Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
16. Pergi untuk Kembali


__ADS_3

Malam itu, Black menatap layar datarnya yang menampilkan rekaman kamera pengawas yang sengaja ia pasang di sekitaran kamar hotel Eryn. Pria itu melihat Eryn berjalan pelan menuju kamarnya. Sesekali wanita cantik itu menoleh ke belakang seperti mencari sesuatu. Bukan! Dia mencari seseorang. Bisa Black tebak siapa yang di cari Eryn. Tentu saja dirinya.


Lantas kenapa Black tidak menemui Eryn? Sejak pagi tadi mereka belum bertemu lagi. Tapi, Black sudah mengawasi setiap gerak gerik Eryn sewaktu keliling kota tadi. Tentu saja ada alasan kenapa Black meminta Carlos menjadi pemandu bagi Eryn dan karyawannya. Masih cinta, tapi gengsi. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk si bos mafia ini.


Mata Black tak beralih sedikitpun dari sosok Eryn yang tampil di layar datarnya. Bahkan Black juga memasang alat sadap di dalam kamar Eryn. Ia masih bisa tahu apa saja yang dilakukan wanita itu dan semua yang dikatakannya.


Hati Black tercubit ketika mendengar rintihan Eryn yang berkata jika dirinya kembali ditinggalkan oleh Black. Pria itu mengepalkan tangan melihat tubuh wanita yang dicintainya bergetar karena menangis.


Black mengusap wajahnya. Ia segera menutup notebooknya dan keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan tergesa menuju kamar Eryn.


Hampir saja Black tiba disana, namun ia malah bertemu Rose yang sedang mematung menatapnya.


"Rose?"


"Kau ingin masuk ke dalam?" tanya Rose dengan menunjuk kamar Eryn.


Black diam. Ia menundukkan kepala.


"Lakukanlah apa yang hatimu inginkan, El. Tapi jangan pernah menyesalinya. Kau ingin menghancurkannya, bukan? Lakukanlah! Semalam kalian tidak melakukannya, maka lakukanlah malam ini." Rose menatap tajam Black yang masih tertunduk.


Baru kali ini Rose melihat pria dingin itu menundukkan kepala dan itu karena Eryn.


"Belum saatnya, Rose. Aku sudah punya rencana yang lebih indah untuknya." Black mengangkat wajahnya dan menatap Rose.


Pria itu berbalik badan kemudian kembali ke ruang kerjanya.


Rose menghela napas kasar. Ia mengerjapkan matanya agar tidak menangis.


"Apa cinta memang begitu rumit? Seberapa tipis beda antara dendam dan cinta?" gumam Rose menatap pintu kamar Eryn.


......***......


Pagi itu, Eryn dan timnya sudah bersiap untuk kembali ke Meksiko. Lagi dan lagi Eryn tak melihat sosok Black yang seakan menghilang. Carlos bilang jika tuannya itu sedang ada urusan di luar kota, jadi ia tidak bisa berpamitan dengan Eryn dan timnya.


Eryn mengangguk paham. Sudah bisa dipastikan Eryn kembali ditinggalkan oleh pria itu. Eryn menaiki pesawat jet pribadi milik EB Company bersama yang lainnya. Kali ini mereka tidak pulang terpisah.


Pesawat mulai lepas landas dan Eryn kembali mengucapkan selamat tinggal untuk pria yang mengisi hari-harinya selama dua minggu ini. Sungguh ia tidak pernah menyangka jika akan bertemu lagi dengan kakak angkatnya setelah enam tahun. Meski dengan cara yang tidak biasa dan terkesan kejam.


.


.


.


Sembilan jam kemudian,


Eryn turun dari pesawat dan melihat Eric sudah menjemputnya di bandara. Eryn memberikan sebuah senyuman untuk Eric.


Pria itu langsung memeluk Eryn yang amat dirindukannya. Eryn memejamkan mata mendapat sebuah pelukan hangat dari Eric setelah apa yang ia lakukan bersama Black di Brazil.


"Aku merindukanmu, Eryn..."


"Aku juga. Bagaimana Noah? Apa dia merepotkanmu?"


Eric tertawa kecil. "Kenapa kau selalu menanyakan hal itu? Noah adalah anak yang baik. Kau jangan cemas."


"Terima kasih, Eric."


"Umm, Eryn..."


"Iya, ada apa?"


Eryn melihat ada yang aneh dengan sikap Eric.


"Begini... Ibuku sudah kembali dari perjalanannya."


"Hah?!"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu kenapa dia kembali secepat ini. Tapi, kau jangan khawatir. Aku sudah bilang padanya jika kau ada pekerjaan di Brazil. Aku yakin dia mengerti."


Eryn mengangguk. Namun sejurus kemudian, ia mulai panik.


"Astaga, Eric! Aku tidak membelikan apa pun untuk ibumu dan bibi Erica! Bagaimana ini?"


"Heh?! Yang benar saja?"


"Iya. Aku takut seleraku tidak sesuai dengan ibumu, makanya aku..."


"Ya sudah. Kita belikan dia cake favoritnya saja. Lagi pula dia sudah beli banyak perhiasan kemarin," usul Eric.


"Benarkah? Kau yakin dia tidak akan marah?"


"Yakin! Percaya saja padaku!"


"Terima kasih, Eric." Eryn melingkarkan tangannya ke lengan Eric. Kemudian mereka berdua berjalan keluar bandara dan menuju toko kue langganan Eleanor.


