Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
120. Menemukan Dia


__ADS_3

Selena sudah kembali ke kota Rio de Jeneiro setelah melakukan pekerjaan di luar negeri. Pekerjaan Selena sebagai seorang model dan aktris mulai diperhitungkan dalam dunia hiburan kota ini.


Tentu saja Selena tidak akan rela jika harus melepas karirnya meski Red memintanya. Selama ini Selena berhasil membujuk Red untuk menuruti segala keinginannya. Toh Selena tak pernah keberatan dengan bisnis Red di dunia hitam.


Malam ini Selena mendatangi klub Red Devil untuk menemui kekasihnya. Ia menyapa Blue ramah dan juga Grey. Ia bertanya pada Blue tentang keberadaan Red namun ia mendapat sebuah kekecewaan karena Red sedang tidak ditempat.


Selena mendekati Grey untuk mencari tahu kemana perginya Red. Namun ia hanya mendapat jawaban jika Red sedang mengurus bisnisnya di luar negeri.


Selena mendengus kesal. Ia memutuskan duduk sejenak dan menikmati anggur merah yang memabukkan itu.


Saat sedang asyik menyesap anggur di gelasnya, mata Selena tertuju pada seorang gadis yang sepertinya ia kenali.


"Bukankah itu Ilena?" gumam Selena sambil terus memperhatikan penampilan gadis yang selalu dekil dengan baju yang lusuh. Bahkan Ilena tak pernah memakai riasan di wajahnya.


Namun yang dilihatnya saat ini adalah sosok Ilena yang berbeda.


"Bukannya dia tinggal di panti asuhan? Kenapa dia bisa ada disini? Apa dia bekerja sebagai wanita penghibur disini? Sungguh menjijikkan!" cibir Selena.


Selena menyesap habis minumannya lalu menghampiri Ilena. Ia harus memastikan jika posisi Ilena tidak akan berbahaya untuk hubungannya dengan Red.


Selena menarik lengan Ilena yang sedang duduk bersama dengan pelanggan. Ilena terlonjak kaget namun ia tak bisa melawan.


Selena membawa Ilena ke sebuah ruang yang agak sepi pengunjung. Gadis itu menatap Ilena dengan tatapan sengit.


"Ilena?! Kaukah ini?" tanya Selena.


"Iya, Kak. Benar!" jawab Ilena berani. Setelah berteman dengan keempat teman-temannya, Ilena belajar untuk tidak lemah dan berani melawan orang yang merendahkan dirinya.


"Kau! Berani sekali kau bicara begirtu padaku?! Apa yang kau lakukan disini, huh? Kau sekarang menjadi..." Selena menatap penampilan Ilena dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan Ilena dengan berani memakai dress minim yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Menjijikkan!" cibir Selena.


Ilena mengepalkan tangannya, namun ia tak ingin tersulut emosi dengan ejekan Selena.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kakak bicarakan denganku, aku permisi! Aku harus kembali bekerja!" Ilena beranjak pergi dari sana, namun Selena kembali menahannya.


"Berani sekali kau! Dasar j4lang!" ucap Selena dengan kilatan amarah.


Ilena menarik sudut bibirnya. "Benar, Kak. Aku adalah seorang j4lang! Dan akan kutunjukkan seperti apa si j4lang ini bekerja!" batin Ilena juga menatap tajam Selena. Ia menepis tangan Selena yang mencekalnya.


"Ada apa ini?" Blondy tiba-tiba datang menginterupsi perdebatan kedua gadis ini.


"Tidak ada apa-apa, Blondy. Nona ini hanya bertanya dimana letak toiletnya. Ayo!" Ilena menarik tangan Blondy untuk menjauh dari sana.


Selena menatap Ilena dengan sangat marah. Ingin sekali ia menjambak rambut Ilena dan mempermalukannya di tempat ini. Tapi, sekali lagi Selena harus berpikir waras. Tak mungkin juga ia membiarkan orang-orang tahu jika dirinya dan Ilena bersaudara meski hanya tiri.


