Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
139. Karma dalam Sebuah Takdir


__ADS_3

Seorang gadis cantik turun dari pesawat dan langsung diberondong oleh berbagai pertanyaan dari para wartawan. Dia adalah Selena Adams, yang baru saja kembali setelah mengembangkan karirnya di luar negeri.


Senyumnya mengembang lebar karena pastinya semua orang sangat ingin tahu dengan kesuksesan Selena selama berkarir di luar negri. Tapi ternyata apa yang didapatkan tak sesuai dengan harapannya.


Para wartawan tidak menanyakan soal karirnya. Tapi tentang skandal yang dilakukan oleh ayah sambungnya, Ralph.


Selena mengepalkan tangannya. Bahkan di layar besar yang ada di bandara juga menampilkan tentang berita buruk mengenai keluarganya.


"Sial! Apa Ibu tidak bisa mengurus semua ini sendiri, huh?!" geram Selena yang langsung kabur dan tak menanggapi semua pertanyaan wartawan.


Selena muak. Ia muak dengan tingkah ibunya yang selalu membuat masalah. Pria kepercayaan ayahnya dulu kini telah berubah setelah mendapatkan seluruh harta keluarga Adams.


Ternyata selama ini Ralph memang sengaja mendekati Sorena untuk mengeruk harta Brian saja. Selena mulai mengetahui itu ketika ayah sambungnya itu kedapatan memiliki wanita idaman lain dalam pernikahannya.


Selena pernah mengingatkan Ibunya namun Sorena lebih percaya pada Ralph dari pada putrinya. Alhasil, inilah yang sekarang terjadi dengan keluarga terpandang itu.


Selena tiba di rumahnya dan disana juga banyak sekali wartawan yang mengepung rumah mereka.


"Astaga! Apa mereka tidak bisa membiarkan aku hidup tenang, huh?!"


Selena mengusir semua wartawan yang berkerumun di depan rumahnya. Ia tak peduli lagi citranya sebagai selebritis akan menurun karena berani mengusir wartawan.


Selena sudah tak peduli lagi dengan itu. Ia hanya ingin hidup tenang mulai dari sekarang.


"Ibu!" teriak Selena menggelegar. Emosinya tak bisa lagi ia tahan.


Selena melihat Sorena mendekat dengan ketakutan. Wanita paruh baya itu tahu jika putrinya sedang sangat marah.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku baru saja pulang dan Ibu sudah membuat masalah?!" ucap Selena dengan nada dingin.


"Maafkan ibu, Selena." Sorena berlutut dan memegangi kaki Selena.


"Lepas!" Selena menepis tangan Sorena.


"Selena..."


"Inilah akibatnya karena ibu tidak mendengarkan apa yang aku katakan! Terserah saja ibu mau melakukan apa. Tapi jangan sampai membawa namaku lagi! Aku sudah muak dengan semua ini! Mulai detik ini aku akan keluar dari rumah ini!" teriak Selena dan membuat Sorena semakin bertambah sedih.


#


#


#


Lidia yang kemarin terbaring koma, kini sudah mulai melakukan aktifitasnya. Dengan dibantu White, putra semata wayangnya, Lidia kini tinggal di apartemen White.


Sebenarnya Lidia ingin kembali ke rumahnya di Indonesia. Dia lebih suka tinggal disana karena suasananya lebih tenang.


Tapi White tidak mengizinkannya karena sekarang Lidia adalah tanggung jawabnya. Untuk Ilena, sudah ada Dharma yang menjaga, jadi Lidia tidak perlu khawatir.


"Bagaimana kondisi Ibu?" tanya White.


"Sudah lebih baik, Nak. Terima kasih. Kau lihat berita di televisi hari ini? Keluarga Adams sepertinya mulai mengalami kehancurannya. Mungkin ini karma untuk mereka."


