
Tanpa memiliki pilihan lain, Ilena akhirnya menyetujui untuk ikut bersama dengan dua pria kembar bertubuh besar dan meninggalkan adik-adiknya di panti asuhan. Ilena meminta Jessie untuk menjaga anak-anak panti selama dirinya tidak ada. Ia juga menyerahkan kartu nama Emanuel, si pengacara jika membutuhkan bantuan terkait dana untuk panti asuhan.
"Bilang saja pada Tuan Emanuel jika kakak sedang bekerja di luar kota jika nanti dia bertanya."
Begitulah pesan Ilena kepada Jessie. Kini Ilena mulai memasuki bangunan besar yang entah ada apa saja di dalamnya. Ilena mengedarkan pandangannya.
Banyak penjaga di seluruh sudut ruangan rumah besar itu. Ilena bertanya-tanya, sebenarnya ini tempat apa. Kenapa banyak sekali penjaga yang di pekerjakan?
Namun semua itu tentu saja tidak bisa Ilena tanyakan kepada pria kembar yang membawanya kemari.
"Silakan masuk!" ucap salah seorang pria kembar itu.
Ilena masuk ke sebuah ruangan yang sedang menyalakan sebuah musik klasik di dalamnya. Seketika orang yang ada di dalam ruangan itu menatap kearah Ilena.
Ilena mengamati ruangan itu. Seperti ruang latihan untuk para penari balet. Ada beberapa orang yang berada disana.
Seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan dengan lipstik merah menyala menghampiri Ilena.
"Ada apa ini, Rico? Rocky?" tanya wanita itu pada si kembar.
"Begini, Madam Jane. Kami membawa anggota baru untuk kalian. Silakan Madam tentukan sendiri dia akan masuk ke dalam kelompok yang mana," balas Rico.
Madam Jane nampak memindai penampilan Ilena dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Oke! Kalian boleh pergi!"
Rico dan Rocky pamit undur diri meninggalkan Ilena yang kini menundukkan wajahnya.
"Berapa usiamu?" tanya Madam Jane.
"Eh? 21 tahun, Nyonya," balas Ilena gugup.
"Jangan memanggilku nyonya. Panggil dengan lengkap, Madam Jane. Oke?"
Ilena mengangguk.
"Hmm, kau masih sangat muda. Baiklah, kau akan bergabung dengan kelompok Blondy saja. Girls, kemarilah!"
Madam Jane memanggil ke empat gadis yang sedari tadi juga menatap Ilena.
"Blondy, mulai saat ini kalian punya anggota baru. Kurasa formasi kalian akan lebih bagus jika diisi oleh lima orang."
Gadis bernama Blondy itu hanya mengangguk paham. Sebenarnya ia agak tidak suka dengan kehadiran Ilena yang terlihat lugu dan polos.
"Hmm, mulai hari ini kau kuberi nama ... Babydoll. Kurasa cocok untukmu yang masih sangat muda dan wajah yang masih lugu seperti bayi," jelas Madam Jane.
"Nah, Babydoll, kenalkan ini Blondy, Sweety, Barbie, dan Darla," lanjutnya.
Ilena mengangguk paham. Ia berusaha tersenyum meskipun itu sangat sulit.
__ADS_1
"Baby, ayo ikut denganku. Kita akan lihat seperti apa penampilanmu setelah diubah total. Dan kalian! Lanjutkan latihan kalian! Berikan penampilan yang terbaik malam ini untuk seluruh pelanggan!" seru Madam Jane kemudian membawa Ilena keluar.
Mereka menuju ke sebuah ruangan lain yang berisikan baju-baju dan juga peralatan merias yang cukup lengkap. Madam Jane berpikir sejenak sambil memilih baju yang cocok untuk Ilena.
"Coba ganti bajumu dengan ini!" perintah Madam Jane. Ilena hanya menurut.
Ilena keluar dari kamar ganti dengan merasa risih. Ini adalah kali pertama dirinya memakai atasan ketat dengan satu tali melilit di bahunya, lalu dipadukan dengan rok mini diatas lutut dan hampir mengekspos seluruh bagian kaki Ilena.
"Wah, kau terlihat sempurna. Lihatlah! Kau ini sangat cantik. Kulitmu juga putih bersih. Tapi kenapa kau berpenampilan lusuh seperti tadi?"
"Ma-maaf, Madam. Apa boleh aku bertanya?" Ilena memberanikan diri.
"Iya, ada apa?"
"Sebenarnya ini tempat apa?" tanya Ilena ragu.
Madam Jane tertawa kecil dengan sikap polos Ilena.
"Dengar, Baby. Ini adalah tempat dimana orang yang memiliki uang dan kekuasaan menghamburkan harta mereka," jawab Madam Jane dengan memegangi kedua bahu Ilena.
