
Tubuh Ilena meremang mendengar berita yang cukup membuatnya syok. Dua orang kini sedang berjuang di meja operasi. Ilena meminta Dharma untuk segera membawanya menuju ke Brazil. Ilena ingin melihat kondisi Lidia.
Meski Ilena membenci Red, namun mendengar pria itu terluka, ia cukup merasa iba. Ditambah lagi semua ini terjadi karena pertarungan antara dua geng mafia berpengaruh.
Ilena tak pernah tahu jika selama ini Lidia menjalankan bisnis mafia dan dunia hitam. Dharma terus mendampingi Ilena selama perjalanan jauh ke Rio.
Dharma menggenggam tangan Ilena erat. Ia terus menguatkan gadis itu. Meski ia tak tahu manakah yang benar-benar di khawatirkan oleh Ilena. Apakah Lidia atau Red?
Baru saja Dharma mulai merasa dekat dengan Ilena, kini sosok Red kembali hadir. Memang Dharma berencana untuk mempertemukan mereka berdua, makanya Dharma menyetujui ketika Red ingin berkunjung ke Indonesia. Dharma ingin menunjukkan jika Ilena kini adalah istrinya.
Benarkah pernikahan mereka asli? Atau hanya rekayasa saja?
#
#
#
*Flashback*
White mulai mencari tahu tentang masa lalu Ilena dan juga keluarga kandung ibu Ilena. White menemukan fakta mencengangkan mengenai adik kandung mendiang ibu Ilena.
Seumur hidup ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Sama dengan Ilena. Akhirnya White menemukan ibu kandungnya yang ia pikir sudah meninggal.
Bibi Ilena adalah ibu kandungnya. Diantara banyak wanita di dunia ini, kenapa White harus terhubung dengan Ilena sebagai saudara?
White sempat merasa tak ingin mempercayai semua fakta ini. Namun ia akhirnya memilih untuk tidak egois. Ilena harus tinggal bersama dengan keluarganya.
Dan White akhirnya juga menemukan kawan lamanya yaitu Steven Howard atau kini lebih dikenal dengan nama Steven Dharma. Dharma dan Lidia tinggal di Bali, Indonesia.
White menghubungi Lidia dan memberi informasi jika saat ini dirinya bersama dengan Ilena, keponakan Lidia. White tidak menyebutkan nama keluarganya. Ia hanya menyebut namanya Andrew.
Miris karena ia harus melepaskan Ilena. Ditambah lagi mereka adalah saudara sepupu.
White berusaha bijak dengan meminta tolong pada Dharma agar bisa menjaga Ilena. White juga mencari informasi tentang Dharma yang ternyata juga mengalami sebuah trauma karena istrinya meninggal.
White merasa jika Ilena dan Dharma memiliki kesakitan yang sama. White membujuk Dharma yang memang sudah menutup pintu hatinya untuk wanita manapun.
White meyakinkan Dharma jika ia pasti akan tertarik dengan Ilena yang memiliki wajah cantik dan tatapan mata yang teduh. White mengirimkan foto Ilena beberapa kali.
Awalnya Dharma tidak merespon, namun akhirnya ia mulai luluh meski hanya melihatnya lewat gambar. Dharma menjadi tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Ilena.
Setelah Dharma setuju, White meminta Lidia agar menikahkan Dharma dengan Ilena. White akan mengurus semua dokumennya. Secara teknis, Dharma masih menjadi warga negara Brazil dan itu memudahkan White mengatur semuanya.
Ya, White mengatur sebuah kebahagiaan untuk Ilena. Ini adalah hadiah untuk Ilena karena berhasil melewati berbagai ujian dalam hidupnya.
White sangat percaya jika Dharma bisa menjaga Ilena. Meski masih belum ada cinta, White yakin jika mereka tinggal bersama pasti akan tercipta sebuah ikatan batin dan juga cinta yang dalam diantara mereka.
#
#
#
Ilena dan Dharma tiba di rumah sakit Rio de Jeneiro. Mereka bertemu dengan White. Ilena langsung memeluk White.
"Apa yang terjadi dengan Bibi Lidia?" tanya Ilena dengan isakan tangisnya.
White merangkum wajah Ilena. Ia menyeka air mata Ilena.
"Bibimu pasti baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya. Kita tinggal menunggu dirinya siuman saja," jelas White.
