Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
86. Keputusan Tuan Kim


__ADS_3

"Aku ... ingin ikut dengan Eldric. Aku ingin kembali ke Meksiko bersamanya," ucap Eryn dengan hati-hati. Ia tak ingin melukai hati ayahnya itu.


Tuan Kim menatap Eryn dan Eldric bergantian. Memang benar ia adalah ayah Eryn. Tapi putrinya itu juga berhak menentukan kebahagiaannya sendiri. Dan kebahagiaan Eryn ada bersama Eldric.


"Jika ayah tidak setuju, maka..." Eryn tahu jika Ayahnya pasti sedih dengan keputusannya yang tiba-tiba.


"Tidak, Nak. Bukannya ayah tidak setuju. Tapi, Ayah ingin kau memikirkannya dengan matang. Jangan terburu-buru," ucap Tuan Kim.


Eryn dan Eldric kembali saling pandang.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Kita bicarakan hal ini lagi esok hari." Tuan Kim beranjak dari duduknya dan meninggalkan Eryn dan Eldric.


"Sayang..." Eldric menggenggam tangan Eryn.


"Jangan memaksa Ayahmu. Aku tahu ini pasti berat untuknya. Dia sudah mencarimu selama bertahun-tahun dan kini harus kehilanganmu lagi."


"El... Tapi, aku tidak ingin berpisah denganmu lagi."


"Kau tidak akan pernah kehilangan aku lagi. Aku janji."


Eryn memeluk Eldric dengan erat. Ia tak ingin kehilangan pria yang dicintainya ini untuk kesekian kalinya. Sudah cukup penderitaan yang ia rasakan karena berpisah dengannya.


#


#


#


Carlos dan timnya sudah kembali ke Meksiko lebih dulu. Ia mengerti jika Eldric pasti masih ingin melepaskan kerinduannya dengan Eryn. Berbulan-bulan menahan hasrat, pastinya sangat sulit untuknya.


Rose menyiapkan makan malam usai Carlos membersihkan diri. Baru sore tadi ia tiba di rumahnya lagi. Ia juga sangat merindukan istrinya itu.


"Bagaimana kabar Eryn dan Noah? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Rose ketika Carlos datang ke meja makan lalu duduk.


"Mereka baik. Aku sangat khawatir kemarin. Aku pikir Eryn tidak akan selamat."


"Syukurlah karena dia selamat. Dia adalah wanita yang kuat," sahut Rose.


Carlos mengangguk lalu segera menyantap makan malamnya.


"Lalu, apa mereka akan menetap disana? Atau mereka akan kembali kemari?"


Carlos menghentikan kunyahannya. "Soal itu aku tidak tahu, sayang. Itu adalah keputusan mereka. Aku yakin mereka akan memilih yang terbaik."


Rose manggut-manggut. "Baiklah. Ayo lanjutkan makannya!"


#


#


#


Lolita mendatangi rumah keluarga Evans setelah sekian lama tidak berkunjung. Sejak Eric dihukum mati, Lolita tak pernah lagi mendengar kabar mengenai keluarga yang dulu terhormat itu. Ia bahkan rela menjadi simpanan Eric hanya untuk menyandang status menantu keluarga kaya.


Kehidupan Lolita dan Eryn memang sangatlah berbeda. Mungkin karena itu ia sering iri terhadap sahabatnya itu. Padahal Eryn tidak pernah mempermasalahkan status sosial seseorang dalam berteman.


Setelah Lolita kini mengetahui jika ternyata Eryn adalah putri keluarga kaya di Korea, masih ada sedikit rasa iri dalam dirinya. Kenapa Eryn bisa disukai dan dicintai oleh banyak orang? Kenapa harus Eryn? Kenapa bukan dirinya saja?

__ADS_1


Ah semua pertanyaan itu tidak akan selesai jika kau terus memikirkannya. Benar begitu kan?


Lolita menekan bel rumah besar itu. Tak ada lagi penjaga yang berjaga di depan rumah. Kebun halaman depan rumah besar itupun sudah tak terawat.


Tak lama muncullah seorang wanita paruh baya yang adalah ibu mertua Lolita. Ya, bagaimanapun juga Lolita masih sebagai menantu keluarga itu.


"Ibu..." sapa Lolita.


"Kau! Mau apa lagi kau datang kesini? Kau masih punya nyali untuk datang kesini?" sarkas Eleanor seperti biasa.


"Aku masih menantu ibu. Meski ibu tidak menginginkan itu."


Eleanor menyilangkan tangannya.


"Ibu, siapa yang datang?" Elza ikut bergabung karena ibunya tak kunjung masuk kedalam rumah.


"Kak Loli? Ibu, kenapa tidak menyuruhnya masuk? Ayo, Kak. Mari masuk!" Elza melebarkan pintu agar Lolita bisa masuk.


Eleanor masih saja bergeming didepan pintu dengan tatapan tak suka.


