Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
79. Waktunya Telah Tiba


__ADS_3

"Ada apa, Se Naa? Katakan padaku!" pinta Eryn.


Bunyi getar ponsel terhenti. Se Naa kembali menatap Eryn.


"Tolong katakan ada apa, Se Naa? Kumohon!" Mata Eryn mengiba agar Se Naa mengatakan yang sebenarnya.


Bunyi getaran ponsel kembali menyeruak. Se Naa menggeleng pelan.


"Kau istirahatlah dulu. Aku akan mengangkat panggilan ini!"


Se Naa segera keluar dari kamar tamu itu meninggalkan Eryn dengan berjuta pertanyaan.


"Ada apa sebenarnya?" gumam Eryn kemudian mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Ia memejamkan mata berharap esok bisa lebih baik.


Di sisi Se Naa, ia mengangkat panggilan dengan sambutan kemarahannya.


"Kemana saja kau? Aku menghubungimu dari kemarin tapi kau ponselmu tidak aktif," sungut Se Naa.


"Maaf. Aku harus mengurus sesuatu. Ada apa?"


"Kakakku berusaha melenyapkan Eryn. Tapi, kau tenang saja. Aku sudah membawanya ke apartemenku. El, sebaiknya kau tunjukkan dirimu dihadapan Eryn. Aku merasa iba melihatnya. Dia terlihat sangat rapuh. Mungkin setelah tahu jika kau masih hidup maka..."


"Terima kasih kau sudah menjaga Eryn. Belum saatnya, Se Naa. Aku minta kau menjaganya untukku."


Se Naa menghela napas kasar. "Apa lagi yang kau tunggu?"


"Waktu. Jika waktunya telah tiba, maka Eryn akan tahu jika aku masih hidup."


"Baiklah, jika itu maumu."


Panggilan berakhir. Se Naa kembali ke kamar tamu dan melihat Eryn telah terlelap.


"Kenapa kisahmu dan Eldric begitu berliku, Eryn? Semoga kau kuat menjalani semua ini." Se Naa menutup kembali pintu kamar itu dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


#


#


#


Keesokan harinya, Se Naa mengantar Eryn pulang ke rumah keluarga Kim. Tak ada percakapan berarti selama perjalanan menuju rumah Eryn.


Se Naa memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan bertemu dengan Tuan Kim, ayah Eryn. Sudah bisa Se Naa tebak jika Tuan Kim akan marah besar padanya.


"Kau! Berani sekali kau menginjakkan kakimu disini?" amuk Tuan Kim.


"Ayah, jangan marah pada Se Naa. Dia yang sudah menolongku."


"Lehermu kenapa, Nak? Siapa yang melakukan ini?" tanya Tuan Kim melihat bekas merah di leher putrinya.


"Itu ulah kakakku. Beruntung aku cepat datang dan menyelamatkan putrimu," sahut Se Naa.


"Kau dan kakakmu sama-sama tidak waras!" Tuan Kim memegangi dadanya.


"Ayah! Jangan menyalahkan Se Naa," ucap Eryn lembut.


"Maka dari itu aku kemari ingin meminta maaf atas nama kakakku. Aku tahu mungkin ini tak bisa mengubah keadaan, tapi aku janji aku tidak akan membiarkan kakakku menyentuh Eryn lagi. Kau bisa pegang kata-kataku. Kalau begitu, aku permisi." Se Naa memberi hormat kemudian keluar dari rumah keluarga Kim.


Sepeninggal Se Naa, Tuan Kim menatap Eryn. "Benar kau baik-baik saja, Nak?"


Eryn mengangguk. "Iya, Ayah. Ayo aku antar ke kamar."


Eryn memapah tubuh lemah ayahnya untuk beristirahat. Akhir-akhir ini kondisi Tuan Kim sedang menurun. Selain karena usia, juga dikarenakan tekanan pekerjaan yang cukup berat di usia senjanya.


Eryn merebahkan tubuh ayahnya dengan hati-hati keatas ranjang.


"Mommy! Mommy sudah pulang?" Noah berlari memeluk Eryn.

__ADS_1


"Iya, sayang. Kau sudah pulang dari sekolah?" tanya Eryn dengan merangkum wajah menggemaskan Noah.


"Sudah, Mommy. Kakek kenapa Mommy? Apa Kakek sakit?"


"Kakek tidak apa-apa, jagoan," sahut Tuan Kim.


"Sayang, kau mainlah dulu dengan Ji Hyo ya. Mommy ingin bicara dengan kakek."


"Iya, Mommy." Noah berlari kecil dan keluar dari kamar Tuan Kim.


Eryn yang duduk di tepi ranjang kini menggenggam tangan Tuan Kim.


"Ayah... Maafkan aku..." ucap Eryn penuh rasa sesal.


Tuan Kim tersenyum.


"Selama ini aku meragukan ayah. Sekarang aku tahu jika ayah tidak bersalah."


Tuan Kim mengangguk. Eryn memeluk tubuh renta ayahnya.


"Hanya kau dan Noah saja yang Ayah punya di dunia ini. Ayah tidak akan membiarkanmu terluka, Nak. Segeralah laksanakan pertunanganmu. Ayah ingin ada yang menjagamu dan Noah."


Eryn tersentak. Entah kenapa rasanya ia ingin menolak permintaan ayahnya ini. Namun semua sudah tidak bisa. Semua hal sudah tidak bisa di ulang.


