Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
81. Psikopat Gila


__ADS_3

Eryn berjalan sambil mengedarkan pandangan untuk mencari celah agar bisa kabur dari tempat milik Se Hoon. Terlihat pria itu sudah duduk di meja makan dan menunggu Eryn.


Wanita itu menatap tajam kearah pria yang memiliki kepribadian luar biasa aneh menurutnya. Pantas saja Sully lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada harus seumur hidup dengan pria ini.


"Duduklah!" ucap Se Hoon pada Eryn.


Eryn diam dan menarik kursi lalu duduk dengan tenang.


"Makanlah dulu! Aku menyiapkan semua makanan kesukaanmu."


Eryn menatap menu yang terhidang diatas meja. Ini bukan menu kesukaannya.


"Ini bukan makanan kesukaanku," ucapnya datar.


"Benarkah?" Se Hoon mengernyit.


"Panggilkan chefnya!" teriak Se Hoon dan membuat Eryn terkejut.


"Tidak apa aku akan memakannya." Eryn taku jika pria ini pasti akan berbuat diluar batas.


"Tidak! Tidak! Dia sudah bersalah dan dia harus dihukum!"


Eryn melotot. "Dihukum?"


Seorang chef datang dengan menundukkan kepalanya.


"Kau ini bodoh ya! Ini bukan makanan kesukaan Sully! Kau harus dihukum!" seru Se Hoon dan mengambil pistol dari dalam jasnya.


Eryn makin melototkan matanya.


"Oh tidak! Pria ini memperlakukanku sebagai Sully. Jadi, harusnya aku berakting seperti Sully," batin Eryn berpikir keras.


"Tidak, Se Hoon. Aku tadi hanya bercanda. Ini adalah makanan favoritku. Benar! Chef ini tidak bersalah. Jangan menghukumnya!" Eryn berusaha membujuk Se Hoon.


Se Hoon mengarahkan senjatanya kearah chef itu. Eryn menggeleng pelan.


"Jangan, Se Hoon. Dia tidak ber..."


Terlambat. Chef itu sudah ditembak mati oleh Se Hoon. Eryn bergidik ngeri melihat kekejaman pria ini. Matanya berkaca melihat tubuh chef itu di seret pergi dari sana.


"Kenapa kau membunuhnya? Sudah kubilang dia tidak bersalah!" teriak Eryn.


"Aku tidak suka ada orang yang melakukan kesalahan sekecil apapun. Jadi, jika kau juga melakukan kesalahan, maka kau juga akan bernasib sama."


Se Hoon mengelap mulutnya lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan Eryn yang terisak.


"El... Cepatlah datang! Tolong aku..."


Batin Eryn menjerit menyebut nama Eldric.


#


#


#

__ADS_1


Eryn mengurung diri di kamar. Ia tak ingin menemui siapapun saat ini. Ia sungguh merasa bersalah pada chef yang meninggal itu.


"Maafkan aku... Aku tidak tahu jika akan jadi seperti ini..."


Pintu kamarnya diketuk. Eryn membukanya. Ia tak mungkin melakukan kesalahan lagi dan membuat nyawa manusia terbunuh sia-sia karena dirinya.


"Ada apa?" tanya Eryn yang melihat lima pelayan wanita ada di depan kamarnya.


"Pimpinan Kang ingin Anda untuk datang ke kamarnya. Katanya Anda harus memilih gaun pengantin untuk nanti malam."


Eryn menghela napas. "Baiklah, aku akan segera kesana."


Eryn masuk sebentar ke dalam kamar dan membenahi penampilannya. Ia tak boleh melakukan kesalahan lagi kali ini.


Eryn berjalan menuju kamar Se Hoon diikuti para pelayan wanita. Ia mengetuk pintu kamar Se Hoon.


Nampaklah pria itu sedang duduk di sofa dengan menatap beberapa gaun pengantin yang terpampang disana.


"Kau sudah datang? Kemarilah!" Se Hoon menepuk sofa di sebelahnya. Itu artinya ia meminta Eryn untuk duduk bersama dengannya.


Meski sedikit takut dengan seringai Se Hoon, namun sebisa mungkin ia menutupinya. Ia tak ingin ada korban lagi setelah ini.


Se Hoon memeluk Eryn ketika wanita itu sudah duduk disampingnya.


"Kau suka yang mana?" tanya Se Hoon sambil menunjuk beberapa gaun pengantin didepan mereka.


"Eh?" Eryn bingung. Apakah ia benar-benar harus melakukan ini? Tentu saja iya. Eryn tak ingin ada korban lagi disini.


Eryn menelan ludahnya dengan susah payah.


"A-aku suka yang itu!" Eryn menunjuk satu gaun. Ya, ia menyukai gaun yang tertutup.


"I-iya. Aku suka itu." Eryn sangat takut sekarang. Ia berharap ia tidak melakukan kesalahan.


