
Mungkin dulu aku terlalu buta karena cinta. Aku dibutakan oleh cinta seorang pria. Aku tidak pernah menyangka jika aku akan jatuh cinta pada kakak angkatku. Tumbuh bersama dengannya membuatku merasakan hal yang berbeda dengan hatiku.
Dia adalah cinta pertamaku. Seorang pria hangat yang sangat mencintai keluarganya. Dia juga pria pekerja keras. Aku terpesona padanya. Aku merasakan candu pada sentuhan lembutnya.
"Aku mencintaimu, Eryn..."
"Aku juga mencintaimu, Kak..."
"Aku bukan kakakmu!"
Dia tidak suka jika aku memanggilnya 'kakak'. Tapi kami bisa bersama karena status itu di mata negara.
Mungkin juga aku bodoh. Aku mencintainya hingga menyerahkan segalanya. Tapi apa gunanya itu sekarang. Semua seakan telah lebur.
Hatinya sudah mati. Dia bukan lagi orang yang kukenal. Dia bukan lagi El yang selalu memperlakukanku dengan lembut.
Santoz membulatkan mata ketika melihat istri bosnya berciuman dengan Black. Lebih tepatnya terpaksa berciuman. Ia ingin menolong Eryn yang terus meronta dalam dekapan pria itu. Tapi siapa dia? Santoz masih menyayangi nyawanya. Ia tahu apa akibatnya jika melawan Black.
Satu tangan Black mendekap pinggang Eryn, dan tangan lainnya menekan tengkuk wanita itu. Sangat sulit untuk lepas dari jeratan pria itu. Hingga akhirnya Eryn tak lagi berontak dan memilih pasrah. Tubuh dan hatinya sudah terlalu lelah untuk menghadapi Black.
Carlos juga berada disana dan menyaksikan bosnya melakukan kekerasan lagi pada Eryn. Ia memalingkan wajahnya. Tangannya terkepal mengutuki apa yang dilakukan Black. Jika masih cinta, kenapa harus pakai kekerasan? Begitulah pikir Carlos.
Black melepaskan pagutannya ketika mendengar suara isak tangis. Eryn masih lemah. Ia tak bisa sekuat yang ia inginkan.
"Jangan menangis. Maaf membuat bibirmu luka. Harusnya kau jangan menolak, Eryn. Aku tahu kau juga menikmatinya. Jadi, jangan menolak lagi dan menurutlah. Pikirkan tentang karyawan suamimu. Mereka juga butuh pekerjaan dan uang. Aku akan membantumu dan membeli aset yang akan kau jual. Hubungi aku jika kau berubah pikiran." Black mengecup pipi Eryn sebelum dia pergi dari ruangan Eric.
Tubuh Eryn luruh ke lantai. Santoz menghampiri istri tuannya.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Santoz sedikit takut.
Eryn mengangguk meski tangisnya mulai reda.
"Nyonya, ponsel Nyonya sedari tadi bergetar. Sepertinya ada panggilan penting." Santoz mengambil ponsel Eryn dan menyerahkannya pada wanita itu.
Sebuah panggilan dari Santa.
"Halo, Santa..."
"........"
"Apa?! Aku akan segera kesana!" Eryn mematikan sambungan telepon.
"Santoz, aku harus pergi. Kau bisa mengurus yang disini kan?"
"I-iya, Nyonya. Hati-hati Nyonya!"
Santoz menatap kepergian Eryn yang terlihat rapuh namun tegar. Wanita itu tak bisa lemah sekarang. Banyak yang bergantung padanya saat ini.
"Sepertinya semua ini terjadi karena adanya cinta segitiga. Huft! Cinta memang rumit." Santoz membatin dengan menggelengkan kepalanya.
...🌺🌺🌺...
Eryn tiba di kantornya dan melihat banyak orang berada disana. Mereka mengacak berkas-berkas yang ada di ruang kerja Eryn.
"Siapa kalian?" tanya Eryn geram.
__ADS_1
"Kami dari kantor kejaksaan ingin menggeledah tempat ini," ucap seorang petugas menghampiri Eryn dan memberikan selembar surat perintah.
"Tapi ini adalah kantorku! Kalian tidak berhak berada disini!" teriak Eryn.
"Tempat ini juga akan di sita oleh pihak kejaksaan."
"A-apa katamu?! Jangan sembarangan! Tempat ini adalah milikku! Dan ini tidak hubungannya dengan harta suamiku!" Eryn benar-benar sudah dipuncak amarahnya.
"Maaf, Nyonya. Kau tanyakan saja nanti saat ke kantor. Kami hanya menjalankan tugas. Sekarang sebaiknya Nyonya ambil barang-barang berharga disini. Karena tempat ini akan di tutup."
Eryn menggeleng pelan. Ia melihat timnya juga sedang membereskan barang-barang mereka untuk dibawa keluar. Eryn membawa seperlunya saja. Semuanya sudah berakhir.
Eryn menatap nanar bangunan berlantai tiga itu. Kini ia harus mengubur semua impian dan karirnya. Orang-orang itu menyegel bangunan dan memberi tanda 'disita' di bagian depan.
