Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
70. Tindakan Gegabah


__ADS_3

-Ryn Event Organizer-


Eryn terdiam di dalam ruang kerjanya. Ia memandangi uang tabungannya yang memang tidak banyak. Meski ayahnya adalah penguasa JK Grup, namun ia tidak pernah meminta banyak hal pada pria paruh baya itu. Ia lebih suka mencari uang dengan hasil keringatnya sendiri.


Eryn memandangi selembar kertas yang diberikan oleh asisten Kang Se Hoon.


"Dua juta won? Mahal sekali," gumamnya.


Lalu Eryn menatap uang di buku tabungannya.


"Ada tiga juta Won ditabunganku. Apa aku harus menggunakannya?" gumamnya lagi.


Eryn tak punya pilihan lain selain memakai uang tabungannya. Ia segera memakai internet banking lalu mentransferkan uang untuk biaya perbaikan mobil Kang Se Hoon.


Ketika transaksi telah berhasil, Eryn menghela napasnya. Kini ia harus bekerja keras lagi untuk mendapatkan uang agar bisa menambah uang ditabungannya.


Saat Eryn masih berkelana dengan lamunannya, pintu ruangan Eryn di ketuk, asistennya Sae Mi masuk dan memberi salam pada Eryn dengan membungkukkan badannya.


"Nona, ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona," ucap Sae Mi.


"Hmm? Siapa?" tanya Eryn bingung. Setahunya hari ini ia tidak memiliki janji dengan siapapun.


"Halo, Nona. Kita bertemu lagi," ucap seorang pria yang langsung masuk ke ruangan Eryn.


"Kau?" Eryn mengernyit bingung. Ia meminta Sae Mi meninggalkan dirinya bersama dengan tamunya. Eryn bangkit dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa bersama tamunya.


"Aku baru saja mentransfer uangnya untuk perbaikan mobil tuan Kang," ucap Eryn.


"Maaf, Nona. Tapi Tuan Kang sebenarnya tidak berniat menagih Nona," jelas Kim Beom, asisten Kang Se Hoon.


"Maksudnya?" Eryn masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Maaf, Nona. Bukan maksud Tuan Kang mengerjai Nona. Tapi, Tuan Kang hanya ingin membuktikan ucapan Nona."


"Kalau begitu kenapa dia memintaku untuk datang ke kantornya?" Eryn mulai kesal.


"Tuan Kang hanya ingin melihat apakah Nona memang benar-benar ingin bertanggung jawab atau tidak. Dan ternyata Nona memang datang."


Eryn memejamkan matanya. "Jadi, ini hanya sebuah permainan untuk kalian?" Suara Eryn terdengar tegas.


"Bukan begitu, Nona. Untuk itulah saya datang kemari. Karena Nona sudah mengirimkan uangnya maka, Tuan Kang meminta Nona untuk merancang acara untuknya."


"Hah?!"


"Tuan Kang akan mengembalikan uang itu. Tapi pasti Nona tidak bersedia menerimanya, makanya Tuan Kang ingin membayar jasa Nona dalam merancang acara. Kebetulan perusahaan kami sebentar lagi akan merayakan hari jadinya."


Eryn mulai paham kemana arah pembicaraan ini berlabuh.


"Baiklah. Aku akan menerima tawaran dari Tuan Kang."


"Terima kasih, Nona. Kalau begitu uang Nona akan kami kembalikan sesuai dengan jumlah yang Nona kirimkan ditambah dengan uang jasa untuk perusahaan Nona."


"Hah?! Maksudmu uangku kembali?"


"Iya, Nona. Silakan cek rekening Nona. Uangnya sudah kami kirimkan kembali."


Eryn masih tak mengerti dengan semua ini. "Iya, oke! Jadi, kapan aku bisa mulai persiapan pestanya?"


"Nona bisa memulainya besok."


Eryn kembali tertegun. Setelah Kim Beom berpamitan, Eryn mengecek saldo di rekeningnya. Matanya membola melihat saldo rekening tabungan dari layar ponselnya.

__ADS_1


"Dua puluh juta Won? Jadi dia membayarku sepuluh kali lipat?" Eryn menutup mulutnya tidak percaya.


"Pesta seperti apa yang dia inginkan? Aku harus membuatnya dengan sangat baik," gumam Eryn.


#


#


#


-Grup Se-Kang-


Seorang wanita cantik tinggi semampai berjalan memasuki gedung tinggi menjulang itu dengan menebarkan senyumnya pada setiap karyawan yang menyapanya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, apa kakak ada di kantor?"


"........."


"Oh, baiklah. Aku sedang menuju kesana. Tunggu aku ya!"


Panggilan terputus. Wanita cantik itu memasuki lift dan menuju ke lantai 18 dimana orang yang dia cari berada.


Tiba disana, wanita itu disambut oleh Kim Beom. Pria itu tersenyum melihat kedatangan si wanita.


"Selamat datang, Nona. Bagaimana liburan Anda?" tanya Kim Beom.