#


#


#

__ADS_1


Sementara itu, Red menemui seorang wartawan senior yang ada di kota Bogota untuk mencari informasi mengenai Lorna Matthews dan juga Brian Adams. Ia tidak akan pergi sebelum mendapatkan semua jawaban dari kepingan puzzle ini.


Red menemui pria yang berusia 50 tahunan itu di rumahnya. Dengan menyodorkan sejumlah uang, Red ingin menguak masa lalu yang terjadi dengan keluarganya.


"Aku akan berikan berapapun uang yang Tuan minta. Asal Tuan beritahu semuanya tentang dokter Lorna Matthews dan Brian Adams."


Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya.


"Siapa kau, Anak Muda?" tanya pria paruh baya bernama Mateo itu.


"Aku adalah putra dari ibu yang telah dibunuh oleh dokter Lorna. Namaku Noah Albana," jawab Red.


Pria paruh baya itu mengehela napas. "Itu kisah yang sudah lama sekali, Anak Muda. Untuk apa kau ingin tahu?"


"Aku kehilangan segalanya saat aku masih belum mengerti cara kerja dunia. Kumohon katakan padaku, Tuan Mateo!" Red memohon dengan menunjukkan wajah memelasnya.


Mateo menghela napasnya sebelum bercerita.


"Dokter Lorna adalah istri simpanan Tuan Adams. Tidak banyak yang tahu soal itu. Tuan Adams menikahi nyonya Sorena karena dijodohkan oleh keluarganya. Ia tak bisa menolaknya. Hingga akhirnya saat sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota ini, tuan Adams bertemu dengan dokter Lorna."


Red mendengarkan dengan seksama.


"Dokter Lorna mulai depresi karena tuan Adams memutuskan untuk kembali ke Brazil dan bersama istri sahnya. Dan dari sini dokter Lorna mulai memiliki keinginan untuk melenyapkan orang lain karena tidak suka melihat orang lain bahagia."


Red terdiam. Sebenarnya kisah dokter Lorna sungguhlah miris. Ia memiliki prestasi yang bagus di masyarakat sebagai seorang dokter, lantas kenapa harus terjerembab ke lembah yang dingin dan penuh derita?


"Lalu bagaimana dengan putrinya? Aku ingat saat menghadiri persidangan dokter Lorna, aku melihat seorang anak kecil yang bersama orang-orang dari dinas sosial."


"Karena tidak tega putrinya harus di cibir sebagai anak seorang pembunuh, tuan Adams memutuskan untuk membawanya ke Brazil. Setelahnya aku tidak tahu lagi kisah tuan Adams dan putrinya. Gosip mengenai anak itu juga sudah hilang semenjak dibawa oleh ayahnya."


Namun yang menjadi pertanyaan Red saat ini adalah ... jika saat di rumah Selena ia tak bisa menemukan sosok adiknya, lantas dimanakah adiknya tinggal? Apakah tinggal di rumah yang sama, atau memang mereka menyembunyikannya di suatu tempat?


Panggilan Red terhubung. Wajah Red berubah serius dan mendengarkan dengan seksama apa yang sedang dikatakan oleh orang suruhannya.


"Baiklah! Kerja bagus! Jangan katakan hal ini pada siapapun. Mengerti?!"


Red menutup panggilan teleponnya. Ia harus bersiap kembali ke kota Rio. Ia akan mulai menemukan semua kepingan puzzle yang tercecer.


#


#


#


Ilena mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri kemana perginya Red selama berhari-hari ini. Bahkan Blue tidak mengatakan apapun dan berkomentar. Mereka semua masih tetap melakukan pekerjaan seperti hari biasanya.


Setelah pertemuan dengan Selena waktu itu, entah kenapa hati Ilena makin menggebu untuk merebut Red dari sisi kakaknya. Selama ini kakaknya selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Menjadi seorang gadis cantik yang dipuja oleh banyak orang.


