Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
106. Gadis Penuh Luka


__ADS_3

Sorena menatap pantulan dirinya di depan cermin. Hadiah pemberian dari Red langsung ia coba dan kenakan di leher jenjangnya. Sebuah kalung berlian yang sangat cantik.


Ia yang awalnya menolak untuk menerima Red kini luluh hanya karena sebuah kalung berlian. Ia tersenyum senang dengan terus memandangi kalungnya.


Selena putrinya memang tidak salah dalam memilih pria. Red memiliki kekayaan dan kekuasaan yang tidak main-main.


Sementara Brian hanya diam usai acara makan malam berakhir. Hatinya bimbang memikirkan banyak hal. Ia menatap istrinya yang masih betah duduk di depan meja riasnya.


Sorena menatap Brian yang tidak banyak bicara setelah Red bercerita tentang kisah pribadi dan bisnisnya. Ia merasa ada yang aneh dengan suaminya itu.


"Ada apa denganmu, Brian? Setelah makan malam berakhir, kau lebih banyak diam. Apa kau tidak menyukai Red?" tanya Sorena sambil melepas kalung pemberian Red.


"Bukan begitu. Tapi apa kau tidak merasa ada yang aneh?" ungkap Brian.


"Aneh? Apanya yang aneh?" Sorena duduk disamping Brian di tepi ranjang.


"Kau dengar tadi bukan? Nama asli Red adalah Noah Albana. Apa mungkin ... dia adalah keluarga Albana yang itu?" tanya Brian dengan wajah cemas.


"Kau ini! Memangnya yang memiliki nama keluarga Albana hanya Red saja? Di negara ini pasti banyak yang memiliki nama yang sama."


"Tapi, Sorena... Jika benar dia adalah putra keluarga Albana yang itu, bukankah sebaiknya Selena tidak bersama dengannya?"


Sorena menatap suaminya dengan tatapan sengit. "Apa katamu?! Kenapa kita harus mengorbankan kebahagiaan Selena hanya karena kesalahanmu bersama j4lang itu, hah?! Putriku tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalumu itu! Kau yang sudah berbuat kesalahan! Dan yang sudah melenyapkan orang-orang itu adalah perempuan j4langmu itu! Kenapa kau harus melibatkan Selena dalam hal ini?!" amuk Sorena dengan napas memburu.


"Sorena..."


"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Kau tidak pernah peduli pada Selena, kau hanya peduli pada Ilena saja!" Sorena memilih untuk meninggalkan kamar dan menuju kamar yang lain.


Sejak kejadian di masa lampau, hubungan suami istri ini memang sudah tak seharmonis dulu. Ada noda di pernikahan mereka. Dan noda itu disebabkan oleh ibu kandung Ilena.


Gadis yang tidak berdosa itu mendengar semua pertengkaran ayah dan ibu tirinya. Ilena masuk ke kamar ayahnya. Ia melihat ayahnya sedang memegangi dadanya.


"Ayah..."


Niatnya datang ingin memeriksa kondisi sang ayah yang biasanya meminum obat sebelum tidur. Namun ia tak menyangka jika Sorena juga ada didalam kamar itu. Sudah lama mereka tidak tidur satu kamar, dan ia pikir ini adalah awal yang baik. Tapi nyatanya semua tetap sama. Berakhir dengan pertengkaran yang tak akan kunjung usai.


"Ilena..."


Ilena menghampiri ayahnya. "Ayah sudah minum obat?"


Brian menggeleng.


"Aku ambilkan obat Ayah ya!" Ilena mengambil obat di laci nakas.


Dengan telaten ia membantu Brian meminum obatnya. Sudah lima tahun ini Brian sakit-sakitan dan tidak lagi memimpin perusahaan. Semua urusan pekerjaan di serahkan kepada tangan kanannya, Ralph. Meski begitu, Brian tetap mengawasi segala gerak gerik Ralph.


"Terima kasih, Putriku..."


"Sekarang ayah istirahat saja." Ilena membaringkan tubuh ayahnya diatas tempat tidur.


"Nak, tolong jangan dengarkan apa yang dikatakan ibumu ya. Dia hanya sedang marah saja."


