
Happy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Acara syukuran anniversary oma Diana dan opa Alex berjalan dengan lancar. Doa tulus dari anak-anak panti mereka dapatkan, bukan hanya doa untuk oma Diana dan opa Alex saja yang di lantunkan oleh anak-anak panti tapi juga doa untuk seluruh anggota keluarga mereka.
Kini semua anak-anak beserta pengurus panti sudah pulang. Selain memberi santunan mama Laras dan papa Gunawan menjadi salah satu donatur tetap di panti itu.
Seluruh keluarga masih berkumpul di taman, mereka semua terlihat sangat bahagia. Di sana mereka saling bercanda dan tertawa bersama. Sesekali para lelaki membahas masalah perusahaan, membuat para wanita malas mendengar nya.
Kedua orang tua Dita masih bergabung di sana, mereka sangat suka berada di tengah tentang keluarga itu. Sangat nyaman dan hangat, itu lah yang mereka rasa kan.
Papa Nugraha dan papa Gunawan ternyata sangat klop. Mereka berdua adalah pria yang humoris, selalu membuat candaan sehingga membuat semua orang tertawa.
Di sela sela tawa, Sisil sesekali meringis menahan sakit pada perut nya. Seperti nya ia mengalami kontraksi, namun Sisil diam saja. Ia pikir ini hanya kontraksi palsu seperti beberapa hari yang lalu. Dan tadi pagi juga ia mengalami nya tapi hanya sebentar saja.
Sesaat kemudian rasa sakit itu hilang, Sisil merasa lega. Apa yang ia pikir ternyata benar, rasa sakit itu hilang. Tiga puluh menit kemudian rasa sakit pada perut Sisil kembali. Rasa sakit nya semakin lama dan sangat sakit sehingga Sisil tak sanggup lagi untuk menahannya.
Sisil mencengkram tangan Bima yang duduk di samping nya. Membuat Bima langsung menoleh ke arah nya.
Bima terkejut melihat wajah Sisil yang pucat, keringat sudah membasahi area pelipis nya.
" Sayang kamu kenapa " Tanya Bima khawatir
Sisil menggigit bibir bawah nya menahan rasa sakit yang luar biasa. Untuk mengeluarkan suara nya saja ia agak sulit.
" Perut ku sakit, seperti nya anak kita sudah mau melihat dunia " Ucap Sisil setelah ia bisa menguasai rasa sakit nya
" Benarkah, dia sedang tidak menge prank kita lagi kan? " Tanya Bima memastikan
Karena beberapa hari yang lalu, ia merasa kena prank oleh anak nya. Sisil mengalami kontraksi, setelah Bima sampai membawa Sisil ke rumah sakit ternyata itu hanya lah kontraksi palsu. Jadi sekarang Bima harus memastikan nya.
Plakk
Bima mendapat pukulan di pundak nya. Sisil tak menghiraukan lagi masalah dosa atau kualat pada suami karena sudah memukul Bima. Sisil sudah tak tahan menahan rasa sakit yang kian sering. Sakit itu menghilang sebentar namun datang lagi.
Semua mata melihat ke arah pasang Sisil dan Bima. Karena mereka mendengar suara pukulan Sisil tadi.
__ADS_1
Bima sendiri tak merasa sakit, walaupun suara pukulan Sisil cukup kencang namun ia tak merasa sakit. Karena tenaga Sisil tak seberapa mungkin karena tenaganya sudah terkuras untuk menahan rasa sakit itu.
" Kali ini bukan prank yang. Ini benar-benar sakit " Keluh Sisil dengan bulir keringat semakin banyak di area wajah nya
Melihat itu membuat Bima yakin jika Sisil benar-benar akan melahirkan. Seketika ia panik bukan main.
" Ada apa? " Tanya mama Rita pada Sisil dan Bima
" Sisil mau melahirkan ma " Ucap Bima yang hendak memopong tubuh Sisil
" Apa? " Teriak semua orang
Dan mereka semua pun ikut panik, apa lagi melihat wajah Sisil yang pucat dan meringis. Semua kompak langsung berdiri dari duduk dan hendak mendekati Sisil.