...🌹🌹🌹...


Eryn kembali ke aktifitas di kantor miliknya. Sudah ada beberapa proposal permintaan yang menanti dirinya dan juga timnya.


"Hmm, lumayan banyak juga ya. Apa kita sanggup menanganinya?" tanya Eryn pada Lolita.


"Sanggup, Eryn. Kau pasti bisa. Lagi pula harinya juga masih jauh."


Eryn manggut-manggut tanda mengerti.


"Eh, apa kau benar-benar bertemu dengan CEOnya EB Company?" tanya Lolita.


"Eh?"


"Kudengar dia sangat misterius. Mungkin karena dia lahir di tanggal 31 oktober." Lolita terkekeh.


Eryn hanya diam.


"Eh? Ah, iya," jawab Eryn kikuk.


"Dia orang yang seperti apa? Banyak gosip tentangnya beredar di media, tapi tak satupun dari merekaΒ  yang berhasil mendapat gambar pria bernama Mr. Black itu. Aneh kan?" Lolita memegangi dagunya.


Eryn kembali terdiam.


"Kudengar rumor lagi, katanya dia akan membangun bisnisnya disini juga."


"Hah?! Apa?!" Eryn terlonjak kaget.


"Astaga, Eryn! Tidak perlu berteriak!"


"Ma-maaf..." Eryn menundukkan wajahnya. Ada rasa bahagia dan cemas bersamaan.


"Jika rumor itu benar, itu berarti Black akan datang ke kota ini? Bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki kuasa sebesar itu?" batin Eryn.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


-Evans Grup-


Eric sedang disibukkan dengan pekerjaannya ketika Santoz, sang asisten datang ke ruangannya. Sejak kepergian Chris, ayahnya, Eric harus mengurus semua bisnis termasuk yang berada di Kolombia.


"Katakan ada perlu apa, Santoz?" tanya Eric sambil berkutat dengan dokumen yang ada di mejanya.


"Begini, Tuan. Perusahaan kita mendapatkan penawaran kerjasama dari EB Company?"


Seketika Eric menghentikan pekerjaannya dan menatap Santoz.


"Kau serius?" tanya Eric masih tidak percaya.


"Iya, Tuan. Ini berkasnya. Orang kepercayaan CEOnya yang datang sendiri kemari." Santoz menyerahkan sebuah map pada Eric.

__ADS_1


Eric langsung membuka map itu dan membaca berkas di dalamnya. "Ini sesuatu yang sungguh langka, Santoz. Kupikir EB Company tidak akan membuka cabangnya disini. Tapi ternyata..."


"Ini adalah kesempatan yang bagus, Tuan."


"Iya, kita harus mempelajarinya dan mulai menyusun kontrak perjanjiannya," ucap Eric menggebu.


"Tadi orang suruhannya bilang, dalam beberapa hari lagi, Mr. Black yang terkenal itu akan datang kemari, Tuan," lanjut Santoz.


"Hmm, ini sebuah keberuntungan untuk kita." Eric tersenyum senang.


.


.


.


Sementara di tempat berbeda, Black menyeringai karena satu persatu rencananya akan segera dimulai. Ia sudah membeli beberapa lahan di Meksiko termasuk sebuah hotel yang sudah terbengkalai dan akan kembali ia jadikan sebagai hotel mewah miliknya.


"Jangan lupa kita juga harus membangun markas disana untuk Amigo," ucap Black.


"Baik, Tuan," balas Enrique.


"Kau boleh keluar!"


Enrique memberi hormat kemudian keluar dari ruang kerja Black. Tak lama setelahnya, Carlos masuk dan menghampiri Black.


"Tuan!"


"Ada apa, Carlos?"


"Persediaan senjata api rakitan mulai menipis. Apa kita akan memproduksinya lagi?"


"Tentu saja, Carlos. Kita akan membawanya juga ke Meksiko nanti. Bagaimana dengan stok obat-obatan?"


"Semua masih aman terkendali, Tuan."


"Baguslah! Kau juga bersiaplah untuk ikut pindah bersamaku."


"Eh? Pindah?" Carlos mengernyitkan dahinya.


"Jangan membantah, Carlos! Sekarang keluar!"


"Ba-baik, Tuan. Aku permisi!"


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Beberapa hari kemudian,


Eric sedang menunggu kedatangan CEO EB Company yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. Senyum mengembang tak hentinya ia sunggingkan mengingat betapa pentingnya kontrak ini nantinya.


"Tuan, Mr. Black sudah tiba," ucap Santoz.


Eric merapikan penampilannya dan berdiri untuk menyambut kedatangan Mr. Black, sang penguasa segala bisnis. Ia mulai melihat sekumpulan orang yang mengawal pria penting itu.


Namun yang datang berjalan kearah Eric hanya dua orang pria saja. Dia adalah Black dan Carlos.


Black membuka kaca mata hitamnya dan menatap Eric. Sebuah senyum terukir di bibirnya.


"Halo, Tuan Evans. Senang bertemu dengan Anda." Black mengulurkan tangannya.


Eric terpaku di tempatnya. Sosok yang telah lama hilang tiba-tiba hadir di depan matanya.


"Eldric?" gumam Eric dengan tatapan tak percaya.


...B e r s a m b u n g...


*Nah lho! ketemu lagi dah mereka 😡

__ADS_1


kira2 apa yg akan terjadi ya? 😬😬


__ADS_2