Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
123. Lamaran Blue


__ADS_3

Dua jam telah berlalu sejak Selena dan White bermain diatas ranjang panas milik Selena. Gadis itu tak peduli lagi dengan pendapat White yang akan menilainya buruk.


Kini Selena senang karena sudah mendapatkan informasi penting dari White. Selena melihat pria yang terlelap di ranjangnya. Bahkan ia tidak bisa membawa Red keatas ranjangnya dan kini malah membawa sahabat Red.


Selena menyeringai usai mengetahui jika Red mencari Ilena untuk membalas dendam.


"Aku tidak menyangka jika jalanku terasa mulus karena takdir Ilena yang buruk. Kau lihat saja, Ilena! Aku yakin Red akan membalas dendam dengan sangat indah kepadamu," seringai Selena dalam hati.


Selena beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Ia harus membersihkan dirinya. Ia memandangi tubuhnya yang penuh dengan jejak yang diberikan White.


Jika dipikir-pikir, Selena sangat menyukai permainan White tadi. Pria itu bisa membuatnya melayang dan tak ingin mengakhiri percintaan mereka. White memang dikenal sebagai casanova ulung. Dibandingkan dengan Blue, pengalaman White lebih banyak. Pantas saja dia sangat mengerti apa yang diinginkan wanita.


Lama Selena berada di dalam kamar mandi hingga terdengar suara ketukan di pintu. Selena membuka pintu dengan masih bertubuh polos. Tentu saja dia tahu siapa yang mengetuk pintu.


White yang berniat buang air kecil malah membulatkan mata karena melihat tubuh polos Selena yang masih basah itu.


"Ayo masuk, White!" Selena menarik tangan White.


Namanya saja White. Namun pesona mematikannya bagaikan api yang menyambar siapapun yang menggodanya. Ditambah lagi pengaruh obat yang di masukkan Selena ke minuman White masih bereaksi. Jadilah mereka kini kembali mereguk nikmatnya bergumul bersama dalam sebuah gairah.


#


#


#


Ilena masih berada di kamar Blue. Mereka tertidur bersama dengan saling berpelukan. Sebenarnya Ilena merasa tidak nyaman, tapi ia tidak bisa menolak Blue.

__ADS_1


Blue adalah orang yang sudah menolongnya. Blue adalah orang yang pertama mengakui bakatnya di dunia tari. Blue kini menjadi sosok yang lebih kalem. Bahkan ia sangat menghargai Ilena yang tidak ingin melakukan hubungan sebelum adanya sebuah janji pernikahan.


Blue bersedia menikahi Ilena, namun gadis itu masih ragu. Hatinya tidak memanggil Blue. Hatinya menginginkan Red yang menjadi takdir cintanya. Meski ia harus melawan sang kakak tiri, Selena.


Sejak kematian ayahnya, Ilena belum mendengar kabar tentang Red lagi. Kesedihan yang dirasakan Red rasanya lebih dari yang dirasakan Blue. Ilena lihat Blue tidak nampak bersedih seperti yang dilakukan Red.


Entah hubungan keluarga seperti apa yang mereka jalani selama ini. Ilena terbangun di tengah malam dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia merasa tak enak hati dengan keempat sahabatnya yang kini sudah seperti keluarga baginya.


Sikap Blondy yang tadinya dingin terhadapnya kini berubah lembut dan hangat seperti yang lainnya. Blondy tidak membencinya karena ia kini dekat dengan Blue.


Ilena berjalan menyusuri lorong-lorong gelap menuju kamarnya. Sayup sayup ia mendengar suara seorang pria yang sepertinya sedang mabuk.


"Aku akan membalaskan dendamku, Grey! Aku akan melakukannya!" racau orang itu yang adalah Red.


Ilena mengenali suara itu. Ia membulatkan mata mendengar apa yang dikatakan Red.


Grey membawa Red masuk ke dalam kamarnya. Ilena hanya menatap tanpa mau mendekat. Sepertinya ia masih belum bisa mendekati Red di saat seperti ini.


Keesokan harinya, Blue mencari Ilena yang sudah tak ada di kamarnya. Ia tak menyangka jika Ilena akan meninggalkannya malam tadi.


Blue langsung membersihkan diri lalu keluar mencari keberadaan Ilena. Ia bertemu dengan Blondy yang akan menuju ruang latihan.


"Hai, Blue," sapa Blondy.


"Hai, Blondy. Apa kau melihat Baby?" tanya Blue.


"Dia baru saja menuju ruang latihan," jawab Blondy.

__ADS_1


Secepat kilat Blue mendahului langkah Blondy dan menuju ke ruang latihan.


"Ada apa dengannya? Dia terlihat terburu-buru sekali." Blondy mengedikkan bahunya.


Blue tiba di ruang latihan dan melihat Ilena sedang bergerak lincah di tengah ruangan. Ia menginterupsi latihan Ilena dan membawanya keluar ruangan.


Ilena pasrah ketika tangannya ditarik keluar oleh Blue. Blue membawanya ke ruangan samping tempat latihan tadi.


"Blue, ada apa?" tanya Ilena.


"Aku mencarimu ketika aku membuka mata, tapi kau tidak ada."


"Maaf..." lirih Ilena. Ia merasa bersalah.


"Jangan pergi lagi, Baby. Aku membutuhkanmu..." Blue membingkai wajah Ilena dengan kedua tangannya.


"Mari kita menikah, Baby," ucap Blue cepat dan tanpa basa basi.


"Blue..."


"Aku serius, Baby. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya."


"Tapi aku hanya seorang pekerja di klub malam milikmu, Blue. Apa aku pantas?" Ilena menundukkan wajahnya. Ia sungguh tak ingin mengecewakan Blue.


"Aku tidak peduli. Yang aku tahu, aku mencintaimu..."


Usai mengatakan pernyataan cintanya, Blue mencium lembut bibir Ilena. Gadis itu memegangi tangan Blue yang masih merangkum wajahnya.

__ADS_1



__ADS_2