" Bima cepat bawa Sisil ke rumah sakit " Titah mama Arin
" Iya ini juga aku mau bawa Sisil ke rumah sakit " Jawab Bima
Tanpa di suruh pun Bima akan membawa Sisil ke rumah sakit.
Tiba di depan mobil Bima menghentikan langkah nya. Ia merogoh saku celana nya tapi tak menemukan apa yang ia cari.
" Kenapa? " Tanya Sisil heran
" Sayang tunggu sebentar ya, aku mau ambil kunci mobil dulu. Sepertinya ada di dalam kamar " Seru Bima membuat Sisil mendengus kesal, padahal ia sudah tak tahan menahan rasa sakit.
Tanpa menunggu jawaban Sisil, Bima melesat masuk ke dalam rumah dengan jurus kilat.
" Kok kamu masih ada di sini " Tanya Dirga yang baru dari dalam rumah
" Bima lagi ambil kunci mobil " Jawab Sisil menahan sakit
" Ayo kamu ikut kakak saja " Dirga menuntun Sisil menuju mobil nya
" Tapi Bima " Ucap Sisil tertahan
" Sudah kelamaan menunggu Bima " Ujar Dirga
__ADS_1
Ia tak tega melihat Sisil yang kesakitan. Melihat rumahnya yang luas dan besar itu, pasti Bima membutuhkan waktu beberapa menit lagi baru sampai kembali ke halaman di mana mobil mereka berada. Sedangkan Sisil sudah hampir kehabisan tenaga dan harus segera di bawa ke rumah sakit.
Akhirnya mau tak mau Sisil mengikuti Dirga. Ia juga sudah tak tahan, rasa sakit semakin menjadi.
Sampai di mobil, Dirga dan Sisil terkejut melihat isi mobil yang sudah di penuhi oleh manusia yang saling berdesakan dan saling memangku. Dirga menghela napas pelan.
" Kalian kenapa ada di sini semua? " Tanya nya melihat satu persatu manusia di dalam mobil
" Kami mau ikut ke rumah sakit " Jawab papa Gunawan
" Tidak bisa kah kalian membagi dua kelompok, ini sudah overload. Mobil di rumah ini kan ada banyak, bukan cuma ini saja " Ucap Dirga tak habis pikir dengan kelakuan para orang tua itu
Mereka pun saling pandang dan akhirnya mereka turun dan hanya menyisakan mama Laras, Dita, mama Arin, oma Diana dan mama Rita. Mobil Alphard milik Dirga pun langsung melesat dari halaman rumah.
Bima sampai di halaman depan napas ngosngosan, ia melihat tak ada lagi Sisil di sana.
" Pa, dimana Sisil? " Tanya nya pada papa Nugraha yang hendak masuk ke dalam mobil
" Sudah berangkat bersama Dirga " Ucap papa Nugraha menunjuk mobil yang baru keluar dari gerbang rumah
" Haisss kenapa aku di tinggal sih " Keluh Bima dan ia pun langsung masuk ke dalam mobil
Mobil Bima pun melaju bersama mobil Jery. Jery berangkat bersama Ega, Rio, Lalisa, Alif dan ke dua orang tua Dita.
Sedangkan papa Gunawan, papa Nugraha dan opa Alex satu mobil. Mereka bertiga duduk di kursi penumpang saling berdempetan.
" Kenapa belum jalan juga? " Tanya opa Alex, merasa mobil yang ia tumpangi belum bergerak juga
" Iya " Papa Gunawan membenarkan ucapan opa Alex
Merasa ada yang tidak beres mereka bertiga pun melihat ke kursi pengemudi. Ternyata kursi itu kosong. Alias tidak ada sang pengemudi. Mereka pun kompak menepuk jidat masing-masing.
begini lah kalau terjadi panik masal, tak ada yang beres.
****
lanjut besok ya 😄
__ADS_1