
Malam ini, Eryn masih terdiam di dalam kamarnya. Semenjak kejadian malam kemarin yang kembali melibatkan dirinya dengan Black, Eryn memilih menghindar.
Hatinya sesak jika mengingat hubungannya dengan Black yang entah dikatakan sebagai apa. Terkadang Eryn heran, kenapa Rose bahkan tidak marah saat tunangannya membawa wanita lain kedalam rumahnya?
Sebenarnya hubungan seperti apa yang mereka jalani? Pertanyaan itu berputar-putar di otak Eryn.
Hingga akhirnya pintu kamarnya diketuk. Seorang pelayan memanggilnya.
"Nona, sudah ditunggu oleh Tuan Black untuk makan malam," ucap si pelayan.
Eryn mengangguk. Ia pikir dirinya hanya akan makan malam biasa seperti malam-malam yang lain. Namun ternyata si pelayan membawa Eryn ke taman belakang yang ternyata sudah disulap menjadi sebuah jamuan makan malam romantis.
"Hah?!" Eryn terkejut. Ia memperhatikan penampilannya yang hanya memakai kaus dan celana jeans panjang. Rambutnya ia kuncir ala ekor kuda dan sedikit berantakan. Sungguh tak cocok dengan suasana candle light dinner yang disiapkan oleh Black.
"Kenapa dia tidak mengatakan apa pun? Jika tahu akan makan malam seperti ini, aku kan bisa memakai pakaian yang lebih pantas," lirih Eryn.
"Duduklah!" ucap Black yang sudah menopang dagunya dengan kedua tangannya. Ia memperhatikan penampilan Eryn yang ala kadarnya.
"Maaf, aku tidak tahu jika..."
"Tidak apa! Kau tetap sempurna, Eryn. Dimataku kau selalu sempurna."
Kalimat Black membuat wajah Eryn memerah.
"Astaga! Kenapa dia berkata seperti itu? Lebih baik dia marah-marah daripada harus bersikap baik padaku. Sungguh mencurigakan," batin Eryn.
"Makanlah! Aku sengaja membuat makan malam ini terlihat berbeda. Malam ini aku akan terbang untuk mengurus bisnisku di luar negeri. Karena ayah Rose sakit, aku yang harus menggantikannya," ucap Black di sela makan malam mereka.
Eryn hanya terdiam dan tak menanggapi. Untuk ke sekian kalinya ia akan ditinggal oleh Black yang sangat sibuk itu. Black tak bisa menetap lama di suatu tempat karena pekerjaannya yang harus begitu.
"Kuharap kau baik-baik di rumah selama aku pergi. Claude akan tetap tinggal dan dia akan menemanimu jika kau ingin keluar rumah," lanjut Black.
Eryn membulatkan mata. Seakan ada angin segar yang menerpa wajahnya. Ia membalas dengan seulas senyum.
Satu jam kemudian, makan malampun selesai. Carlos sudah memberi perintah jika sudah waktunya untuk berangkat.
Black beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Eryn. Ia meraih tangan Eryn dan menggenggamnya erat. Mereka berjalan beriringan menuju halaman depan mansion.
Mobil yang akan membawa Black sudah siap. Pintu mobil bahkan sudah terbuka lebar seraya mempersilakan si empunya untuk masuk.
Black menatap wanita yang akan ia tinggalkan entah berapa lama. Biasanya jika sudah bepergian, itu akan memakan waktu yang cukup lama.
Black memberikan sebuah kecupan lama dan dalam di kening Eryn. Eryn memejamkan matanya merasakan hangatnya bibir Black yang menyentuh keningnya. Sejenak ia tak ingin melepas pria ini pergi.
__ADS_1
Black menyudahi ciumannya dan merangkum wajah wanita didepannya. Ditariknya karet rambut milik Eryn hingga rambutnya tergerai indah. Tentu saja ia tak ingin melewatkan hal yang kenyal dan manis yang selalu menggodanya itu.
Meski posisi mereka sedang diperhatikan banyak orang, Black tak ragu untuk meneguk manisnya madu yang ditawarkan oleh bibir Eryn. Black mengabsen tiap inci semua manis yang ada disana.
Cukup lama mereka beradu bibir hingga Carlos dan yang lainnya hanya memalingkan wajahnya. Memang kalau sudah bucin, akan sulit untuk mengubahnya.
Carlos memandangi jam tangannya. Ia menghentakkan sepatunya pelan karena waktu penerbangan Black hanya sisa 30 menit lagi. Pesawat jet pribadi miliknya sudah menunggu di landasan.
Eryn akhirnya mendorong dada Black. Napasnya sudah tersengal karena ulah Black.
"Pergilah! Kau sudah terlambat," ucap Eryn.
