
Kesunyian kini memenuhi suasana di jalanan tempat Rose berada. Tak ada suara mobil melintas maupun suara seseorang di sekitarnya. Tangan Rose meraba-raba untuk bisa keluar dari mobil.
Akhirnya Rose berdiri di jalanan dan telah keluar dari mobil. Ia merasakan hening di tempat itu.
"Sebenarnya ini dimana? Kenapa sepi sekali?" batin Rose.
Rose berusaha berjalan menyusuri jalanan itu. Kakinya tersandung dan jatuh. Ia meraba apa yang membuatnya terjatuh.
"Aaaa!" teriak Rose karena ternyata itu adalah mayat seseorang. Pasti salah satu korban adu tembak tadi.
Rose beringsut dan memeluk kedua lututnya.
"Tolong! Tolong aku!" teriak Rose. Ia berharap ada seseorang yang akan menolongnya.
Santa kembali ke rumah dengan berdendang ria. Ia terkejut karena ternyata pintu rumah tidak terkunci. Ia masuk ke dalam rumah dan memanggil nama Eryn dan Rose.
Santa mulai panik karena tak menemukan apa pun di dalam rumah. Seketika ia teringat dengan kamera pengawas yang terpasang di beberapa titik. Ia pun mengeceknya.
Santa memutar kembali rekaman sebelum Eryn dan Rose menghilang. Ia membulatkan mata tak percaya.
"Mereka diculik!" lirih Santa.
Sejenak otaknya tak bisa berpikir jernih. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Carlos.
Santa menceritakan semua dengan detil termasuk apa yang terekam dalam kamera pengawas. Ia berharap Carlos bisa membantunya disini dan ia tak sendiri.
Carlos terdiam setelah mendapat telepon dari Santa. Beruntung mereka masih berada di markas dan belum berangkat menuju penjara Black.
"Ada apa, Carlos?" tanya Luiz yang melihat wajah pucat Carlos.
"Rose dan Eryn diculik," ucapnya.
"APA?!" Semua orang terkejut.
"Kita pasti kecolongan, Carlos," ucap Agli.
"Aku tidak menyangka jika mereka akan menemukan rumahku," sesal Luiz.
Carlos masih diam dan berpikir.
"Apa yang harus kita lakukan? Apa ini perbuatan Eric?" tanya Frans.
"Umm, begini saja. Agli, Bernard dan Luiz. Kalian kembali ke rumah dan melacak semua kamera pengawas di sepanjang jalanan yang dilalui mobil van itu. Aku yakin kita pasti bisa menemukan jejak mereka," jelas Carlos.
"Baiklah. Ayo!" Luiz, Agli dan Bernard segera pergi.
"Kita akan segera membebaskan Black. Bersiaplah!" Carlos menatap Caesar, Frans dan David bergantian.
Caesar masih mengutak-atik layar datarnya. Ia yang memiliki ide untuk melakukan ini. Mereka akan menerobos penjara tempat Black ditahan. Ia sudah meretas semua pintu di penjara itu.
"Bagaimana, Caesar? Apa sudah selesai?"
"Kurasa sudah. Kalian tinggal mengikuti instruksi dariku dan pintu akan kubuka dari sini."
"Oke! Ayo kita berangkat! Meski hanya kita bertiga, kita harus yakin dengan kekuatan kita," ucap Carlos.
"Semoga berhasil!" ucap Caesar menyemangati.
Luiz, Agli dan Bernard tiba di rumah. Santa langsung menceritakan kembali apa yang terjadi.
Bernard segera meretas semua kamera pengawas yang ada di sepanjang jalan yang di lalui mobil van yang membawa Rose dan Eryn. Ia menemukan titiknya.
__ADS_1
Namun tak bisa hingga mereka tiba di sebuah tempat, karena mobil itu sengaja mengambil jalan sepi yang tak terpasang kamera pengawas disana.
"Baiklah. Aku dan Agli akan kesana. Kalian tunggu disini saja!" ucap Luiz.
