
Happy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Keesokan harinya Ega merawat Erik dengan di temani oleh Jery dan perawat pria yang sudah di pekerjaan oleh orang tua Erik untuk merawat Erik.
Hari ini Ega membawa Erik ke luar dari kamarnya. Walaupun kamar itu sangat luas tapi kalau setiap hari berada di kamar terus sumpek juga rasanya, jadi Ega mengajak Erik untuk menghirup udara segar di taman belakang. Dan di sini lah mereka berada.
Dengan telaten Ega menyuapi Erik makan, semenjak ada Ega, Erik sudah mau makan dan melakukan hal yang lain nya termasuk berbicara. Selesai makan Ega memberikan obat yang sudah di siapkan oleh perawat untuk Erik minum.
Setelah semua selesai perawat Jo membereskan peralatan makan yang di gunakan Erik tadi dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Sekarang Erik sudah terlihat jauh lebih baik, ia sudah terlihat seperti dulu, Erik yang rapih dan terawat. Kemarin Ega dengan di bantu orang salon yang memang di minta Ega untuk datang ke rumah, untuk memangkas rambut Erik yang sudah panjang dan mencukur rambut rambut halus yang tumbuh di sekitar rahang nya.
Ega duduk di samping Jery dengan menghadap Erik. Ega ingin berbicara serius dengan Erik. Mengingat hampir seminggu ini ia membantu merawat Erik sudah ada sedikit kemajuan dengan kesehatan mental Erik.
Psikolog yang di minta menangani Erik pun mengatakan jika Erik sudah jauh lebih baik dari beberapa bulan yang lalu saat ia melakukan terapi.
Ega ingin Erik bisa melepaskan hubungan mereka. Menerima dengan ikhlas dan menerima kenyataan bahwa mereka tidak berjodoh. Namun bukan berarti mereka putus hubungan, mereka masih bisa berteman atau menjadi saudara.
Ega ingin saat ia dan Jery pulang ke Indonesia, Erik tidak kembali seperti ini lagi. Karena mereka hanya memiliki waktu satu minggu jadi Ega ingin berbicara sekarang.
" Erik, apa kau sudah merasa lebih baik sekarang? " Tanya Ega menatap wajah Erik
" Ya " Erik mengangguk
__ADS_1
" Syukur lah,, aku harap kamu bisa secepatnya pulih. Kamu harus berpikir positif, tetap melangkah maju ke depan. Lihatlah ayah dan ibu mu, mereka sangat sedih melihat mu seperti ini " Tutur Ega dengan lembut
" Kita masih bisa bertemu kapan pun kamu mau. Karena sekarang kita berteman dan aku juga sudah menganggap mu saudara " Tambah Ega lagi
Erik hanya diam mendengar kan perkataan Ega. Sangat gampang sekali jika berbicara namun sangat sulit di lakukan oleh Erik. Berat rasanya jika ia harus merubah rasa cinta nya menjadi pertemanan apa lagi saudara.
Namun Erik akan tetap mencoba. Ia tak mau melihat ke dua orang tua nya khawatir dan bersedih. Ia juga berjanji akan menata hidup nya agar lebih baik lagi.
Sempat Erik meminta Ega untuk kembali pada nya. Namun Ega menolak dengan halus, sudah ada Jery di hati nya. Erik pun sadar, ia akan mencoba melepaskan Ega walaupun sulit. Ia ingin melihat Ega bahagia, walaupun mereka kembali jika masih ada sang nenek, Erik yakin mereka pasti tidak akan tenang. Erik sangat paham akan karakter sang nenek. Bibirnya bisa mengatakan ia namun hati dan perbuatan nya menolak. Cukup ibu nya yang mengalami jangan ada yang lain.
Ega dan Erik pun sudah berbicara dari hati ke hati. Erik berjanji akan hidup dengan baik tidak akan larut dalam kesedihan dan penyesalan.
*
*
Selama satu minggu tinggal di kediaman keluarga Erik hanya satu kali Ega bertemu dengan nenek Erik. Percuma juga bertemu, nenek Erik tak bisa berbicara. Dan selama sakit nenek Erik hanya berada di dalam kamar saja.
Ega dan Jery sudah berada di dalam pesawat. Ega menggenggam tangan Jery.
" Honey terima kasih karena sudah mau menemani ku " Ucap Ega sambil tersenyum
" Tidak masalah " Balas Jery dengan tersenyum
" Kamu hebat " Puji Ega membuat Jery mengerutkan dahi nya
__ADS_1
" Hebat? " Tanya Jery
" Ya, kamu hebat " Ulang Ega
" Kamu tidak terbakar api cemburu sehingga kamu tidak marah saat aku merawat Erik " Ucap Ega
Padahal Ega sangat yakin Jery pasti cemburu namun ia bisa menahan emosi nya. Siapa coba yang rela melihat kekasih nya merawat mantan kekasih. Ega saja tidak akan sanggup jika berada di posisi Jery.
Jery terkekeh mendengar ucapan Ega. Dia manusia biasa yang pasti nya memiliki perasaan. Ia cemburu sangat cemburu namun ia juga iba melihat Erik jadi ia mencoba mengalah untuk satu minggu ini.
" Siapa bilang aku tak cemburu? Siapa bilang aku tak marah? " Tanya Jery menatap mata Ega
" Cemburu? Sangat malah, siapa yang tidak cemburu melihat kekasih nya di peluk dan perhatian dengan mantan kekasih. Marah? Aku tak bisa marah karena aku tak tahu harus marah pada siapa. Pada Erik? Tidak mungkin, aku sangat simpatik pada nya. Aku rasa dia juga tidak mau seperti itu. Lalu pada mu? Itu juga tidak mungkin, karena kamu juga tidak salah. Di sana kamu hanya berusaha membatu " Tanya dan jawab Jery sendiri
" Jujur aku sempat takut kamu akan kembali pada Erik. Saat Erik meminta mu untuk kembali bersama nya, aku sangat kacau. Apa lagi melihat mu yang sangat perhatian merawat Erik, aku merasa kamu akan menerima nya kembali. Namun saat aku mendengar jawaban mu menolak Erik, aku lega. Aku berpikir positif dengan perhatian mu merawat Erik dan aku tidak lagi cemburu yang berlebihan. Cemburu itu masih ada walaupun sedikit namun aku bisa mengontrol nya " Papar Jery mengeluarkan isi hati nya
" Terima kasih " Ega langsung memeluk Jery dengan erat
" Maaf jika selama ini tanpa sengaja aku sudah membuat mu marah dan cemburu " Ucap Ega masih dalam pelukan Jery, ia sangat merasa bersalah pada Jery
Ega tak menyangka ternyata Jery mendengar permainan Erik yang mengajaknya kembali. Karena saat itu Erik dan Ega hanya duduk berdua saja di taman belakang rumah. Sedangkan perawat Jo sedang berada di dalam dan Jery saat itu sedang menerima telpon yang entah dari siapa. Jery masuk ke dalam rumah agar bisa dengan jelas berbicara dengan lawan bicara di telpon itu.
Dan bukan maksud Ega tak memberi tahu Jery tetang permintaan Erik waktu itu. Hanya saja Ega lupa untuk mengatakan nya dan Ega juga baru ingat sekarang. Ega merasa bersalah pada Jery karena tanpa sengaja sudah membuat Jery cemburu dan marah.
****
__ADS_1
to be continue....