
Happy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Beberapa hari kemudian, sore hari setelah pulang bekerja Sisil yang masih di supiri oleh mang Didin hendak pergi ke minimarket terdekat untuk membeli keperluan nya yang sudah habis.
Walaupun Sisil sudah tinggal bersama keluarga kandung nya yang kaya raya tapi Sisil masih menggunakan pasilitas yang di berikan Bima, karena itu pasilitas khusus yang Bima beri untuk nya secara pribadi buka pasilitas dari kantor.
Setelah mendapatkan apa yang ia perlukan dengan segera ia pergi dari minimarket tentu nya setelah ia membayar barang belanjaannya pada kasir.
Di persimpangan jalan tiba-tiba mang Didin menghentikan laju mobilnya.
" Ada apa mang? " Tanya Sisil pada mang Didin yang menghentikan mobil di tengah jalan
Ya sangat kebetulan sekali jalan itu sepi tak ada kendaraan lain yang lewat. Paling ada satu atau dua kendaraan sepedah motor yang lewat. Hal itu di karena hari yang sudah memasuki waktu magrib.
" Itu non, ada yang menghadang jalan kita " Ucap mang Didin memberi tahu jika di depan mobil mereka ada kendaraan yang sengaja menghadang jalan mereka
Sisil melihat ke depan dan benar saja, ia melihat ada tiga pria berpakaian preman sedang berdiri di depan mobil mereka. Dan salah satu dari mereka berjalan ke arah mobil mungkin itu ketuanya.
" Non Sisil di sini saja, biar mamang yang keluar " Ucap mang Didin yang berusaha melindungi Sisil, karena melindungi Sisil juga merupakan tugasnya
Mang Didin membuka pintu yang sudah di ketuk tak sabar oleh preman dari luar. Mang Didin pun keluar, belum sempat mang Didin bertanya preman itu langsung mengayunkan tangan nya hendak meninju wajah mang Didin.
Tapi belum sempat kepalan tangan preman itu menyentuh wajah mang Didin. Dengan kewaspadaan yang tinggi mang Didin berhasil menghindar dari serangan mendadak dari preman itu.
Sisil memperhatikan perkelahian dari dalam mobil. Ketika Sisil melihat pertarungan itu sudah tak adil, Sisil keluar dari dalam mobil untuk membantu pertarungan tak seimbang itu. Mang Didin yang di kepung oleh tiga preman secara serentak mendapat pukulan sehingga membuat ia terhuyung ke belakang.
Sisil yang sudah berada di belakang mang Didin sontak menahan tubuh mang Didin agar tak jatuh. Membuat mang Didin menoleh untuk melihat siapa yang menahan nya.
" Non kenapa keluar, ayo masuk lagi Non. Biar ini jadi urusan mamang saja, bahaya non " Ucap mang Didin terkejut melihat Sisil yang sudah berada di luar dan meminta Sisil untuk kembali ke dalam mobil
__ADS_1
" Sudah jangan banyak bicara, ayo kita lawan sama-sama " Ucap Sisil tak mau mendengarkan perintah mamg Didin yang meminta nya kembali ke dalam mobil
Bagai mana bisa Sisil diam saja ketika melihat mang Didin kerja sendiri untuk melawan para preman. Apa lagi pertarungan mereka tidak seimbang tiga lawan satu.
Dukk
Bukkk
Brakkk
Aaaaaa
Suara pukulan mengaluni jalan yang sepi di suasana sore menjelang malam hari itu. Beruntung hari ini Sisil mengenakan celana bahan hingga tak mengganggu gerakan nya. Hanya saja ia mengenakan high heels. Tapi itu tidak masalah bagi Sisil justru ia bisa memanfaatkan heels nya yang lancip itu untuk melawan para preman.
Sisil menjegal kaki dan langsung mendorong preman ke belakang hingga terjatuh. Sisil menginjak paha preman yang terjatuh dengan tumit heels nya yang lancip hingga sang preman menjerit kesakitan.
Mang Didin melawan satu preman sedang kan Sisil melawan dua preman sekaligus. Ya karena preman itu mengincar Sisil jadi mereka mengepung Sisil.
Krakkk
Akhirnya suara patahan dan teriakan mengakhiri pertarungan mereka. Setelah bertarung hampir dua puluh menit Sisil mengakhiri nya dengan mematahkan tangan salah satu preman.
