
Suara alunan musik klasik sudah menggema di seluruh ruangan ballroom hotel yang akan dijadikan sebagai saksi acara pertunangan antara Eryn dan Kang Joon. Para tamu mulai berdatangan memenuhi ruang ballroom yang cukup luas itu.
Para tamu yang hadir adalah kerabat dekat dan kolega bisnis Tuan Kim. Kang Joon ikut menyalami para tamu dengan wajah sumringah.
Tuan Kim memberi kode jika sudah saatnya Eryn keluar dari kamarnya. Seorang pelayan diutus untuk menjemput Eryn di kamarnya.
Tak lama pelayan itu kembali ke ballroom dan membisikkan sesuatu kepada Tuan Kim.
"APA?! Eryn menghilang?" Suara terkejut Tuan Kim membuat beberapa orang menoleh kearahnya termasuk Kang Joon.
"Ada apa, Tuan?" tanya Kang Joon.
"Cepat periksa kamar Eryn!" ucap Tuan Kim dengan dada yang terasa nyeri.
Secepat kilat Kang Joon berlari ke kamar Eryn dengan beberapa anak buah Tuan Kim. Ia membuka pintu kamar Eryn yang memang tak ada siapapun disana.
"Eryn!" teriak Joon.
Ia berjalan kesana kemari menyusuri tiap ruang di kamar itu. Namun nihil. Tidak ada siapapun di kamar itu.
Joon memegangi kepalanya. "Eryn, dimana kau?"
Tuan Kim datang dengan langkah gontai.
"Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini pada kita. Cepat kerahkan semua orang-orangmu, Hyun Woo. Kita akan temukan Eryn dimanapun dia berada!" perintah Tuan Kim.
Joon menatap Tuan Kim. "Apa Eryn melarikan diri, Tuan?"
"Eh?" Tuan Kim terbelalak dengan pertanyaan Joon.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Putriku tidak akan melarikan diri!" tegas Tuan Kim.
"Dia tidak mencintaiku, Tuan. Dia hanya mencintai pria itu. Tentu saja dia lebih memilih kabur dari pada harus menjalani pertunangan ini!" sarkas Joon.
"Jangan bicara sembarangan! Putriku tidak akan melakukan hal yang memalukan keluarganya!" tegas Tuan Kim dengan memegangi dadanya.
"Joon, jangan bicara seperti itu. Aku yakin ada yang tidak beres disini. Anak buahku akan mencari tahu," sahut Hyun Woo agar situasi tak tambah tegang.
Joon mengacak rambutnya kasar.
"Tuan sebaiknya istirahat saja. Mari!" Hyun Woo memapah tubuh renta Tuan Kim menuju kamarnya.
#
#
#
Kabar menghilangnya Eryn terdengar ke telinga Se Naa dan juga Eldric. Ya, kini Eldric tidak akan bersembunyi lagi.
Sebenarnya ketika Eldric tiba di Korea, dia sudah pernah menemui Tuan Kim di kediamannya. Namun Tuan Kim menolaknya dan meminta Eldric untuk menjauhi Eryn.
Ternyata keputusannya untuk menjauhkan Eryn dari Eldric adalah hal yang salah. Kini Tuan Kim menyesalinya.
Tuan Kim menyambut kedatangan Se Naa dan Eldric ketika mereka mendatangi kamar hotel miliknya.
"Tuan tenang saja! Kami pasti akan menemukan Eryn," ucap Eldric.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kakakku menyakiti Eryn," sahut Se Naa.
"Kami juga butuh bantuan dari anak buah Anda, Tuan. Bisakah aku meminta beberapa orang Anda untuk ikut bersamaku?" tanya El.
Tuan Kim hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar takut kehilangan Eryn.
Usai menemui Tuan Kim, Se Naa dan Eldric segera menemui tim mereka. Seperti biasa, El memboyong anggota tim solidnya. Carlos, Agli, Bernard, Caesar, David, Frans dan Santa.
Saat ini Caesar masih meretas semua rekaman video kamera pengawas di sekitaran area kamar Eryn dan juga hotel. Jari-jari lincah Caesar bergerak cepat seperti biasanya. Sudah lama mereka tidak melakukan pekerjaan ini. Dan ini membuat adrenalin mereka terpacu untuk melakukan dengan baik.
"Ketemu! Si brengsek ini akan pergi ke Pulau Jeju dengan membawa Nona Eryn," seru Caesar.
"Kurang ajar! Carlos, cepat siapkan kendaraan untuk menuju kesana!" titah El.
"Baik, Black," jawab Carlos langsung menghubungi seseorang di ponselnya.
"Sisanya siapkan senjata kalian!" lanjut El.
"Siap, Black!" jawab mereka kompak.
