
Suasana kamar Santa sudah mulai sunyi. Semua teman-temannya sudah berpamitan pulang. Santa menghubungi David untuk mengetahui posisi pria itu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh para pria untuk David.
Entah kenapa perasaan Santa tidak enak. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi dengan calon suaminya. Berkali-kali ia menghubungi David namun panggilannya tidak tersambung.
"Kenapa dia tidak menjawab panggilan dariku?" gumam Santa.
Santa menghubungi Agli, Bernard, Caesar dan Frans. Namun hasilnya juga sama.
"Sial! Ada apa dengan para pria? Apa yang mereka rencanakan?"
Tanpa pikir panjang lagi, Santa segera pergi menuju klub malam milik Luiz. Rencana awal mereka memang akan mengadakan pesta lajang disana.
Tak butuh waktu lama Santa tiba di klub malam yang sudah terlihat sepi. Santa bertanya pada penjaga disana.
"Semua kawan-kawan Tuan Luiz sudah pergi, Nona."
"Maksudmu David dan kawan-kawannya?" tanya Santa tak ingin salah berasumsi.
"Iya, Nona. Klub sudah sepi. Karena memang kami tidak menerima pengunjung hari ini."
Santa melangkahkan kakinya dengan gontai. "Kemana mereka? Kenapa memainkan permainan yang konyol seperti ini?"
Secara tak sadar air mata Santa tiba-tiba menetes. Segera ia seka buliran bening yang membasahi pipinya.
"Apa aku harus menghubungi nona Eryn? Tapi dia kan sedang bersenang-senang dengan Black. Menelepon Carlos pun juga percuma. Semua orang sedang bersenang-senang dan kini aku malah sendiri. Hiks hiks hiks."
Air mata Santa terus mengalir. Ia duduk di sebuah bangku panjang dekat taman. Ia menghirup udara malam yang terasa menusuk tulang.
"Besok aku akan menikah, kenapa nasibku begitu sial? Apa aku memang tidak ditakdirkan bersama dengan David? Bahkan di malam pesta lajang ini, aku benar-benar melajang tanpa kawan disisiku."
Santa menghela napasnya kasar. Untuk sementara waktu Santa ingin menikmati malam yang syahdu ini dengan kesendirian.
Sementara di tempat berbeda, David membuka mata dan mengerjapkannya pelan. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdengung. Ia mengedarkan pandangan dan merasa jika ini bukanlah di klub malam Luiz.
"Dimana aku?" gumam David.
"Kau sudah bangun?" Suara seorang perempuan membuat David membulatkan mata.
Suasana kamar yang remang membuat David tak bisa melihat dengan jelas. Perempuan itu mendekati David hingga pria itu akhirnya mengenali siapa perempuan yang ada di depannya.
"Maria?" David terkejut.
"Iya, ini aku. Apa kabar, Dave?" tanya Maria.
"Bagaimana kau bisa ada disini? Dan kenapa aku juga ada disini?" David memegangi kepalanya.
"Aku sendiri juga tidak tahu kenapa kita bisa berakhir di kamar yang sama," jawab Maria enteng.
"Sial!" David segera bangkit dari tempat tidur dan menuju pintu.
Berkali-kali David berusaha membuka handel pintu namun tak berhasil. Pintunya terkunci dari luar.
"Maria, tolong hubungi seseorang! Aku tidak bisa berada disini! Besok aku akan menikah! Bagaimana jika Santa tahu aku malah terjebak dengan seorang wanita di kamar hotel?" David mulai frustasi.
"Baik aku maupun kau, tidak ada yang memiliki ponsel, Dave. Sepertinya teman-temanmu sengaja menguji kesetiaanmu pada calon istrimu."
__ADS_1
"Hah?!" David masih bingung dengan situasi yang terjadi.
Kini David hanya duduk lemas dan pasrah. Ia tak mungkin bisa keluar sebelum waktu yang ditentukan habis.
"Aku tahu kita pernah memiliki hubungan, Dave. Tapi aku ikut bahagia karena kini kau menemukan gadis yang tepat."
David menatap Maria. Ya, wanita ini pernah mengisi hati David beberapa tahun lalu.
"Apa yang akan kita lakukan, Dave? Beruntung teman-temanmu tidak memberimu obat perangsang. Jadi, kurasa semuanya masih aman."
David melotot menatap Maria. "Akan kubunuh mereka semua jika sampai melakukan hal seperti itu padaku!"
Maria tergelak dengan ucapan David. Pria ini sudah banyak berubah.
"Maaf, karena dulu aku meninggalkanmu...."
David tersenyum getir. "Lalu kau menyesalinya sekarang?"
"Menyesal sekarang pun sudah tidak ada gunanya, bukan?" Maria terkekeh.
Maria beranjak menuju meja dan mengambil air minum. Seketika David ingat dengan kalimat Maria mengenai obat perangsang.