"Sayang, kenapa wangimu berbeda?" tanya Se Hoon ketika mencium aroma parfum yang di pakai Eryn.


"Hah?!" Eryn tertegun.


"Ah, itu hanya perasaanmu saja. Aku memakai parfum yang sama," jawab Eryn berusaha tetap tenang.


"Sully tidak suka wangi vanilla."


"Hah?!" Eryn merasa ingin menjerit saja. Ia melakukan kesalahan lagi.


"Siapa yang menyiapkan perlengkapan Sully?" tanya Se Hoon dingin.


Eryn menggeleng. "Jangan salahkan mereka! Mereka tidak salah!" mohon Eryn.


"Kau sudah tahu aturannya, bukan? Yang melakukan kesalahan harus dihukum!"


"Tidak! Aku mohon!" Eryn berlutut dan memohon pada Se Hoon.


"Sayang, untuk apa kau membela mereka? Mereka hanya pelayan. Jika melakukan kesalahan, itu artinya mereka sudah tidak berguna lagi."


Eryn menggeleng pelan. Air matanya sudah luruh sejak tadi.

__ADS_1


"Tolong, jangan hukum mereka! Aku masih membutuhkan bantuan mereka!" bujuk Eryn.


"Aku masih punya banyak orang untuk menjadi pelayanmu. Cepat katakan siapa yang menyiapkan wewangian untuk Sully?" bentak Se Hoon.


Eryn menatap kelima pelayan itu dan menggeleng. Ia meminta agar mereka jangan mengaku.


"Cepat katakan!" Suara Se Hoon naik satu oktaf.


"Aku! Aku yang meminta mereka menyiapkannya!" seru Eryn. Ia berharap ia bisa melindungi mereka. Ia tak ingin ada nyawa yang melayang lagi.


"Kau? Kau yang meminta sendiri? Kau tidak suka aroma vanilla dan kau memakainya?" Se Hoon menatap tajam dengan tatapan membunuh kearah Eryn.


"Kau ingin membuatku marah?"


Eryn menggeleng. "Jangan salahkan mereka lagi. Ini adalah salahku!" ucap Eryn dengan suara bergetar.


"Baiklah. Kalau begitu kau yang harus dihukum!"


Kelima pelayan itu melotot mendengar keputusan Se Hoon. Pria itu mengangkat tangannya dan mencekik leher Eryn.


Suara Eryn kembali tercekat kala merasakan cengkeraman kuat di lehernya. Ia sudah pasrah dengan nasibnya saat ini. Jika ini adalah akhir hidupnya, maka ia akan pergi dengan tenang. Ia senang karena sudah melindungi orang yang tidak bersalah.


"Saya yang menyiapkannya!" Sebuah suara membuat Se Hoon melepaskan tangannya dari leher Eryn.


Se Hoon menatap wanita paruh baya yang akhirnya mengaku. Eryn mengatur napasnya dan menatap wanita itu. Ia menggeleng.


"Kenapa kalian harus melindungiku?" batinnya menjerit.


Se Hoon segera mengangkat senjatanya dan menembak pelayan wanita itu hingga tewas. Keempat pelayan lainnya hanya bisa berteriak histeris melihat rekannya terkapar.


Eryn menangis tersedu melihat semua kejadian itu. Ia maju dan memegangi kerah leher Se Hoon.


"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau harus membunuhnya?" Eryn berteriak tepat di depan wajah Se Hoon. Ia tak bisa diam saja melihat semua kekejaman Se Hoon.


Se Hoon melepas kedua tangan Eryn dan menghempaskannya dengan kasar.


"Sekarang bersiaplah! Kita akan segera menikah. Bersihkan dirimu dan juga air matamu. Aku tidak ingin kau terlihat jelek saat di altar nanti." Se Hoon berlalu meninggalkan Eryn yang masih terisak.


Eryn memukuli dadanya yang terasa sesak. Se Hoon adalah seorang psikopat. Psikopat gila! Begitulah pikir Eryn.


Keempat pelayan yang tersisa segera mendekati Eryn.


"Nona, jangan menangis lagi. Sebaiknya Nona segera bersiap."


"Maafkan aku... Maafkan aku..." Berulang kali Eryn mengucap kata maaf.


Keempat pelayan itu pun merasa iba melihat kondisi Eryn yang begitu tertekan. Mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh Sully dulu.


"Nona... Kami mohon Nona harus kuat! Hanya Nona yang bisa kami andalkan setelah ini."


Eryn segera menghapus air matanya dan menatap mereka berempat.


"Apa kalian percaya aku bisa membantu kalian?" tanya Eryn.


"Iya. Nona adalah orang baik. Percayalah jika keajaiban itu ada."

__ADS_1


"Terima kasih. Terima kasih karena kalian percaya padaku. Aku yakin sebentar lagi El akan datang dan menyelamatkan kita semua disini."


#tobecontinued


__ADS_2