"Syukurlah! Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Ilena.
"Tentu saja boleh. Mari!" White mengajak Ilena untuk masuk ke sebuah ruang intensif.
__ADS_1
Di ruangan itu berjejer beberapa orang yang masih tak sadarkan diri dengan alat-alat yang terpasang di tubuh mereka. Ilena berjalan melewati beberapa brankar pasien.
White membawanya menemui Lidia. Ilena menutup mulutnya menahan tangisnya melihat kondisi Lidia. Tubuhnya hampir saja limbung dan White segera menangkapnya.
"Bibi..." lirih Ilena. Ia tak ingin kehilangan keluarga lagi. Jika Lidia juga pergi maka ia akan benar-benar sendirian di dunia ini.
White memeluk Ilena erat. Setelah gadis itu tenang, White kembali bicara.
"Dia akan baik-baik saja. Dia seorang ketua mafia, dia tidak akan kenapa-napa."
Ilena mencoba tersenyum. "Semoga saja, Dokter White."
"Ehm, Ilena. Apa kau ingin menemui Red?"
"Hah?!" Ilena cukup terkejut dengan pertanyaan White.
"Pertempuran tak bisa dihindari. Entah siapa yang memulai. Dan kini mereka sama sama terluka."
Ilena menundukkan wajahnya. Red adalah pria yang sudah menorehkan luka yang dalam untuknya. Apa ia masih punya sedikit saja rasa simpati untuk Red?
"Jika kau tidak bersedia menemuinya juga tidak apa. Ayo! Kita harus segera keluar karena tidak diperbolehkan terlalu lama disini."
Ilena mengangguk.
White merangkul bahu Ilena dan berjalan melewati beberapa orang lain. Di ruangan yang cukup sunyi itu, hanya bersahutan bunyi alat-alat medis yang terpasang di tubuh para pasien.
"Ilena..."
Ilena mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menatap White.
"A-apakah itu Red?" tanya Ilena dengan mata berkaca.
White mengangguk. Sejak operasinya dinyatakan berhasil, Red terus memanggil nama Ilena namun matanya terus terpejam.
"Maukah kau menemuinya?" pinta White.
White menemani Ilena untuk melihat kondisi Red saat ini. Ilena melihat seorang pria tengah berbaring dengan beberapa alat yang terpasang ditubuhnya. Matanya terpejam namun bibirnya terus menggumamkan sebuah nama.
Meski membencinya hati Ilena tetap merasakan tidak tega melihat Red yang sudah tidak berdaya. Ilena berbalik badan dan meninggalkan ruangan intensif itu.
Dharma menghampiri Ilena yang berjalan menjauh sambil menangis.
"Nona!" panggil Dharma namun Ilena terus berjalan hingga tiba di taman rumah sakit.
Ilena duduk di bangku panjang disana. Ia memukuli dadanya yang terasa sesak. Entah perasaan apa yang kini dirasakan oleh Ilena saat ini.
Dharma duduk disamping Ilena. Gadis itu memeluk Dharma dan menangis disana. Dharma mengusap punggung Ilena lembut. Pastinya gadis ini mengalami kilatan masa lalu yang cukup membuatnya sesak.
White meminta Dharma untuk membawa Ilena ke apartemen miliknya untuk beristirahat. Mereka baru saja menempuh perjalanan jauh dan pastinya tubuh mereka juga lelah.
Dharma mengantar Ilena hingga ke dalam kamar.
"Kau ingin membersihkan diri dulu?" tanya Dharma.
Ilena mengangguk. Dharma meninggalkannya agar gadis itu bisa leluasa beristirahat.
Keesokan harinya, Ilena terbangun dan cukup terkejut. Ia takut jika dirinya terlalu lama berada di atas tempat tidur.
Ilena ingin ke rumah sakit lagi dan melihat kondisi Lidia. Meski ia tak yakin akan kuat mental saat kembali bertemu dengan Red nanti.
Ilena keluar kamar dengan sudah rapi dan menyapa Dharma. Pria itu sedang memasak di dapur.
"Selamat pagi, Nona! Kupikir kau akan bangun besok, Nona."
Ilena tertawa kecil. "Ya aku pikir aku juga akan melakukannya lagi."
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu, Nona?"
Ilena diam sejenak. "Sudah lebih baik," jawabnya kemudian.
"Baguslah. Sekarang duduk dan makan!"