"Bagaimana kabarmu, Elza?" tanya Lolita ketika mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Aku baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik. Maaf ya aku tidak mengabari lebih dulu jika aku akan datang."


Elza tersenyum. "Tidak apa, Kak. Kakak adalah keluarga kami juga."


"Katakan ada perlu apa kau datang kemari?" Eleanor ikut bergabung dengan Elza dan Lolita.


"Apa itu?" tanya Eleanor menunjuk dengan dagunya.


"Ini adalah sisa uang yang kupunya."


Eleanor mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu memberikan uang pada kami? Apa kau pikir kami..."


"Aku akan kembali ke Kolombia!" Kalimat Eleanor langsung dipotong oleh Lolita.


"Apa?!" Eleanor terlihat kaget namun ia juga senang. Akhirnya ia terbebas juga dari menantu sialannya ini.


"Kenapa tiba-tiba, Kak?" tanya Elza.


"Aku sudah merencanakannya sejak lama. Keluargaku tinggal disana. Jadi, aku ingin kembali kesana."


Eleanor dan Elza terdiam.


"Uang itu memang tidak banyak. Aku menyisihkannya saat aku masih bersama dengan Eric. Itu adalah hak kalian. Kumohon terimalah!"


"Terima kasih, Kak. Kuharap kakak bahagia dimanapun kakak berada."


"Terima kasih, Elza. Kalau begitu aku permisi. Penerbanganku satu jam lagi." Lolita beranjak dari duduknya.


Ia berpamitan dengan Elza dan Eleanor. Senyum tipis terukir di dibibirnya. Mungkin ini adalah awal baginya untuk bisa memulai hidup baru di kota asalnya.


#


#

__ADS_1


#


Pagi itu, suasana sarapan di rumah keluarga Kim terasa sunyi. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring saja. Setelah kemarin Eryn menyatakan keinginannya untuk kembali ke Meksiko, hingga kini belum ada persetujuan dari Tuan Kim mengenai hal ini.


"Aku sudah selesai!" seru Noah.


Eryn tersenyum pada putranya itu.


"Minumlah susumu lalu berangkat ke sekolah," ucap Eryn.


"Iya, Mommy. Apa Daddy akan mengantarku?"


Eldric melirik Eryn. "Tentu saja Daddy akan mengantarmu ke sekolah. Ayo!" Eldric meraih tangan mungil Noah dan digenggamnya.


Mereka pergi bersama dengan berdendang ria.


"Kebahagiaanmu sudah lengkap, Nak." Akhirnya Tuan Kim membuka suaranya.


Eryn menatap pria paruh baya itu lamat. Sepertinya Eryn sudah sangat menyakitinya kemarin.


"Jika sarapanmu sudah selesai, ikutlah dengan Ayah!" Tuan Kim beranjak dari meja makan dan menuju ruang kerjanya.


Eryn mengerjapkan mata menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. Ia meminum segelas air untuk mengusir kegugupannya. Ia yakin jika ayahnya pasti akan membahas soal permintaannya kemarin.


Eryn mengetuk pintu saat tiba didepan ruang kerja ayahnya. Terdengar suara sahutan dari dalam. Eryn membuka pintu dan melihat ayahnya sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Duduklah, Nak!" perintah Tuan Kim.


Eryn duduk di depan Tuan Kim. Pria itu sedang sibuk membaca berkas-berkas yang Eryn sendiri tidak tahu apa itu.


"Ini, Nak!" Tuan Kim menyerahkan sebuah map pada Eryn.


Eryn membuka map itu dan membacanya dengan seksama. "Apa maksudnya ini, Ayah?"


"Itu adalah berkas pengalihan saham. Kau memiliki 50 persen saham Grup JK sekarang."


"Hah?! Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa. Kau adalah putriku. Hanya kau dan Noah pewarisku. Aku harap suatu saat nanti kau bersedia meneruskan perusahaanku ini. Nama JK diambil dari nama ibumu. Joana Kim. Aku memakai namanya agar aku selalu ingat tentangnya."


Mata Eryn berkaca-kaca mendengar cerita ayahnya.


"Kau sudah dewasa, Nak. Kau berhak menentukan masa depanmu sendiri. Jika kau memang ingin kembali ke Meksiko, maka lakukanlah. Ayah tidak akan melarangmu."


Air mata Eryn kini lolos mengaliri pipi mulusnya. "Ayah..."


"Jangan menangis. Kau harus bahagia dengan pria yang kau cintai."


Eryn mengangguk. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih karena ayah mengizinkanku untuk kembali."


Eryn bangkit dari duduknya dan memeluk Tuan Kim.


"Sering-seringlah kunjungi pria tua ini disini. Dan berikan Noah adik agar dia tidak kesepian."


Eryn yang sedang menangis kini terkekeh. "Ayah!" Eryn malu karena ayahnya membahas soal adik untuk Noah.


#tobecontinued

__ADS_1


__ADS_2