Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
88. Curahan Hati Eryn


__ADS_3

Eryn dan Eldric sudah berada di atas pesawat. Mereka akan menempuh perjalanan panjang menuju Meksiko. Baru lima jam berlalu dan masih ada 11 jam lagi yang harus mereka tempuh.


Langit sudah terlihat gelap dan banyak penumpang yang kini terlelap. Tapi tidak dengan Eryn dan Eldric. Mereka masih terjaga dengan tangan yang saling bertautan.


Eryn menatap suaminya penuh cinta. Dalam hati ia mengucap syukur karena pria yang dicintainya masih hidup hingga sekarang. Meski cobaan demi cobaan menerpa mereka. Namun cinta mampu mengalahkan segalanya. Cinta selalu membawa mereka kembali bertemu.


"Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?" tanya Eldric yang melihat Eryn hanya diam.


Eryn menggeleng. "Tidak apa. Aku hanya sedang mengulang memori beberapa tahun yang lalu."


Eldric makin mengeratkan genggamannya. "Maaf atas apa yang terjadi beberapa tahun ini."


Eryn tersenyum. "Semua kesakitan itu mengajarkanku untuk menjadi kuat. Aku memang sempat ingin mengakhiri hidup, karena aku tidak memiliki siapapun lagi. Dan aku tidak tahu harus bersandar kepada siapa."


Eldric terdiam. Pastinya ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Eryn. Hamil di luar nikah, ditinggalkan keluarganya, dan kehilangan seluruh aset keluarga.


"Maafkan aku..." lirih Eldric.


"Tapi kau tahu, satu hal yang selalu aku ingat dalam setiap napasku. Entah kenapa aku selalu yakin jika kau masih ada di sekitarku. Menghirup udara yang sama denganku, dan selalu menjagaku."


"Keyakinanku memang luruh. Karena selama bertahun-tahun pun kau tidak pernah muncul. Aku sempat marah. Marah pada semuanya karena aku harus mengalami hal pahit ini."


"Ketika Eric bersedia menjadi ayah untuk anakku, aku hanya pasrah dan menerimanya. Tapi kau tahu? Aku tidak pernah benar-benar menerima dia di hatiku. Entahlah. Padahal dia adalah pria yang baik. Seharusnya aku bisa jatuh cinta padanya. Tapi tidak."


"Mungkin karena aku tahu kau masih hidup dan ada di suatu tempat yang entah dimana itu. Aku selalu membayangkan bisa terus melihatmu dalam hembusan napasku."


Eryn menghentikan ceritanya. Tubuhnya mulai lelah. Lalu ia pun memejamkan mata seperti halnya penumpang yang lain. Ia menyusul Noah yang sudah lebih dulu menuju alam mimpi.


#


#


#


Dua jam sebelum tiba di Meksiko,


Eryn dan Noah baru saja menyelesaikan makan pagi diatas pesawat. Eldric menatap mereka dengan penuh rasa syukur. Ia sudah tak sabar untuk hidup bersama dengan keluarga kecilnya. Ia juga berharap Eryn segera hamil agar lebih lengkap kebahagiaan mereka.


"Sayang, saat tiba nanti, apa saja yang ingin kau lakukan?" tanya Eldric.


"El, aku harap kau tidak marah. Setelah kita tiba di Meksiko, aku ingin mengunjungi rumah keluarga Evans. Bagaimanapun juga, keluarga itu cukup berjasa untuk hidupku. Meski bibi Eleanor tidak menyukaiku, tapi aku tetap menganggapnya seperti ibuku."


Eldric tersenyum. "Aku mengerti. Kau adalah wanita yang baik. Aku tidak keberatan kau mengunjungi keluarga Eric."


"Terima kasih, El." Eryn melingkarkan tangannya ke lengan Elrdric.


Setibanya di Meksiko, Carlos menyambut kedatangan Eldric dan Eryn juga Noah. Eldric berpelukan dengan Carlos. Ia ikut bahagia karena Eldric kembali dengan membawa keluarga kecilnya.


"Ayo, semua orang sudah menunggu," ucap Carlos yang membantu barang bawaan Eldric.

__ADS_1


"Jangan bilang kalian menyiapkan pesta kejutan untuk kami? Itu tidak perlu, Carlos. Sungguh! Aku tidak membutuhkan pesta penyambutan," tolak Eryn.


"Sudahlah, Kakak ipar. Serahkan saja semuanya pada kami," sahut David yang juga ikut menjemput mereka.


"David!" seru Eldric lalu memeluk sahabatnya itu.


Eryn tersenyum melihat David ikut datang menjemputnya.


"Terima kasih, Dave. Bagaimana kabarmu dan juga Santa?"


