya.


Didalam foto itu, terlihat Ilena sedang bermain dengan anak-anak panti asuhan. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang sayu dan sederhana tanpa polesan make-up sedikitpun.


Ilena yang sekarang Red lihat memang sudah berbeda. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Bagaimana bisa kau adalah putri si pelenyap itu, hah?! Kenapa harus dirimu?"


Red bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya ia mulai ragu untuk memulai aksi balas dendamnya. Ada apa dengan Red?"


Kembali kepada Ilena dan teman-temannya. Saat ini Darla sedang bersiap-siap untuk ikut bersama dengan pak Walikota, Jose Abraham. Pria itu serius menjadikan Darla sebagai istri yang ia simpan.


Jose Abraham sedang bernegosiasi dengan Madam Jane untuk bisa membawa Darla pergi dari tempat itu. Kompensasi yang di syaratkan Madam Jane bukanlah hal yang main-main.


Ada beberapa hal yang harus dipenuhi Jose termasuk soal uang. Madam Jane melihat cek yang disodorkan Jose.


Madam Jane mengetuk pintu dan terlihat para gadis sedang saling berpelukan. Darla memeluk teman-temannya satu persatu.


"Ayolah, Darla. Tuan Walikota sudah menunggumu!" ucapnya.


Darla mengangguk.


"Aku pasti akan merindukan kalian!" Darla mengusap air matanya. Sungguh ia tidak ingin kehilangan sahabat seperti mereka.


"Bagaimana dengan keluargamu, Darla? Bukankah kau harus tetap mengirim uang pada mereka?" tanya Ilena yang penasaran seperti apa kehidupan Darla setelah dinikahi sang walikota.


Darla tersenyum. "Tuan Jose memberiku sebuah toko kue untuk aku kelola. Dari situ aku tetap bisa menghidupi keluargaku," jawab Darla.


Ilena terdiam sejenak. Sungguh beruntung menjadi seorang Darla. Bertemu dengan orang yang sangat mencintainya, dan memberinya kehidupan baru. Begitulah pikir Ilena.


Andai saja kehidupannya juga beruntung seperti Darla. Sejak kecil tidak ada yang peduli dengan kebahagiaan Ilena. Ia harus hidup mandiri dengan menjadi anak yang kuat dan tak mudah menyerah. Kini rasanya, ia sudah cukup untuk berjuang. Ia ingin bisa hidup bersandar pada orang yang mencintainya. Apakah ada?

__ADS_1


Ilena dan kawan-kawan mengantar kepergian Darla hingga ke depan pintu bangunan itu. Mereka melambaikan tangan begitu mobil yang membawa Darla melesat pergi dari tempat itu.


"Baiklah, Anak-anak! Kini tinggal kalian berempat. Jadi, tetap lakukan yang terbaik. Mengerti?" ucap Madam Jane.


Blondy saling tatap dengan Ilena dan yang lainnya. "Iya, Madam. Kami akan melakukan yang terbaik untuk klub ini," jawab Blondy.


#


#


#


Malam pun semakin larut. Ilena masih belum bisa memejamkan matanya. Ia membolak balikkan tubuhnya dan melihat tempat tidur Darla yang kosong.


"Semoga kau selalu bahagia, Darla. Semoga aku juga bisa mendapat kebahagiaan sepertimu..." batin Ilena.


Ilena terbangun dan memilih keluar dari kamar. Ia meraih botol minum yang ternyata telah tandas. Itu adalah pemberian Red tadi.


Ilena keluar kamar dan akan mengisi ulang botol minumnya. Ia berjalan pelan menuju dapur. Ia tak ingin ketahuan malam-malam menyelinap kedalam dapur.


Ilena mengisi botol minum itu dengan air hingga sedikit penuh.


"Kau selalu berkeliaran dimalam hari, huh?!"


Sebuah suara membuat Ilena terlonjak kaget.


"Kau!" tunjuk Ilena.


Untuk ke sekian kalinya Ilena berada di situasi yang membuatnya berdebar.


"Kau kehausan?" tanya orang itu yang adalah Red.


Ilena mengangguk pelan. "Maaf jika aku selalu melanggar peraturan disini. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Hmm? Aku tidak akan menghukummu! Ayo ikut denganku!" ajak Red dengan menarik tangan Ilena hingga botol yang sedang dipegangnya terjatuh dan air didalamnya tumpah ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2