Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
Extra Part : The Diary


__ADS_3

*Part ini berisi coretan tangan Ilena yang ditulis di buku hariannya.


...***...


Di malam hujan turun dengan deras, Aku baru saja akan kembali ke panti asuhan setelah Ibu Sorena lagi lagi menghukumku. Aku tidak pernah tahu apa kesalahanku sehingga aku harus selalu disalahkan. Aku masih terlalu kecil untuk tahu. Yang jelas, dari sorot mata mereka, tak ada cinta untukku.


Aku lebih bahagia tinggal di panti asuhan. Aku merasa di cintai oleh anak-anak terbuang sama sepertiku. Kami merasa senasib sepenanggungan. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja ayah memintaku untuk pulang ke rumah dengan menyuruh beberapa orang suruhannya. Ya, aku pikir aku akan hidup bahagia setelah bertemu keluargaku. Tapi ternyata tidak.


Ibu dan kakakku tidak pernah menganggapku sebagai keluarga mereka. Aku hanyalah benalu untuk mereka. Dan memperlakukan aku seperti seorang pelayan.


Kata-kata kasar selalu keluar dari mulut kakakku. Tapi jika di depan Ayah, mereka berpura-pura baik padaku. Apakah ini mirip dengan dongeng Cinderella? Aku berharap iya. Akan ada pangeran yang menolongku dari keterpurukan ini.


Hingga akhirnya aku bertemu dengan pemuda itu. Pemuda itu tampak putus asa hingga ingin mengakhiri Hidupnya. Entah itu suatu keberuntungan atau bukan. Aku berhasil menyelamatkannya dan memarahinya.


Lucu sekali bukan? Aku bocah 11 tahun dan aku memarahi anak yang lebih tua dariku. Apa yang kutahu tentang hidup hingga seberani itu memarahi dia?


Aku membawanya ke bangunan tua dekat panti yang biasa aku gunakan untuk menyendiri. Aku suka kesunyian. Karena aku bosan dengan kebisingan.


Pemuda itu bingung karena aku membawanya ke gedung tua bekas gereja. Dia kedinginan. Lebih tepatnya kami.


Aku membawa beberapa kayu bakar dan memintanya untuk menyalakan api. Kami pun menghangatkan tubuh bersama.


Kami bercerita sedikit tentang kehidupan yang kami jalani. Kami banyak mengalami kemalangan. Begitulah yang aku simpulkan ketika dia bercerita.


Lalu setelah lama bercerita, dia bertanya siapa namaku. Aku bilang jika kita tidak saling mengenal, jadi sebaiknya kami tidak saling memberitahu nama masing-masing.


Aku mengusulkan sebaiknya saling panggil dengan warna kesukaan saja. Aku bilang aku menyukai warna ungu. Dia memanggilku 'Purple'. Lalu aku bertanya apa warna kesukaannya.


Dia bilang dia memilih warna hitam. Karena sesuai dengan kehidupannya. Aku bilang carilah nama yang lain. Warna hitam akan sulit menjadi putih. Aku bilang dia pilih warna 'Grey' saja. Warna abu-abu mendekati warna putih. Semoga saja jika hidupnya bisa dipoles agar mendekati putih.


Setelah pertemuan malam itu, aku sering bertemu dengannya di gedung tua itu. Kami memutuskan untuk menjadi teman dengan panggilan 'purple dan grey'. Ah sungguh lucu kami ini.


Aku menulis di buku harianku, tiga hari setelah kami bertemu. Setelah kehujanan malam itu, buku harianku basah dan perlu waktu untuk mengeringkannya. Dia bertanya kenapa aku suka menulis di buku harian. Aku jawab aku menuliskan kisahku agar kelak aku bisa mengenangnya. Dan juga buku harian ini adalah temanku. Dia yang menemani aku di manapun aku berada.


...***...


Setelah beberapa lama aku bertemu dengan pemuda berjuluk 'Grey' itu, hidupku jadi lebih berwarna. Aku tahu dia mungkin tidak akan ingat denganku setelah nanti kami beranjak dewasa.


Tapi, dengan menuliskan semua kisah kami di buku harian ini, aku harap dia masih mengingatku ketika nanti kami bertemu kembali.


Hari itu, orang suruhan ayah kembali datang. Kali ini aku harus benar-benar kembali ke rumah keluarga itu. Keluarga yang katanya adalah keluargaku. Aku menyandang nama besar keluarga itu.


...***...


Dear Diary,


Kini hidupku benar-benar sepi. Aku hanya memilikimu disisiku. Di keluarga ini, aku bukanlah seorang putri, aku hanya seorang pelayan. Miris sekali nasibku.


Aku tidak bisa keluar dari rumah karena mereka selalu mengurungku. Hukuman cambuk akan aku dapatkan jika aku mengadu kepada ayahku. Rumah macam apa ini? Mungkin inilah yang disebut neraka.


...***...


Aku ingin tahu bagaimana kabar pria itu. Apa dia masih mengingatku? Sudah bertahun berlalu. Dan aku sudah memasuki masa remaja sama seperti dia dulu.


17 tahun adalah masa dimana setiap anak bisa bahagia dengan merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan berdebar untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Aku tidak merasakannya. Hidupku sibuk dengan mengurus ibu dan kakakku saja. Menjadi pelayan untuk mereka.


