Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
99. Keberanian Eryn


__ADS_3

Derap langkah kaki itu semakin mendekati Elza yang dengan berani meneriaki sosok itu. Sosok yang amat dikenali oleh ketiga wanita yang kini sedang ketakutan itu makin mendekat. Deru napas ketiganya yang panik dan ketakutan membuat sosok itu makin terpacu untuk mengerjai mereka.


Ia mengangkat dagu Elza dan menatap gadis itu dengan tajam.


"Dimana Eryn dan Rose?" tanya sosok itu.


Elza makin takut ketika ternyata orang ini hanya menginginkan dua wanita itu. "Katakan dimana mereka atau salah satu dari mereka akan kulenyapkan lebih dulu."


"Apa maumu, Santoz? Kau bukanlah pria yang seperti ini!" ucap Elza berani. Meski dalam hati ia begitu takut dengan tatapan membunuh pria ini.


Setelah menghilang selama satu tahun, tiba-tiba saja dia datang dengan kekuatan besar dan menghancurkan segalanya ketika orang-orang mulai merasakan kebahagiaan. Sosok itu adalah Santoz. Pria yang merasakan betapa sakitnya kehilangan. Kini ia akan membalas agar mereka tahu seperti apa rasanya kehilangan.


"Aku hanya ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan!"


Elza menggeleng cepat.


"Kakakmu yang sudah membunuh istriku. Tapi itu semua terjadi karena siapa? Karena wanita bernama Eryn itu. Dia selalu menjadi akar masalah dari semua yang terjadi."


"Bos, sepertinya mereka ada di dalam kamar. Ada satu kamar yang terkunci," lapor salah seorang anak buah Santoz.


"Ah, baguslah! Kau lihat, Elza. Kepedihan akan segera mereka rasakan."


"Tidak! Jangan sakiti mereka! Bunuh saja aku!" teriak Elza.


Santoz segera menghentikan langkahnya. Ia menggeleng pelan.


"Tidak! Aku tidak akan membunuhmu sekarang! Terlalu cepat dan terlalu mudah jika semua ini cepat berakhir."


Santoz melanjutkan langkahnya menuju kamar yang dimaksud. Didalam kamar, Eryn dan Rose sudah ketakutan. Eryn memang sudah mengunci pintu namun pastinya Santoz dengan mudah mendobraknya.

__ADS_1


Dengan satu tendangan pintu kamar itu terbuka. Jeritan Eryn dan Rose menggema di kamar itu.


"Halo, Nyonya Eryn, Nona Rose!" sapa Santoz dengan seringai mengerikan.


"Kau! Bagaimana bisa kau melakukan ini? El bahkan sudah menolongmu," teriak Eryn.


"Aku manusia biasa dan aku bisa menyimpan dendam juga. Jadi, bersiaplah! Black juga harus merasakan apa yang aku rasakan. Dimulai dari kau! Rose!"


"Hah?!" Mata Rose membulat sempurna.


Eryn menghadang tubuh Santoz yang semakin mendekat. Ia menghalangi tubuh Rose yang beringsut di belakang Eryn.


Namun Rose kemudian maju dan menendang perut Santoz. Pria itu terhuyung ke belakang. Ia makin kalap dan memberikan sebuah pukulan di perut Rose.


Rose terpekik kesakitan. Tubuhnya dilempar ke atas tempat tidur.


"Rose!" Dengan berani Eryn maju dan melawan Santoz. Tapi tetap saja tenaganya kalah dengan pria itu. Entah sejak kapan pria pendiam ini berubah menjadi psikopat seperti ini.


Tubuh Eryn menghantam lantai. Kepalanya terantuk meja dan mengeluarkan darah. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia mulai kehilangan kesadarannya.


Santoz beralih pada Rose yang masih merintih diatas tempat tidur. Suara rintihan Rose terdengar merdu di telinga Santoz. Laki-laki itu segera naik ke atas ranjang dan menindih tubuh Rose.


Tangannya menyentuh tubuh Rose dengan sensual. "Hmm, apa jadinya jika Carlos tahu tubuh wanita yang dicintainya pernah dijamah oleh orang lain?"


"Tidak! Jangan!" Rose menangis dengan menahan sakit di perutnya.


"Jangan bicara, Nona. Sebaiknya kau merintih saja di bawahku!"


Pria ini sudah seperti kesetanan. Dengan brutal ia membuka paksa pakaian Rose dan membuatnya polos. Rose tak berdaya ketika pria itu juga membuka pakaiannya.

__ADS_1


"Kumohon jangan!" Rose beringsut dan berhenti di sandaran ranjang. Tak ada lagi tempat untuk lari.


Pria itu menarik tubuh Rose dengan kasar. Dengan sekali hentak Santoz memasuki Rose dengan brutal. Tubuh Rose bergetar hebat karena Santoz mengguncangnya dengan semangat dendam yang membara.


Air mata Rose telah luruh sejak tadi. Bayangan Carlos memenuhi pikirannya. Dalam hati ia terus meminta maaf pada Carlos.


Dengan mengerang nikmat Santoz terus bergerak. Ia memang menginginkan ini sejak dulu. Setelah istrinya meninggal, baru kali ini ia merasai lagi lembah wanita yang begitu menggairahkan.


Santoz yang melihat air mata Rose terus mengalir, segera menghapusnya. "Jangan menangis. Jika Carlos tidak menerimamu lagi, maka aku bersedia menerimamu untuk menjadi jal4ngku, hahaha."


Suara gelak tawa Santoz membuat Eryn mulai tersadar. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia menatap nanar tubuh Santoz yang sedang berada diatas tubuh Rose.


"Tidak!" teriak batin Eryn. Ia menangis melihat tak berdayanya Rose dibawah kungkungan Santoz.


Eryn bangkit dan mencari benda yang bisa ia gunakan untuk menghabisi Santoz. Ya, lelaki ini pantas mati. Begitulah Eryn terus bergumam dalam hati.


Ia melihat sebuah pistol tergeletak di lantai. Itu adalah pistol milik Santoz. Pastinya terlempar ketika pria itu melucuti pakaiannya.


DOR!


Satu peluru berhasil Eryn lepaskan kearah punggung Santoz. Dengan kilatan amarah Santoz menghentikan permainannya dan menatap Eryn.


DOR!


Satu lagi peluru bersarang di tubuh Santoz. Dan bodohnya anak buah Santoz tak ada yang masuk kedalam kamar itu karena mengira salah satu dari wanita itu yang tertembak.


#


#

__ADS_1


#


Next?


__ADS_2