Black mengusap bibir Eryn yang basah.
"Baiklah. Aku akan secepatnya kembali."
Eryn mengangguk. Black segera masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan halaman mansion besar itu.
...🌿🌿🌿...
Keesokan harinya, Eryn menghubungi Santa untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Secara kebetulan Santa ternyata sedang libur kerja.
Kedua wanita itu menghabiskan waktu seharian untuk bercanda ria dan mendatangi satu toko ke toko yang lain untuk sekedar melihat-lihat ataupun berbelanja. Sudah lama Eryn tidak melakukan hal ini bersama temannya.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Eryn.
"Menyenangkan. Aku mulai memahami dunia malam kota ini, Nona."
"Aku juga ingin bekerja," celetuk Eryn.
"Untuk apa kau bekerja, Nona?"
"Aku terbiasa menjadi wanita karir. Aku tetap ingin bekerja meski pria itu memfasilitasiku dengan banyak kemewahan. Aku tetap ingin mandiri dengan uang hasil kerja kerasku sendiri. Apa di tempatmu ada lowongan?"
"Hmm, entahlah. Tapi nanti akan aku bicarakan dengan tuan Luiz. Dia orang yang sangat baik."
"Tapi, dia adalah teman baik Black juga kan?" Eryn mendesah kasar.
"Iya, tapi yang aku dengar, mereka tidak begitu cocok meski tuan Black menyerahkan klub malam itu pada tuan Luiz."
"Hmm, benarkah? Kalau begitu, coba kau ajak aku menemuinya." Mata Eryn berbinar. Ia seperti anak kecil yang merengek meminta mainan.
__ADS_1
"Ish, Nona. Kau ini!" Santa menggeleng pelan.
"Nona, apa kau akan diawasi terus seperti itu?" tanya Santa melirik kearah Claude yang terus memperhatikannya.
"Ya begitulah. Dia akan melaporkan setiap gerak gerikku pada tuannya itu. Meski begitu dia tidak akan tiba-tiba ada disini kan? Lalu dia mendatangi kita dan berkata, hei Eryn! Apa yang kau lakukan disini?" Eryn terbahak menirukan gaya bicara Black yang dingin itu.
Santa tertawa kecil melihat tingkah Eryn. "Nona, aku tidak pernah melihat tawamu yang lepas seperti itu. Kau terlihat lebih bahagia saat ini dengan berada disisi tuan Black. Daripada saat dulu kau bersama dengan tuan Eric."
Kalimat Santa membuat Eryn terdiam. Hingga akhirnya mereka memutuskan berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Eryn merebahkan tubuh lelahnya keatas ranjang.
"Ah, lelahnya..." gumamnya. "Sepi sekali rumah ini tanpa adanya manusia itu. Huft!"
Eryn bergulang guling di tempat tidur hingga akhirnya ia terlelap dan menuju alam mimpi.
...🌿🌿🌿...
Eryn menemui Santa di klub malam tempatnya bekerja. Karena masih pagi, pastinya klub itu masih sepi dan tentu saja belum buka. Santa mengenalkan Eryn kepada bosnya yang bernama Luiz Fernandez.
Pria itu adalah salah satu sahabat baik Black dalam mengelola klub malam. Luiz menelisik penampilan Eryn dari atas hingga bawah.
"Kau yakin ingin bekerja disini? Kau tahu apa artinya dunia malam?" tanya Luiz.
"Aku ... masih belum memahaminya, tapi aku bisa cepat belajar, Tuan," jawab Eryn.
"Jangan memanggilku 'tuan'. Panggil saja Luiz."
"Ah, iya."
Luiz berpikir sejenak. Kesan pertamanya melihat Eryn, ia tahu jika wanita ini adalah wanita baik-baik. Ya meski sekarang seluruh anak buah Black tahu jika Eryn adalah wanita milik Black.
"Jika kau yakin kau sanggup, maka aku akan menerimamu," ucap Luiz.
"Benarkah? Terima kasih, Luiz. Sekali lagi terima kasih." Eryn sedikit membungkukkan badannya.
"Pulanglah dan kembali lagi nanti malam. Kami buka mulai pukul enam petang," lanjut Luiz.
"Iya, terima kasih, Luiz." Eryn tersenyum lega setelah mendapat pekerjaan baru.
Sementara Luiz, ia memperhatikan kepergian Eryn dengan senyum yang sulit untuk diartikan.
"Hmm, kita akan lihat seperti apa reaksimu saat mengetahui wanitamu bekerja di klub malam milikmu sendiri, Black," batin Luiz tertawa puas.
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...
*Lebih asik ada pic nya gak sih genks? hehehe, jadi biar bisa meraba raba perasaan para tokohnya, ihihihihihi