
Sekitar 26 tahun yang lalu...
...🌷🌷🌷...
Hai, namaku Joana Blanco. Usiaku 18 tahun. Aku hidup hanya bersama dengan kakakku yang bernama Don Juan Blanco. Usianya lima tahun lebih tua dariku. Sejak kedua orang tua kami meninggal, aku dibesarkan oleh kakakku. Dia yang masih remaja harus hidup keras sebagai anggota gangster kelas teri di kota ini.
Aku ingin bercerita tentang pria yang sekarang sedang dekat denganku. Kami berbeda negara dan juga budaya. Tapi entah kenapa saat bersama dengannya, aku merasa sebuah kenyamanan. Dia adalah Kim Hyun Jeong. Dia adalah pria baik yang mampu membuat hatiku bergetar untuk pertama kalinya.
Jeong berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh di negara asalnya. Dia datang kesini untuk memperluas bisnisnya. Usia yang masih muda dan sukses. Aku melihat ada tekad yang besar dalam dirinya. Dan aku kagum padanya.
Aku sangat bahagia saat dia menyatakan perasaannya padaku. Aku hanya seorang gadis miskin. Adik seorang anggota gangster. Apakah dia siap untuk menghadapi kakakku?
Dia bilang dia siap. Dia serius dengan perasaannya padaku. Hingga akhirnya aku setuju untuk menikah dengannya.
Ya, aku menikah di usia yang masih labil. Tapi, rasa cinta tak bisa lagi dibohongi. Kami pun menikah tanpa persetujuan kakakku.
Hari itu setelah aku menikah dengan Jeong. Dia bilang dia harus kembali ke negaranya. Ada hal yang harus dia urus disana.
Aku harus mengerti. Dia bilang dia akan menjemputku. Aku tahu dia bukanlah pria yang tidak menepati janjinya. Aku pun terus menunggu. Namun ternyata dia tak pernah datang.
Kakakku sangat marah ketika tahu jika diriku telah menikah dengan Jeong secara diam-diam. Dia memarahiku. Aku tidak mendengarkan apa yang dia katakan dan inilah balasannya. Jeong tak pernah kembali.
Hingga suatu hari, aku mengetahui diriku hamil. Kak Juan memintaku untuk menggugurkan anak ini. Tapi tidak. Anak ini adalah bukti cinta kami.
Aku mengirim surat pada Jeong tanpa sepengetahuan kakakku. Aku bilang padanya jika aku hamil. Dan ini adalah anaknya.
Tapi aku selalu menelan kekecewaan. Jeong tak pernah membalas suratku. Atau dia memang sangat sibuk disana.
Setelah perutku membesar, aku dengar dari anak buah kakakku jika Jeong pernah datang namun kakak mengusirnya. Aku marah. Aku kecewa pada kakakku. Kami pun bertengkar.
Tapi di dunia ini aku tak punya siapapun selain kakakku. Aku kembali lagi padanya saat aku hampir melahirkan. Aku meminta kakak untuk menjaga anakku saat dia lahir nanti.
Saat itu dia bilang dia menyetujuinya. Aku bisa tenang jika aku tidak ada. Anakku pasti akan dijaga oleh kakak.
Di malam aku melahirkan putriku, kakakku membawa seorang bayi perempuan ke rumah. Aku tidak tahu siapa anak itu.
Setiap aku bertanya, dia hanya bilang jika itu adalah putrinya. Apakah memang benar jika kakakku memiliki seorang putri?
Hingga dua tahun berlalu dan aku mulai sakit-sakitan. Aku tidak bisa menahan rasa sakit yang kuderita. Ditambah perasaan kecewa yang kurasakan pada Jeong.
Aku menitipkan putriku pada kak Juan. Aku memberinya nama Eryana Kim. Aku tetap menyematkan nama ayahnya dibelakang namanya. Karena aku tahu suatu saat nanti mereka pasti akan dipertemukan dalam suatu keadaan yang telah berbeda.
.
.
.
Eryn membaca semua tulisan yang ditulis oleh ibunya di sebuah buku harian yang mulai usang. Carlos memberikannya pada Eryn karena ia pikir wanita itu harus mengetahui kebenarannya.
Eryn memeluk buku harian itu dengan berderai air mata. Kenangan tentang ibunya memang tidak banyak.
Eryn kembali membolak balikkan buku itu.
__ADS_1
"Gadis kecilku sudah mulai belajar berjalan. Dia tumbuh dengan baik. Usianya sudah menginjak satu tahun. Aku senang melihatnya tumbuh dengan baik."
"Ibu..." Eryn mengusap tulisan ibunya.
"Hari ini putriku berusia dua tahun. Dia sangat manis dan pintar. Aku berterimakasih pada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat kecil untuk mengisi hari-hariku. Maaf jika aku tidak bisa melihatmu tumbuh. Kuharap kau akan tumbuh menjadi anak yang kuat. Ibu selalu menemanimu kemanapun kau melangkah..."
Eryn kembali memeluk buku itu dan membawanya hingga ke alam mimpi. Ia ingin bertemu dengan ibunya meski hanya dalam mimpi.
"Ibu... Datanglah..." Eryn memejamkan mata dengan memeluk buku harian itu.
.
.
.
.
Aku adalah Don Juan Blanco. Siapa yang tidak mengenal namaku. Aku mulai terkenal sebagai anggota gangster di usiaku yang masih belasan tahun. Aku membesarkan adikku, Joana dengan tanganku sendiri.
Waktuku terkuras hanya untuk mengurus adikku selama bertahun-tahun hingga tidak memikirkan tentang hidupku. Jika ada yang bertanya apakah aku pernah jatuh cinta? Tentu saja aku pernah jatuh cinta. Jauh bertahun-tahun sebelum Joana mengenal cinta.