"Baiklah, Ayah. Jika itu keinginan Ayah, maka aku akan melakukannya."


"Terima kasih, Putriku."


Eryn menerawang jauh membayangkan hal apa lagi yang akan menimpanya setelah ini.


#


#


#


Setelah kejadian malam itu, Se Hoon seakan menghilang bak ditelan bumi. Bahkan Se Naa tidak bisa mengetahui dimana keberadaan kakaknya itu.


"Kemana dia? Dia memang paling pintar bersembunyi. Sialan!" umpat Se Naa.


"Kau tenang saja, aku pasti bisa menemukannya," ucap seseorang.


Se Naa mengangguk. Kini ia harus mengurus perusahaan dan semua masalah yang ditimbulkan kakaknya itu.


Di tempat berbeda, Se Hoon sedang mengintai semua gerak gerik musuh-musuhnya.


"Sekarang waktunya telah tiba. Aku tidak akan melepaskan apa yang harusnya jadi milikku," gumamnya dengan seringai menyeramkan.


Se Hoon mengendap-endap di luar gedung yang akan diadakan pesta pertunangan Eryn dan Joon.


Di sisi lain, Se Naa mendatangi Seo Ga Eun untuk menanyakan keberadaan kakaknya. Se Naa tahu pasti gadis itu membantu kakaknya untuk bersembunyi.


"Aku tidak tahu dimana kakakmu!" tegas Seo Ga Eun yang tidak dipercaya oleh Se Naa.


"Aku yakin kau sudah merencanakan semua ini. Kau tidak akan bisa lari jika kau terbukti bersalah. Kau pasti ingin mengacaukan pesta perunangan Eryn dan Kang Joon."


"Kau sendiri sudah tahu untuk apa bertanya. Harusnya kau bisa lebih mengawasi pergerakan kakakmu. Kau ada disini, dan mungkin saja kakakmu itu malah ada di sekitar wanita j4lang itu!"


Se Naa mengepalkan tangannya. Dengan emosi yang masih membuncah, Se Naa keluar dari rumah keluarga Seo. Ia segera menghubungi El-Black.


#


#


#


Eryn memandangi penampilannya di depan cermin. Ia sudah memakai gaun malam yang sangat indah. Pesta pertunangan yang meriah sedang di gelar di ballroom hotel itu.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, Eryn mencoba meyakinkan dirinya jika ini adalah yang terbaik. Ia melakukan semua ini demi Noah dan ayahnya.


Pintu kamarnya diketuk, muncullah sosok sang ayah dan putranya dengan setelan jas yang membuat pria kecil itu terlihat makin tampan.


"Mommy!" seru Noah dan memeluk Eryn.


"Sayang... Kau sungguh tampan." Eryn menciumi seluruh wajah Noah.


"Mommy, geli!" Noah terkekeh.


Eryn menatap ayahnya. Pria paruh baya itu juga terlihat gagah dengan setelan jas dan dasi kupu-kupunya.


"Ayah..."


"Putriku... Mungkin dulu aku tidak sempat melihatmu menikah. Tapi kali ini, aku ingin melihatmu hidup bahagia bersama Kang Joon dan Noah."


Eryn mengangguk.


"Sebentar lagi acaranya dimulai. Kau bersiaplah!"


"Iya, Ayah."


"Noah, ayo kita keluar. Biarkan Mommy mu bersiap-siap."


Tuan Kim menggandeng tangan Noah dan keluar dari kamar Eryn. Kini tinggalah wanita cantik itu sendiri di kamar itu. Ia mengatur napasnya.


Banyak hal yang menimpa hidupnya beberapa tahun ini. Keinginannya untuk bisa hidup bahagia nampaknya masih jauh dari kenyataan.


Eryn menyeka air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya.


"Jangan bersedih, Eryn. Setelah ini kau pasti akan merasakan kebahagiaan."


Diliriknya ponsel yang terlihat menyala. Tak ada bunyi getar ataupun deringan nada. Eryn meraih ponselnya.


"Nomor luar negeri?" Eryn membulatkan mata.


"Jangan-jangan..." Eryn segera mengangkatnya.


"Halo..."


"Eryn? Kaukah itu?"


"Rose? Apa benar ini kau, Rose?" Eryn menutup mulutnya tak percaya.


"Iya, ini adalah aku Rose. Syukurlah aku bisa mendengar suaramu. Eryn, ada hal yang ingin aku beritahu padamu."


"Apa itu Rose? Apa ini mengenai Eldric?"


"Iya, kau tahu, kakakku belum meninggal."


Eryn tertegun mendengar kabar dari Rose. Air matanya langsung lolos ke pipi mulusnya.


"Aku tahu, Rose. Aku tahu jika Eldric pasti belum meninggal."


"Kakak ada disana. Dia ingin menemuimu."


"Benarkah? Terima kasih, Rose. Terima kasih sudah mengabariku di waktu yang tepat."


"Sama-sama, Eryn. Semoga kau cepat bertemu kakak."


"Iya."


Panggilan berakhir bertepatan dengan suara ketukan di pintu kamar Eryn. Wanita itu sangat senang dan berharap jika yang datang adalah Eldric.


Eryn melangkah dengan senyum terukir lebar di wajahnya. Perlahan ia membuka pintu dan melihat sosok berpakaian serba hitam berdiri disana.


"Eldric?"

__ADS_1


#tobecontinued


*ehem, beneran Eldric atau malah.... 😨😨😨


__ADS_2