Ayah juga mulai sakit-sakitan. Aku mulai mengurus ayah. Hanya dia yang aku punya. Dan aku harus kuat untuknya.


...***...


Aku akan berhenti menulis disini. Sudah tak ada waktu lagi. Aku ingin menutup lembaran kisahku yang pernah kulalui.


Kesakitan, penderitaan, kini adalah temanku. Mengharapkan pria itu datang dalam hidupku dan menyelatkanku? Rasanya tidak mungkin. Lupakan semuanya mulai sekarang, Ilena. Tutup bukumu dan kembalilah hidup.


#


#


#


Di sebuah rumah sakit, seorang pria sedang duduk di kursi rodanya menunggu sahabatnya yang sedang mengambil obat untuknya. Ia melihat sekelilingnya betapa banyak orang berlalu lalang karena mereka sakit dan ingin diperiksa di sini.


Ia harus bersyukur karena hingga detik ini ia masih hidup. Masa lalu yang kelam harusnya ia tutup dan ia ganti dengan masa depan yang cerah. Tapi semua seakan sirna. Kini ia hanya sendiri dan tidak bisa menggapai masa depannya.


"Maaf, sudah menunggu lama. Ini obat yang harus kau minum untuk sebulan kedepan." Teman pria itu sudah datang.


"Terima kasih, Grey." Pria itu menerima bungkusan obat miliknya.


"Kau dengar apa yang dikatakan dokter tadi? Kakimu masih bisa kembali berjalan dengan normal asal kau punya keinginan keras untuk bisa sembuh. Minggu depan kau mulai mengikuti kelas fisioterapi disini."


Telinga pria itu mendengar ocehan Grey namun matanya tertuju pada seseorang yang sedang menggendong seorang gadis bersimbah darah yang memasuki area rumah sakit.


"Red, kau dengar aku kan?" tanya Grey.


"Hah?! Itu kan..." Grey juga tidak melanjutkan kalimatnya.


Red menatap wajah gadis yang dikenalinya dalam gendongan seorang pria. Wajah gadis itu pucat dengan darah yang mengotori pakaian si pria dan juga dirinya.


"Ilena..." lirih Red.


Semua orang menatap panik karena pria yang adalah Dharma terus berteriak.


"Ilena!" seru Red yang menekan tombol di kursi rodanya untuk mendekat.


Tubuh Ilena di baringkan diatas brankar dan di dorong menuju ruang IGD. Sepanjang perjalanan, Dharma terus memegangi tangan Ilena untuk menguatkan gadis itu.


"Ilena, bertahanlah! Kau pasti kuat!" ucap Dharma berkali-kali.


"Siapkan ruang operasi sekarang juga!" White mengambil alih dan ikut dalam penyelamatan Ilena.


"Kau tenang saja! Ilena pasti selamat!" White menepuk bahu Dharma untuk menguatkannya.


"Ada apa ini?" Sebuah suara membuat Dharma terlonjak kaget. Red datang dengan kursi rodanya bersama Grey.


"Ilena mengalami kecelakaan," jawab Dharma. Ia duduk di depan ruang operasi dengan wajah tertunduk.


"A-apa?!" Red ikut syok mendengar kenyataan ini.


Tubuh Red seakan kehilangan nyawanya. Kembali kini hidupnya di terpa badai.

__ADS_1


Red menarik kerah baju Dharma.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ini terjadi? Aku merelakannya untukmu agar kau bisa menjaganya! Kenapa dia malah celaka, hah?!"


Mata Red memerah. Kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu.


"Red, sudah! Jangan begini!"


Grey berusaha menengahi perdebatan mereka.


"Maafkan aku, Red..." lirih Dharma.


Tubuh Red bergetar. Ia menangis. Ia menangis pilu karena ia sangat takut. Berkali kali ia kehilangan Ilena dan ia tak sanggup harus kehilangan Ilena lagi.


Sementara di ruang operasi. White berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Ilena.


"Dokter, pendarahan di kepalanya tidak mau berhenti. Kita harus lakukan sesuatu!" seru seorang perawat.


"Kepalanya mengalami benturan yang cukup keras. Semoga saja dia kuat bertahan!" ucap seorang dokter senior.


"Aku yakin dia kuat!" sahut White lalu menatap dokter senior itu.


#


#


#


Hai Diary,


Akhirnya aku bertemu kembali denganmu. Aku membelimu karena kurasa aku akan mulai suka menuliskan kisahku di tiap lembaran di tempatmu.


Aku membelimu bersama Dharma. Kau tahu dia siapa? Dia adalah pria baik yang sudah menolongku. Dia pria hangat dengan seluruh sikap manis dan perhatiannya.


Lalu, bagaimana dengan pria masa laluku? Entahlah. Aku ingin melupakan dia dan memulai hidupku bersama Dharma.


...***...


Kenapa tiap kali aku ingin melupakannya, aku malah kembali di pertemukan dengannya?


Dan yang aneh adalah ... dia adalah sahabat Dharma. Takdir macam apa yang sedang kujalani ini?


Semua rotasi berpusat pada Red saja... Dan aku hanya berputar mengelilinginya.


Apakah pusaran takdir akan membawaku kepadamu, Red?


#


#


#


*Masih ada lanjutan kisahnya ya genks. Jan buru2 terbawa suasana dan suasini 😘😘😘


*Next?

__ADS_1


🔜🔜🔜🔜🔜🔜


__ADS_2