
Happy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Suara keributan terdengar sampai ke ruangan rapat. Dimana sedang ada rapat di dalam nya. Kebetulan ruang rapat tak jauh dari sana. Suara keributan itu memancing para peserta rapat untuk melihat, apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar. Tak terkecuali Bima dan Jery.
Bima dan Jery beranjak dari tempat duduk. Mereka melangkah kan kaki jenjang mereka dengan mantap, berjalan menuju pintu untuk keluar.
Ketika keluar objek yang langsung mereka lihat adalah dua orang wanita sedang asik jambak jambakan. Terlihat mereka seperti saling berpelukan, tapi sebenarnya mereka sedang saling jambak.
Jery melebarkan mata nya terkejut melihat Ega yang sudah acak acakan. Kemeja bagian tangan sebelah kiri sudah sobek. Rambut panjang nya sudah tak beraturan. Sedangkan wanita yang menjadi lawan nya lebih parah dari Ega. Terlihat ada bekas cakaran di wajah nya.
" Ada apa ini? " Suara dingin dan datar itu menghentikan aktivitas dua wanita itu.
Perlahan dan pasti Ega dan Laudia melepaskan cengkraman tangan mereka dari rambut ke dua'nya. Mereka kompak beralih menatap ke sumber suara.
" Tuan Bima " Seru Ega dan Laudia kompak
" Bisa kalain jelaskan? " Seru Bima menaikan sebelah alisnya
Bima melipat ke dua tangan nya di atas perut. Berdiri tegap di depan ke dua wanita itu dengan wajah datar. Menunggu penjelasan dari mereka berdua.
Belum sempat Ega mengeluarkan suara nya. Laudia lebih dulu menghampiri Bima.
" Tuan Bima " Suara nya di buat semanja mungkin, dan tangan nya dengan lancang memegang tangan Bima.
" Anda siapa? " Tanya Bima dengan menaikkan sebelah alis nya dan menghempaskan tangan Laudia
Laudia terdiam mendengar pertanyaan Bima. Baru beberapa hari yang lalu papa nya, Wahyu mengenalkan dirinya pada Bima. Masa ia Bima lupa.
" Tuan, anda tidak mengenal ku? " Tanya nya tak percaya
__ADS_1
" Tidak " Jawab Bima singkat
" Apa anda sudah lupa, beberapa... " Ucapan Laudia terpotong oleh Bima
" Memang nya siapa anda dan sepenting apa anda sehingga saya harus mengingat anda? " Sela Bima dan sukses membuat wajah Laudia menjadi kaku
Ega menahan tawa nya mendengar pernyataan Bima yang mengatakan kalau tak mengenal Laudia. Dan Laudia tidak lah penting.
" Dia nona Laudia, tuan " Ega memberi tahu pada Bima siapa Laudia
" Ada perlu apa nona Laudia datang ke kantor saya? " Tanya Bima datar
Sebenarnya Bima tahu siapa wanita di hadapan nya. Hanya ia pura pura tak ingat dan lagi pula memang tak penting untuk di ingat.
Bima bukan lah orang yang dingin dan kasar. Hanya saja ia sudah tahu maksud dan tujuan Laudia yang ingin mendekati nya. Maka dari itu ia bersikap dingin. Bahkan bukan pada Laudia saja ia begitu, semenjak bertemu kembali dengan Sisil ia mulai bersikap dingin dengan para wanita. Ia tak mau terjadi kesalahan pahaman antara diri nya dengan Sisil jika ia beramah ramah dengan lawan jenis.
" Saya hanya ingin bertemu dengan anda, tuan Bima. Namun sekertaris anda menahan saya " Laporan nya
" Memangnya ada keperluan apa? Jika hanya untuk membahas yang tidak penting, sekertaris saya sudah benar. Karena saya sibuk tidak ada waktu untuk sekedar berbasa basi " Seru Bima
" Tapi saya kan hanya ingin.. " Lagi lagi ucapan Laudia di potong cepat oleh Bima
" Sudah jika tidak penting lebih baik anda pulang dan jangan membuat keributan di kantor saya. Anda sudah mengganggu ketenangan karyawan saya yang sedang bekerja. Dan sudah membuang-buang waktu saya " Setelah berkata Bima langsung membalikkan tubuh nya hendak masuk ke dalam ruang rapat dan melanjutkan rapat yang terhenti gara-gara suara keributan.
" Urus wanita itu " Ucap Bima pada security yang baru datang dan kemudian Bima langsung masuk ke dalam ruang rapat
Security itu sudah mencari Laudia di seluruh tempat, tadi nya Laudia berpura-pura meminjam toilet agar bisa masuk ke dalam. Namun sudah sepuluh menit Laudia tak menampakkan batang hidung nya kembali. Ia curiga jika Laudia hanya berpura-pura. Dan akhirnya ia pun mencari keberadaan Laudia.
" Nona, kan kami sudah bilang anda tidak bisa menemui tuan Bima. Kenapa anda memaksa " Keluh security itu
" Sebaiknya anda pergi dari sini nona, Laudia " Ega menyeringai penuh kemenangan
__ADS_1
" Lepaskan aku bisa jalan sendiri " Laudia menghempaskan dengan kasar tangan security yang ingin menyeret nya
Laudia menatap nyalang pada security dan para karyawan yang masih berada di sana menyaksikan mereka. Kemudian ia beralih menatap Ega dengan penuh kebencian.
" Aku akan membalas kalian semua " Geram Laudia dengan amarah yang meluap, ia mengepalkan ke dua tangan nya dan mengeraskan rahangnya.
Laudia tidak terima, ia sudah di permalukan. Ia harus membalas sakit hati nya karena sudah di permalukan seperti itu di hadapan banyak orang.
Ia pun pergi dari kantor Bima dengan wajah memerah karena marah. Bagaimana pun caranya ia harus membalas mereka semua. Apa lagi semua karyawan Bima tadi mencibir nya habis habisan. Membuat harga diri nya terinjak-injak.
Jery menghembuskan napas dengan kasar melihat wanita arogan yang baru saja meninggalkan mereka dengan sebuah ancaman. Jery mendekati Ega dan melepaskan jas nya kemudian menutup tubuh Ega dengan jas nya.
" Lebih baik kamu segera menganti pakaian mu dan merapihkan penampilan mu " Jery mengacak rambut Ega yang memang sudah acak acakan
" Baik lah, terima kasih " Ega tersenyum
Bima yang sudah berada di dalam ruang rapat kembali keluar karena para karyawan yang masih harus rapat termasuk Jery belum juga kembali masuk ke dalam.
" Hmmm " Deheman Bima mengalihkan perhatian semua nya pada sumber suara
" Apa kalian masih ingin di luar dan bergosip ?" Tanya Bima dingin
Seketika semua berhamburan untuk masuk ke dalam ruang rapat.
Bima menatap Jery yang masih berdiri di samping Ega. Bima memberi kode dengan tatapan mata nya. Dan akhirnya Jery pun masuk kembali.
" Kau luar biasa " Bima mengacungkan ke dua jempol nya pada Ega dari ambang pintu. Dan Ega hanya nyengir kuda
Bima kembali masuk dan melanjutkan rapat yang tertunda. Bima tak memarahi Ega, ia justru berterima kasih pada Ega. Wanita seperti Laudia sesekali memang harus di beri pelajaran.
****
__ADS_1
lanjut....