Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
57. Menyusun Rencana


__ADS_3

Saat ini Black dan timnya sedang menyusun rencana untuk bisa mengalahkan Eric dan menangkapnya. Prioritas utama Dixon adalah menangkap Eric dan bukan membunuhnya. Meski nanti di akhir akan ada pertempuran dan pertumpahan darah, tapi sebisa mungkin Dixon ingin bisa menangkap Eric dan menghukumnya sesuai dengan hukum yang berlaku.


Ketika semua orang sedang berdiskusi, tiba-tiba Santa datang dengan berlari dan meneriakkan nama Black. Sontak mereka menoleh kearah Santa dengan tatapan heran.


"Black!" panggil Santa.


"Ada apa, Santa? Kenapa kau berlarian?" tanya Carlos sedikit kesal dengan gadis itu.


"Ini, Black! Aku menemukan ini saat merapikan kamar nona Eryn." Santa menyerahkan sebuah surat kepada Black.


Black menerima surat dari Santa dan membukanya. Itu adalah tulisan tangan Eryn. Black mengenalinya. Ia membaca surat itu dengan seksama.


..."El, jika kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak berada di dekatmu. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, tapi percayalah, aku hanya ingin kau lebih fokus dengan pekerjaanmu. Dan aku juga harus menemui Noah....


...Oh ya, ini adalah data yang diberikan oleh Lolita. Dia bilang jika isinya adalah berkas kejahatan Eric selama ini. Entah apakah dia benar-benar ingin menolong kita atau itu hanya jebakan. Kau harus memastikannya sendiri....


...Jika semuanya telah selesai, aku ingin kau bisa menyusulku kemari. Aku menunggumu, El. Kau harus ingat jika aku selalu mencintaimu dan hanya mencintaimu..."...


Black menghela napas. Ia menatap sebuah kartu memori yang ditinggalkan Eryn.


"Caesar, coba kau periksa ini!" perintah Black.


"Menurut surat Eryn, jika kartu itu berisi berkas kejahatan milik Eric selama ini. Lolita yang memberikannya pada Eryn," lanjutnya.


"Tapi, Lolita adalah istri Eric. Apa mungkin dia akan mengkhianati Eric?" ucap Carlos sedikit ragu.


"Entahlah. Kita tunggu setelah Caesar memeriksanya," balas Black.


Semua orang menunggu dengan was-was apa yang ada di dalam kartu memori itu.


"Bagaimana Caesar?" tanya Dixon.


"Ini memang benar berkas kejahatan milik Eric. Disini tertulis jika Eric menyimpan semua rahasia di kota Rio, Brasil." Caesar menatap semua orang.


"Kita harus memastikannya dulu, Black. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" Dixon menepuk pundak Black.


Di sebuah perkampungan di pinggiran kota Meksiko, Lolita kini sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang tak lain adalah Santoz. Pria itu sedang memangku putranya sambil menatap Lolita.


"Terima kasih karena bersedia menemuiku. Aku senang kau dan putramu hidup dengan baik. Oh ya, siapa nama anakmu?" ucap Lolita membuka pembicaraan.


"Aku memberinya nama Rue Sanchez," jawab Santoz.


Lolita tersenyum. "Nama yang bagus. Aku yakin dia akan menjadi orang yang hebat suatu saat nanti."


"Ada apa kau ingin menemuiku, Nyonya? Kuharap kau benar-benar bisa menjaga rahasia tentang tempat tinggalku sekarang. Aku kini hidup bersama ibuku disini. Dan kami sudah hidup tenang tanpa gangguan dari suamimu." Santoz masih bersikap dingin pada Lolita.


"Maafkan aku, Santoz. Aku bukan ingin menyulitkanmu, tapi ... ini untuk kebaikan kita bersama."


Tiba-tiba muncul beberapa pria di belakang Santoz. Pria itu berjingkat kaget melihat dirinya telah terkepung.


Lolita menghampiri Santoz.


"Berikan putramu padaku dulu!" pinta Lolita.


Santoz sempat ragu. Namun Lolita meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja.


Santoz pun mengalah. Ia menyerahkan putranya untuk dibawa oleh Lolita.


