
Beberapa hari telah berlalu sejak kepergian Eldric. Keluarga Albana masih diliputi kesedihan terutama Red. Pria itu masih mengurung dirinya di kamar setelah pulang dari pemakaman ayahnya. Ingin rasanya menyalahkan takdir yang terasa buruk tergaris untuknya.
Semua rencananya masih tergambar abu-abu tanpa ada eksekusi yang jelas yang akan dilakukannya. Untuk sementara waktu ia ingin meratapi diri dulu. Tanpa ada yang mengganggunya. Bahkan saat Selena datang, Red sama sekali tak ingin menemui kekasihnya itu.
Padahal sebenarnya rencana pernikahan sedang Selena susun. Selena sengaja tidak mengambil pekerjaan karena ingin mempersiapkan pernikahannya sendiri. Tapi kini rasanya rencana hanya tinggal rencana.
Kematian Eldric membuat rencana Selena berantakan. Ia masih harus menunda persiapan pernikahan hingga masa berkabung usai. Rasanya masih terasa was-was karena mengetahui Ilena kini bekerja di klub milik Red. Selena takut jika kejadian masa lalu ibunya terulang kembali. Tapi Selena tidak akan membiarkan itu sampai terjadi. Akan ia pastikan jika Red tidak pernah bisa menemukan siapa Ilena sebenarnya.
Selena mendengus kesal karena lagi-lagi Red tidak bersedia menemuinya. Ini sudah hari ke tujuh dan Red masih mengurung diri. Ia hanya membuka pintu untuk orang terdekatnya saja atau pelayan yang membawa makanan untuknya.
"Jangan repot-repot datang kemari lagi! Apa pedulimu jika kakakku ingin mengurung diri?" ketus Yoona saat berpapasan dengan Selena.
Selena menggeram kesal namun tak bisa ia tunjukkan pada adik kesayangan Red ini.
"Yoona sayang, aku adalah tunangan Red. Tentu saja aku peduli padanya. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi, mulailah bersikap sopan padaku. Mengerti?" peringatan Selena.
Yoona hanya tersenyum seringai. "Aku tidak yakin jika kakakku akan menikah denganmu! Sebaiknya kau pergi saja. Kehadiranmu tak diharapkan disini," sarkas Yoona.
Selena menghentakkan kakinya kemudian pergi dari kediaman keluarga Albana. Yoona menggeleng pelan dengan tingkah Selena.
"Aku tidak percaya jika dia adalah cinta pertama kak Noah. Jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan wanita ular itu? aku harus mencari tahu," gumam Yoona.
Yoona akan mengetuk pintu kamar Red, namun tiba-tiba Grey datang. Tangan Yoona yang sudah terangkat, kembali ia turunkan.
"Nona Yoona!" sapa Grey.
"Hai, Grey! Kemari sebentar! Ada yang ingin kutanyakan padamu." Yoona menarik tangan Grey dan membawanya ke ruang yang berbeda.
"Ada apa, Nona?" tanya Grey yang merasa bingung.
"Katakan padaku, bagaimana kakakku bisa menemukan si ular betina itu?"
"Hah?!" Grey bingung.
"Maksudku Selena. Kakakku mencari gadis di masa lalunya. Apa benar dia adalah Selena?"
"Kenapa Nona bertanya padaku?" Grey bingung.
"Kak Noah tidak pernah bercerita apapun padaku. Aku bahkan tidak dekat dengannya. Kau lebih sering bersama dengannya. Makanya aku bertanya padamu. Kumohon katakan padaku! Aku merasa tidak yakin jika Selena adalah gadis masa lalu kakakku. Entahlah! Aku merasa jika kakakku tidak akan jatuh cinta dengan gadis seperti dia."
Grey menatap Yoona sekilas. Ia menimang-nimang apakah ia harus memberitahu Yoona atau tidak.
"Red menemukan nona Selena karena sebuah buku harian," ucap Grey.
"Buku harian? Buku harian apa?" tanya Yoona antusias.
"Gadis dari masa lalu Red di sebut selalu membawa buku harian kemanapun dia pergi. Buku harian berwarna ungu. Gadis itu menyukai warna ungu," jelas Grey.
Yoona mengangguk paham. "Apa hanya itu saja?"
"Aku tidak tahu detilnya. Tapi hanya dengan melihat buku harian itu, Red sudah yakin jika Selena adalah gadis yang ia cari."
"Hmm, baiklah. Terima kasih. Kau boleh pergi. Apa kau akan menemui kakakku?"
Grey mengangguk. "Iya. Ada hal yang harus kulaporkan mengenai klub."
"Baiklah. Kau temui dia dan bujuk dia supaya dia mau keluar dari kamarnya!"
