
Happy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Mobil Dirga berhenti di depan lobi rumah sakit Mulia, rumah sakit milik keluarga Gunawan. Dengan segera Dirga memapah tubuh Sisil yang semakin lemah.
Di depan ternyata sudah ada suster yang menunggu kedatangan mereka. Karena sebelumnya papa Gunawan sudah menghubungi bagian rumah sakit.
Dirga langsung membaringkan Sisil di brankar yang sudah di siapkan. Suster langsung mendorong brankar menuju ruangan kebidanan. Sepanjang jalan Sisil terus mencengkram tangan Dirga. Dirga hanya pasrah tubuh nya menjadi pelampiasan Sisil menahan rasa sakit nya.
Sampai di ruangan suster melarang semua orang yang hendak ikut masuk ke dalam. Namun sayang siapa lah dia, dia hanya lah karyawan biasa sedang kan yang di hadapi pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.
Dirga masuk ke dalam karena tangan nya masih menjadi sasaran Sisil. Bima dan yang lain tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang kebidanan dimana Sisil akan di tangani.
Bima melihat para emak emak masih berdiri di ambang pintu. Tanpa permisi Bima langsung menerobos masuk ke dalam. Di sana sudah ada dokter Noval dan beberapa suster.
Saat dokter Noval hendak menangani Sisil, cepat cepat Bima menghentikan aksi dokter Noval. Bima tak rela jika dokter Noval mengobrak-abrik milik Sisil. Astaga Bima, keadaan genting seperti ini masih sempat sempatnya ia bersikap posesif.
" Tunggu, mau apa lo " Tahan Bima
Dokter Noval pun berbalik arah melihat sumber suara.
" Gue mau melakukan tindakan pada pasien " Jawab dokter Noval
" Gk.. Gk ada. Gue gk balakan ngizinin lo yang melakukan nya " Tolak Bima membuat dokter Noval menyatukan ke dua alisnya
Sedangkan Dirga sudah meringis menahan sakit. Karena sekarang Sisil sudah menjambak rambut sang kakak.
" Apa gk ada dokter perempuan? Gue mau dokter perempuan yang menangani Sisil " Sambung Bima menolak dokter pria membantu proses persalinan Sisil. Enak saja pria lain melihat 'milik' Sisil. Semua itu hanya Bima seorang yang boleh melihat.
" Gk ada, semua dokter SpOG di sini pria " Jawab dokter Noval malas. Sungguh sangat posesif sekali pria di hadapan nya ini. Ingin sekali rasanya dokter Noval menjitak kepala Bima.
__ADS_1
" Yang benar saja di sini tidak ada dokter wanita nya " Cerca Bima
" Gk ada, kalau wanita di sini ada nya bidan " Seru dokter Noval
" Ya sudah, surah bidan saja. Itu lebih baik dari pada kamu " Putus Bima cepat
Akhirnya bidan yang menangani Sisil. Kebetulan sang bidan berada di antara mereka. Bidan itu pun mendekati Sisil, dan dokter Noval sudah menjauh dari Sisil atas perintah Bima.
" Maaf nona, saya izin periksa dulu ya sebentar " Izin bidan itu sebelum memeriksa bagian bawah Sisil untuk melihat jalan lahir yang sekarang sudah memasuki pembukaan berapa.
" Kamu siapa? " Tanya Sisil di sela sela rasa sakit nya
" Dia bidan sayang " Jawab Bima yang kini sudah berada di Sisil kanan Sisil mengantikan posisi Dirga
Dan sekarang Dirga sudah berada di luar bersama Dita, mereka duduk di kursi tunggu. Rambut nya sudah acak acakan, baju nya sudah kusut dan tangan nya sudah banyak tanda cinta dari Sisil. Dita membantu mengobati luka di tangan Dirga setelah tadi ia meminta obat merah pada suster.
" Ooo dukun beranak " Jawab Sisil seenak jidatnya
Melihat bidan yang hanya diam saja. Membuat Sisil kesal, pasal nya ia sudah tak tahan lagi dengan rasa sakit yang kian menjadi.
" Bu dukun ngapain bengong. Ayo cepat lakukan tugas mu " Teriak Sisil, Bima mencoba menenangkan Sisil. Namun yang ada malah ia juga kena omelan Sisil.
Sedangkan para rekan nya yang berada di sana seperti dokter Noval, dokter anak, perawat, mereka menahan tawa mendengar rekan mereka di bilang dukun beranak.
Bidan pun memeriksa Sisil dan ternyata pembukaan Sisil sudah mendekati pembukaan sempurna. Bidan pun memberi arahan pada Sisil, apa yang harus di lakukan dan apa yang tidak boleh.
Suara berisik di depan pintu tak membuat Sisil, bidan dan para perawatan hilang akan konsentrasi nya.
Sisil melakukan arahan dari bidan, menarik napas dan menghembuskan nya pelan pelan. Hitungan satu, dua tiga dari bidan pun terdengar. Sisil mengejan dengan sekuat tenaga.
Sedangkan di depan pintu.
__ADS_1
" Mas mau ngapain ikut masuk? " Tanya mama Arin menarik tangan papa Nugraha yang hendak masuk
" Aku mau menyaksikan cucu ku lahir ke dunia " Jawab nya santai
" Dan kamu pa, mau apa masuk? Apa ingin menyaksikan juga " Kini mama Laras yang bertanya pada papa Gunawan
" Aku mau menjadi orang pertama yang melihat cucu ku lahir " Jawab papa Gunawan tak mau kalah
Astaga jawaban papa Gunawan dan papa Nugraha membuat emosi. Yang jelas orang pertama yang akan melihat cucu mereka lahir ada sang bidan dan para perawat yang membantu.
Opa Alex sangat gemas melihat dua pria paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi kakek itu. Ia pun beranjak dari duduk nya dan menghampiri dua pria tua yang berisik itu.
" Awas kalian, biar aku saja yang masuk. Aku juga mau melihat cicit ku launching. Kalian pikir hanya kalian saja yang mau lihat, aku juga mau " Ujar nya mendorong tubuh ke dua pria itu ke depan
Bersamaan dengan tubuh papa Gunawan dan papa Nugraha yang terhuyung masuk kedalam, suara tangis bayi menggema memenuhi isi ruangan.
Owek
Owek
Owek
Ke dua pria paruh baya itu pun saling pandang dan kompak berbalik ke belakang melihat yang lain nya dan akhirnya mereka saling lihat. Sesaat kemudian wajah mereka langsung berubah, senyum semringah terpancar dari masing-masing mereka. Tangis haru pun memenuhi ruangan itu.
Sedangkan Bima yang mendampingi Sisil, menyaksikan secara langsung perjuangan sang istri melahirkan buah hati mereka tak kuasa menahan tangis haru. Bima mencium kening Sisil yang penuh dengan keringat.
" Terima kasih sayang " Bisik Bima di telinga Sisil, Sisil hanya membalas dengan senyum kecil. Karena ia sangat kelelahan, tenaga nya sudah habis terkuras.
***
lanjut besok ya...
__ADS_1