Ilena tersenyum kemudian mengangguk. Ia keluar dari kamar Brian setelah memastikan pria itu tertidur.


Ilena kembali ke kamarnya. Ia memandangi langit malam yang terasa pekat. Entah kenapa ingatannya tertuju pada kisah masa lalunya yang sudah ia kubur.


Ilena mulai mengantuk. Tubuhnya sangat lelah. Tinggal di rumah ini ia harus bekerja keras, karena ibu dan kakaknya tidak akan membiarkannya bersantai.


Ilena merebahkan tubuh kecilnya. Ia tersenyum sebelum memejamkan mata. Ia berharap esok ia bisa menatap langit yang cerah.


#


#


#


BYUURR!


Ilena tersentak dari tidurnya karena merasakan ada yang mengguyur tubuhnya dengan air.


"Bangun! Dasar pemalas!" teriak Selena.


Ilena segera bangkit dari tidurnya.


"Ka-kakak? Ada apa, Kak?" tanya Ilena dengan menunduk.

__ADS_1


"Cepat bersiap lalu ikut denganku!" titah Selena.


"Kita mau kemana, Kak?"


"Jangan banyak tanya! Dalam lima menit kau harus sudah siap. Mengerti?!"


"I-iya, Kak."


Ilena langsung menghambur menuju kamar mandi. Pakaiannya basah karena disiram Selena tadi.


Dan benar saja, dalam lima menit, Ilena sudah siap dan menunggu Selena keluar dari kamarnya.


Selena menatap penampilan Ilena yang tetap lusuh. "Bagus! Tetaplah berpenampilan seperti gembel! Karena ini sangat cocok denganmu. Ayo ikut denganku!"


Ilena mengangguk kemudian mengikuti langkah Selena. Gadis itu berpamitan pada ayah dan ibunya yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga.


"Ayah, Ibu, aku akan berbelanja barang-barang untuk pertunanganku nanti. Aku akan mengajak si gembel ini untuk membantuku," ucap Selena.


"Iya, Nak. Belilah barang yang bagus untuk Red. Dia sudah membelikan kalung yang sangat indah untuk Ibu."


"Iya, Bu. Ibu tenang saja!"


"Belikan juga baju baru untuk adikmu, Selena."


Ucapan Brian membuat Selena marah.


"Untuk apa membeli baju untuknya? Sekali jelek tetaplah jelek! Dia tidak akan cocok dengan baju apapun! Dia hanya cocok memakai celemek di dapur. Ya sudah, aku pergi dulu!"


Selena melenggang pergi diikuti Ilena. Semua kata-kata kasar Selena sudah biasa didengar telinga Ilena. Bagaikan makanan sehari-hari untuknya. Ia tidak marah ataupun protes. Hatinya sudah beku sejak kembali ke rumah ini. Dan itu harus ia lakukan untuk bertahan hidup.


#


#


#


Selena pergi ke beberapa butik langganannya. Ia membeli banyak baju untuk dirinya sendiri. Tak lupa ia juga memilih gaun yang akan dipakainya di pesta pertunangan yang akan di adakan tiga hari lagi.


Red sendiri yang menginginkan agar mempercepat pertunangan itu. Selena dan keluarganya tentu saja tidak keberatan. Keluarga Adams mendapatkan menantu pria yang sempurna. Semua orang pasti iri padanya.


Gadis mungil itu berjalan sempoyongan karena tak kuat membawa banyak barang yang dibeli Selena. Beruntung Tom, si supir sigap membantunya.


"Terima kasih, Tom," ucap Ilena ramah. Ya, Ilena dikenal sebagai gadis yang ramah. Ia juga tidak memilih teman.


"Sama-sama, Nona. Biar aku saja yang membawanya. Aku akan bawa ini ke mobil. Nona ikuti saja kakak Nona." Tom mengedipkan sebelah matanya. Pria muda ini adalah putra dari Monica dan Raff.


Ilena mengangguk dan kembali mengekori kakaknya. Tom melihat Ilena yang tidak pernah mengeluh dengan semua sikap kakaknya.


"Hatimu terbuat dari apa, Nona? Kau sudah terluka parah tapi masih bisa tersenyum," batin Tom.


