Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
63. Kesetiaan yang Diuji


__ADS_3

Tiga hari kemudian,


Suasana di kediaman keluarga Evans mendadak ramai dengan banyaknya wartawan yang datang setelah di umumkannya penangkapan Eric Evans atas semua kejahatan yang telah ia lakukan. Eleanor terduduk lemas mendengar lagi-lagi putranya itu masuk ke headline berita televisi.


Penjagaan ketat pun dilakukan di rumah itu. Dixon meminta orang-orangnya untuk Menjaga keluarga Evans. Bagaimanapun orang-orang itu tidak bersalah dan tidak tahu menahu tentang kejahatan yang dilakukan Eric.


Lolita menerobos masuk kerumunan di rumah keluarga Evans. Pihak berwajib mengizinkan Lolita masuk karena tahu ia adalah menantu di rumah itu.


Lolita berjalan menghampiri Eleanor yang sedang duduk bersama Elza dan Erica. Wanita paruh baya itu menatap Lolita dengan kilatan amarah yang memuncak.


Eleanor beranjak dari duduknya dan menghampiri Lolita.


PLAK!


Sebuah tamparan ia layangkan pada menantunya itu.


"Ini semua pasti ulahmu! Kau yang sudah membuat Eric ditangkap! Kau yang sudah melaporkannya!" teriak Eleanor.


"Maafkan aku, Bu..." lirih Lolita.


"Inikah balasanmu setelah Eric tidak meninggalkanmu karena kau kini mandul? Kau memang sama j4langnya dengan sahabatmu itu!" lanjut Eleanor.


"Maafkan aku, Ibu. Aku harus melakukan ini. Eric sudah membunuh banyak orang. Aku tidak bisa membiarkan dia terus melakukan kejahatannya," tegas Lolita.


"Tapi dia suamimu! Dan dia putraku satu-satunya!" Eleanor mulai kehabisan napas. Dadanya sesak. Kini ia harus kehilangan putra kebanggaannya.


Elza menuntun Eleanor agar beristirahat di kamarnya. Ia meminta Erica untuk mengantar ibunya.


Elza menghampiri Lolita.


"Sebaiknya kakak pergi dari sini. Kehadiran kakak hanya akan membuat kondisi ibu memburuk. Dia masih syok dengan semua ini."


Lolita mengangguk. "Aku mengerti, Elza. Sekali lagi aku minta maaf. Kuharap kau mengerti."


Lolita berbalik badan dan keluar dari rumah itu.


#


#


#


Dixon menemui para wartawan yang masih perlu penjelasan darinya. Setelah ia mengumumkan penangkapan Eric dan para sekutunya, kini Dixon harus kembali mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan.


Dixon berdiri di hadapan para wartawan.


"Sebenarnya penangkapan Eric Evans bersamaan dengan penangkapan seorang mafia terkenal bernama Eldric Albana. Atau lebih dikenal dengan nama El-Black. Namun sayang, kebakaran di area pergudangan di Rio de Jeneiro telah menewaskan dirinya. Kami hanya menemukan ini diantara bangunan yang sudah menjadi abu."


Dixon menunjukkan sebuah cincin. Para wartawan berbisik-bisik mengenai cincin apa itu.


"Ini adalah cincin pernikahan milik Eldric. Ada sebuah nama terukir di cincin ini." Dixon memeriksa cincin itu dengan seksama.


"Eryn. Nama itu terukir di cincin ini. Dan dengan ini maka, kasus milik El-Black dinyatakan telah ditutup karena dia telah meninggal dunia.Terima kasih."


Dixon segera masuk ke dalam kantor US-SS dan membiarkan para pencari berita bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan Black.


Di belahan bumi lain, Eryn tertegun melihat berita yang sengaja diperlihatkan oleh ayahnya. Tubuhnya kaku dan hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulusnya.


"Nak, kuatkan hatimu..." ucap Tuan Kim.


"Tidak! Itu tidak mungkin! El tidak mungkin mati!" gumam Eryn.


Tubuhnya luruh ke lantai. Kini kesedihan menyelimuti hatinya.

__ADS_1


"Ini pasti hanya mimpi," lirih Eryn.


"Nak, ayo kita ke kamar. Kau harus beristirahat," bujuk Tuan Kim.


Eryn tetap bergeming dilantai. Rasanya separuh jiwanya telah pergi entah kemana.


Kang Joon yang datang ke rumah Tuan Kim segera menghampiri Eryn.


"Ayo! Jangan membuat ayah dan Noah bersedih," ucap Joon lembut dengan memapah tubuh Eryn masuk ke dalam kamarnya.


Eryn duduk di tepi ranjang.


"Dia kembali pergi, Joon," lirih Eryn.


"Dia meninggalkan aku lagi." Air matanya terus mengalir dengan tatapan kosong dimatanya.


Joon menatap iba wanita didepannya. Ia ikut duduk disamping Eryn.


"Untuk ke sekian kalinya dia meninggalkan aku, Joon. Dia selalu meninggalkan aku..."


