Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
115. First Impression


__ADS_3

"Siapa namamu?"


Ilena gugup karena Red makin mendekat padanya. Ia menelan ludahnya kasar. Pria yang kini ada dihadapannya adalah pria yang diam-diam ia kagumi. Pria tampan dengan sejuta pesona yang adalah tunangan kakak tirinya.


Ilena ingin menjawab, namun lidahnya terasa kelu. Ia biarkan saja ruangan itu dalam kesunyian. Dan Ilena terus menundukkan wajahnya.


"Kau tidak mau menjawab?"


Red mengangkat dagu Ilena dan membuat mata mereka bertemu.


DEG


Sekilas Red seperti melihat sosok di masa lalunya. Mata itu. Tatapan mata itu. Teduh seakan menenangkan hati.


Ilena kesakitan karena Red mencengkeram dagunya erat.


"Aku tanya sekali lagi, siapa namamu?" Suara Red mulai melembut.


"Ba-babydoll..." jawab Ilena dengan susah payah.


Red melepaskan tangannya. "Jadi kau adalah anak didik Johan?"


Ilena menggeleng. "Bukan!"


"Apa kau bersekongkol dengannya?"


Ilena menggeleng. "Tidak!"


"Kau tahu apa hukuman untuk seorang pengkhianat? Johan sudah meminjam uang dariku dan kini dia mencuri uangku! Dia pantas dihukum mati!"


Ilena membulatkan mata. Ia menggeleng kuat. "Jangan, Tuan! Bukankah kalian sudah memakaiku untuk menebus hutang tuan Johan? Kenapa Tuan tetap ingin menghukumnya? Aku akan membayar semua hutang tuan Johan, tapi tolong jangan sakiti dia!"


Red mengernyit heran. "Kau ini siapanya? Apa kau gadis kecil simpanannya?"


"Kumohon, Tuan!"


"Jangan memanggilku, Tuan!" bentak Red.


Ilena memejamkan mata merasakan suara Red yang menggelegar.


"Baiklah, apa kompensasi yang kudapat jika aku melepaskan Johan?"


"Ha?!" Ilena terbelalak. "Kompensasi?"


Red menyeringai. Ia tahu kelemahan gadis ini. "Iya! Jika kau ingin Johan selamat, maka kau harus memberikan sesuatu sebagai gantinya."


Ilena mendelik. Ia berpikir keras. Menjadi penari penghibur ternyata masih belum cukup untuk menebus semua hutang Johan. Meski pria itu sudah berbuat jahat padanya dan anak-anak panti, tapi tetap saja jika tidak ada panti asuhan milik Johan, maka Ilena akan hidup terlunta-lunta tanpa adanya sanak saudara.


"Apapun yang Tuan inginkan, akan aku kabulkan!" Entah kenapa Ilena menjawab seperti itu pada Red.


"Panggil aku Red! Bukan tuan!" titahnya.


"Baiklah, Red." Ilena kembali menundukkan wajahnya.


"Sekarang pergilah!"


Ilena mengangguk. Ia segera keluar dari kamar yang menyesakkan itu. Rasanya disana ia tak bisa menghirup oksigen dengan bebas.


Ilena memegangi dadanya. Dia begitu dekat dengan Red. Dan kini ia sudah terikat dengan pria itu. Ia sudah berjanji akan menebus hutang-hutang Johan pada Red.


Ilena kembali ke dalam kamarnya. Masih sunyi karena semua temannya sedang melayani para pelanggan VIP itu. Ilena memutuskan untuk menghapus make up nya dan berganti pakaian dengan lingerie tidur yang disediakan di tempat itu.


Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam namun teman-temannya belum ada yang kembali.


"Ya Tuhan, apa ini adalah keputusan yang tepat? Aku masuk kedalam lingkaran dunia yang menyesakkan ini," batin Ilena.


Ilena merasa tenggorokannya kering. Ia pun keluar kamar dan menuju dapur. Area itu sudah sepi karena sudah larut malam.


Ilena mengambil satu botol air putih untuk ia bawa kedalam kamar. Ia mudah merasa haus di malam hari.


Ilena berjalan kembali ke kamar. Namun di tengah perjalanan tangan Ilena ditarik ke sebuah lorong gelap yang sepi.

__ADS_1


"Siapa kau? Apa yang ka..."