Pertarungan singkat itu cukup membuat Sisil harus kehilangan separuh energinya. Dengan masih memelintir tangan preman Sisil bertaya.
" Siapa kalian dan apa mau kalian? " Tanya Sisil dengan mata menyelidik
" Kau tak perlu tahu siapa kami, dan kami hanya ingin memberi mu pelajaran " Ucap preman itu masih dengan sombong nya padahal ia sudah di kalahkan oleh Sisil membuat Sisil tertawa
" Hahaha... Apa? Kau mau memberi ku pelajaran? Emangnya kau guru? " Tanya Sisil meremehkan preman yang ada di hadapan nya
" Pelajaran apa yang akan kau berikan pada ku? Bahasa? Matematika? Atau olahraga? " Tanya Sisil lagi dengan tersenyum miring
__ADS_1
" Cepat katakan saja siapa kalain " Bentak Sisil
Melihat preman itu hanya diam saja membuat Sisil meradang. Ia menekan tangan preman yang baru saja ia patahkan tadi sehingga membuat preman itu berteriak kesakitan.
" Sepertinya kau masih mau diam tak berniat memberitahu ku. Baik lah kalau begitu, aku akan memberi kalian dua pilihan " Ucap Sisil berhenti ia melihat wajah preman preman itu satu persatu dimana ke tiga preman itu sudah tergeletak di aspal
" Kalian mau mati tanpa jejak, hanya meninggalkan nama atau mati dengan jasad? " Tanya Sisil membuat ketiga preman itu menelan ludah dengan susah payah.
Tak menyangka gadis yang terlihat lemah di depan mereka ternyata mampu mengalahkan mereka yang memiliki tubuh kekar dan sangar. Apa lagi sekarang gadis itu mampu menggertak mereka sampai ketakutan.
Melihat tak ada reaksi kemudian Sisil kembali bicara membuat ketiga preman itu berkeringat dingin dan kembali menelan ludah.
" Ah sepertinya jojo dan jeje sudah lama tidak makan daging segar. Sebaiknya aku hubungi kakak untuk menanyakan apa ia mau aku kirimkan daging segar sekarang kan lumayan dapat daging gratis. Bisa kenyang satu minggu si jeje dan jojo " Ucap Sisil yang teringat akan peliharaan kakak angkat nya sambil melihat ketiga preman itu
" Maaf non,, siapa jojo dan jeje itu? " Tanya mang Didin penasaran, tapi filing nya mengatakan bahwa jojo dan jeje pasti hewan peliharaan hanya saja ia tak tahu pasti hewan apa itu
" Hanya sepasang hewan kecil. Dan mereka sangat lucu " Ucap sisil sambil tersenyum gemas membayangkan jojo dan jeje
" Hanya hewan kecil dan lucu? " Tanya mang Didin lagi dengan mengulang ucapan Sisil
" Kalau hanya hewan kecil dan lucu, tidak mungkin makan daging kan non? Hewan apa yang seperti itu yang makan daging?" Tanya nya heran dan tak tahu hewan apa itu
" Hanya anak buaya, tapi mungkin sekarang mereka sudah dewasa. Atau mungkin mereka sudah bertambah banyak dengan adanya anak anak yang meng-gemaskan. Aku sudah lama tak mengunjungi mereka " Ucap Sisil dengan wajah sumringah mengatakan anak buaya, membuat yang mendengar melebarkan mata sangking lebarnya hampir saja bola mata mereka lepas dari tempat nya
Bagaimana tidak, hanya yang di katakan Sisil itu adalah hanya anak buaya dan lucu. Mana ada buaya lucu, walaupun masih bayi juga. Dan buaya itu sekarang sudah besar. Walaupun itu hanya anak nya saja tetap saja hewan itu hewan buas, seekor predator.
🐣🐣🐣🐣🐣
teng kiu ya readers sudah mampir di novel author. minta like n vote nya boleh... 😊
kalau boleh tinggal kan jejak ya...
__ADS_1
teng kiu juga buat yang komen maaf gk bisa balas ya.. 🙏
untuk up double, nanti author usaha kan kalau ada waktu luang. soalnya author lagi riweuh di dunia nyata, mau antar jemput anak yang baru masuk sekolah dasar.