"Iya, Bu. Mungkin sudah saatnya mereka menerima ganjaran atas apa yang mereka lakukan terhadap Ilena." timpal White.


Di tempat berbeda, Ilena ditemani Dharma juga sedang menonton berita di televisi. Semua stasiun TV menayangkan berita tentang skandal keluarga Adams dan juga kabangkrutan perusahaan milik ayah Ilena itu.


Sebenarnya Ilena tidak terima dengan semua itu karena perusahaan ayahnya dibangun dengan keringat dan kerja keras. Tapi sang ibu tiri tega sekali membuat semuanya hancur tak bersisa lagi. Bahkan Ilena tak tahu lagi harus bagaimana dengan nasib anak-anak panti setelah tidak memakai saham miliknya untuk bertahan hidup.


Dharma mengusap punggung Ilena. Pria itu terus menenangkan dan menyemangati Ilena.


"Aku baik-baik saja, Dharma. Bisakah kau menemaniku ke tempat bibi Lidia?" ucap Ilena.


"Tentu saja. Kapan kau ingin kesana?"


Ilena dan Dharma kini tinggal di sebuah rumah sederhana yang ada di pinggir kota Rio. Ilena ingin kembali ke Indonesia saja, tapi disini banyak yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


"Mungkin besok. Aku juga ingin pergi ke panti asuhan. Kau tidak keberatan mengantarku kesana?" tanya Ilena. Entah kenapa rasanya ia mulai cemas dengan hubungannya dan Dharma.


"Iya, aku pasti akan mengantarkanmu. Sekarang kita makan dulu ya! Aku sudah siapkan makanan sederhana untuk kita."


"Terima kasih, Dharma. Kau adalah yang terbaik." Ilena mengulas senyumnya.


"Jangan berterimakasih. Aku melakukannya karena aku mencintaimu." Dharma mengecup sekilas bibir Ilena.


Cinta? Apakah Ilena juga merasakan hal yang sama? Hingga saat ini Ilena belum mengatakan apapun tentang perasaannya terhadap Dharma.

__ADS_1


Ilena memegangi dadanya ketika melihat Dharma menjauh menuju meja makan. Ilena membutuhkan Dharma dalam hidupnya. Namun entah kenapa hatinya terasa berbeda meski setiap saat ia bersama Dharma.


"Hatiku? Ada apa dengan hatiku?" batin Ilena.


"Ilena... Ilena..." Suara itu masih terngiang di telinga Ilena. Suara lirih pria yang selalu di bencinya namun selalu mengucapkan namanya bahkan ketika dirinya sedang tidak sadarkan diri.


Usai makan malam, baik Ilena maupun Dharma kembali ke kamar masing-masing. Meski Ilena mulai menerima Dharma sebagai seorang suami, tapi dirinya belum sepenuhnya bisa menerima kontak fisik yang berlebihan.


Ilena duduk di tepi ranjang dan mengambil buku hariannya. Buku harian baru yang dibelinya bersama Dharma. Lalu ia juga ingat jika Red sudah mengembalikan buku harian miliknya yang dulu diambil Selena.


Kenangan masa kecilnya kembali menguar. Ternyata Ilena masih belum sadar jika Red adalah pria dari masa lalunya. Ia pikir Red hanya ingin mengembalikan buku harian itu saja karena itu memang milik Ilena. Ilena banyak melupakan kenangan masa kecilnya karena hanya ada penderitaan saja disana.


"Dia memanggilku apa kemarin?" gumam Ilena.


Suara debur ombak yang cukup keras dan juga suara Red yang lirih, membuat Ilena masih belum paham situasinya. Saat itu yang ia pikirkan hanyalah Dharma yang sudah menunggunya. Ia hanya ingin menuntaskan masalahnya dengan Red. Itu saja!


Ilena kembali membuka lembar demi lembar buku harian yang sudah sepuluh tahun lebih berlalu. Semua kesakitan dan kebahagiaan ia tuliskan disana. Meski lebih banyak kesakitan dari pada kebahagiaan.