Agli mengangguk dan segera pergi dengan mobil Luiz. Tak lupa mereka menyiapkan senjata yang lengkap agar bisa melumpuhkan lawan.
Tiba di sebuah jalanan yang cukup sepi, Agli dan Luiz segera turun dari mobil. Dilihatnya sebuah van yang tadi dinaiki oleh Rose dan Eryn.
"Ini mobilnya! Aku yakin sekali," ucap Agli.
Mereka tak menemukan siapapun dan hanya melihat mayat berserakan dijalan.
"Kita terlambat. Sepertinya ada orang lain yang membawa mereka," sesal Luiz.
Agli meneliti sekeliling jalanan itu. Matanya menangkap sebuah kamera yang terpasang di depan mobil.
"Luiz, kita periksa kamera pengawas mobil ini." Agli masuk ke dalam mobil dan mengambil kartu memori yang terpasang disana.
Beruntung benda kecil itu masih ada disana. Agli segera membuka tablet pintarnya dan memasukkan kartu memori tersebut.
Mereka berhasil mendapatkan rekaman kamera pengawas mobil. Terlihat beberapa orang membawa Eryn saja. Mereka tidak membawa Rose.
Tak lama mereka melihat Rose berjalan mencari perlindungan. Dengan kondisi Rose yang tak bisa melihat, membuatnya kesulitan berjalan. Namun Rose berhasil pergi dari tempat itu.
"Kita ikuti kemana Rose pergi. Aku yakin dia masih belum jauh dari sini," ucap Luiz.
Agli mengangguk dan segera tancap gas menyusuri jalanan yang mungkin saja dilewati oleh Rose.
Black duduk terdiam didalam selnya. Pikirannya beradu dengan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya.
Tak lama terdengar langkah kaki mendekati sel milik Black. Seseorang berdiri di depan sel kamar milik Black.
Black yang mengetahui kedatangan seorang tamu, ia pun berdiri dan berhadapan dengan orang itu.
"Akhirnya kita bertemu juga, Ruiz Kozac," sapa Black.
Ya, sebenarnya kenapa Black bersedia ditangkap adalah untuk bisa menemui Kozac. Dia adalah gembong mafia yang kini mendekam di penjara atas banyaknya kasus kejahatan yang ia lakukan. Termasuk dalam pengedaran obat-obat terlarang yang memang tidak terdaftar.
Kozac dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ia ditahan tujuh tahun lalu. Jauh sebelum Black masuk menjadi anggota Amigo. Namun Black telah mendengar sepak terjang Kozac di dunia hitam.
"Aku tidak menyangka ternyata kau punya nyali yang besar untuk menemuiku," balas Kozac.
Black tersenyum seringai.
"Kau tidak tahu kau berurusan dengan siapa, Black. Kau bahkan tak tahu apa pun tentang sahabatmu itu."
Black membulatkan mata.
"Eric sudah lebih dulu terjun ke dunia ini jauh sebelum dirimu. Dia terlihat baik di mata orang, tapi sebenarnya dia sangatlah licik dan kejam."
Black mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan oleh Kozac.
"Dia bahkan merencanakan membunuh dirimu agar bisa mendapatkan wanita yang dia cintai. Apa kau tidak pernah berpikir jika semua ini adalah rencananya? Kau terlalu bodoh, Black. Bahkan ketika kau memilih untuk berada disini, maka Eric sudah lebih dulu mengambil wanitamu. Kau tunggu saja beritanya! Sebentar lagi Eric pasti akan memberitahumu!"
Black mengepalkan tangannya. "Jika saja kita tidak dibatasi jeruji besi ini, maka aku akan menghajarmu!"
Secara tak terduga jeruji besi yang menghalangi mereka terbuka hingga membuat Black dan Kozac bertemu secara langsung. Black langsung melayangkan bogem mentahnya kearah Kozac. Pria separuh abad itu terjengkang namun dengan cepat ia bangkit.
Ada dua orang yang bersama dengan Kozac. Mereka ikut menyerang Black. Terjadilah perkelahian didalam sel penjara itu. Tak ada yang berani melerai karena semua ini sudah direncanakan oleh Eric. Ia meminta Kozac dan anak buahnya untuk menghabisi Black didalam penjara.