"Hah?!"
"Ini adalah hari pertamamu. Jadi, sebaiknya kau latihan perlahan saja disini. Anak-anak yang lain akan mengajarimu. Seiring berjalannya waktu, kau pasti bisa melakukan semuanya sendiri."
Ilena masih tidak mengerti dengan maksud Madam Jane. Tapi sebisa mungkin ia mengangguk sebagai tanda jika ia akan berusaha belajar.
Sekali lagi Ilena menganggukkan kepalanya. Madam Jane tersenyum dan membawa Ilena duduk di depan meja rias.
#
#
#
Madam Jane menemui Blue dan mengatakan jika dirinya memiliki barang baru. Dengan senang hati Blue ingin melihatnya. Blue adalah seorang petualang cinta.
Meski di cap sebagai seorang cassanova, Blue tidak sembarangan memilih wanita. Hanya yang benar-benar menyentuh hatinya yang bisa menghabiskan malam dengannya.
Dan dari banyaknya anak didik yang dimiliki oleh Madam Jane, hanya Blondy saja yang baru bisa naik keatas ranjang Blue. Tapi sekali lagi, Blue tidak suka di kekang dalam suatu hubungan yang serius. Ia masih ingin mencari wanita yang benar-benar bisa membuatnya tergila dan kehilangan kewarasan. Begitulah jawabnya jika ditanya soal komitmen dalam suatu hubungan.
"Kuharap kau benar-benar membawa barang bagus, Jane," ucap Blue.
"Tentu saja, Blue. Mari ikut denganku!"
Blue berjalan bersama dengan Madam Jane menuju ruang latihan anak-anak didiknya. Di dalam ruangan, musik masih terus menggema. Dan para gadis sedang meliukkan tubuhnya dengan lincah.
Sementara Ilena hanya melihat tanpa bisa mengikuti gerakan mereka. Musik terhenti. Madam Jane mematikannya.
"Halo, ladies..." sapa Blue.
__ADS_1
"Halo, Blue," jawab mereka semua kompak.
"Blue, kau akan melihat betapa indahnya barang baru yang aku punya." Madam Jane memanggil Ilena dan memintanya berhadapan dengan Blue.
Mata Blue membulat sempurna melihat sosok Ilena yang begitu indah dipandang. Kulit putih bersih, waja cantik dengan polesan make up natural, bibir tipis dengan lipstik warna soft, dan juga rambut yang dikuncir dua. Membuatnya sangat menggemaskan di mata Blue.
"Dia adalah Babydoll, Blue. Bagaimana? Sesuai dengan namanya kan?" ucap Madam Jane.
Blue tersenyum seringai. "Good. Kau pintar memilih, Jane."
"Baby, ayo tunjukkan bakatmu!" perintah Madam Jane.
"Eh?" Ilena masih bingung harus melakukan apa.
"Menarilah, Baby," bisik Madam Jane.
Wanita itu kembali menyalakan musik dan meminta Ilena berdiri di tengah ruangan. Hingga musik berjalan, Ilena masih diam dan tak bergerak.
Blue menunggu dengan setia. Namun hingga lima menit berlalu, Ilena masih diam mematung. Blue mulai bosan dan memutuskan pergi.
"Tunggu, Blue!" cegah Madam Jane.
"Tunggu sebentar lagi. Mungkin dia gugup karena ini pertama kali baginya."
Blue menuruti keinginan Madam Jane. Musik masih mengalun dan Blue menatap Ilena tajam. Tak ingin kalah, Ilena pun menatap tajam Blue.
"Cepat menarilah! Atau kau tidak akan selamat dari sini!" Madam Jane menghampiri Ilena dan berbisik.
Ancaman Madam Jane tentu saja membuat Ilena bergidik ngeri. Bagaimanapun ia harus tetap hidup hingga ia bisa melunasi hutang-hutang Johan.
Tubuh Ilena mulai bergerak mengikuti alunan musik yang menggema di ruangan itu. Ilena memejamkan mata sambil meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Dalam setiap gerakannya ia mengingat apa yang pernah diajarkan Amelia padanya.
..."Kau suka menari kan? Maka menarilah dari hatimu. Dan lakukan dengan segenap jiwamu. Maka akan tercipta gerakan indah yang mampu menghipnotis orang lain."...
Ya, Ilena suka menari. Ia menyukai tubuhnya yang bergerak mengikuti alunan musik. Dan kali ini, setelah sekian lama ia kembali menggerakkan tubuhnya dan membuat semua orang bertepuk tangan dengan bakat yang dimilikinya.
Blue mendekati Madam Jane dan berbisik, "Aku mau dia!"
#
#
#
Mampir juga ke 👇👇👇
__ADS_1