Suara Ilena tercekat karena orang itu langsung membungkam bibirnya. Ilena berusaha berontak namun sia-sia saja. Tubuh pria mabuk itu lebih kuat darinya. Tentu saja Ilena yang bertubuh mungil tak bisa melawan ketika pria itu makin memperdalam ciumannya.


Akhirnya Ilena pasrah. Pria itu menang. Ilena mulai terbuai dengan setiap gerakan yang dilakukan pria itu.


"Selena..." gumam pria itu.


DEG


Seketika Ilena sadar siapa orang yang sedang mencium bibirnya dengan rakus. Dia adalah tunangan kakaknya.


Akal sehat Ilena mulai bekerja. Tidak mungkin dia bermain api dengan calon kakak iparnya sendiri.


Ilena berusaha mendorong tubuh Red. Ia berusaha melepaskan pagutan maut pria itu.


Namun Ilena kalah. Ia telah kalah. Ia juga mengagumi pria ini. Pria dengan tatapan tajam dan dingin yang membuatnya luruh dan masuk kedalam lingkaran api gairah.


Ini adalah ciuman pertama Ilena. Ia masih kaku. Namun Red mengajarinya dengan sabar.


"Kenapa kau kaku sekali, sayang? Bukankah biasanya kau sangat lihai?"


Ilena tahu jika Red menganggapnya sebagai Selena. Tapi otaknya tak bisa bekerja saat ini. Mungkin dengan begini ia bisa merasakan sentuhan berbeda dari seorang pria. Dan itu adalah Red.


Meski Red terlihat kasar diluar, tapi dalam hatinya yang terdalam jika dirinya lemah. Semua sikap dingin itu luluh. Ilena tahu itu.


Kini Ilena mulai bisa mengimbangi gerakan Red. Lama mereka beradu bibir di lorong gelap yang dipenuhi suara decapan dari keduanya.


Ilena menyukai ini. Ilena menyukai setiap sentuhan Red. Meski Red adalah milik kakaknya. Meski mereka melakukan ini secara tak sadar karena Red di bawah pengaruh alkohol. Namun Ilena menyukainya.


#


#


#


Red ambruk. Ia tak sadarkan diri. Ilena segera membawa tubuh Red kembali ke dalam kamarnya.


Keesokan harinya, Red terbangun dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdengung.


"Akh! Pusing sekali!" gumam Red.


Red kembali mengingat kenapa dirinya bisa sampai mabuk. Usai bertemu dengan Ilena, Red menghubungi orang kepercayaannya yang ia minta untuk mengawasi Selena. Oeang itu bilang jika Selena kini berada di luar negeri. Ia melakukan pekerjaan disana tanpa sepengetahuan Red.


Red murka. Ia marah karena tunangannya itu tidak pernah berdiskusi dulu dengannya sebelum mengambil keputusan. Gadis itu selalu melakukan apa yang ia inginkan sesuka hatinya.


Red minum banyak anggur hingga dirinya mabuk. Ia keluar kamar karena merasa tenggorokannya sangat kering.


Lalu samar-samar ingatannya menangkap kejadian yang entah itu nyata atau tidak. Red memegangi bibirnya. Bayangan sosok seorang gadis membuatnya kembali memegangi kepala.


"Apakah itu nyata? Kami berciuman dengan sangat intens di dalam sebuah lorong gelap. Tapi siapa dia?"


Red memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Ia kembali mematung karena melihat sepatunya ada di lantai. Seingatnya semalam ia tak melepas sepatunya.


"Jadi, mungkinkah semua itu memang nyata? Siapa gadis yang berani menciumku tanpa seizin dariku? Kurang ajar!"


Red mengepalkan tangannya. Ia lalu menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


#


#


#


Di sisi Ilena, ia juga harap-harap cemas dengan kejadian semalam.


"Apa saat bertemu nanti, dia ingat siapa aku? Atau dia lupa?"


Ilena merutuki kebodohannya sendiri. Sebisa mungkin ia akan bersikap jika tak terjadi apapun malam tadi. Ilena menguatkan dirinya sendiri.


Hingga akhirnya suara Madam Jane menginterupsi para gadis di kamar itu.

__ADS_1


"Girls, sudah saatnya latihan. Baby! Kau yang memimpin ya!" ucap Madam Jane.


