Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
136. Pembalasan Dendam


__ADS_3

Di sebuah bangunan besar yang dijadikan markas besar geng mafia Red Devil, berkumpul puluhan orang beserta pemimpinnya yaitu Noah Albana yang lebih dikenal dengan nama Red. Darah mafia yang mengalir dalam tubuhnya membuatnya kini lebih berkuasa dibanding ayahnya dulu.


Red mendapat kabar jika ada kelompok lain yang sengaja menggagalkan bisnis dunia bawah miliknya. Tentu saja Red kalap. Ia paling tak bisa diusik dan terusik. Siapa yang berani mengusik bisnisnya bersiaplah kehancuran akan mereka alami.


Malam ini Red dan kawanannya bersiap untuk menyerang. Sebelum menyerang tentu saja ia harus mempersiapkan senjata dan granat yang akan digunakan untuk menyerang kelompoknya.


Red sendiri heran kenapa ada orang yang berani mengusiknya. Sudah lama ia tidak bertarung, dan kini ia harus kembali ke medan pertempuran.


Sebenarnya Red tak perlu pusing turun tangan sendiri, karena ia memiliki banyak anak buah. Namun ia lebih suka jika dirinya juga ikut bertarung.


"Semuanya sudah siap, Red!" ucap Grey.


"Bagus! Sebaiknya kita bersiap!" jawab Red dengan meregangkan ototnya sejenak.


Red mengendarai mobil jeep miliknya sendiri. Orang suruhannya sudah memberikan lokasi dimana kelompok White Lion itu berada.


Sebenarnya Red agak tidak asing dengan nama itu. Itu adalah gangster legendaris yang dulu pernah hits di jamannya. Dan sudah lama Red tidak lagi mendengar nama itu karena menurut kabar yang beredar jika pimpinannya telah pensiun dari bisnis dunia hitam


Tapi entah kenapa setelah puluhan tahun, gangster itu kembali muncul dan ingin menantang Red. Apa mungkin dia memiliki dendam pribadi terhadap Red? Hal itulah yang selalu dipikirkan Red sejak kemarin.


Kini sudah tidak ada waktu lagi untuk mundur. Red akan menghadapi siapapun dalang dibalik Geng White Lion ini.


Rumah itu terlihat seperti rumah sederhana. Tidak terlihat ada tanda-tanda jika rumah itu milik seorang pimpinan gangster.


Dari kejauhan Red mengamati rumah itu dan menghitung berapa jumlah anggota yang dimiliki oleh musuhnya. Tidak ada banyak orang disana.


Red melihat sosok perempuan berjalan di dalam rumah itu. Ia bicara dengan seseorang di ruang tengah.


Red menajamkan penglihatannya dengan menggunakan sebuah teropong.


"Benar, itu adalah seorang wanita. Apa mungkin pimpinan White Lion adalah seorang wanita? Tapi kenapa rasanya tidak mungkin?


Red masih bergulat dengan pikirannya ketika semua anak buahnya mulai mengepung rumah itu. Red memerintahkan anak buahnya untuk mundur sementara waktu.


Red tak yakin jika benar wanita itu adalah anggota mafia bahkan seorang ketua mafia.


"Turunkan senjata kalian!" perintah Red.


"Tapi, Red..." sergah Grey.


"Kurasa dia bukanlah ancaman. Jadi, sebaiknya kita jangan terlalu cemas."


"Red, semua pasukan siap menyerang!"


"Jangan membantah, Grey. Tarik semua pasukanmu. Biarkan aku sendiri yang menghadapinya."


"Tapi Red.."


"Tidak ada tapi! Cepat tarik mundur pasukanmu, Grey!" seru Red di alat komunikasi yang terpasang di semua telinga anak buah Red.


Mau tak mau mereka semua menuruti keinginan Red. Meski sebenarnya mereka tetap curiga pada wanita itu.


"Aku sendiri yang akan masuk kedalam. Kalian kembalilah ke markas!" perintah Red lagi.


"Baiklah, Red. Jika itu memang maumu," balas Grey.


Red maju perlahan mendekati rumah itu. Ia memegangi senjata yang cukup canggih di tangannya.


Tak ingin membantah, Grey pergi dari sana dan melihat Red yang kini telah memasuki area rumah itu.


Red menodongkan senjatanya tepat di depan pintu. Ia menendang pintu dengan kakinya.


Seorang wanita memakai pakaian tidur menyambut kedatangan Red. Mata Red membola melihat wanita berusia sekitar 40 tahunan berdiri di depannya dengan tenang.


"Selamat malam, Red," sapa wanita itu.


Red tidak terkejut karena pastinya wanita itu sudah tahu dengan kedatangan Red.

__ADS_1


"Kemana perginya anak buahmu, Red?" tanya wanita itu.


"Siapa kau?" tanya Red.


Wanita itu tersenyum seringai.


"Kau pasti sudah pernah mendengar geng White Lion, bukan? Akulah ketuanya."


"Eh?" Red membulatkan mata.


"Kau tidak percaya? Aku bahkan tidak menyuruhmu untuk mempercayaiku." Wanita itu berbalik badan lalu duduk di kursi kayu yang ada disana.


"Kenapa kau mengganggu bisnisku?" tanya Red tanpa basi basi. Ia sudah menurunkan senjatanya. Ia pikir mungkin saja bisa bernegosiasi tanpa harus adanya pertumpahan darah.