Ilena tersenyum. Ia memperhatikan Dharma yang sangat telaten merawatnya. Padahal pernikahan mereka hanya pura-pura, begitulah pikir Ilena. Dan yang ia tahu harusnya Dharma bersikap layaknya suami saat mereka ada di Indonesia saja. Disini tidak perlu menutup-nutupi hubungan meski mereka tidak menikah.
Ilena makan dengan lahap dan membuat Dharma menarik sudut bibirnya. Saking lahapnya, Ilena lupa jika yang ia makan adalah krim sup keju yang membuat bibirnya kotor dengan noda kuning disana.
Dharma beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di kursi dekat Ilena. Ia mengambil tisu dan mengusap bibir Ilena.
Lagi lagi Ilena dibuat terpana dengan sikap hangat Dharma.
"Kau seperti anak kecil, Nona. Makanmu berantakan," ucap Dharma sambil mengelap lembut bibir Ilena.
Ilena menatap lekat wajah Dharma yang begitu dekat dengannya. Mata biru itu, lengkungan hidung yang tajam, rahang kokoh yang ditumbuhi sedikit bulu halus. Semuanya membuat Ilena terpesona.
"Makanlah lagi! Setelah itu kita ke rumah sakit," ucap Dharma yang belum sadar jika Ilena sedang menatapnya.
"Dharma..."
Dharma yang akan kembali ke kursinya kembali menoleh pada Ilena yang sedang menatapnya. Dharma menyukai tatapan mata Ilena yang meneduhkan.
Tangan Dharma terulur dan mengusap pipi Ilena. "Kenapa wajahmu memerah?"
"Eh?" Ilena malu. Sangat malu. Ia menunduk.
"Jangan tundukkan wajahmu. Aku menyukainya saat kau tersipu."
Ilena kembali menatap mata Dharma. Begitu juga dengan pria itu.
Tangan Ilena terangkat dan menyentuh tangan kekar Dharma yang masih membelai wajahnya.
"Terima kasih, Dharma," ucap Ilena pelan.
"Akulah yang berterimakasih. Kau sudah membangkitkan kepercayaan diriku lagi, Ilena."
Untuk pertama kalinya Dharma tidak menggunakan kata 'nona' saat memanggil Ilena.
Ilena tersenyum. Mereka saling ada dan saling menguatkan. Berusaha menghalau rasa sakit yang pernah mereka miliki di masa lalu.
Ilena memejamkan matanya. Ia ingin memulai semua rasa ini kembali. Rasa yang sempat ia kubur dalam dalam di dasar hatinya.
Dharma makin mendekat. Ilena merasakan hembusan napas Dharma yang tenang dan berat.
Manis. Hanya itu yang bisa Ilena rasakan ketika sesuatu menyentuh bibirnya. Itu adalah bibir Dharma, tentu saja.
Ilena membuka akses untuk Dharma. Ya, ia akan memulai semuanya dari awal. Dan itu adalah dengan Dharma. Ilena yakin itu.
Kilat masa lalu kembali menyerang. Dharma ingin menarik tubuhnya karena tahu tubuh Ilena mulai gemetar. Namun ternyata Ilena membawanya mendekat. Ia lingkarkan tangannya ke leher Dharma.
Membawa Dharma makin melekat padanya. Ilena beranjak dari duduknya dan naik ke pangkuan Dharma. Pertautan masih terus berlangsung. Mereka saling berhadapan dan mengecap rasa.
Ilena memang lemah. Ia masih takut dengan semuanya. Tapi kini ia ingin berani. Berani menghadapi masa lalunya. Semua masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Ilena berhasil menaklukannya.
Ilena mulai menarik diri. Napasnya tersengal naik turun. Ia masih duduk di pangkuan Dharma dengan tangan yang masih melingkar di leher Dharma.
Dharma menyatukan kening mereka. Ia tahu jika gadis ini berusaha mengobati traumanya.
"Perlahan saja! Jangan memaksakan dirimu!" ucap Dharma lirih.
Ilena mengangguk. Ia memeluk Dharma. Pria itu juga tak mau kalah. Tubuh Ilena yang berada sangat dekat dengannya segera ia dekap. Ia menciumi leher jenjang Ilena dengan lembut.
"Terima kasih, Ilena..." bisiknya di telinga Ilena.
__ADS_1
#bersambung