
Happy Reading
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tok..
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu ruangan seorang CEO tampan yang selalu membuat hati karyawati nya meleleh setiap melihat senyuman nya itu di ketuk.
" Ya,, masuk ". Ia mempersilahkan untuk masuk
Seorang sekertaris cantik masuk dengan membawa berkas di tangannya, ia hendak meminta tanda tangan sang CEO.
" Tuan ini berkas yang harus anda tanda tangani ". Ia memberi berkas dengan sopan dan meletakkan nya di atas meja.
" Hemm " Jawab nya singkat
" Oh ya, apa saja jadwal saya hari ini? ". Tanya Dirga pada sekertaris nya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang baru di berikan pada nya tadi
__ADS_1
" Siang ini jam satu ada meeting dengan pak Roy dan nanti malam ada jamuan di hotel GR, tuan "
" Hemm, baik lah, terimakasih Andita ". Dirga menyerahkan berkas tadi setelah membaca dan menanda tangani nya dan berterimakasih atas jawabannya sambil tersenyum pada Andita.
Andita terpaku melihat senyuman bos tampan nya itu. Membuat ia salah tingkah karena senyuman itu. Wajahnya merona karena malu mendapatkan senyuman dari sang bos. Walaupun setiap hari bertemu dengan bos tampan nya tetap saja hal itu membuat Andita kelepek kelepek.
" Duh manisnya, bisa bisa diabetes aku karena melihat senyumannya " Batin Andita meronta
" Hemm " Deheman Dirga menyadarkan Andita
" Eh i..iya tuan jika tidak ada lagi saya pamit keluar ". Andita bergegas keluar ruangan Dirga dengan wajah memerah karena malu.
" Begini lah resikonya menjadi pria tampan ". Puji nya untuk dirinya sendiri dengan senyuman manisnya sambil merogoh saku jas nya mengambil benda cangih berbentuk pipih dan mencari nama seseorang.
" Halo ". Setelah sambungan telepon nya di angkat
" Ada apa ". Jawaban dari seberang sana
" Santai bro,, ketus amat sih,, lagi PMS lo ". Dirga terkekeh
" Gue lagi sibuk, gue bukan CEO pengangguran kayak lo "
__ADS_1
" Cih, gue juga banyak kerjaan kali tapi di bawa santai aja bro " Sewot Dirga tak Terima
" Cepat katakan ada apa ? "
" Aah tidak ada apa-apa " Jawab Dirga santai
" Anjirrr lo ". Bima mematikan telpon dengan kesal.
Dirga terkekeh senang rasanya bisa mengerjai temannya itu.
" Kenapa dia, sensi amat " Dirga bertanya pada dirinya sendiri kemudian ia mengangkat bahu nya sambil mencebikkan bibir nya. Kemudian ia kembali fokus pada pekerjaan yang ada di hadapan nya.
Sedangkan di seberang sana Bima yang sedang kesal semakin kesal dengan ulah sahabat nya itu. Ia menatap kalung yang ada di tangan nya.
" Dimana kau sekarang, mengapa susah sekali untuk mencari mu, sudah tiga tahun aku mencari keberadaan mu ". Bima berbicara dengan kalung itu seolah olah ia berbicara dengan sang pemilik kalung.
Dengan napas berat ia memasukkan kalung itu kedalam kotak kecil dan meletakkan nya ke dalam laci meja kerjanya.
Bima menyenderkan punggung nya di senderan kursi kerjanya dan menengadahkan kepala nya ke atas menatap langit langit ruangan itu, ia memejamkan mata menghirup nafas dan menghembuskan nya dengan pelan, ia mencoba menenang kan pikiran nya
Ia begitu frustasi selama tiga tahun ini setelah kejadian di cafe xy dulu ia mencari Sisil, sempat mendapatkan informasi sedikit mengenai Sisil tapi sayang ia kehilangan jejak sampai saat ini ia belum menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Sisil.
__ADS_1