"Tunggu! Jangan meminumnya!" David segera bangkit dan merebut botol wine dari tangan Maria.
"Bisa saja kan mereka memberi obat perangsang di botol ini," ucap David.
"Lalu, aku harus minum apa? Aku haus, Dave!" keluh Maria.
David menuju kamar mandi dan menuang air keran kedalam gelas.
"Kau yakin aku harus meminum ini?" Maria mengernyitkan dahi.
"Apa boleh buat! Sebisa mungkin kita harus menghindari semua hal, Maria. Aku tidak ingin mengkhianati Santa. Apalagi besok adalah hari pernikahan kami."
Maria meneguk habis air di dalam gelas lalu menatap David.
"Kau memang banyak berubah, Dave. Aku bangga padamu."
Maria menuju keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.
"Aku mengantuk, Dave. Sebaiknya kau juga tidur. Bukankah besok adalah hari besar untukmu?"
David menghela napas. "Awas saja kalian setelah aku keluar dari sini. Keterlaluan sekali kalian mengurungku di kamar hotel bersama Maria." David terus menggeram kesal. Namun ia juga tak bisa berbuat apapun.
#
#
#
Di kamar hotel yang lain, Luiz dan Elza kini berbaring diatas tempat tidur. Mereka saling bercerita tentang kehidupan masa lalu masing-masing. Tentu saja masa lalu yang kelam hanya dialami oleh Luiz. Ia pernah menjadi preman jalanan sebelum bertemu dengan Eldric.
Elza makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luiz. Mereka masih sama-sama tak mengenakan pakaian, tapi tak terjadi apapun di ranjang itu. Tubuh lelah mereka membuat keduanya akhirnya terlelap dengan saling berpelukan.
Di kamar Rose dan Carlos, aktifitas yang panas baru saja terjadi. Rose kini sudah terlelap setelah Carlos menggempurnya. Pria ini ingin segera memiliki anak dari Rose. Dan semoga saja setelah hari ini semuanya terkabul.
__ADS_1
Di kamar Eryn dan Eldric, keduanya masih beradu di atas ranjang. Rasanya tak ada kata lelah untuk Eldric ketika harus menggempur Eryn.
"El, aku lelah. Kita sudahi saja ya!" ucap Eryn dengan suara lirih.
"Aku selalu bersemangat jika bermain denganmu, sayang..."
"Kau ini!" Eryn memukul lengan Eldric.
"Satu lagi, oke? Lalu aku akan membiarkanmu istirahat."
Eryn memutar bola matanya malas. Percuma saja menolak pesona prianya ini. Selalu saja ada cara yang di buat Eldric untuk membuat Eryn merasa melayang.
#
#
#
Santa yang masih duduk di bangku taman, tiba-tiba di kejutkan dengan suara Agli yang memanggilnya.
"Kau sedang apa disini?"
"Agli? Kau disini juga? Kupikir semua orang sudah pergi."
"Kami menunggu di hotel, ayo pulang!"
Santa mengerutkan kening. "Hotel? Apa yang kalian lakukan di hotel? Apa kau mengerjai David?"
Santa tersulut emosi begitu mendengar kata hotel.
"Brengsek! Apa yang kalian lakukan pada David?" Santa memukuli Agli.
"Tenang dulu, Santa! Tidak terjadi apapun pada David. Percayalah!"
Santa mengatur napasnya. Ia merasa sudah ingin menangis karena mengetahui jika teman-temannya mengerjai calon suaminya.
"David lolos, Santa. Dia lolos dalam ujian kesetiaan. Sekarang temuilah dia!"
Tanpa aba-aba, Santa segera berlari menuju hotel yang memang jaraknya tak jauh dari tempatnya berada. Santa menangis haru selama dalam perjalanan menuju tempat David.
Ia berlarian di lorong-lorong hotel. Ia menuju kamar yang tadi diberitahukan oleh Agli dengan membawa kuncinya. Ia sudah tak sabar ingin memeluk calon suaminya itu.
Dengan napas yang memburu, Santa tiba di depan kamar David. Ia segera menempelkan kartu dan pintu pun terbuka.
David yang sedang duduk di bawah segera bangun karena mendengar suara pintu terbuka. Ia melihat Santa berlari kearahnya.
"David!" teriak Santa.
Gadis itu langsung memeluk David erat. Ia menangis disana. Ia mengucap syukur karena tak terjadi apapun diantara David dan Maria.
Santa merenggangkan pelukannya dan menatap David. Ia segera menghujani pria itu dengan ciuman di seluruh wajahnya. Terakhir sebuah ciuman panjang di bibir pria itu. David mengangkat tubuh Santa dan merebahkannya di tempat tidur. Sudah tak ada Maria disana. Karena wanita itu langsung pergi ketika mendengar suara Santa yang menggelegar.
#tobecontinued
*Kakakakak, parah banget nih temen2 David 😰😰😰
__ADS_1