Se Naa melihat jika El adalah pria yang luar biasa. Sempat terbersit rasa ingin memiliki hati El. Namun rasanya itu sulit. Hati El selalu tertambat pada Eryn. Dan hanya wanita itu.
#
#
#
Se Hoon baru saja tiba di Pulau Jeju. Ia membawa Eryn yang masih tak sadarkan diri ke sebuah villa pribadi miliknya dan jarang diketahui orang.
Ia juga menyiapkan banyak anak buah terbaiknya untuk berjaga-jaga jika ada yang berusaha mengacaukan rencananya.
Se Hoon tersenyum seringai melihat Eryn yang sudah siap dengan gaun panjang layaknya seorang mempelai pengantin wanita.
"Kau memang hanya pantas menjadi pengantinku, Sully. Kau tidak pantas dengan siapapun selain aku," ucap Se Hoon dengan mata yang sudah berkabut.
"Bersiaplah! Kita akan segera menikah."
Se Hoon melangkah keluar dan berpesan pada para pelayan wanita.
"Kalian jaga dia dengan baik. Jangan sampai dia melarikan diri dari sini. Jika dia berontak, suntikkan ini di lengannya. Dia akan kembali tertidur." Se Hoon memberikan sebuah kotak yang berisi alat suntik yang sudah terisi dengan obat bius.
"Ba-baik, Tuan." Pelayan itu menjawab dengan rasa takut yang menjalar seluruh tubuh. Tuannya ini memang dikenal dengan sifat psikopat. Dia dengan mudah membunuh siapapun yang mengacau rencananya.
#
#
#
Mentari pagi mulai kembali menyapa. Membangunkan tiap-tiap insan yang telah terlelap dalam waktu yang lama. Tak terkecuali seorang wanita yang sejak kemarin masih betah menutup matanya.
Pagi ini ia terbangun karena mencium aroma harum masuk ke indra penciumannya. Matanya membuka perlahan dan menyesuaikan cahaya yang masuk.
Ia menggeliat pelan dan menatap sekelilingnya.
"Dimana aku?" gumamnya.
__ADS_1
Seketika ia bangun dan duduk. "Ini dimana?"
Ia memperhatikan penampilannya yang masih memakai gaun pertunangannya kemarin. Namun ia sendiri tak pernah hadir di acara itu.
Ia mulai mengingat apa yang terjadi kemarin. Ia mulai paham apa yang sedang terjadi padanya.
"Kau sudah bangun rupanya!"
Suara itu dikenali olehnya. Mata menyipit saat menatap pria yang berjalan kearahnya.
"Se Hoon-Ssi? Jadi, kau yang membawaku kemari? Apa maumu?" teriak wanita yang adalah Eryn.
Pria itu duduk di sofa dan menatap wanita itu tajam.
"Aku tidak ingin apapun. Aku hanya mau kau, Sully."
"Aku bukan Sully!" teriak Eryn.
"Terserah saja! Kita akan menikah malam ini! Sebaiknya siapkan dirimu. Sekarang kau mandilah dulu. Kita sarapan bersama."
Se Hoon melangkah keluar kamar setelah mengatakan maksudnya.
Eryn menghela napas dan mulai turun dari tempat tidur. Ia tak menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini.
Beberapa pelayan wanita mendatanginya.
"Mari, Nona! Kami akan bantu untuk membersihkan tubuh Nona."
"Hah?! Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri. Kalian pergilah!" tolak Eryn.
"Tapi, Nona. Jika kami tidak melakukannya, Pimpinan Kang akan marah pada kami."
Eryn menghembuskan napas kasar. "Kalian tidak perlu melakukannya. Aku bisa melakukannya sendiri. Kalian tunggu saja disini. Oke?"
Mereka saling pandang. "Baik, Nona."
Eryn segera menuju ke kamar mandi dan melepas gaun panjang yang melekat di tubuhnya.
Ia memandangi dirinya di cermin. "Bagaimana ini? Aku harus bisa pergi dari sini."
Ia membasuh mukanya. "El?"
Tiba-tiba ia ingat tentang pria itu. "Ya! Aku yakin El pasti akan datang menolongku. El, cepatlah datang."
Usai membersihkan diri, pelayan wanita itu membantu Eryn untuk berganti baju dan merias wajahnya.
"Tolong! Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak suka merias wajahku." Lagi-lagi Eryn menolak.
"Kalian pergilah!"
"Tapi, Nona..."
"Tidak apa. Aku yang akan bicara pada Se Hoon. Kalian tenang saja!"
Pelayan-pelayan itu pun akhirnya keluar dari kamar Eryn.
"Ya Tuhan! Apa lagi ini? Aku harus bagaimana menghadapi pria psikopat itu?" Eryn memejamkan mata dan berpikir sejenak.
__ADS_1
"Kurasa sebaiknya aku ikuti permainan darinya. Agar aku bisa mencari tahu dimana letak kelemahannya."
#tobecontinued