Black yang hanya sendiri tak mampu melawan dua pria bertubuh besar itu. Kedua lengannya dipegangi oleh pria-pria itu sementara Kozac menghajar tubuh Black.
__ADS_1
Black mengerang kesakitan. Wajahnya lebam dan darah keluar dari mulutnya. Kozac mengambil sebilah pisau yang sudah disiapkan olehnya.
Mata Black mulai berkunang-kunang. Pikirannya hanya tertuju wajah Eryn yang tersenyum padanya. Ia harus kuat agar bisa bertemu dengan Eryn.
Saat Kozac mengayunkan tangannya menuju ke perut Black, tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun. Kedua anak buah Kozac berlindung begitu juga dengan Kozac dan melepaskan Black. Tubuh Black terhuyung dan jatuh ke lantai.
Carlos, Frans dan David masuk dan membuat suasana makin kacau. Carlos menghampiri tubuh Black yang terkapar.
"Black!" Carlos mengangkat tubuh Black.
Frans dan David kini dihadapkan dengan kedua anak buah Kozac. Mereka pun berkelahi. Sementara Carlos memapah Black sambil mengacungkan senjatanya.
"Car..los..." Suara Black terdengar lirih.
"Tenanglah! Kami akan mengeluarkanmu dari sini!"
Peluru di pistol Carlos telah habis. Kini Carlos berhadapan dengan Kozac. Pria paruh baya itu ternyata masih memiliki tenaga yang cukup kuat untuk berkelahi.
Carlos bertarung dengan Kozac satu lawan satu. Kozac mengacungkan pisau lipatnya dan Carlos yang tak membawa apa apun. Namun dengan kelihaiannya, Carlos berhasil menjatuhkan pisau di tangan Kozac. Kini mereka bertarung tanpa adanya senjata dan hanya mengandalkan kekuatan masing-masing.
Meski Carlos lebih muda dibanding Kozac, namun pria tua itu tak bisa dianggap remeh. Ia berhasil membuat Carlos terjatuh dan kini Kozac dengan leluasa memukuli Carlos.
Melihat Carlos yang tak berdaya, dengan tertatih Black mengambil pisau yang terjatuh di lantai. Ia berjalan maju dan menusuk punggung Kozac.
Pria itu berbalik dan menatap Black sengit. Black kembali menusuk Kozac di bagian perut. Tubuh Kozac terjatuh. Black segera membantu Carlos untuk bangun.
Frans dan David berhasil mengalahkan dua anak buah Kozac meski mereka juga terluka.
"Ayo, kita harus segera keluar!" ucap David.
Dengan saling bahu membahu mereka berjalan keluar dari tempat itu sebelum petugas penjara berdatangan. Dan benar saja, beberapa petugas datang dan menghentikan langkah mereka sejenak.
David kembali mengambil senjata dan beradu tembak dengan mereka. Mereka akhirnya berhasil keluar namun kembali terkepung oleh mobil petugas.
"Bagaimana ini, Black?" tanya Carlos.
"Dimana mobil kalian?" tanya Black.
Ternyata mobil yang tadi membawa ketiga pria itu telah lebih dulu di hanguskan oleh petugas.
"Sial! Kita harus bagaimana?" keluh Frans.
Secara tak terduga mobil van hitam tiba-tiba menghampiri mereka. Pintu mobil terbuka dan seseorang berteriak dari dalam.
"Hei, cepat masuk!" teriak orang itu.
Sempat saling pandang, akhirnya Black dan yang lain masuk ke dalam mobil yang tak dikenalnya itu.
#tobecontinued
*mobil siapakah itu? Apakah dia orang baik atau jahat?
*Genks, rekomendasi novel hari ini. Novel yg cukup menguras emosi karena kisah hidup tokohnya yang penuh lika-liku.
Temukan dalam Jangan Salahkan Takdir karya Reski Muchu Kissky
Check this out 👇👇👇👇
__ADS_1