"Aku tidak menyentuh bisnismu, Red. Kau pasti salah," jawab wanita itu.


"Anak buahku tidak mungkin melakukan kesalahan."


"Oh ya? Menurutku kau ini terlalu bodoh, Red! Kau terlalu idiot meski hanya sebuah kenangan masa lalu. Kau bahkan tidak bisa mengenalinya dan malah menyakitinya!" seru wanita itu.


"Hah?! Apa maumu sebenarnya? Katakan saja!" desak Red yang sudah tak tahan.


"Kau ingin tahu apa mauku? Keinginanku hanya satu. Membalaskan dendam orang-orang yang kucintai!" seru wanita itu.


Secepat kilat wanita itu meraih pistol di bawah meja dan menembak Red.


"Aaaa!" Tubuh Red terhuyung karena sebuah peluru tertancap di dada kanannya.


"Beruntung aku tidak menembak jantungmu!" ucap wanita itu.


Red memegangi dadanya. Senjata miliknya kini sudah diambil alih oleh anak buah si wanita.


"Kalian ... menjebakku..." lirih Red.


"Ha ha ha! Jangan salah sangka, Red. Kau bukan dijebak tapi terjebak oleh permainanmu sendiri."


Begitu pelatuk ditarik, bunyi dentuman keras terdengar.


"Nyonya! Minggir!"


Dengan membabi buta kelompok Red kembali dan menembaki rumah itu. Seorang pria datang dan menyelamatkan si wanita.


Sementara Red menghindari tembakan beruntun yang diarahkan ke rumah itu.


"Cepat cari Red!" perintah Grey.


Dan terjadilah pertempuran antar dua kelompok geng. Entah siapa yang menang dan kalah. Semuanya sama sama tak mendapatkan apapun dari dendam yang membara ini.


"Red! Bertahanlah!" ucap Grey ketika Red dibawa ke rumah sakit.


Sementara itu di kubu berbeda, seorang pria muda berusaha menyelamatkan nyawa wanita yang tadi akan membunuh Red.


"Sudah kubilang cukup kau urus Ilena dengan baik! Untuk apa kau berurusan lagi dengan Red!" marah pria muda itu pada si wanita.


"Aku akan mengobati lukamu!" lanjut pria itu.


"Andrew..." lirih si wanita yang adalah Lidia.


"Maafkan ibu, Nak..."


"Jangan banyak bicara! Lukamu akan semakin melebar jika kau banyak bicara!" amuk White.


Beruntung dia datang tepat waktu dan menyelamatkan wanita yang adalah ibu kandungnya itu. White pikir selama ini ibu kandungnya adalah wanita malam yang bekerja untuk memuaskan hasrat para pria hidung belang termasuk ayahnya. Tapi ternyata White salah.


White menyadari semuanya di saat saat terakhir ini. Tapi ia bersyukur bisa menyelamatkan ibunya yang ternyata adalah ketua mafia White Lion.


Selesai dengan pertolongan pertama, White segera membawa Lidia ke rumah sakit milik keluarganya.

__ADS_1


White melihat Grey juga membawa Red yang terluka parah. Ia segera menghampiri Grey.


"Bagaimana kondisi Red?" tanya White.


Meski telah lama tidak berjumpa dan saling menyimpan dendam, namun Red tetaplah sahabat White.


"Dokter baru saja akan memeriksanya," jawab Grey.


White segera masuk dan menerobos perawat dan dokter yang sedang menangani Red.


"Biar aku yang periksa!" ucap White.


White melihat napas Red yang tersengal.


"Red, bertahanlah!" ucap White menyemangati Red.


"Ilena..."


White membulatkan mata ketika mendengar Red menggumamkan nama Ilena.


"Ilena..."


Mata Red menutup dan dari sudut matanya mengalir buliran bening yang jatuh perlahan.


"Red!" seru White panik.


#


#


#


Di tempat berbeda, Ilena menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Suara pecahan gelas membuat Dharma segera berlari menghampiri Ilena.


"Nona! Kau baik-baik saja?" tanya Dharma memeriksa kondisi Ilena.


"Iya, aku baik-baik saja. Tadi aku ingin mengambil gelas tapi tanganku licin dan gelasnya terjatuh."


" Ya sudah, kau duduk saja. Biar aku yang bersihkan pecahan gelasnya."


Dharma membersihkan pecahan gelas di lantai sementara Ilena memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Perasaan apa ini? Kenapa aku begitu tidak tenang?"


Dharma yang sudah selesai membersihkan pecahan gelas, membawakan segelas air baru untuk Ilena.


"Ini, minumlah dulu!"


"Terima kasih!" Ilena meneguk minumannya.


Tiba tiba ponsel Dharma bergetar. Sebuah panggilan dari luar negeri. Dharma agak menjauh dari Ilena.


Ilena memperhatikan raut wajah Dharma yang tidak biasa.


"Ada apa?" Ilena menghampiri Dharma. "Siapa yang menghubungi?"


Dharma menatap Ilena.


"White!" jawab Dharma singkat.


"Apa terjadi sesuatu disana?" tanya Ilena mulai panik.


"Iya. Ini mengenai Nyonya Lidia dan juga ... Red."


#bersambung


*Jangan lupa kasih Like komen atau hadiah ya genks

__ADS_1


terima kasih 😘


__ADS_2