#


#


#


White mendatangi sebuah klub malam karena undangan teman-temannya. Sudah lama juga ia tak pernah mendatangi klub malam sejak sibuk dengan pekerjaannya.


White menyapa teman-temannya yang duduk di meja VIP. Seorang temannya langsung menyodorkan satu gelas wine kearah White.


"Ayolah! Jangan karena kau seorang dokter kau menolak untuk minum!" bujuk seorang temannya bernama Alex.


Tanpa ragu White menenggak habis minuman dalam gelas itu. Teman-teman White bertepuk tangan karena White menuruti keinginan mereka.


"Bagaimana kabar sahabatmu Red? Kudengar dia lumpuh sekarang!" tanya Alex.


"Mungkin ini karma untuknya." sahut Daniel.


"Dia selalu bersikap arogan dan sok berkuasa. Mungkin ini balasan untuknya." timpal Pirlo.


White hanya diam. Ia tak ingin menanggapi apapun omongan teman temannya.


"Iya, benar itu Selena. Setelah gagal menikah dia pergi ke luar negeri dan kini kembali saat keluarganya hancur. Benar benar malang!" timpal Alex.


"Bagaimana kalau kita bertaruh?" usul Daniel.


"Taruhan apa?!" jawab Pirlo yang antusias.


"Siapa diantara kita yang bisa mendekati Selena dan membawanya ke ranjang kita?" ucap Daniel enteng.


"Wow! Wow! Sebuah ide bagus! Kurasa dia tidak akan jual mahal lagi seperti dulu. Secara dia sudah tidak punya muka lagi di depan semua orang! Ha ha ha!" sahut Pirlo.


"Andrew, kau juga ikutan kan?" tanya Alex.


Sejak tadi White ternyata memperhatikan Selena yang sedang minum di meja bar. Gadis itu nampak kacau. Dan jika teman temannya benar melakukan taruhan maka...


BRAK!


White menggebrak meja. Ia meneguk habis minumannya lalu berjalan pergi meninggalkan teman temannya yang menatapnya heran.


"Hei, Bung! Kau mau kemana?" tanya Alex yanh tak digubris oleh White.


White menghampiri Selena dan menarik lengan gadis itu.


"Lepaskan! Siapa kau?" tolak Selena saat belum tahu siapa yang menarik lengannya.


"Andrew?" seru Ilena heran.


"Ayo pergi!" ucap White dingin.


"Tidak mau! Aku masih ingin minum," tolak Selena.


"Turuti saja perintahku atau kau ingin di lahap habis oleh para pria disini? Semua orang sudah tahu skandal keluargamu. Mereka tidak akan peduli lagi padamu. Tidak akan ada yang mau menolongmu meski terjadi hal buruk padamu!" bisik White di telinga Selena.


Selena melihat sekelilingnya yang memang menatapnya dengan lapar. Dulu Selena sering melecehkan orang-orang dan bersikap sombong. Sekarang tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari seorang Selena selain harga dirinya.


"Baiklah! Aku akan ikut denganmu!" putus Selena.


White membawa Selena pergi dari sana dan membuat teman teman White melongo tak percaya jika White lah pemenang taruhan mereka.

__ADS_1


Tiba di parkiran, White meminta Selena untuk masuk ke dalam mobilnya. Selena menurut. Jujur saja, sudah sangat lama mereka tidak berjumpa. Ada sedikit rasa menggelitik di hati Selena ketika menatap White yang kini lebih matang dari sebelumnya.


"Apartemenmu masih yang lama?" tanya White ketika mobil mulai melaju.


"Iya." jawab Selena singkat dengan melirik White.


Dan setelahnya tak ada lagi percakapan yang terjadi. Hingga akhirnya mobil White tiba di parkiran basement apartemen Selena. Mereka masih diam di dalam mobil.