Tubuh Eryn limbung, namun Santa segera menangkapnya.
"Nyonya!"
Eryn memegangi kepalanya. "Dimana Lolita?" Ia baru nenyadari jika sahabatnya itu tidak ada disana.
"Aku tidak tahu, Nyonya. Sejak pagi Nona Lolita tidak datang kemari."
Eryn meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Lolita.
"Ponselnya juga tidak aktif, Nyonya," sahut Santa.
Eryn kembali memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Apa ini? Kemana Lolita? Apa mungkin dia..."
Eryn menggeleng cepat. "Tidak mungkin! Dia tidak mungkin terlibat dalam hal ini kan?"
"Nyonya..." panggil Agli.
Eryn berusaha tersenyum. "Sebaiknya kalian kembali ke rumah."
"Apa yang akan kita lakukan, Nyonya?" tanya David.
"Aku juga tidak tahu. Semua kejadian kemarin dan hari ini, sangat mendadak bagiku."
"Nyonya..." Santa memeluk Eryn.
"Dengar, jika aku tidak bisa lagi mempekerjakan kalian lagi. Maka, kalian harus mencari pekerjaan lain. Tapi berjanjilah padaku, jangan lagi jadi penjahat jalanan. Mengerti?" Eryn menatap satu persatu karyawannya yang sudah ia anggap seperti keluarga.
"Nyonya!" Mereka bertujuh mendekat dan ikut berpelukan bersama Eryn dan Santa.
...🌺🌺🌺...
Eryn mendatangi kantor kejaksaan dan bermaksud menemui Eric. Paling tidak ia harus berkoordinasi dengan Eric mengenai langkah apa yang harus ia ambil saat ini.
"Tolong izinkan aku bertemu dengan suamiku!" ucap Eryn.
"Maaf, Nyonya. Suami Anda tidak bisa ditemui siapapun kecuali pengacaranya," jawab seorang petugas.
"Tapi kemarin aku masih bisa menemuinya. Aku hanya akan bicara sebentar saja. Aku mohon!" pinta Eryn.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Sesuai prosedur kami tidak bisa mengizinkan Nyonya masuk. Silakan keluar!"
Langkah kaki Eryn melemah ketika mulai kembali keluar dari kantor kejaksaan. Ia kembali mencoba menghubungi Lolita, namun masih tidak tersambung.
"Kau dimana, Lolita? Saat ini aku butuh teman untuk bicara. Kau tidak mungkin bekerjasama dengan Black kan?" Eryn mengusap wajahnya.
"Eryn!" Sebuah suara mengejutkan wanita itu.
"Paman Ramoz? Apa Paman baru saja menemui Eric?" tanya Eryn.
"Iya. Dia baik-baik saja. Untuk sementara dia tidak bisa ditemui hingga kasus disidangkan. Ada apa kau datang kemari?"
"Umm, aku ingin berdiskusi dengan Eric soal perusahaan. Santoz bilang jika Eric harus menjual aset yang ada di Kolombia karena saham terus merosot," cerita Eryn.
"Kalau begitu lakukan saja, Eryn. Aku yakin Eric akan setuju."
"Tapi, Paman..."
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, Eryn. Jika hanya itu jalan satu-satunya, maka lakukanlah."
Eryn terdiam. Ia menginginkan jalan keluar lain selain menjual aset. Tapi kini kantornya pun juga disita. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyerahkan semua pada Black. Hanya pria itu yang bisa membantunya. Meskipun ia tahu jika pria itu pasti sudah merencanakan semua ini.
.
.
.
Eryn berjalan menuju ruang kerja Black yang bertempat di lantai 20. Ia menguatkan diri untuk bisa menghadapi pria itu.
Pintu lift terbuka. Eryn ragu untuk melangkah.
"Apa hanya ini satu-satunya cara, Tuhan?"
Eryn memejamkan mata kemudian kembali melangkah. Ia mengetuk pintu ruangan Black.
Terlihat Carlos membukakan pintu untuk Eryn.
"Silakan masuk, Nyonya."
Eryn mengangguk. Ia melihat Black sedang berdiri membelakangi dirinya.
"Bagaimana, Nyonya Evans? Apa kau berubah pikiran?"
Eryn masih diam. Black berbalik badan dan menatap wanita itu. Penampilannya sungguh memprihatinkan. Wajah yang sembab, luka di bibir, dan rambut panjangnya yang acak-acakan.
"Kau sudah menyerah, Nyonya?" tanya Black.
Eryn mengepalkan tangan. "Kami akan menjual aset kami yang ada di Kolombia. Jadi, lepaskan Eric!" ucap Eryn memberanikan diri.
Black mengernyit. "Membebaskan Eric? Hmm, tidak semudah itu, Nyonya."
"Apa maumu?!" teriak Eryn. Ia sudah tak tahan.
Black tertawa. "Mudah saja. Tinggalkan Eric! Bercerailah dari dia. Setelah itu aku akan melepaskannya dan tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Bagaimana?"
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...
*Waaahh kira2 Eryn jawab apa ya? Apakah ia akan meninggalkan Eric?