Prestasi awal Ilena yang dibilang cukup bagus membuatnya kini mulai terkenal diantara para penari lainnya. Madam Jane percaya pada Ilena untuk membuat beberapa gerakan baru.


Ternyata sifat Ilena yang mudah bergaul membuat para penari lain senang berada didekatnya. Ia juga tak sungkan berbagi ilmu dengan teman yang lainnya.


Dan tak terasa sudah satu bulan Ilena tinggal di tempat ini. Hari ini semua orang menerima penghasilan dari hasil kerja keras mereka.


Blondy dan Sweety mengirim penghasilan untuk ibu mereka. Barbie juga mengirim untuk ibu dan adik-adiknya. Begitu juga dengan Darla.


Namun nasib malang harus menimpa Ilena. Ia bahkan tak mendapatkan sepeserpun karena mereka bilang uang itu untuk membayar hutang Johan pada cassino mereka.


Ilena tahu jika ia harus membayar hutang milik Johan, tapi ia sudah bilang jika penghasilannya harus ada yang dikirimkan ke panti asuhan agar anak-anak panti tetap bisa bertahan hidup.


Selama sebulan ini Ilena banyak mendapat tips dari pelanggan yang langsung dipegang oleh pihak klub. Dan Ilena mau jika hasil dari tipsnya di berikan untuk anak-anak panti.


Karena merasa dibohongi, dengan berani Ilena mendatangi Red di ruangannya. Ia sudah tak peduli dengan siapa posisi Red disini. Ia hanya ingin memperjuangkan haknya sebagai seorang pekerja disini. Dan ia tak ingin diinjak-injak hanya karena dia makhluk lemah.


"Permisi, Red!" Ilena masuk ke ruangan Red tanpa mengetuk pintu. Suatu hal yang baru terjadi disini dan dilakukan oleh seorang gadis kecil.


Ilena meneriakkan haknya. Ia tak ingin mengambil uang itu, tapi ia ingin uang itu untuk anak-anak panti.


Kehebohan yang terjadi di ruangan Red, memicu kedatangan beberapa orang bertubuh besar yang membuat Ilena harus di hukum.


"Lepaskan!" Ilena memberontak.


"Kau baru bekerja disini selama satu bulan dan kau sudah berani mengaturku hanya karena kau sedang menjadi seorang bintang. Kau hanya gadis kecil yang seperti sampah! Aku bisa membuangmu ke kandang buaya jika aku mau. Dan aku bisa mendapatkan 100 gadis yang lebih baik darimu untuk bekerja disini."


Red menelisik Ilena lekat.


"Kurung dia di ruang bawah tanah!" perintah Red.


"Ha?!" Ilena tak percaya jika dirinya akan dihukum seperti ini.


"Lepaskan aku! Dasar tidak tahu diri! Kau akan mendapatkan balasannya!" Ilena masih berani berteriak pada Red.


Tubuh Ilena diseret di depan teman-temannya. Tidak akan ada yang bisa menolongnya. Mereka hanya menatap Ilena iba.


Red menggeram kesal. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani berteriak di depannya.


DEG


Entah kenapa keberanian Ilena mampu membangkitkan kenangan masa lalu Red tentang seseorang.


"Selena...?"


Sebuah rasa menggelitik batinnya yang terus mempertanyakan, benarkah jika dirinya menemukan gadis yang tepat? Lalu, bagaimana jika ternyata bukan?


"Tatapan gadis itu...?"


Red segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang bawah tanah. Penjagaan ketat dilakukan untuk mereka yang bersalah dan mendapatkan hukuman.


Para penjaga memberi hormat pada Red. Tak biasanya orang nomer 1 di klub datang langsung ke ruang bawah tanah untuk menemui si tersangka.


Suara pintu yang terbuka membuat Ilena yang sedang duduk meringkuk di tanah sontak berdiri. Tatapannya mengarah tajam pada sosok di depannya.


Red menghampiri Ilena dan langsung mencengkeram kedua bahu Ilena.


"Akh!" Ilena memekik karena cengkraman kuat tangan Red.


Tatapan dingin Red menusuk masuk kedalam mata Ilena.


"Siapa kau sebenarnya?"


#tobecontinued...


*hmm kira2 apakah Red bisa mengenali Purple?


*mohon maaf telat UP🙏🙏


Yuk mampir juga ke karya ongoing di NT : My Culun CEO 😘😘

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2