Sepertinya banyak kata yang ingin terucap namun tak bisa diucapkan.


"Terima kasih sudah mengantarku. Kapan kau kembali kemari?" tanya Selena untuk mengusir rasa canggung.


Saat itu White pergi tanpa berpamitan dan tanpa menyelesaikan kontraknya dengan Selena.


White hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"Kau mau mampir?" tawar Selena.


"Aku..."


"Baiklah, aku tunggu di kamarku!" cegat Selena yang tak suka dengan penolakan. Ia segera membuka pintu mobil dan keluar. Ia berjalan menuju lift dan menekan tombol dimana kamarnya berada.


Saat pintu lift hampir tertutup rapat...


"Tunggu!" Sebuah tangan mencekal pintu untuk tertutup.


Selena tersenyum karena White ternyata mengikutinya. Tanpa ragu lagi White masuk ke dalam lift dan menyambar bibir Selena yang berwarna merah menyala.


Selena melingkarkan tangannya ke leher White agar memperdalam ciuman mereka. Selena sangat merindukan sentuhan White.


Jujur saja selama satu tahun ini, Selena tidak berkencan dengan siapapun. Ia masih mengharapkan White yang menyentuhnya. Dan hanya White saja.


Begitu juga dengan White yang tak menyentuh gadis manapun selain Selena setelah mereka berpisah. Di dalam lift mereka saling beradu dan saling bertukar rasa. Kerinduan yang mendalam jelas terpancar dari kedua insan yang sedang dilanda gairah.


TING!


Pintu lift terbuka dan ada penghuni apartemen yang akan masuk. Selena dan White saling memisahkan diri dan merapikan penampilan mereka.


Kecanggungan sempat terjadi karena mereka masih malu untuk mengungkap rasa. Seorang wanita paruh baya yang kini satu ruang lift dengan mereka hanya bisa menggeleng pelan. Sepertinya ia tahu apa yang sedang terjadi disini.


Lift kembali terhenti dan kini giliran Selena dan White yang harus keluar. Sebelum keluar wanita paruh baya itu berpesan pada Selena.


"Jangan menyia-nyiakan hidupmu lagi dan mulailah dari awal!"


Selena keluar dengan masih bingung situasi yang terjadi. Ia memandangi punggung White yang sudah tiba di depan kamar apartemennya.


Selena membuka kode kunci kamarnya lalu masuk diikuti White.


"Kau ingin minum teh atau..."


Pertanyaan Selena menggantung karena White kembali melahap bibirnya. Mungkin inilah yang dimaksud oleh wanita paruh baya tadi.


Selena tidak boleh menyia-nyiakan pria yang sudah memberinya sentuhan dan juga kehangatan. Selena harus bisa memulai hidupnya yang baru bersama dengan White.


Entah bagaimana mulainya, akhirnya kini mereka berada diatas ranjang dan sudah tak memakai sehelai benangpun. Selena sangat menyukai sentuhan White hingga membuatnya melayang ke angkasa.


"Oh, Andrew..."


Selena memejamkan mata ketika sesuatu mengalir dari tubuhnya hanya dengan sentuhan bibir White dipusat tubuhnya.


White menatap Selena dengan penuh damba.


"Aku merindukanmu, Andrew... Aku tidak melakukannya dengan siapapun karena aku hanya ingin kau yang menyentuhku," lirih Selena.


White tersenyum. Ia mencium bibir Selena dengan lembut sambil melesakkan pusaka miliknya yang berharga.


Selena sedikit meringis kesakitan karena sudah lama tak ada yang menjamah miliknya.


"Marry me..." ucap White sambil bergerak pelan diatas tubuh Selena.


Selena mengangguk dan memeluk tubuh liat White yang ia rindukan.


"Yes, I do..."


Selena memejamkan mata merasakan getaran hebat dalam tubuhnya karena ulah White.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2