Di sisi lain, Eric kembali mendapat kabar jika istrinya telah membocorkan rahasia perusahaan Eric kepada Eryn. Namun Eric tidak bisa memastikan apakah Eryn sudah menyerahkannya pada Black atau belum.


Meski sempat kesal, tapi bukan Eric namanya jika harus berdiam diri menunggu serangan musuh.


"Kita akan menyusun rencana, Enrique. Atur jadwal untuk bisa ke Rio secepatnya," titah Eric.

__ADS_1


"Belum ada pergerakan dari pihak Black, Tuan. Sepertinya mereka belum mengetahui soal berkas itu."


"Kau jangan menganggap remeh Eldric, Enrique. Dia cukup pintar dengan anak buah amatirannya itu. Ditambah lagi ada Dixon yang memihaknya."


Eric mengusap dagunya.


"Kita akan bertarung melawan waktu, Enrique. Siapa yang akan memenangkan pertarungan ini? Kita akan segera mengetahuinya."


Enrique menatap heran pada bosnya yang terlihat santai. Memang kali ini Eric tidak membocorkan rencananya kepada siapapun. Ia takut jika dirinya akan kembali dikhianati. Dan Eric juga sudah siap untuk mengeksekusi jikalau dirinya kembali di bodohi oleh anak buahnya.


Noah akhirnya bersedia keluar kamar dan menemui Eryn. Hati Eryn sungguh berbunga ketika melihat putranya bersedia memeluknya.


"Maafkan Mommy, Nak. Maafkan Mommy." Eryn terisak dalam dekapan tubuh mungil itu.


"Mommy jangan menangis. Aku yang salah. Aku yang harusnya meminta maaf pada Mommy. Aku sudah membuat Mommy sedih." Noah menyeka air mata Eryn.


"Halo jagoan!" sapa Joon yang selalu datang menemui Noah.


"Halo, Paman Dokter. Lihatlah! Aku sudah berbaikan dengan Mommy seperti yang Paman Dokter katakan," celoteh Noah.


"Iya, Nak. Kau adalah anak yang pintar." Joon mengacak pelan rambut Noah.


"Mommy, hari ini aku dan Paman Dokter akan pergi ke taman hiburan. Mommy ikut ya?" pinta Noah.


"Eh?" Eryn menatap Joon bingung.


"Ikutlah! Noah pasti akan senang jika kau bersedia ikut," bujuk Joon.


Sempat ingin menolak, namun akhirnya Eryn memutuskan untuk ikut bersama Joon dan Noah pergi ke taman hiburan.


Black memutuskan untuk pindah ke Rio de Jeneiro untuk mengusut tuntas kejahatan Eric. Meski sempat tak tega karena harus meninggalkan Rose, namun mau tak mau Black harus melakukannya. Ditambah lagi Rose juga mendukung keputusan kakaknya.


"Jangan khawatir, Kak. Aku baik-baik saja." Rose menggenggam tangan Black.


"Berjanjilah kau akan menjaga dirimu. Aku akan meminta Bernard dan Frans untuk menjagamy selama aku pergi."


"Kak..."


"Jangan membantah! Sampai kau bisa melihat lagi aku akan selalu memastikan agar dirimu aman."


Rose tersenyum. "Terima kasih, Kak."


Rose meraba wajah Black. "Aku sangat rindu bisa melihat wajahmu, Kak."


Black memegang tangan Rose yang membingkai wajahnya. "Tunggulah sebentar lagi! Kau pasti akan segera mendapatkan donor mata."


Rose mengangguk kemudian memeluk Black.


Suara ketukan di pintu membuat Black dan Rose mengurai pelukannya.


"Maaf mengganggu. Teman-temanmu sudah menunggu," ucap Lolita.


Black mengangguk. Ia memapah Rose untuk bisa berjalan dan menyaksikan kepergiannya.


"Aku minta tolong padamu untuk menjaga adikku," ucap Black pada Lolita.


"Aku tahu. Semoga berhasil, Eldric. Ah, tidak. Nama itu sudah tidak pantas lagi untukmu."


Black tertawa kecil. Ia kembali berpamitan pada Rose. Begitu juga dengan Carlos yang lagi-lagi membuat Santa mencebikkan bibirnya.


Bernard, Frans dan Lolita melambaikan tangan pada Black dan timnya yang sudah mulai pergi dengan mobilnya.