Ilena menatap deretan baju-baju yang begitu indah di pandang mata. Gaun pesta yang begitu mempesona. Ilena melongo tak percaya jika hal seperti ini sangatlah nyata.


Tangan Ilena terulur menyentuh gaun berbahan sutra itu.


"Bagus sekali," gumam Ilena.


"Ehem! Kau harus tahu diri! Gadis sepertimu tidak pantas memakai gaun seperti ini!" ejek Selena.


Ilena langsung menundukkan wajahnya.


"Hmm, baiklah. Karena kau sudah menemaniku seharian ini, maka aku akan membelikanmu satu gaun sebagai hadiah."


Mata Ilena berbinar senang. "Terima kasih, Kak."


"Ya ya, tidak perlu berterimakasih. Kau pantas mendapatkannya. Tolong carikan gaun yang paling murah disini untuk pelayanku ini!" perintah Selena pada salah satu karyawan butik.


Ilena yang tersenyum senang tiba-tiba diam. Dia pikir dia akan mendapatkan gaun berbahan sutra yang bagus itu. Tapi bagaimanapun juga Ilena tetap bersyukur. Itu artinya Selena masih menganggap dia ada meski hanya sebagai pelayannya.


Usai lelah berbelanja, mereka pun kembali ke rumah. Selena kembali memerintahkan Ilena untuk menyiapkan air mandi untuknya. Gadis itu patuh dan melangkah ke kamar Selena.


Ilena langsung menuju kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air hangat. Setelah dirasa cukup, Ilena menaburkan wewangian khas vanilla kesukaan Selena.


Ilena membasuh tangannya kemudian keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba mata Ilena tertuju pada sebuah foto yang ada di atas nakas Selena. Itu adalah fotod kakaknya bersama seorang pria.


"Jadi, ini adalah pria yang kemarin datang? Tampan sekali. Kenapa wajahnya seperti tidak asing ya?"

__ADS_1


Sejenak Ilena menatap wajah tampan Red yang bersanding dengan Selena. Kemarin ia tak sempat melihat dengan jelas sosok Red karena Selena menyuruhnya untuk terus menunduk.


Tak ingin Selena tahu hal yang sedang dilakukannya, Ilena segera meletakkan kembali foto itu dan segera keluar dari kamar kakaknya.


#


#


#


Di kediamannya, Red mengatakan rencana pertunangannya dengan Selena yang akan diadakan dua hari lagi kepada kedua adiknya. Baik Blue maupun Yoona sama-sama terkejut dengan keputusan kakaknya itu. Mereka pikir Red terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan.


Tapi sekali lagi, tak ada yang berani membantah seorang Red. Dia adalah kakak sekaligus pemimpin di rumah ini. Ia yang sudah membuat keluarga ini menjadi seperti sekarang. Penuh kekuasaan dan kekayaan melimpah. Red yang sudah membawa mereka pergi dari keterpurukan. Dan Red sendiri menganggap jika Selenalah pahlawan dalam hidupnya.


Yoona saling pandang dengan Blue. Mereka ingin protes namun satu katapun bahkan tak bisa keluar dari bibir mereka.


"Terima kasih karena kalian sudah memberikan restu untukku dan Selena. Aku akan menemui Daddy. Kalian lanjutkan makan malam kalian!" Red bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar ayahnya.


Yoona dan Blue kembali saling pandang. "Kak! Siapa juga yang memberinya restu?!" sungut Yoona.


"Lalu kau ingin protes padanya?" tanya Blue balik.


"Ish, kakak!" Yoona merengut.


"Kau pikir ada yang bisa mengubah keputusan si keras kepala itu? Tidak akan bisa, Pinky Pie! Sudahlah, kita terima saja keputusan Red. Semoga saja Selena memang gadis dari masa lalu Red."


Blue ikut beranjak dari meja makan dan menyisakan Yoona yang masih kesal dengan keputusan kakaknya.


Di sisi lain, Red tiba di kamar Eldric dan duduk di samping ranjang pria tua itu. Pria yang dulu gagah dan ditakuti banyak orang kini terbaring tak berdaya. Sangat jarang Red bisa bicara dengan normal bersama Eldric.