Joon yang tak tega melihat kondisi Eryn lalu menarik tubuh wanita itu dalam dekapannya. Eryn menangis dengan keras di dada Joon. Pria itu makin mendekap erat tubuh Eryn.


"Menangislah sepuasmu, Eryn. Lalu setelah ini kau harus bahagia. Jangan lagi kau bersedih. Aku akan selalu ada untukmu..."


*


*


*


Rose masih mengurung diri di kamarnya setelah mendengar berita kematian kakaknya dari berita di televisi. Tidak ada yang bisa menjelaskan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di hari itu.


Carlos membuka pintu dan melihat Rose masih duduk di tepi tempat tidur. Ia menghampiri Rose dan menggenggam tangan gadis itu.


"Iya, aku disini."


"Apa benar apa yang diberitakan di televisi? Apa benar kakakku sudah tiada?" tanya Rose dengan mata yang berkaca-kaca.


Meski gadis itu berusaha menepis semua berita miring mengenai kematian kakaknya, tapi masih ada sedikit kegelisahan jika semua itu memanglah benar.


"Carlos! Tolong katakan sejujurnya!" pinta Rose.


"Kakakku masih hidup kan? Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat. Benar kan?" lanjut Rose.


"Aku tidak tahu, Rose..." jawab Carlos.


Rose melepaskan genggaman tangan Carlos.


"Keluar kau!" teriak Rose.


"Rose..."


"Keluar!" teriaknya lagi.


Dengan rasa penyesalan yang dalam, Carlos keluar dari kamar Rose dan menutup pintunya.


Sepeninggal Carlos, Rose memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia tidak akan percaya dengan semua yang orang katakan tentang kakaknya.


Secara tiba-tiba ponsel Rose bergetar. Rose meraba nakas dan mengambil ponselnya.


Tanpa tahu siapa yang menghubunginya, Rose menjawab panggilan telepon yang masuk.


"Halo..." jawab Rose.

__ADS_1


"Halo, Rose. Bagaimana kabarmu?"


Rose tertegun mendengar suara yang tidak asing baginya.


"Ka...kak..." Suara Rose bergetar.


"Jangan menangis."


"Kakak masih hidup?"


"Dengar, jangan beritahukan hal ini pada siapapun. Aku hanya ingin kau tahu jika aku baik-baik saja."


"Tapi kenapa... Semua orang bilang jika kau sudah meninggal?"


"Suatu saat aku akan menjelaskan semuanya padamu. Sekarang, kau harus hidup dengan baik. Sebentar lagi kau pasti bisa melihat lagi."


"Kakak ada dimana?"


"Aku tidak bisa memberitahumu. Jaga dirimu dengan baik, Rose. Berbahagialah bersama Carlos. Dia adalah pria yang baik. Dan yang terpenting, dia selalu mencintaimu. Selamat tinggal, Rose."


"Kakak!" seru Rose namun sambungan telepon telah dimatikan oleh si penelpon.


#


#


#


Lolita menemui Eric di ruang khusus yang dipenuhi penjagaan ketat. Hanya Lolita saja yang diizinkan menemui Eric karena statusnya sebagai istri Eric.


Mereka duduk berhadapan. Lolita menatap Eric yang tampak lusuh dengan pakaian narapidana.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Lolita.


"Aku tidak menyangka kau akan datang kemari. Bukankah ini yang kau inginkan?" balas Eric datar.


Lolita menggeleng. "Aku hanya ingin kau berhenti."


"Sekarang aku sudah berhenti. Apa lagi yang kau inginkan? Sebaiknya jangan temui aku lagi."


"Tidak, Eric. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menunggu hingga kau menebus semua kesalahanmu." Lolita menatap Eric dengan mata berkaca.


"Aku tidak akan keluar dari sini, Lolita. Aku akan dihukum mati."


"Kalau begitu aku akan menunggu hingga saat itu tiba." Air mata Lolita mengalir setelah mengatakannya.


"Terima kasih. Sekarang pulanglah! Tolong jaga ibu dan keluargaku."


Lolita menunduk merasakan kesedihan yang amat dalam. Dua orang penjaga masuk ke dalam ruangan itu dan membawa Eric keluar.


Lolita masih di dalam dan menangis. Dixon menghampiri wanita itu.


"Kau adalah wanita yang kuat. Kau pasti bisa menghadapi ini," ucap Dixon.


Lolita menghapus air matanya kemudian beranjak dari kursinya. Kakinya melangkah menuju keluar kantor US-SS. Disana masih banyak wartawan yang menanti kedatangannya untuk meminta keterangan darinya. Namun Lolita sama sekali tak menggubris dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Dari kejauhan Dixon memperhatikan Lolita yang diserbu para wartawan.


"Kau tahu, Ray. Di saat seperti inilah kesetiaan seseorang tengah diuji. Apakah dia akan tetap bersama dengan orang terkasihnya, atau malah meninggalkannya," ucap Dixon sambil menepuk bahu Ray.


#tobecontinued


*Wayoooo, El masih idup ya genks. Lalu dimanakah dia? Makthor juga kagak tahu 😅😅😅

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak 😘😘😘


__ADS_2