"Aku sengaja menunggu kau pulang agar bisa mengatur pernikahanku nanti."


Eryn tergelak. "Kau sengaja mencari yang gratis ya?"


"Hahahaha." Semuanya tergelak mendengar candaan Eryn."


#


#


#


Malam ini, Santa dan Rose menyiapkan makan malam spesial untuk kepulangan Eryn dan Eldric. Sebenarnya Eryn sudah bilang jika dirinya tidak menginginkan hal-hal semacam ini. Namun setelah dibujuk dan didesak, akhirnya ia setuju juga.


Suasana mansion Eldric menjadi riuh dengan suara gelak tawa yang menggema di taman belakang yang sudah disulap menjadi sebuah area untuk pesta kebun. Agli menyalakan musik beat untuk menambah suasana semakin syahdu.


Semua orang berdansa dan bergembira. Eryn sangat senang melihat kebahagiaan di wajah teman-temannya. Perasaan lega, haru dan bahagia melebur menjadi satu.


"Apa kau tidak bahagia?" lanjutnya.


Eryn menatap Eldric dan merangkum wajahnya. "Aku bahagia, El. Aku senang melihat kegembiraan mereka."


"Lalu kenapa kau menjauh?"


Eryn menggeleng. "Tidak apa. Aku hanya ingin menghirup udara segar saja."


"Ayo, kita kembali bergabung dengan mereka. Aku merasa tidak enak hati jika mereka berpikir yang tidak-tidak."


Eryn setuju. Mereka berdua berjalan bersama dengan tangan yang saling bertautan.


"Terima kasih karena aku bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian. Kalian sudah mengisi hari-hariku yang sempat gelap dan tak bercahaya. Aku senang kini kita bisa tertawa bersama tanpa beban. Setelah banyak hal yang sudah kita lewati bersama, aku berharap kita semua akan selalu mendapatkan kebahagiaan dengan cara kita masing-masing." Eryn menatap semua sahabatnya satu persatu.


"Ayo, kita bersulang!" seru David.


Semua orang mengangkat gelas mereka dan berseru bersama.


"Bersulang!"


"Demi kebahagiaan Eryn dan Black!" seru Carlos.

__ADS_1


"For Eryn and Black!" seru semuanya serempak.


#


#


#


Hari ini Eryn sudah meminta izin pada Eldric untuk berkunjung ke rumah keluarga Evans. Setidaknya ia ingin berterimakasih pada keluarga itu karena sudah memberinya tempat tinggal selama ini.


Tiba di depan rumah, Eryn masih diam didalam mobil. Eldric menatap wanita yang dicintainya itu. Ia merasa jika Eryn ragu untuk menemui Eleanor.


"Sayang, ada apa?" Eldric menggenggam tangan Eryn.


Wanita itu masih diam untuk menguatkan hatinya.


"Jika kau ragu, maka..."


"Tidak! Aku sudah tidak bisa merasa ragu lagi. Aku harus menghadapi ini."


"Mommy! Bukankah ini adalah rumah Daddy Eric?" tanya Noah polos.


"Untuk apa kita kesini?" lanjut bocah kecil itu. Tentunya ia sangat tahu seperti apa perlakuan Eleanor pada ibu dan dirinya. Masih ada sedikit trauma karena Eleanor pernah akan membuangnya ke panti asuhan.


Eryn turun dari mobil dan membukakan pintu belakang lalu meminta Noah untuk turun.


"Ayo, Nak! Kita harus menemui nenek Eleanor," ucap Eryn.


Bocah kecil itu mengerutkan keningnya.


"Kenapa Mommy? Bukankah nenek selalu jahat pada Mommy? Kenapa kita harus menemui dia?"


"Sayang, jangan bicara begitu. Nenek Eleanor sebenarnya orang yang baik, hanya saja dia tidak bisa mengekspresikan rasa sayangnya. Jangan pernah membencinya, Nak. Karena kita adalah keluarga. Ya?" Eryn mensejajarkan tubuhnya dengan Noah untuk memberi pengertian pada putranya itu.


Noah mengangguk paham. Ia menggandeng tangan ayah dan ibunya lalu, berjalan memasuki halaman rumah besar itu.


Eryn menekan bel pintu rumah besar itu. Ia menatap Eldric untuk memberinya kekuatan.


Tak lama terdengar suara kunci pintu diputar kemudian pintu pun terbuka.


Eryn menatap sosok yang membukakan pintu untuknya.


"Eryn...?"


#tobecontinued


*Mohon maap baru sempat UP 🙏


Ada kesibukan kemarin dan hari ini. Semoga setia menanti yah.

__ADS_1


*Detik-detik menuju ending ya genks 😁😁


__ADS_2