Laki-laki ini menyimpan duka yang amat dalam ketika kehilangan sang istri hingga membuatnya depresi. Ketidakmampuan mengontrol emosi membuatnya masih sering mengamuk hingga sekarang.


Hidup ketiga kakak beradik ini sangatlah sulit beberapa tahun silam. Kehilangan banyak harta benda dan orang-orang yang dicintai membuat mereka harus menguatkan hati agar bisa menghadapi dunia. Dan dari ketiganya, Red harus menjadi yang terkuat untuk menopang kehidupan ayah dan kedua adiknya.


"Daddy..." lirih Red dengan menggenggam tangan ayahnya.


"Aku sudah menemukannya, Dad. Gadis yang selama ini aku cari. Gadis yang sudah membuatku bangkit dari keterpurukan. Aku akan bertunangan dengannya. Setelah itu kami akan menikah, dan hidup bahagia. Aku meminta restu darimu, Dad..."


Red keluar dari kamar Eldric lalu menuju ke mini bar di rumah besar itu. Disana ia bertemu Blue yang sedang menyesap wine sendirian.


"Kau disini?" tanya Red menepuk bahu Blue.


"Yeah. Bagaimana kabar Daddy?" tanya Blue balik.


"Masih sama. Tanpa respon dan hanya menutup mata."


Red menuang anggur kedalam gelas kecil yang tersedia disana.


"Jadi, kau akan menjadi bagian dari keluarga Adams, huh?!" tanya Blue dengan tersenyum seringai.


"Hmm, begitulah," jawab Red lalu menyesap minumannya.


"Kau sudah yakin, Red? Kau yakin jika Selena adalah gadis itu? Gadis kecil yang menolongmu dan memarahimu? Dia marah padamu karena kau mencoba melenyapkan diri dan dia tidak terima. Hidup memang susah tapi apa gunanya juga jika mati? Apa mati bisa menyelesaikan masalahmu? Aku sangat ingat dulu kau selalu bercerita tentangnya. Hanya mendengarnya saja aku tahu jika hidup gadis itu juga sama menderitanya denganmu! Dia juga penuh luka sama sepertimu! Tapi dia menguatkanmu dan memintamu untuk terus hidup. Apa kau yakin jika gadis itu adalah Selena? Seorang model terkenal, putri dari pengusaha kaya Brian Adams. Apa itu dia, Red?!" Blue sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Apa maksud pertanyaanmu itu, Blue? Itu memang dia! Dia adalah Purple!" tegas Red.


"Bukankah aneh kenapa dia bisa ada di bangunan tua terbengkalai itu? Dia adalah putri keluarga kaya, Red. Apa yang dia lakukan di tempat seperti itu? Pikirkan itu, Red!" Blue menepuk bahu Red kemudian berlalu.


Usai perbincangan tadi bersama Blue di mini baru rumahnya, kini Red yang sudah merebahkan tubuh lelahnya hanya bisa diam memandangi langit-langit kamarnya. Matanya enggan terpejam memikirkan semua kata-kata Blue.


"Jika Selena bukan Purple, dari mana dia bisa mendapatkan buku harian itu?" lirih Red.


Hingga akhirnya matanya benar-benar berat dan kini telah tertutup rapat. Dalam tidurnya, seakan seperti nyata, Red bertemu dengan gadis kecil itu. Gadis kecil yang memberinya keberanian untuk menghadapi hidup yang kejam ini.


"Hidupnya penuh luka. Ya, gadis itu juga terluka. Sama sepertiku! Gadis itu menyimpan beban yang cukup berat. Aku membacanya, aku membaca buku hariannya... Aku ingat siapa dia..."


" Hosh, hosh, hosh!" Red mengatur napasnya yang memburu. Ia menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.


Red memejamkan mata mengingat mimpi yang baru saja ia alami. Mimpi itu terasa sangat nyata. Ia bertemu dengan gadis kecil itu. Gadis dengan tatapan mata yang teduh namun tajam. Ada banyak luka yang tertanam di sorot matanya.


"Apakah itu benar kau, Selena?" gumam Red.


#


#

__ADS_1


#


__ADS_2