Bagaimana Lolita bisa bersama dengan Black dan timnya?

__ADS_1


Black menghubungi Lolita dan meminta tolong pada wanita itu agar menemui Santoz. Secara tak terduga Santoz menyetujuinya.


Di rumah ibunya, Santoz terkepung oleh Black dan orang-orangnya. Black meminta Santoz agar bekerja sama dengannya untuk mengungkap semua kejahatan Eric.


Black meyakinkan Santoz jika selama ia pergi anaknya akan baik-baik saja bersama ibu Santoz dan juga Lolita. Black juga memerintahkan Bernard dan Frans untuk menjaga keluarga Santoz.


Meski sempat ragu, akhirnya Santoz menerima tawaran Black. Ia juga ingin membalas dendam pada Eric yang sudah membunuh istrinya.


"Ayo! Kita juga harus bergegas!" ucap Lolita memapah Rose.


Lolita meminta Rose untuk pindah sementara dari rumah Luiz karena ini semua demi keamanan Rose. Selama Black pergi, Rose akan tinggal bersama keluarga Santoz ditemani Bernard dan Frans. Sementara Lolita tetap tinggal di rumah Eric.


"Kenapa kau tidak tinggal bersama kami saja?" ucap Rose.


"Tidak, Rose. Aku adalah istri Eric. Dan aku harus tetap menjalankan peran ini hingga akhir. Ayo, kita pergi!"


Setelah semua barang-barang milik Rose telah dikemas, mereka pun pergi meninggalkan rumah Luiz.


Hari ini senyum kebahagiaan selalu terpancar di wajah Noah. Sudah lama bocah kecil itu tidak merasakan kegembiraan bermain di taman hiburan.


Eryn merasa lega karena putranya baik-baik saja selama ini.


"Pertama kali aku melihat Noah, dia masih tampak kacau dengan tidak mau disentuh oleh siapapun. Ia takut jika orang-orang akan berbuat jahat padanya. Perlu waktu dan pendekatan yang tepat untuk membuatnya mengerti jika kami menyayanginya," cerita Joon panjang lebar.


"Maaf..." Eryn kembali meminta maaf.


"Kurasa Noah sudah memaafkanmu. Jadi, kau jangan terus merasa bersalah. Hiduplah untuk anakmu mulai saat ini."


"Terima kasih, Joon. Aku harap Noah akan cepat menerima Eldric sebagai ayahnya." Eryn menatap Noah yang sedang bermain trampolin.


Wajah Joon berubah sendu ketika mendengar nama Eldric dari bibir Eryn. Sosok pria itu memang sudah sangat melekat di hati Eryn.


Noah menghampiri Eryn dan Joon yang duduk di bangku panjang. Ia memeluk Eryn dan Joon bergantian.


"Hari ini aku sangat senang. Aku seakan memiliki keluarga yang utuh. Aku memiliki Mommy dan Daddy," ucap Noah dengan memandangi Eryn dan Joon.


"Kau memang memiliki Daddy, Nak. Setelah pekerjaan Daddy mu selesai, dia akan menyusul kita disini." Eryn mencoba memberi pengertian pada Noah.


Bocah kecil itu tampak cemberut. "Aku tidak mau Daddy yang lain."


"Eh?" Eryn tercengang.


"Aku hanya mau Daddy Dokter saja." Noah memeluk Joon.


Hati Eryn tercubit ketika mendengar itu dari bibir mungil Noah.


"Sayang..." Eryn berusaha membujuk Noah.


"Aku hanya mau Daddy Dokter!" teriak Noah yang membuat Eryn terkejut.


Noah berlari meninggalkan Eryn dan Joon.


"Jangan membahas soal ini dulu dengannya," ucap Joon.


"Tapi, Joon..."


"Aku akan mengejar Noah. Kumohon kau jangan membicarakan soal ini lagi!" Joon segera berlari dan menyusul Noah.


Eryn kembali kalah. Tubuhnya serasa melayang mendengar penolakan Noah pada Eldric. Entah sampai kapan ia bisa meyakinkan Noah jika Eldric juga menyayanginya, meski pria itu tidak pernah mengenal Noah.


#tobecontinued


*Aduh, endingnya rada nyesek yak 😥😥

__ADS_1


__ADS_2