Seluruh kehidupan Selena sungguh berbanding terbalik dengan kehidupan Ilena yang penuh dengan penderitaan dan rasa takut untuk mengenal dunia luar. Ilena tak pernah tahu jika dunia luar sangatlah menyenangkan. Ia sangat bahagia setelah menjadi wanita penghibur di tempat ini. Ia mengenal banyak orang dari tempat ini. Dan ini sangat menyenangkan, menurutnya.


Akhirnya, karena tak tahan terus menunggu Red kembali, Ilena memberanikan diri bertanya pada Grey. Ya, pria itu pasti tahu dimana keberadaan Red saat ini. Hatinya begitu rindu merasakan sentuhan Red. Ia yakin jika Red juga tertarik padanya.

__ADS_1


"Hai, Grey!" sapa Ilena ramah. Ia kini menjelma menjadi gadis pemberani.


"Hai, kau adalah...?"


"Babydoll! Kau bisa memanggilku Baby," balas Ilena.


"Oh iya, Baby. Ada apa, Nona? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ehm, aku hanya ingin tahu kenapa Red tidak pernah kelihatan? Biasanya dia sering datang kesini," tanya Ilena dengan suara manjanya.


"Oh, Red sedang mengurus bisnisnya diluar negeri. Apa kau butuh sesuatu? Kau sudah mendapatkan hakmu sebagai pekerja disini. Dan itu berkat Blue. Harusnya kau lebih bisa menghargai Blue." Setelah mengucapkan hal itu pada Ilena, Grey pamit undur diri.


"Ada apa dengannya?" gumam Ilena bingung.


Sebenarnya di malam itu, Grey memergoki Red dan Ilena sedang bersama di lorong gelap itu. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua. Tapi yang jelas, berduaan di tempat gelap begitu, tentu saja mengundang tanya orang yang melihatnya.


Grey mulai memperhatikan Ilena yang sering mengabaikan Blue dan menjaga jarak. Ia tahu jika Ilena tertarik pada Red. Dan ini bukan salah Ilena sepenuhnya. Karena Red juga ikut andil dalam masalah ini.


"Sepertinya saat Red kembali nanti, masalah diantara kakak adik ini akan semakin rumit saja," batin Grey.


#


#


#


Red telah kembali ke Brazil namun ia belum memberitahu siapapun. Ia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah dan klubnya.


Red menemui orang suruhannya. Raut wajahnya terlihat cemas dan ragu bercampur jadi satu. Ia akan mengetahui siapa putri dokter Lorna setelah pencarian informasi kesana kemari.


Memang selama ini putri kedua Brian itu selalu disembunyikan dan tak tersentuh oleh dunia luar.


Pria berpenampilan tertutup itu menemui Red dan memberikan sebuah amplop kepada Red. Dia adalah mata-mata Red yang dengan mudah menggali informasi tentang keluarga Adams.


"Kerja bagus! Lalu, apa kau sudah mendapat hasilnya dari yang aku suruh waktu itu?"


"Soal itu ... aku minta maaf, Tuan. Jika hanya berdasar informasi yang Tuan katakan maka..."


"Ehm, begini saja. Selidiki masa lalu Selena. Jika harus mengingat seperti apa wajahnya ketika masih kecil, aku sudah sedikit lupa. Hanya itu yang bisa kukatakan."


"Baik, Tuan. Kalau begitu aku permisi!"


Red mengangguk. Setelah kepergian orang suruhannya, Red mulai menatap amplop berkas yang diberikan oleh orang kepercayaannya itu.


Hatinya ragu ingin saat ingin membuka berkas itu. Ia cemas jika tidak bisa mengendalikan emosi nantinya.


Perlahan namun pasti, ia mulai membuka amplop itu. Red menghela napas sebelum membuka isi berkasnya.


Ada beberapa lembar kertas disana. Red mulai membacanya. Nama putri kedua Brian adalah Ilena Adams. Nama keluarga Adams tetap tersemat dalam nama putri bungsunya.


Mata Red membulat sempurna ketika melihat foto gadis yang adalah putri dokter Lorna. Tangannya terkepal dengan jantung yang berdetak lebih cepat.

__ADS_1


"Dia...?" gumam Red.


#bersambung...


__ADS_2