Grey kembali mengangguk. Ia berpamitan dengan Yoona.
#
#
#
__ADS_1
Dua minggu telah berlalu. Kini Red telah kembali bekerja seperti biasa. Untuk sementara rencana yang sudah ia susun untuk Ilena akan ia kesampingkan dulu.
Ada hal mengenai organisasi yang lebih penting dari pada dendamnya.
"Ada kelompok lain yang memproduksi senjata ilegal yang sama dengan buatan kita," lapor White.
Menjadi seorang dokter hanyalah samaran untuk White. Ya meski dia memang dokter sungguhan. Namun dibalik itu, dialah yang membantu bisnis Red hingga bisa sebesar ini.
"Oh ya? Siapa orang itu?" tanya Red penasaran.
"Dia suka berpindah-pindah tempat, Red. Kudengar terakhir dia sedang bersembunyi di Indonesia. Apa kita akan suruh orang untuk kesana?" ujar White.
"Tidak perlu! Kita fokus saja pada pekerjaan disini. Pastikan klien kita tidak lari ke tempat lain karena masalah ini. Dan jika kau menemukan siapa pengkhianatnya, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" seringai Red menatap White.
"Tentu saja. Oh ya, mengenai adikmu ... apa kau akan merestui hubungan Blue dengan gadis itu?" tanya White yang sengaja memancing Red.
"Siapa maksudmu? Gadis penghibur itu?" tanya Red balik pura pura tak tahu.
"Iya. Babydoll. Kurasa Blue terlihat serius dengannya. Dia tidak pernah segila ini terhadap wanita. Kurasa Baby sudah mengubah Blue," ucap White dengan menyesap rokoknya.
Red tertawa sinis. "Tidak ada yang boleh menyentuh gadis itu, White! Gadis itu milikku!"
White tercengang dengan pengakuan Red.
"Kau tahu, White? Bertahun-tahun aku mencari putri dari orang yang sudah melenyapkan ibuku. Ternyata selama ini dia begitu dekat denganku."
"Apa maksudmu, Red?" White paham betul siapa yang Red maksud. Tapi membalaskan dendam terhadap orang yang tak bersalah? Ia rasa Red sudah salah jalan.
"Jadi, kau menemukan putri dokter Lorna?" tanya White memastikan.
"Ya. Dan kau tahu? Dia ternyata ada disini! Di klub ini! Aku benar benar tidak percaya!" Red menggeleng pelan. Ia menyesap anggur di gelasnya.
White masih tidak paham dengan arah bicara Red. "Maksudmu ... Baby adalah gadis itu?"
Red mengangguk.
White akhirnya mengetahui fakta mencengangkan ini. "Red, jangan lakukan apapun! Sudah cukup kau menyimpan dendam! Apa yang kau dapat dengan membalas dendam? Sudah 20 tahun berlalu, Red. Dan Baby tidak tahu apapun soal ini!"
"Tidak bisa, White. Aku harus tetap melakukan pembalasanku! Gadis itu juga harus menderita seperti aku yang juga menderita. Keluargaku hancur, White!"
Red mulai meracau karena meminum alkohol dengan kadar yang tak main main. Inilah yang dilakukan Red jika dirinya sedang merasa putus asa dan depresi. Hanya dengan minum ia bisa melupakan segalanya.
White menghubungi Grey agar membantu Red jika terjadi sesuatu dengan pria mabuk ini. White memilih keluar dari ruangan itu dan mencari Baby.
Entah kenapa ada rasa iba dalam hati White ketika mendengar Red akan membalas dendam pada gadis tak berdosa itu. Baby hanyalah korban. Sama seperti Red dan juga adik-adiknya.
Sebelumnya White sudah mencari tahu soal asal usul Baby. Dia memang penebus hutang Johan yang membawa kabur uang cassino. Seumur hidup ia dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Dibuang ke panti asuhan dan seakan menjadi anak tiri.
White juga berhasil menyelidiki jika Baby bernama asli Ilena Adams. Satu ayah dengan Selena, tunangan Red. Ia tak menyangka jika Selena tega melakukan ini terhadap adiknya sendiri.
Dulu sekali, White sempat tertarik dengan Selena. Gadis cantik yang selalu memikat banyak pria. White tidak menyangka jika Selena adalah gadis masa lalu Red. Sadar jika dirinya tidak akan mungkin mendapatkan Selena, akhirnya White memilih mundur. Ia memilih persahabatannya dengan Red dari pada harus bertengkar hanya karena seorang gadis.
Pencarian mengenai gadis masa lalu Red akhirnya usai. Tidak ada lagi yang mencari tahu soal gadis itu karena menganggap Red sudah menemukannya. Tapi White kembali yakin setelah ia menemukan fakta tentang Ilena.