Alana Walles. Dia adalah wanita yang kucintai. Namun dia meninggalkanku demi seorang pria kaya bernama Edward Albana.
Aku marah pada dunia. Aku marah pada semuanya. Aku memutuskan untuk menjadi pria yang kuat dan berkuasa. Aku juga ingin dunia takluk dan tunduk di hadapanku.
Lima tahun setelah Alana meninggalkanku. Aku mulai menjadi orang berkuasa dan bisa memiliki segalanya. Aku mendengar kabar jika Alana tengah hamil. Aku memiliki rencana licik yang tidak akan pernah dilupakan oleh Edward.
Aku menanti hari dimana Alana melahirkan sama seperti menanti Joana melahirkan. Hingga di malam itu, aku merencanakan sebuah kecelakaan untuk Alana. Belum saatnya untuk Alana melahirkan, dan bayi itu akhirnya dilahirkan secara prematur.
Aku membawa putri Alana di malam Joana juga melahirkan putrinya. Aku menyembunyikan putri Alana sebagai putriku. Aku memberinya nama Rosalinda Blanco.
Kehidupan Joana makin menyedihkan dengan sakit parah yang di deritanya. Sejak kecil dia memang sering sakit-sakitan. Dan bertambah parah setelah melahirkan putri dari si brengsek Jeong.
Aku menyalahkan anak itu ketika adikku akhirnya meninggal. Aku membenci anak itu. Di usianya yang ke 4 tahun, aku membawanya ke sebuah panti asuhan dan mengatakan padanya jika aku akan menjemputnya esok hari.
Namun bertahun-tahun anak itu menunggu, aku tidak pernah datang menjemputnya. Hingga akhirnya aku mendengar jika keluarga Albana mengadopsinya.
Aku kembali marah. Tapi aku tidak bisa. Aku belum sekuat itu untuk kembali membalas dendam. Mungkin dengan merebut putrinya selama bertahun-tahun, itu menjadi kesenangan tersendiri untukku.
Gadis itu tumbuh menjadi gadis ceria yang cantik. Dia sangat menyayangiku sebagai ayahnya. Tapi dendamku tetap tidak akan pernah padam.
.
.
.
.
Black menutup buku harian milik Juan Blanco. Semua seakan telah berakhir. Black kembali menemukan keluarganya.
Namun saat ini adik yang dikiranya telah meninggal sedang meregang nyawa. Rose mengalami kecelakaan fatal ketika kemarin melindungi Eryn dari serangan rudal.
__ADS_1
Tubuhnya masih terbaring lemah dengan alat-alat yang terpasang disana. Rose mengalami koma dan entah kapan ia akan bangun.
Eryn menghampiri Black dengan menggerakkan kursi rodanya. Saat ini mereka masih berada di rumah sakit. Kondisi Eryn tidak separah Rose namun ia tetap memerlukan perawatan di rumah sakit.
Eryn mengusap lengan Black yang kini sedang duduk di bangku panjang depan kamar Rose. Mereka berdua mengalami banyak hal beberapa hari ini.
Terlebih setelah mengetahui fakta tentang masa lalu mereka.
"Kau baik-baik saja?" tanya Eryn.
Black memberi jawaban dengan sebuah anggukan.
"Kenapa kau keluar dari kamarmu? Kau masih belum pulih, Eryn."
"Tidak apa. Aku baik-baik saja. Maaf jika karena aku, Rose..."
"Jangan bicara begitu. Dia pasti senang karena sudah menolongmu. Sekarang temuilah dia. Berikan semangat padanya. Kau adalah wanita yang kuat, Eryn. Kau pasti bisa membuatnya kembali bangun."
Eryn mengangguk kemudian menggerakkan kursi roda menuju kamar Rose. Carlos membantu Eryn membuka pintu.
"Terima kasih, Carlos."
"Sama-sama, Nona."
Carlos kembali menutup pintu dan melihat dari kaca jendela transparan jika Eryn mulai mendekati brankar Rose. Ia duduk disamping Black yang tampak kusut.
"Jadi, kau sudah mengetahui semuanya?" tanya Black.
"Tidak! Rose memberikan dua buku harian ini padaku dan dia sendiri belum membacanya."
"Eh?"
"Sebelum kau sadar dari koma, Rose memintaku untuk mencari tahu soal keluarganya. Dia tahu jika dirinya bukanlah anak kandung dari Juan Blanco. Dia mengambil dua buku harian ini dari ruang kerja ayahnya tapi dia tidak berani membacanya. Dia takut jika apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan yang diinginkannya."
Black mengusap wajahnya. "Dia adalah adikku, Carlos. Dia begitu dekat denganku tapi aku tidak menyadarinya," sesal Black.
"Yeah. Beruntung kau tidak menerima perasaannya," canda Carlos.
Black tersenyum. Ia bahkan malu mengingat dirinya pernah mencium Rose saat pesta ulang tahunnya.
"Sekarang kita tinggal membereskan soal Eric. Aku yakin dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Carlos.
"Apa kau sudah menemukan informasi mengenai penyerangan markas Amigo?"
"Entahlah, Black. Tapi kurasa orang ini memiliki kekuasaan yang besar hingga berani menantang Amigo."
Black menatap menerawang jauh.
"Mungkinkah ini..."
#tobecontinued
*Nyesek juga pas bikin part ini ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
masih ada 1 part lagi untuk hari ini, hehehe
kira2 tentang apa yah? apakah Rose akhirnya sadar dari komanya?