"Aku tidak berlibur, Beom. Aku menyelesaikan apa yang kakakku lakukan. Dia selalu saja membuat masalah. Apa dia ada di dalam?" tanya si wanita.


"Ada, Nona. Silakan masuk saja."


Wanita itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu hingga membuat si empunya ruangan berjingkat kaget.


"Kau! Selalu saja tidak mengetuk pintu!" kesal Se Hoon.


"Kupikir kau tidak akan ke kantor setelah lelah menempuh perjalanan jauh." Se Hoon mencebikkan bibirnya.


"Aku kemari karena aku mendengar sesuatu lagi tentang kakak."


Se Hoon mengernyit bingung.


Wanita itu berjalan mendekati Se Hoon. "Aku sudah dengar tentang gadis itu," bisiknya.


"Apa Kim Beom yang memberitahumu?" ketus Se Hoon.


"Kakak harus ingat, aku punya banyak mata-mata, Kak."


"Se Naa, kali ini kau tidak bisa mencegahku. Aku akan melanjutkan apa yang sudah kurencanakan selama ini."


"Kak, sudahlah. Lupakan semua! Aku yakin Sully tidak akan setuju kau melakukan ini!" bujuk Kang Se Naa. Dia adalah adik dari Se Hoon.


Se Hoon bangkit dari kursi kebesarannya dan menatap gedung-gedung yang sama tinggi dengan gedung miliknya.


"Aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang dilakukan orang itu!"


"Tapi ini adalah putrinya, Kak. Tidak adil jika kau harus membalas dendammu melalui dia!"


"Cukup, Se Naa. Aku ingin kali ini kau mendukungku!"


"Tentu aku akan mendukung kakak. Bukankah selama ini aku selalu disamping kakak?"


Se Naa memeluk lengan kakaknya itu.

__ADS_1


"Kau tahu, Kak. Jika kau bermain air, maka kau akan basah. Jika kau bermain api, maka kau akan terbakar. Aku takut kau akan terbakar oleh rencanamu sendiri, Kak."


Se Hoon menatap adik semata wayangnya itu lekat.


"Carilah pria yang baik, lalu menikah dan hidup bahagia dengannya."


Se Naa tersenyum mendengar ucapan kakaknya. "Aku bahagia jika kakak juga bahagia." Se Naa memeluk kakaknya itu.


"Baiklah. Kalau begitu bersiaplah! Kita akan melakukan ini bersama," timpal Se Hoon dan mengeratkan pelukannya pada sang adik.


#


#


#


-Kediaman Keluarga Kim-


Eryn baru saja kembali dari kantornya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa lelah. Ia menuju kamar Noah untuk tahu apa yang sedang dilakukan oleh bocah tampan itu.


Hari ini Eryn pulang agak malam, jadi ia tak bisa menyapa Noah secara langsung karena putranya itu sudah terlelap. Ia mencium puncak kepala Noah dan mengusapnya lembut.


Setelah puas melepas rindu dengan putranya, Eryn keluar dari kamar Noah. Ia melihat ayahnya sudah menunggu dirinya.


"Ayah? Ayah belum tidur?" tanya Eryn.


"Belum, Nak. Ada hal yang ingin ayah bicarakan denganmu. Ayo ikut ke ruang kerja ayah!"


Eryn merasa ada yang tidak beres dengan sikap ayahnya.


"Ada apa ya?" batin Eryn bertanya-tanya.


Eryn masuk ke ruang kerja Tuan Kim. Pria itu sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Duduklah!" perintah Tuan Kim.


"Ada apa, Ayah? Apa ada hal penting yang ingin ayah bicarakan?"


Tuan Kim menatap Eryn tajam.


"Kau menerima penawaran dengan Grup Se-Kang?"


"Ayah mengetahuinya?"


"Kenapa kau tidak bertanya dulu pada Ayah? Apa kau tahu siapa pimpinan Grup Se-Kang?" marah Tuan Kim pada Eryn.


"Ayah! Ada apa dengan Ayah? Kenapa Ayah semarah ini hanya karena aku menerima tawaran dari Grup Se-Kang?" protes Eryn tak terima karena ayahnya menyalahkan dirinya.


"Ayah yakin dia sengaja mendekatimu karena menginginkan sesuatu! Batalkan perjanjian kerjasamamu dengan Kang Se Hoon!"


Eryn menatap ayahnya tak percaya. Ia menggeleng pelan.


"Ada apa diantara Ayah dan Kang Se Hoon?" tanya Eryn dengan suara yang agak tinggi.


Tuan Kim terdiam.


"Katakan padaku! Sejak awal aku juga merasa aneh karena dia seakan sudah mengenalku. Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Ayah! Sekarang katakan padaku, Ayah!"


Mata Eryn memerah karena menahan gemuruh amarah.


#tobecontinued

__ADS_1


*Wah, sebenarnya ada hubungan apa Kang Se Hoon dengan Tuan Kim?


__ADS_2