White rasa jika selama ini Red telah salah mengenali orang. Atau mungkin juga ini adalah rencana Selena. Entah yang mana yang benar.
White mencari keberadaan Ilena namun tak ditemukannya. Pastinya Blue membawanya pergi ke kamarnya.
Apakah Ilena memang gadis masa lalu Red? Itulah yang jadi pertanyaan White saat ini. Ketika semua pertanyaan mulai bermunculan di otaknya, tiba-tiba saja ponsel White bergetar.
Tertera nama Selena disana. White tersenyum seringai. Gadis itu pasti menginginkan sesuatu.
White sudah hapal itu. Ia menyetujui untuk datang ke apartemen Selena.
#
__ADS_1
#
#
Tiba di apartemen Selena, White disambut oleh gadis cantik itu.
"Hai, Andrew..." sapa Selena.
White menyeringai. "Terdengar aneh saat kau yang memanggilku, Selena. Ada masalah apa kau memintaku datang?"
Selena menarik tangan White masuk ke dalam. Mereka duduk berdampingan di sofa berwarna merah maroon itu.
Selama ini Selena memaksa White untuk mengatakan apa yang sedang dicari oleh Red. Apa yang Red sembunyikan darinya hingga pria itu tidak bersedia menemui Selena.
Tentu saja Selena gusar. Ilena adiknya berada begitu dekat dengan Red. Dan ia takut jika semua kebohongannya terbongkar.
Berkali-kali Selena mencari informasi dari orang terdekat Red tapi semua bungkam. Bertanya pada Grey? Pria itu adalah orang yang sangat loyal. Dia tidak akan membuka mulutnya jika Red sudah memerintah.
Lalu Blue? Ah, bahkan Blue tidak menyukai Selena sama seperti Yoona. Mana mungkin ia berani bertanya.
Hanya sisa satu senjata terakhir Selena, yaitu memanfaatkan White. Pria ini adalah teman masa remaja Red. Selena tahu Red terbuka padanya layaknya seorang saudara.
"Minumlah dulu, White..." Selena menuangkan segelas anggur untuk White.
"Terima kasih."
White meneguk minumannya hingga tandas.
"Jadi katakan, apa yang kau inginkan, Selena? Kau masih belum menyerah untuk mendapatkan informasi tentang Red?"
Selena berdecih. "Dia adalah tunanganku, tapi dia sama sekali tidak peduli padaku. Apa yang sedang dia kerjakan?"
"Bisnis kami memang tidak pantas untuk diumbar, Selena. Jadi, kuharap kau mengerti." White kembali menenggak minuman memabukkan itu.
"Bagus sekali, White. Aku akan membuatmu mabuk dan membuat mulutmu bicara!" seringai Selena dalam hati.
White mulai merasakan tidak nyaman dengan tubuhnya.
"Selena! Apa yang kau masukkan dalam minuman ini?" tanya White yang mulai kepanasan.
"Tidak ada. Mungkin kau memang kepanasan. Apa kau ingin membuka jasmu?" tawar Selena.
Ya, Selena harus mengesampingkan harga dirinya jika ingin mendapatkan Red. Tidak ada jalan lain selain ini.
Selena melepas jas yang melekat di tubuh White. Perlahan kemejanya juga ia lepaskan.
Selena cukup terpukau dengan tubuh liat dan kekar milik White. Mungkin malam ini ia akan mengerang hebat dibawah kungkungan White.
"Aku tahu sejak dulu kau menginginkanku, bukan?" Selena mengusap dada bidang White dengan gerakan sensual.
"Apa yang kau inginkan, Selena?" tanya White dengan suara yang mulai berat.
"Aku akan memberikan apa yang kau mau, asal kau katakan apa yang sedang dikerjakan Red saat ini? Apa ini berhubungan dengan gadis masa lalunya?" tanya Selena sambil mulai duduk diatas pangkuan White dan saling berhadapan.
"Iya, Red mencari seseorang di masa lalunya. Yang sudah membuat keluarganya hidup menderita. Dia ingin membalas dendam..."
Selena menciumi leher White dan memberikan jejak disana. Ia membulatkan mata ketika mendengar kata balas dendam.
"Siapa yang ingin dia balas?" tanya Selena.
"Keluargamu! Adikmu!" White mengerang ketika Selena mulai membuka celana panjang White yang mulai terasa sesak.
Selena berlutut dan mengeluarkan benda besar yang mulai menegang.
"Katakan lagi!" perintahnya.
__ADS_1
"Dia adalah adikmu, Selena. Ilena adikmu adalah putri dari dokter yang membunuh ibu Red." White merem melek merasakan bibir Selena yang memainkan pusakanya.
"Ouch!" White memegangi kepala Selena yang semakin liar bergerak maju mundur.